
Setelah cukup tenang, Dokter dan suster memerika keadaan Aruna. Dokter memberikan sebuah suntikan, untuk menenangkan Aruna karena emosi Aruna yang masih stabil. Arya dengan wajah paniknya akhirnya tiba dirumah sakit. Namun saat hendak masuk ke dalam ruangan, Arya melihat sebuah buket bunga tergeletak. Sempat berpikir sesaat namun akhirnya Arya tidak menghiraukannya, Arya segera masuk ke dalam.
''Zidane,'' ucap Arya sambil memeluk putranya.
''Papi, Mami sudah bangun tapi sekarang tidur lagi.'' Kata Zidane dengan polosnya.
''Bagaimana kondisi istri saya, Dokter?''
''Nyonya Aruna sudah siuman Tuan. Namun Nyonya sempat histeris karena kehilangan bayinya. Keadaannya sudah stabil namun emosinya yang belum stabil jadi kami memberikan suntikan untuk menenangkannya. Jadi saat ini Nyonya sedang dalam pengaruh penenang. Untuk sementara itu lebih baik karena jika kami tidak melakukan ini, bisa mempengaruhi kondisi psikis pasien dan kondisi syaraf otak pasien yang sempat mengalami gegar otak,'' jelas Dokter.
''Iya Dokter. Lakukan apapun yang terbaik untuk istri saya.''
''Baiklah kalau begitu kami permisi.'' Ucap Dokter.
''Iya Dokter, terima kasih.'' Kata Arya.
''Terima kasih ya kalian sudah menjaga Aruna. Kalian bisa pulang kok. Maaf sudah merepotkan kalian.''
''Tidak apa-apa Mas Arya. Kami sangat menyayangi Aruna jadi sudah tentu kami akan menjaganya,'' kata Gita.
''Zidane, kamu pulang bersama Tante Gita dan Tante Dinda ya. Biar Papi yang menjaga Mami.''
''Tapi Zidane ingin menjaga Mami.''
''Zidane, nanti malam kamu kesini lagi bersama Oma dan Opa. Bilang sama Bi Tuti untuk memasak makanan kesukaan Mami. Biar Mami setelah bangun, bisa langsung makan terus Mami cepat pulih.''
''Baiklah kalau begitu Papi, aku akan pulang.''
''Dinda-Gita, titip Zidane ya.''
''Iya Mas Arya. Kalau begitu kami permisi.'' Pamit Dinda.
''Hati-hati ya kalian.'' Kata Arya.
Zidane, Gita dan Dinda lalu meninggalkan ruangan. Dinda yang keluar terakhir, melihat sebuah buket bunga di kursi.
''Bunga? Bunga siapa ini?'' gumam Dinda. Dinda yang penasaran lalu mengambil dan membawanya. Sembari berjalan mengekor Gita dan Zidane, Dinda membuka kartu pada buket bunga itu.
...~Cepat sembuh Nyonya Aruna☺️~...
__ADS_1
Sebuah ucapan tanpa nama.
"Siapa yang mengirim ini untuk Aruna? Aruna tidak cerita apapun kalau dia punya teman baru." Gumam Dinda penuh tanda tanya.
Setelah mengantarkan Zidane pulang dan memberi kabar bahagia tentang Aruna, Dinda dan Gita pun segera pamit.
"Git, makan yuk! Gue lapar. Hari-hari yang menguras emosi, bikin gue kelaparan." Kata Dinda.
"Sama, gue juga. Eh itu bunga untuk siapa? Perasaan tadi elo nggak bawa bunga? Atau mau elo kasih bunga itu sama Aruna?" tanya Gita.
"Bunga ini tadi gue temuin di kursi dekat ruangan Aruna, Git. Dan tulisannya itu cepat sembuh Nyonya Aruna."
"Siapa pengirimnya?"
"Nggak ada, cuma itu doang. Kira-kira siapa ya? Aruna juga nggak punya mantan. Cinta pertamanya saja Mas Arya."
"Iya ya, siapa ya kira-kira? Mungkin rekan kantornya Mas Arya kali." Gita berusaha menebak.
"Bisa jadi sih. Tapi jujur gue udah gedeg banget lihat si Arya. Males gue manggil Mas. Bisa-bisanya dia bermuka dua seperti itu. Sumpah deh, pingin gue tonjok."
"Bukan hanya elo, tapi gue juga. Kalau gue nggak mikirin kredibilitas gue sebagai psikiater, udah gue timpukin. Ini nih yang bikin gue takut nikah. Hidup Aruna yang menurut kita sempurna dan kita jadikan panutan, justru malah ada duri dalam daging."
"Kayaknya Aruna nggak bakal dengan mudah membuka hati deh, Din. Banyak pasien gue yang kisahnya mirip Aruna, mereka memilih sendiri dulu sebelum membuka hati mereka kembali. Karena hal seperti ini tentu akan membekas dan menyisakan trauma yang sangat dalam untuk mereka. Dan untuk menyembuhkan luka itu tentu saja tidak mudah." Jelas Gita.
"Iya juga sih, Git. Ya sudahlah, saat ini dia butuh dukungan secara mental dan psikis untuk kembali bangkit. Apalagi masih ada Zidane yang sangat membutuhkannya."
"Yes, elo bener banget."
-
''Mas, aku sudah dua jam menunggumu? Kenapa kamu tidak datang?'' rengek Shella di seberang sana.
''Maafkan aku, Shella. Tadi aku mendapat kabar Aruna siuman saat aku di jalan hendak menemuimu.''
''Tapi setidaknya kamu bisa memberiku kabar tanpa harus membuatku menunggu. Aku juga istri kamu, Mas. Aku juga butuh hak yang sama. Sekalipun istri kamu sedang sakit tapi dia mempunyai keluarga yang lengkap dan begitu menyayanginya, sementara aku? Aku sebatang kara, Mas. Tidak ada yang peduli denganku! Bahkan suamiku sendiri pun bersikap sama seperti itu.''
''Hei, kamu bicara apa sih? Jangan marah dong Shella sayang. Aku sabar ya, tunggu sampai Aruna pulih, aku akan memprioritaskan kamu kok.''
''Lalu, setelah Aruna pulih, apa kamu akan kembali bersamanya? Atau kamu mengabulkan keinginan Aruna untuk berpisah?''
__ADS_1
''Shella, aku belum bisa menjawabnya. Tolong kamu mengerti ya? Ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan hal yang seperti ini.''
''Ya sudah kalau begitu Mas, beri aku uang untuk shoping. Sejak kita menikah, kamu belum memberiku nafkah. Aku butuh hiburan supaya mood ku membaik.'' Ketus Shella.
''Hmmm kamu ini tidak bersyukur ya. Sebelum menikah, aku saja setiap bulan sudah mentransfer uang padamu, eh sekarang malah bilang begitu.''
''Maaf Mas, aku kesal saja denganmu.''
''Ya sudah nanti aku transfer, kamu mau shoping, mau nyalon atau apa terserah asalkan kamu tidak marah lagi dan ceria lagi.''
''Oke, terima kasih ya, Mas. Semoga Aruna cepat sembuh, supaya ada giliran waktu untukku. I love you, Mas.''
''Iya sayang, i love you too.'' Arya mengakhiri panggilannya.
''Disaat seperti ini pun, kamu masih memikirkannya.'' Ucap Aruna. Arya tercekat mendengar suara Aruna. Ia lalu membalikkan badan dan melihat ternyata Aruna sudah siuman kembali.
''Sayang, kamu sudah sadar? Syukurlah.'' Ucap Arya seraya mendekat ke arah Aruna. Saat Arya hendak memeluk Aruna, Aruna menghentikan Arya.
''Maaf Mas, jangan sentuh aku!" ucap Aruna dengan suara gemetar menahan tangis.
''Sayang, aku tidak mau bertengkar. Aku sangat mengkhawatirkanmu. Aku juga sangat sedih dan terpukul karena kehilangan Zio.''
''Tidak ada orang yang khawatir dan terpukul tapi bermesra-mesraan dengan wanita lain.''
''Aruna, dia kan juga istriku. Aku harus bersikap adil padanya.''
''Iya dia istri kamu karena semuanya sudah terbongkar. Coba belum terbongkar, kamu tidak akan mengaku kan?''
''Aruna sayang, kamu harus fokus dengan kesehatanmu ya. Jangan memikirkan hal yang berat-berat.''
''Melihatmu saja sudah membuatku terasa berat, Mas. Bahkan aku rasanya jijik dan ingin muntah. Sebaiknya kamu jangan disini, Mas. Aku baik-baik saja dan aku cukup kuat untuk sendiri.''
''Sudah ya kamu jangan bicara aneh-aneh. Setelah ini giliran Papa dan Mama yang menjenguk kamu. Zidane juga ingin ikut, aku juga sudah meminta Bi Tuti untuk masak kesukaan kamu. Jadi kita stop ini dulu untuk sejenak. Kamu tenang saja, setelah semuanya pulih, aku akan mengakui hubunganku dengan Shella di hadapan orang tua kamu dan juga orang tua aku. Aku juga akan mengutarakan niatku untuk berpoligami. Sekalipun nanti mereka mencaci maki ku, aku akan tetap menerimanya.''
Mendengar ucapan Arya, sungguh membuat hati Aruna semakin tersayat. Bulir air matanya pun terjatuh begitu saja.
''Mas, sebegitu pentingkah arti wanita itu dalam hidup kamu? Sampai kamu mau melakukan itu untuknya?'' gumam Aruna dalam hati.
Bersambung... Yukk like, komen dan votenya ya, makasih 🙏❤️🤗
__ADS_1