
Setelah membaca agenda itu, Daniel tahu apa yang sedang alami Aruna saat ini. Apalagi sejak mengetahui bahwa Aruna adalah gadis yang ia cari selama ini, membuat Daniel merasa ingin melindungi Aruna. Meskipun ia menggunakan cara yang membuat Aruna kesal. Karena ia sadar, Aruna tidak akan dengan mudah membuka hatinya kembali.
''Hei! Kenapa diam?'' kata Daniel sambil. menjentikkan jarinya di depan wajah Aruna.
''Maaf Tuan, tapi itu kenapa ada pasta gigi, shampo dan sabun mandi juga? Tuan tidak akan menumpang mandi di rumah ku juga kan?''
''Bisa jadi sih. Soalnya rumah mu lebih dekat dari kantor. Anggap saja aku ngekos kalau pulang kemalaman. Tenang saja, aku akan membayarnya juga. Pasti di rumahmu banyak kamar kosong kan?''
''Bukan masalah itu Tuan tapi tidak pantas saja.''
''Apanya yang tidak pantas Aruna? Aku kan cuma kos saja. Masa tidak boleh?''
''Jangan macam-macam ya, Tuan.'' Ancam Aruna.
''Macam-macam bagaimana sih? Memang aku berbuat apa? Sudah, sebaiknya sekarang kita ke kasir.'' Ucap Daniel. Aruna terkejut saat melihat struk belanjaan yang sangat panjang bahkan dengan nominal yang fantastis.
''Wah, suaminya royal sekali ya Nyonya.'' Ucap Ibu-Ibu yang berdiri di belakang Aruna.
''Tapi dia bukan...., ''
''Harus dong Nyonya. Sebagai suami harus bertanggung jawab lahir dan batin.'' Sahut Daniel.
''Hebat sekali ya Nyonya, suaminya. Sudah tampan, royal dan penyayang lagi. Nyonya beruntung sekali. Ini anaknya juga tampan sekali. Wajahnya perpaduan Papa dan Mamanya ya.'' Ucap Ibu-ibu itu.
''Terima kasih Nyonya. Ketampanannya sudah jelas menurun dari ku.'' Jawab Daniel percaya diri yang super tinggi. Zidane hanya senyum-senyum saja mendengar itu. Sementara Aruna berusaha menahan amarahnya mendengar ocehan Daniel itu.
Setelah membayar, mereka segera menuju mobil. Bagasi mobil Daniel pun penuh dengan belanjaan. Setelah semua belanjaan masuk ke dalam mobil, Daniel segera melajukan mobilnya.
''Mami, aku sudah lapar. Bisa tidak mampir makan? Makan apa saja tidak masalah, Mi.'' Ucap Zidane dengan wajah memelasnya.
''Makan di rumah saja ya, sayang. Bibi pasti sudah masak.''
''Tapi masih lama Mi sampai rumahnya.''
''Baiklah kita makan dulu. Kamu pasti lelah karena ikut belanja ya?'' sahut Daniel.
''Iya Om.''
''Om juga lapar. Kita makan apa ya enaknya?''
__ADS_1
''Aku mau pizza, Om.''
''Zidane, pizza itu mahal. Katanya mau makan apa saja. Jangan samakan kehidupan kita dengan dulu ya.'' Sahut Aruna.
''Iya Mami, maaf. Ya sudah Om, makan dirumah saja. Makan di rumah lebih kenyang.'' Kata Zidane.
''Hari ini Om yang traktir deh.'' Sahut Daniel yang merasa kasihan pada Zidane.
''Tuan, anda jangan memanjakannya. Dia harus belajar berempati. Ada kalanya kita makan sesuka hati dan ada kalanya harus berempati dengan keadaan. Begitulah caraku mendidiknya sejak dulu karena kita tidak pernah tahu kapan roda ada di atas ataupun di bawah.'' Marah Aruna.
''Oke, aku minta maaf.''
''Dan satu lagi, kenapa anda mengaku sebagai suamiku? Tidak sopan.''
''Kalau aku bilang, aku atasanmu, ibu-ibu tadi tidak akan percaya. Yang ada mereka akan menuduh kita pasangan selingkuh atau kamu karyawan yang matre minta di belanjakan oleh atasan. Memangnya mau di tuduh seperti itu? Berbohong demi kebaikan tidak salah bukan? Daripada memancing keributan di tempat umum?''
Aruna terdiam mendengar jawaban Daniel yang memang ada benarnya juga.
''Zidane, kita bagikan makanannya nanti sore atau malam tidak apa-apa kan? Kamu juga sudah lapar kan?''
''Iya Om tidak apa-apa.''
''Zidane, cuci tangan dulu sayang.'' Perintah Aruna.
''Iya Mami.'' Ucap Zidane.
''Bi, Mama sama Papa mana?'' tanya Aruna.
''Itu Nyonya, Oma dan Opa pulang mendadak katanya ada masalah di peternakan.''
''Oh begitu, ya sudah nanti aku biar menelepon mereka.''
''Halo Bi! '' sapa Daniel yang baru saja masuk dengan tangan penuh belanjaan.
''Halo juga Tuan. Belanjaannya banyak sekali?''
''Oh ya Bi, tolong bantu turunkan semua belanjaan dari mobil ya. Ajak Mbak Lasmi juga, soalnya banyak sekali.'' Kata Daniel.
''Siap Tuan!"
__ADS_1
''Oh ya Nya, makan siang cuma ada tahu tempe saja karena stok habis.'' Kata Bi Tuti dengan suara memelan.
''Tidak apa-apa, Bi.'' Jawab Aruna. Mendengar itu, Daniel semakin kasihan. Apalagi saat melihat Zidane yang sudah makan dengan lahapnya tanpa bersuara. Bi Tuti dan Mbak Lasmi lalu membantu menurunkan belanjaan di mobil Daniel. Mereka terkejut melihat belanjaan yang sangat banyak. Karena biasanya Aruna dan Arya tidak pernah belanja sebanyak itu.
''Zidane, makannya pelan-pelan sayang.''
''Maaf Mi, Zidane lapar sekali. Makan tahu tempe dengan kecap ternyata sangat lezat ya, Mi.'' Kata Zidane dengan mulut penuh makanan. Aruna hanya bisa tersenyum dengan senyum getirnya.
''Tuan silahkan duduk dulu. Aku mau ganti baju dulu. Kalau anda haus, ambil sendiri di kulkas.''
''Oke.'' Singkat Daniel.
Aruna kemudian pergi menuju kamarnya. Didalam kamar, air matanya lolos begitu saja. Sedih sekali rasanya tidak bisa menuruti dan memenuhi kebutuhan anak. Biasanya saat Zidane menginginkan sesuatu, Aruna langsung menurutinya. Tapi ini, ia harus meminta Zidane untuk menahan lapar. Aruna kemudian melihat ponselnya dan ternyata ada pesan masuk dari kedua orang tuanya.
Mama : Aruna, maaf ya kalau Papa dan Mama harus pulang mendadak karena ada masalah dipeternakan. Mama dan Papa sudah mentransfer uang untuk membantu kamu memenuhi kebutuhanmu dan Zidane. Tapi maaf ya karena kami hanya bisa membantu sedikit.
Aruna kemudian melihat notifikasi m-bankingnya dan ternyata benar, Mamanya mengirim uang lima juta.
"Maafkan Aruna ya Mah, Pah. Aruna justru menjadi beban untuk kalian." Gumam Aruna dengan bulir air mata yang membasahi wajahnya.
"Jangan cengeng Aruna! Kamu harus kuat." Aruna lalu menyeka air matanya. Ia segera ganti pakaian dan turun ke bawah. Saat di dapur, Aruna melihat Daniel merapikan isi kulkas dan laci-laci di dapur dibantu oleh Bi Tuti dan Mbak Lasmi.
"Tuan, ini belanjaan atau mau membuka mini market?" gurau Bi Tuti.
"Iya lho tuan, ini belanjaannya banyak sekali. Tuan Arya dan Nyonya saja tidak pernah belanja sampai sebanyak ini." Sahut Mbak Lasmi.
"Tidak apa-apa. Karena aku akan memberikan Aruna pekerjaan tambahan untuk memasak jadi aku belikan semua bahan-bahannya. Oh ya untuk dua kantong itu, kalian kemas yang rapi ya karena aku dan Zidane ingin membagikannya pada anak jalanan."
"Siap Tuan! " jawab Bi Tuti dan Mbak Lasmi dengan semangat. Saat mereka berbalik, mereka terkejut melihat Aruna sudah disana.
"Eh Nyonya!" kata Bi Tuti.
"Zidane mana Bi? "
"Den Zidane ke kamar setelah selesai makan. Katanya mau ganti baju."
"Ya sudah, Bibi dan Mbak Lasmi lanjutkan saja pekerjaan yang lainnya."
"Baik Nyonya." Bi Tuti dan Mbak Lasmi sangat senang melihat kedekatan Aruna dan Daniel. Mereka bahkan tidak berpikir buruk tentang keduanya. Mereka justru berharap supaya Nyonya mereka cepat-cepat menikah kembali.
__ADS_1