Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 73 Sarapan pagi lagi


__ADS_3

''Selamat pagi Tante Galuh yang super cantik.'' Sapa Daniel dengan super ramah dan dengan segala rayuannya. Ya, pagi itu Nyonya Galuh dikejutkan dengan kedatangan Daniel.


''Selamat pagi juga Tuan Daniel yang tampan. Anda menggemaskan sekali seperti bayi.'' Kata Nyonya Galuh sambil membelai wajah tampan Daniel. Sentuhan Nyonya Galuh, membuatnya rindu belaian Mamanya.


''Mmmm Aruna ada Tante? Aku kesini untuk menjemputnya.''


''Ada, kami sedang sarapan pagi bersama. Anda sudah sarapan?''


''Belum Tante. Maklum saja aku tinggal di rumah sendiri. Mungkin kalau Mama masih ada, pasti seusia dengan Tante yang sama-sama cantik dan awet muda.''


''Tuan bisa saja memuji. Kasihan sekali anda, Tuan. Ya sudah, ayo kita masuk sarapan sama-sama.'' Ucap Nyonya Galuh seraya menggandeng tangan Daniel menuju ruang makan.


''Aruna, Tuan Daniel ingin menjemputmu.'' Ucap Nyonya Galuh. Aruna terkejut melihat Daniel berada dirumahnya.


''Lho, kenapa Tuan kemari? Katanya supir yang menjemput. Kenapa malah anda?'' ketus Aruna.


''Eh kamu ini bagaimana sih? Sudah bagus Tuan Daniel menjadi atasan yang peduli dengan bawahannya. Sudah, ayo Tuan Daniel duduk dan kita sarapan bersama.''


''Iya Tuan Daniel, kami senang anda membaur dengan kami.'' Sahut Tuan Wira.


''Zidane juga senang bisa sarapan dengan Om Daniel, duduk Om!" kata Zidane sambil menepuk kursi di sebelahnya.


''Ayo Mah, Tuan Daniel di layani.'' Pinta Tuan Wira.


''Kok Mama sih Pah, harusnya Aruna dong.''


''Oh iya. Ayo Aruna, layani Tuan Daniel.''


Aruna mendengus kesal dan terpaksa melayani Daniel. Aruna mengambilkan sedikit nasi, secuil ikan dan secuil tempe.


''Ar-Aruna, kenapa sedikit sekali?''


''Mau sampai kapan Tuan nebeng makan? Punya banyak uang kan bisa punya pembantu. Lagi pula, kami harus irit.'' Ketus Aruna.


''Aruna, jaga sikap kamu.'' Tegur Nyonya Galuh. Tiba-tiba saja wajah Daniel berubah memelas.


''Maafkan aku Aruna kalau merepotkanmu. Benar katamu kalau aku bisa punya pembantu tapi masalahnya tidak ada masakan seenak masakan almarhum Mama aku. Seorang Ibu di dalam rumah dan di dalam sebuah keluarga adalah nyawa. Jadi kalau sosoknya sudah tiada lagi, suasana rumah akan menjadi hambar, kosong dan sunyi. Sekalipun ada pembantu, tetap saja tidak selezat makanan Ibu.''


Mendengar ucapan Daniel, mereka merasa iba dan bisa merasakan kesedihan di mata Daniel. Aruna pun menjadi merasa bersalah dengan sikapnya. Ia lupa kalau Daniel sudah tidak memiliki seorang Ibu.


''Om Daniel sudah tidak mempunyai Ibu?'' tanya Zidane.


''Iya Zidane. Mama Om Daniel meninggal karena kecelakaan saat usia Om masih 13 tahun.''

__ADS_1


''Mami! Mami sudah membuat Om Daniel sedih. Mami seharusnya menjaga ucapan Mami. Kasihan Om Daniel kan? Lagian Om Daniel sudah baik dengan Mami dan juga Zidane.''


''Aruna, minta maaf pada Tuan Daniel, ucapan kamu sudah menyinggungnya.'' Sahut Tuan Wira.


''Ayo Aruna, minta maaf! Dan layani Tuan Daniel dengan benar, '' sahut Nyonya Galuh. Aruna tidak percaya jika semuanya membela Daniel.


Aruna menghela. ''Maaf Tuan.''


''Tidak apa-apa.'' Jawab Daniel dengan senyum kecilnya. Aruna kemudian menambahkan porsi makan yang lebih layak untuk Daniel.


''Bisa-bisanya Papa, Mama dan Zidane membela Daniel.'' Gerutu Aruna dalam hati.


''Oh ya, Mah. Jangan lupa hari Sabtu ada outbond ya.'' Zidane mengingatkan.


''Kamu sudah bicara pada Papi?''


''Sudah Mami. Papi akan mengusahakan untuk datang.''


''Mmmm hari Sabtu tidak ada lembur kan Tuan? Aku harus menemani Zidane outbond sekolah.''


''Iya tidak ada. Silahkan kamu pergi temani Zidane.''


''Awas saja ya kalau wanita itu ikut,'' sahut Nyonya Galuh.


''Ya kemarin dia ikut Arya mengantar Zidane pulang. Sepertinya dia tidak akan melepaskan Arya pergi bersama kamu dan Zidane.''


''Kalau memang tidak bisa, ya biar Aruna saja Mah. Aruna juga sudah terbiasa tanpa Mas Arya.''


''Tapi Mi, kata Bu Guru bisa diwakilkan. Karena nanti ada game keluarga. Yang jelas harus bertiga. Sama Opa juga bisa. Karena sebenarnya Zidane juga malas harus pergi dengan Papi. Apalagi kalau Tante Shella ikut juga.''


''Zidane, Opa ini sudah tua. Yang ada Opa bisa encok.'' Kata Tuan Wira dengan tawa kecilnya.


''Sama Tante Gita atau Tante Dinda bisa kan?''


''Bisa kok, Mi.''


''Kamu telepon sekarang saja, Aruna. Hari Sabtu kan dua hari lagi. Nanti mereka takutnya tidak bisa.'' Sahut Nyonya Galuh.


''Iya deh, Aruna coba Wa saja ya.'' Aruna kemudian mengambil ponsel yang ada di hadapannya. Dan segera mengechat keduanya.


Aruna : Girl, bisa nggak temenin gue dan Zidane outbond hari Sabtu ini.


Dinda : Duh, Run. Gue nggak bisa. Gue mau ke cabang luar kota.

__ADS_1


Gita : Sorry Run, gue ada seminar.


Aruna : Oke deh. Nggak apa-apa.


Dinda : Sorry banget ya, Run.


Gita : Sorry ya, Run. Habis udah di jadwalin jauh-jauh hari.


Aruna : Oke, santai saja lagi.


Wajah Aruna berubah kecewa saat dua sahabatnya itu tidak bisa.


"Gimana Mi?" tanya Zidane.


"Semua tidak bisa. Tante Dinda mau ke cabang salonnya. Terus Tante Gita ada seminar. Ya sudahlah, dipikirkan nanti. Toh Papi juga belum bilang bisa apa tidak, iya kan?"


"Ya udah deh." Jawab Zidane dengan kecewa. Tiba-tiba ponsel Aruna berdering ada nama Arya di layar ponselnya.


"Halo Mas, ada apa?"


"Aruna, sampaikan maafku pada Zidane kalau aku tidak bisa ikut outbond bersamanya. Aku Jumat malam mau ke Bukit Tinggi Sumbar, menemani Shella syuting iklan dan pemotretan disana. Jadi sampaikan maafku pada Zidane, aku sangat menyesal karena aku tidak bisa menemaninya. Aku pun juga tidak bisa membiarkan Shella pergi sendiri dalam keadaan hamil muda.'' Jelas Arya panjang lebar.


''Iya Mas tidak apa-apa. Nanti akan aku sampaikan pada Zidane.''


''Sekali lagi maaf dan terima kasih untung pengertiannya.''


''Iya Mas.'' Aruna lalu mengakhiri panggilannya. Ia hanya bisa menghela setelah mendapat telepon dari Arya. Ia tidak sanggup mengatakannya pada Zidane, matanya berkaca-kaca.


''Mami, itu Papi kan? Apa kata Papi?''


''Mmmm Papi minta maaf karena tidak bisa ikut bersama kamu. Papi harus keluar kota bersama bosnya.'' Aruna terpaksa berbohong karena tidak mau menyakiti Zidane.


''Tuh kan benar! Papi tidak sayang denganku lagi. Sebaiknya aku tidak usah sekolah saja.'' Marah Zidane. Zidane lalu menghentikan makannya dan menjatuhkan piring yang masih berisi makanan. PIIAARR! Semua terkejut dengan apa yang di lakukan Zidane. Zidane kemudian berlari menuju kamarnya. Aruna lalu beranjak dari duduknya, hendak menyusul Zidane.


''Aruna, biar aku saja.'' Sahut Daniel.


''Tapi..., ''


''Sudah, serahkan saja padaku.''


''Tuan-tuan, lagi-lagi anda harus melihat semua masalah keluargaku. Aku malu sekali karena selalu saja seperti ini.''


''Semua manusia punya masalah, Aruna. Anggap saja aku temanmu. Aku akan menyusul Zidane ke kamar.'' Ucap Daniel. seraya berlalu naik ke lantai atas.

__ADS_1


''Memang keterlaluan sekali Arya. Mama benar-benar marah dan kecewa dengan Arya. Sakit, hati Mama.'' Kata Nyonya Galuh dengan mata berkaca-kaca. Air mata Aruna pun lolos begitu saja. Menangis bukan karena Arya tidak bisa ikut tapi menangis karena sudah membuat Zidane kecewa.


__ADS_2