
Arya sedang duduk di bibir ranjang, mengusap ranjang tempat dimana banyak kenangan indahnya bersama. Di tambah di ranjang itulah tempat saksi kedua cinta mereka bersatu. Rasa rindu menyelubung di relung hati Arya disertai rasa bersalah yang amat sangat besar.
''Aku merindukan kamu, Aruna. Dan juga merindukan Zidane. Kamu bahkan tidak bisa aku hubungi Aruna? Apa kamu ganti nomor?'' gumamnya sendiri di dalam kamar itu.
''Mas, kamu dimana?'' suara Shella terdengar nyaring. Shella hendak menuju dapur karena haus namun tidak mendapati Arya di sampingnya. Shella melihat kamar utama terbuka. Ya, Shella sama sekali tidak mau menempati kamar itu karena ia tidak mau Arya mengingat kenangannya bersama Aruna.
''Kamu disini rupanya?'' suara Shella membuat Arya terkejut.
''Lho kamu kok bangun?''
''Aku haus tapi lihat kamar ini terbuka. Kamu kenapa Mas? Kangen sama mantan istri kamu?'' ketus Shella.
''Iya. Aku merindukan Aruna dan Zidane. Ponselnya bahkan tidak bisa aku hubungi.''
''Tega ya Mas kamu bilang seperti itu di hadapan ku. Sama sekali tidak memikirkan perasaanku.''
''Kamu kan tanya, ya aku jawab. Kamu sendiri sudah tahu kan kalau aku masih mencintai Aruna. Tapi aku tetap memilih kamu juga kan akhirnya. Sudahlah jangan di perpanjang.''
''Daripada kamu nglamun tidak jelas, lebih baik kamu cari kerjaan sana. Kamu tahu sendiri kan sejak aku ketahuan menikah dan hamil, kontrakku di putus begiti saja. Tawaran endors juga sepi.''
''Iya-iya, aku akan cari kerja.'' Arya lalu beranjak dari ranjang dan mengajak Shella keluar dari kamar itu.
''Sebaiknya kamu kembali ke kamar, biar aku ambilkan kamu minum.''
''Oh ya Mas, aku ingin rumah ini di renovasi. Supaya tidak ada kenangan lagi antara kamu dan Aruna disini.''
''Iya.'' Singkat Arya.
''Ya sudah, aku tunggu di kamar.'' Ucap Shella seraya berlalu.
......................
''Bagaimana Zidane, Aruna?'' tanya Daniel begitu memasuki kamar Aruna.
''Dia masih tidur Tuan dan demamnya juga sudah turun.''
''Syukurlah kalau begitu.'' Daniel terpesona dengan wajah cantik natural Aruna yang masih mengenakan baju tidur kimono warna peach itu. Sesaat ia hanyut dengan pesona wanita di hadapannya itu. Membuat jantungnya berdebar kencang. Rambut yang di gulung keatas, membuat leher jenjang Aruna tereskpose dengan indah.
''Tuan, sepertinya aku ijin. Aku ingin menemani Zidane.''
''Iya tidak masalah. Nanti biar Fero yang mengurus semuanya.''
__ADS_1
''Tuan sudah sarapan?''
''Belum, baru juga keluar kamar.'' Ucapnya yang masih mengenakan baju tidur.
''Ada yang bisa aku bantu, Tuan?'' Aruna mencoba menawarkan bantuan, bemaksud ingin membalas kebaikan Daniel.
''Aku ingin susu.'' Celetuk Daniel.
''Susu?'' Aruna mengerutkan dahinya.
''Mmm maksud ku, tolong buatkan susu hangat dan roti panggang untukku. Setelah itu bawa ke kamar ku, aku mau mandi dan bersiap. Aku buru-buru.''
''Baiklah, akan segera aku siapkan.'' Ucap Aruna. Daniel kemudian kembali ke kamarnya dan segera mandi.
''Pagi Bi, masak apa?''
''Ini membuat bubur ayam untuk Den Zidane. Sudah bangun belum Nya?''
''Sepertinya efek obat, Bi. Dia masih nyenak tidurnya dan demamnya juga sudah turun.'' Ucap Aruna sembari menyalakan kompor untuk memasak air.
''Syukurlah kalau semuanya sudah membaik, Nya. Nyonya sedang apa? Biar saya bantu.''
''Ini Tuan Daniel minta di buatkan susu dan roti panggang, suruh bawa ke kamarnya, buru-buru soalnya. Aku juga ijin, Bi. Seharusnya hari ini aku harus mendampingi Tuan ke acara pembukaan bazar.''
''Tidak usah, Bi. Aku tetap sekretarisnya, Bi. Tuan Daniel sudah banyak menolongku jadi apa salahnya aku membalas kebaikannya meskipun dengan segelas susu dan roti ini. Bibi juga kan sekarang bekerjanya untuk Tuan Daniel, bukan sama aku.''
''Tidak apa-apa lah, Nya. Toh Tuan Daniel juga meminta saya untuk melayani Nyonya dan Den Zidane.'' Kekeh Bi Tuti.
''Oh ya Bi, Papa dan Mama ada telepon tidak?''
''Tidak ada Nya.''
''Sepertinya juga aku mau cari kontrakan, Bi. Aku tidak mungkin tinggal disini. Nanti apa kata Papa dan Mama juga mantan mertua aku. Mereka pasti mengira aku juga selingkuh.''
''Ah sudahlah Nya, Nyonya disini saja. Lagi pula untuk apa Nyonya peduli dengan mantan mertua Nyonya. Toh Tuan Arya sendiri yang sudah menyia-nyiakan Nyonya.''
''Oh ya Bi, jangan kasih tahu Mas Arya ya kalau aku dan Zidane disini. Kasih tahu Mbak Lasmi juga.''
''Iya Nyonya, siap.''
Setelah susu hangat dan roti panggang siap, Aruna menuju kamar Daniel.
__ADS_1
''Tuan!" Aruna mengetuk pintu kamar Daniel. Daniel yang baru saja selesai mandi berjalan kearah pintu dan membuka pintu untuk Aruna. Rambut basah dan perut six pack itu terlihat sangat indah dan begitu jelas, mengingat Daniel hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Pemandangan segar itu membuat Aruna mendadak gugup dan membeku.
''Aruna, kenapa diam?'' ucapan Daniel seketika menyadarkan Aruna.
''Kenapa? Terpesona ya?'' godal Daniel.
''Si-siapa yang terpesona? Aku sudah terbiasa melihat pemandangan seperti itu.'' Ucapnya seraya masuk ke dalam kamar Daniel.
''Maksudmu? Kamu banyak melihat pria telanjang ya?''
''Eh-eh jaga mulut Tuan ya. Aku terbiasa ya karena aku melihat milik mantan suamiku,'' bantah Aruna seraya meletakkan nampan berisi susu dan roti di atas meja.
''Oh masih ingat mantan rupanya,'' ucap Daniel dengan sedikit kesal. Ada gemuruh cemburu di dalam hatinya.
''Bukannya ingat tapi aku hanya menjawab ucapan Tuan. Memangnya ucapan Tuan tidak keterlaluan apa?'' ketus Aruna.
''Sudahlah aku malas berdebat. Tolong ambilkan pakaian ku, aku mau sarapan dulu.'' Perintahnya pada Aruna. Aruna yang masih mengenakan handuk, duduk begitu saja sembari memakan roti panggang buatan Aruna dengan lahapnya. Aruna tidak bisa menolak, ia berjalan menuju ruang wardrobe yang begitu luas. Banyak sekali almari disana. Mulai dari almari khsuss jam tangan, sepatu, dasi, jas, kemeja bahkan sampai celana semua tersimpan sendiri dan terpisah.
''Tuan, nanti setelah peresmian bazar ada rapat dengan dewan direksi jadi aku memilihkan pakain formal untuk anda.'' Ucap Aruna.
''Iya terserah,'' sahut Daniel yang masih sibuk mengunyah makanan di hadapannya. Sungguh Aruna pagi itu mengganggu konsentrasi Daniel. Untuk pertama kalinya ia merasa di layani seperti seorang suami. Daniel kemudian beranjak dari duduknya menyusul Aruna ke ruang wardrobe. Melihat Aruna dari ujung kaki sampai ujung kepala, semuanya SEMPURNA. Aruna yang masih sibuk memilihkan pakaian terkejut saat sepasang tangan memeluk pinggangnya dari belakang. Aroma maskulin begitu pekat dan sangat menantang. Membuat tubuh Aruna membeku.
''Tu-tuan, lepaskan!" ucap Aruna dengan gugup.
''Aruna, ijinkan aku memelukmu sebentar saja. Kalau kamu bergerak dan memberontak, aku bisa berbuat lebih dari ini.'' Daniel kemudian menyandarkan dagunya pada pundah Aruna. Aruna merasa seperti dalam ancaman. Namun nafas segar Daniel yang menyapu telinganya, membuat suhu tubuh Aruna meningkat. Membuat jantungnya berdegup kencang. Antara takut dan..... Aruna tidak paham perasaan itu.
''Melihatmu pagi ini, aku sangat terpesona. Kamu sangat cantik. Melihatmu datang ke kamar dengan membawakan sarapan dan memilihkan aku baju untuk ke kantor, membuatku merasa seperti di layani oleh seorang istri.'' Daniel semakin mempererat dekapannya. Aruna benar-benar membeku tidak berani bergerak. Ada rasa takut kalau Daniel akan memperkosanya juga.
''Sampai kapan kamu membuatku menunggu Aruna? Kalau kamu membuatku lama menunggu, jangan salahkan aku kalau aku berbuat nekat.'' Lagi-lagi Daniel memberi ancaman pada Aruna.
''Maksud Tuan? Jangan macam-macam ya, Tuan.'' Aruna mulai bersuara namun suaranya terdengar bergetar.
''Aku akan menculikmu dan memaksamu untuk menikah denganku,'' kekeh Daniel. Ia kemudian melepaskan tangannya dari tubuh Aruna. Di baliknya tubuh Aruna menghadapnya. Wajah Aruna sudah memerah seperti udang rebus.
''Ini baju Tuan, aku keluar dulu!" ketusnya karena Aruna mulai salah tingkah dengan tatapan mata Daniel.
''Jangan pergi dulu, Aruna. Bantu aku memakai pakaianku.''
''Bodoh amat! Dasar mesum!" ucapnya dengan kesal seraya berlalu meninggalkan kamar Daniel. Daniel tertawa melihat wajah Aruna yang memerah, di tambah sikap judes Aruna membuatnya semakin gemas.
''Ah bibir itu, ingin sekali aku menciumnya.'' Gumamnya.
__ADS_1
''Aruna, kenapa kamu diam saja sih waktu di peluk? Kenapa tidak melawan? Sebelumnya kamu juga melawan. Kenapa sekarang seolah tidak berdaya? Sadar Aruna!" Aruna terus merutuk dalam hari sembari terus melangkahkan kakinya menuju kamar Zidane.
Gimana udah puas kan 3 Babnya???? Yuukk like komen dan votenya ya, makasih 🙏😘