Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 93 Menyusun Strategi


__ADS_3

Hari itu Aruna memutuskan untuk menjaga Zidane dan mengambil cuti. Sementara itu Daniel dan Fero segera menuju mall untuk membuka bazar furniture perusahannya. Meskipun merugi karena ulah oknum, setidaknya barang itu tidak mubadzir dan tetap bisa menghasilkan uang. Pembukaan bazar hari itu berlangsung lancar, senyum Daniel mengembang saat barang-barangnya sudah mulai laku dan terjual. Semua ini berkat ide Aruna, itulah yang ada dalam benaknya.


''Keren sih ide, Aruna.'' Kata Fero yang berdiri disamping sahabatnya itu. Melihat betapa antusiasnya para pembeli.


''Ya, dia memang hebat. Tidak ada yang terbuang sia-sia.'' Ucap Daniel dengan penuh rasa bangga.


''Hmmm yang udah kepincut janda, cerah amat mukanya,'' sindir Fero.


''Heh, bisa kan ada kata yang lebih enak di dengar selain janda? Single parent atau single mom itu lebih baik,'' kesal Daniel.


''Ya-ya, sorry. Sensitif amat sih yang lagi bucin. Eh terus gimana mantan suaminya? Apa nggak nyariin?''


''Ya nggak lah. Mana ingat anak istri. Udah ah, gue males bahas mantannya Aruna.''


''Terus kapan elo halalin Aruna?''


''Apanya yang mau di halalin? Dia aja belum ngasih jawaban.''


''Baru kali ini gue denger seorang Daniel menunggu jawaban cinta. Minta bantuan Om Hutama sana. Siapa tahu Aruna mau dengerin. Elo juga kayaknya harus kerja sama Zidane deh. Zidane kan udah kasih lampu hijau, pasti dia mau.'' Usul Fero. Daniel terdiam sejenak, mencoba mencerna ucapan Fero.


''Hmmm boleh juga ide elo. Habis susah banget taklukin Aruna.''


''Dan satu lagi, deketin orang tuanya. Setidaknya kasih tahu kalau Aruna dan Zidane ada di rumah elo. Ya, saran gue jangan sampai mereka tahu dari orang lain dan mikir yang aneh-aneh sama elo.''


''Ya tapi kan gue nggak tahu alamat rumah orang tua Aruna. Dan Aruna juga pernah bilang sama kedua pembantunya supaya nggak ngasih tahu orang tuanya.''


''Iya tapi elo harus bilang, Niel. Kalau mereka tiba-tiba main kerumah lama Aruna buat ketemu cucunya terus mereka nggak ada, pasti mereka double kecewanya. Setidaknya elo harus tanggung jawab Niel. Kalau alamat rumah, elo kan bisa minta sama pembantunya Aruna. Mereka berdua juga tinggal di rumah elo kan?''


''Tumben nih elo pinter, hehehe Eh tapi gue ke Papa dulu atau orang tua Aruna dulu?''


''Saran gue ke orang tua Aruna dulu. Dan nanti gue bakal urus Om Hutama. Disaat orang tua Aruna ke rumah elo, gue juga bakal bawa Om Hutama. Gimana?''


''Ide bagus. Ya udah, gue berangkat sekarang, mumpung belum siang.''


''Oke, hati-hati. Semangat berjuang kawan!" ledek Fero.


''Sialan!" kata Daniel sambil memukul bahu sahabatnya itu.


Hari itu Daniel bergegas menemui kedua orang tua Aruna dan Daniel mendapatkan alamatnya dari Bi Tuti. Setelah Daniel pikir-pikir apa yang di ucapkan oleh Fero ada benarnya juga.


...****************...


Kedua orang tua Aruna dibuat terkejut dengan kedatangan Daniel hari itu.

__ADS_1


''Tuan Daniel? Mari silahkan duduk.'' Ucap Nyonya Galuh seraya mempersilahkan Daniel duduk.


''Siapa Mah?'' sahut Tuan Wira dari dalam kamar.


''Tuan Daniel, Pah.'' Jawab Nyonya Galuh. Mendengar nama Daniel, Tuan Wira segera keluar dari kamarnya dan bergegas menuju ruang tamu.


''Pagi Om, apa kabar?'' Daniel menyapa seraya berjabat tangan.


''Tuan Daniel! Saya baik. Sebuah kehormatan bagi kami di datangi atasan Aruna seperti ini. Tapi mohon maaf, sebelumnya ada keperluan apa? Apakah di kantor Aruna membuat masalah?'' wajah Tuan Wira pun mulai khawatir.


''Tidak ada masalah apa-apa dengan Aruna, Om. Tapi memang kabar yang saya bawa kurang sedap.''


''A-ada apa Tuan Daniel?'' sahut Nyonya Galuh yang kini juga mulai khawatir.


''Jadi sebelumnya saya mohon maaf tapi saya harus mengatakan ini. Mungkin Aruna akan marah kalau dia tahu saya datang kemari tapi sebagai orang tua, Om dan Tante harus tahu. Jadi Aruna dan Zidane saat ini tinggal di rumah saya. Karena mantan suaminya mengambil rumah yang Aruna tinggali atas nama istri barunya.'' Mendengar ucapan Daniel tentu saja kedua orang tua Aruna sangat syok dan terkejut.


''Ya Allah, Pah.'' Ucap Nyonya Galuh sambil memegangi dadanya yang tiba-tiba sesak.


''Mah, tenang Mah.'' Tuan Wira merangkul istrinya berusaha memberinya kekuatan.


''Tante, apa perlu kita ke rumah sakit?'' sambung Daniel yang juga merasa khawatir.


''Tidak perlu Tuan.'' Jawab Nyonya Galuh. Nyonya Galuh berusaha mengatur nafasnya. Tentu saja sebagai Ibu Nyonya Galuh syok mendengar kabar putrinya di sakiti dan di telantarkan begitu saja. Hati orang tua mana yang tidak sakit mendapati putrinya menderita.


''Mah, jangan bicara seperti itu. Tidak baik,Mah. Papa juga kecewa tapi kita tidak perlu menghakimi. Biar Tuhan yang membalasnya.''


''Tidak bisa! Ini sudah sangat keterlaluan. Setidaknya pikirkanlah Zidane. Zidane juga darah dagingnya.'' Akhirnya tangis Nyonya Galuh pun pecah dalam pelukan suaminya. Sakit sekali membayangkan putri semata wayangnya harus menderita seperti ini.


''Lalu bagaimana kondisi Aruna, Tuan?'' tanya Tuan Wira.


''Aruna baik meskipun saya tahu kalau hatinya juga sedih. Kalau Om dan Tante mau, mari ikut saya ke rumah.''


''Iya Tuan, saya ikut.'' Sahut Nyonya Galuh.


''Mah, apa tidak besok saja. Mama istirahat saja dulu.''


''Tidak Pah. Kita harus menemui Aruna. Kasihan dia Pah, dia butuh kita. Ayo Pah, kita pergi sekarang.'' Paksa Nyonya Galuh. Tuan Wira hanya bisa mengangguk menuruti permintaan istrinya.


Sementara di rumah Daniel, Aruna sedang menyuapi Zidane makan siang.


''Gini dong makannya yang banyak, Mami senang sekali.''


''Mami tidak ke kantor?''

__ADS_1


''Tidak sayang. Mami ijin libur untuk menemani kamu.''


''Lalu Om Daniel?''


''Om Daniel ke kantor.''


''Om Daniel pulang jam berapa Mah? Ini kan jam makan siang kenapa Om Daniel tidak pulang? Padahal aku ingin Om Daniel pulang untuk melihatku.''


''Om Daniel sibuk, Zidane. Di kantor pasti banyak pekerjaan, apalagi Mami ijin libur.''


''Iya juga pasti Om Daniel sibuk.''


''Setelah ini minum obat ya. Apa masih ada yang sakit?''


''Kepalaku masih terasa pusing, Mi.''


''Tapi kamu disekolah tidak terjadi sesuatu kan?''


''Tidak ada apa-apa kok, Mi. Semua teman-temanku juga baik.''


''Syukurlah kalau begitu. Ayo habiskan makannya.''


''Mi, aku sudah kenyang.''


''Oke baiklah. Setidaknya perut kamu sudah terisi. Sekarang minum obatnya ya.''


''Iya Mi.'' Beberapa saat kemudian setelah minum obat, Zidane menanyakan sesuatu pada Maminya.


Mi, apa Papi tidak menelepon?''


''Tidak sayang. Apa kamu menginginkan Papi?''


''Tidak usah Mi.'' Jawab Zidane dengan wajah murung. Aruna lalu mendekap putranya dan mengecup pucuk kepala putranya.


''Kasihan kamu Zidane. Apa kamu sakit karena memikirkan semua ini? Maafkan Mami.'' Batin Aruna. Meskipun masih kecil, Zidane tetap saja merasa sedih. Melihat sang Ibu disakiti, di tambah harus pergi meninggalkan rumah dengan cara terpaksa.


''Mami jangan sedih ya. Aku akan selalu ada untuk Mami. Apapun yang terjadi, kita harus lewati sama-sama. I love you Mami.''


''Terima kasih sayang. I love you too my dear. Mami beruntung sekali memiliki kamu. Kamu harta yang paling berharga untuk Mami.''


''Mami juga harta yang paling berharga untuk aku.''


Bersambung... Maaf ya baru up, beberapa hari ini sibuk sekali,haru kembali ke dunia nyata dulu,hehehe Terima kasih ya sudah sabar menunggu 😘

__ADS_1


__ADS_2