Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
CUA S2 - Bab 31


__ADS_3

"Kenapa kita kesini?" tanya Aruna kesal karena Dicko lagi - lagi membawanya ke apartemennya.


"Dimana lagi tempat yang aman untuk kita mengobrol kalau bukan disini?" jawab Dicko enteng.


"Tidak seharusnya kamu seperti ini. Aku malu dan tidak enak hati sama Papa. Aku takut kalau nanti Bram tau."


"Kamu belum jawab pertanyaanku. Muka kamu kenapa?" tanya Dicko sembari mendekat perlahan.


"Kamu tidak ke kantor hari ini?" alih - alih menjawab pertanyaan Dicko, Aruna malah balik bertanya demi mengalihkan pembicaraan.


"Aruna, jawab dulu pertanyaanku."


"Emm ... Aku ... Aku jatuh di kamar mandi. Lantai kamar mandinya licin. Dan aku kepeleset. Dan ini ..."


"Kamu tidak pandai berbohong. Apa kamu tau, kalau berbohong itu juga butuh yang namanya bakat? Dan kamu tidak berbakat untuk itu."


Aruna kini menundukkan wajahnya. Bagaimana dia harus mengatakan pada Dicko, kalau Bram yang menyebabkan luka itu.


"Ini hanya luka kecil. Tidak usah mencemaskan aku. Luka ini bahkan tidak sebanding dengan luka yang sudah aku berikan untuk Bram." Ucap Aruna lesu.


Dicko menangkup wajah mungil Aruna. Dan m enatap sorot matanya lekat - lekat.


"Kamu memintaku untuk tidak mencemaskanmu? Saat kamu kecelakaan waktu itu saja, rasanya aku hampir mati. Bahkan aku rela menyerahkan hidupku agar kamu bisa hidup bahagia. Dan skarang, saat kamu terluka seperti ini, kamu tidak ingin aku mencemaskan kamu? Aku tidak bisa."


Pelan Aruna menurunkan tangan Dicko yang merangkum wajahnya. Kemudian mengambil dua langkah mundur ke belakang. Menjauhi Dicko. Hingga membuat Dicko menatapnya kebingungan.


"Di antara kita ada jarak yang tidak bisa kita lewati. Aku tidak ingin melewati batas itu jika ada yang harus terluka. Aku menyesal terlambat menyadari perasaanku. Tapi skarang, semua itu tidak ada gunanya lagi. Tolong, pertimbangkan kembali keputusan kamu untuk kembali ke rumah itu."


"Kamu mencemaskan Bram kan? Baik, aku tidak akan kembali ke rumah itu. Tapi kamu harus pastikan keadaan kamu baik - baik saja. Aku tidak mau melihat kamu dalam keadaan seperti ini lagi."


"Mungkin sebaiknya kita saling menjauh. Apa kata orang nanti tentang hubungan kita. Aku tidak ingin orang - orang berkata buruk tentang kamu."


Dicko memijit keningnya. Lalu menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan.


"Kamu boleh meminta apapun dariku. Akan aku berikan. Tapi jangan pernah meminta aku untuk menjauh darimu. Dan aku tidak peduli apa kata orang. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu."


Aruna bisa berbuat apa lagi sekarang. Sejak dulu hingga kini, perasaan Dicko terhadapnya tidak berubah sedikitpun. Jika dulu, Dicko akan selalu mengalah meski perasaannya tersakiti. Tapi sekarang, sejak dia tahu perasaan Aruna untuknya, Dicko jadi lebih berani.


"Sebaiknya aku pulang." Kemudian memutar tubuhnya hendak melangkah ke pintu.


Namun dengan cepat Dicko menarik lengannya. Dan langsung membekap bibirnya dengan bibir Dicko yang mendarat cepat dan memagutnya dengan lembut.


Oh astaga. Gila, benar - benar gila. Semakin lama Dicko semakin memagutnya lebih dalam. Bahkan kedua tangannya memeluk tubuh Aruna erat. Seakan tak ingin melepasnya. Semakin lama ciuman itu semakin menuntut lebih. Dicko kini semakin terbawa hasratnya.

__ADS_1


Namun ciumannya berakhir, saat Aruna mendorong pelan tubuhnya. Di tengah deru napasnya yang masih memburu, Dicko menatap Aruna sendu. Namun penuh damba. Akh, Dicko sudah tidak bisa menahan dirinya lagi.


"Aku tau apa yang aku lakukan ini salah. Tapi aku sungguh tidak bisa menghilangkan perasaan ini begitu saja. Sepanjang hidupku, hanya kamu satu - satunya wanita yang aku cintai." Lirih Dicko berkata.


"Jika kamu memintaku menjauh darimu, aku sungguh tidak bisa." Tambahnya.


Aruna sungguh tidak mengerti, hubungan apa yang dijalaninya saat ini. Dua pria ini tidak bisa lepas dari hidupnya. Sejak dulu hingga kini.


Mungkin takdir sedang mempermainkannya saat ini. Menjatuhkannya diantara dua pilihan yang sulit. Bahkan lebih sulit dari memilih antara hidup dan mati. Jika tidak ingin ada yang semakin terluka, mungkin dia akan memilih untuk melepaskan semuanya. Tidak memilih satu diantara keduanya. Namun ternyata, hal itu justru jauh lebih sulit. Sebab sebuah pengorbanan sejatinya menuntut sebuah keikhlasan. Apa Aruna sanggup mengorbankan cintanya?


"Aku merasa berdosa dan sangat bersalah. Aku sudah membuat Bram terluka."


Dicko terdiam. Bukan hanya Aruna saja yang merasa seperti itu. Dicko pun sama. Namun apa daya. Cinta ini membuatnya hilang akal. Cinta ini sudah membuatnya gila. Setahun lebih terpisah dari Aruna, bahkan kehilangan ingatannya. Tapi tidak sedikitpun menghilangkan cintanya. Justru hal itu membuatnya semakin berani menunjukkan cintanya.


Drrrt ... Drrrt ... Drrrt ...


Dering ponsel Dicko dan bergetar di sakunya, mengagetkannya dari angan panjangnya. Dicko merogoh sakunya dan mengambil ponselnya dari dalam sana.


Sebuah panggilan dari Papa Danu.


"Halo ..." sapa Dicko.


"Dicko, Bram tidak ada di kantor. Baru saja Bu Diana menelfon Papa. Hari ini ada rapat, tapi Bram belum juga datang ke kantor. Setau Papa, Bram sudah pergi sejak tadi." Ucap Papa Danu dari seberang.


"Trus, Papa mau aku menggantikannya memimpin rapat?"


"Kenapa harus aku? Dia bukan anak kecil lagi."


"Kamu pikir Papa tidak tau siapa penyebab Bram jadi seperti ini?"


"Iya, baiklah." Kemudian menutup teleponnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku.


"Ada masalah apa?" tanya Aruna.


"Entahlah. Aku harus mencari seseorang. Aku antar kamu pulang ya?"


"Siapa?"


"Kamu tau siapa dia."


Kamu tau siapa dia. Sudah pasti Bram. Dan Aruna pun mendadak jadi cemas dan takut kalau sampai terjadi sesuatu pada Bram.


"Ayo." Dicko melangkah menuju pintu dan lebih dulu keluar. Namun tiba - tiba saja pandangannya terhenti pada sesosok pria yang baru saja keluar dari apartemennya di sebelahnya. Kemudian di susul seorang wanita muda dengan pakaian minim. Siapa lagi kalau bukan Mona.

__ADS_1


Seketika tatapan mereka bertemu. Saling menatap tajam.


Sejak tadi Bram keluar rumah. Dan sekarang dia ada di apartemennya Mona. Apa yang Bram lakukan di tempat ini?


"Hai?" sapa Mona sekedar untuk berbasa - basi. Namun Dicko tak menggubrisnya sama sekali.


"Papa memintaku mencarimu. Rupanya kamu ada di sini." Seru Dicko tanpa canggung.


Bram tidak menanggapi. Bram hendak melangkah pergi, namun terhenti sejenak. Sebab sepasang matanya melihat Aruna keluar dari apartemennya Dicko. Dan seketika pun tatapan mereka bertemu.


Bukan hanya menatap tajam Aruna. Namun tatapan Bram penuh amarah dan kebencian. Sedangkan Aruna menatapnya sayu. Sepengetahuannya, Bram sudah berangkat ke kantor. Tapi malah bertemu di tempat ini. Dalam situasi seperti ini.


Oh my God. Situasi apa yang sedang mereka hadapi saat ini. Bram sedang bersama Mona. Sementara Aruna sedang bersama Dicko. Skornya seri. Satu berbanding satu. Tidak ada cela untuk saling menyalahkan. Apakah Bram sedang balas dendam?


"Bram ..." lirih Aruna sembari menghampiri Bram perlahan.


Tanpa berkata apapun Bram langsung pergi meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Aruna yang masih memanggilnya berkali - kali. Bahkan Aruna mengejarnya. Namun dengan cepat Bram sudah memasuki lift dan pintu lift pun menutup.


Bram berpikir, Aruna tidak lagi mengejarnya. Namun ternyata salah. Aruna masih mengejarnya sambil berteriak memanggil - manggil namanya. Bram tetap saja tidak menghiraukannya. Seperti waktu itu, setahun yang lalu.


Sampai di tempat parkir, Bram langsung menaiki mobilnya dan mulai mengemudikan mobilnya meninggalkan tempat parkir. Sementara Aruna masih terus mengejarnya.


"Bram ..." teriak Aruna sekencangnya.


Bram sedikit jauh sudah meninggalkan tempat itu. Sampai tiba - tiba terdengar suara decitan ban mobil yang mengerem mendadak. Di susul dengan suara teriakan kencang memanggil sebuah nama. Seperti waktu itu.


"Aruna ..." suara teriakan seseorang memanggilnya.


Bram pun langsung menghentikan mobilnya. Mendadak. Seketika dia teringat kejadian waktu itu. Saat Aruna tertabrak mobil. Perasaannya pun menjadi tak enak. Dilanda cemas tiba - tiba.


"Aruna ..." lirihnya penuh kecemasan.


Dengan lutut gemetaran, Bram turun dari mobil. Sekedar memastikan bahwa Aruna baik - baik saja.


Di kejauhan, tampak Aruna berdiri mematung tepat di depan sebuah mobil sambil menutup telinganya. Bram pun akhirnya bisa bernapas lega. Hampir saja. Syukurlah Aruna baik - baik saja.


Namun perasaan leganya kembali berganti amarah. Saat dilihatnya Dicko datang menghampiri Aruna. Lalu memeluknya erat. Kemudian membawanya pergi dari tempat itu.


"Kamu keterlaluan Aruna ..." air mata itu mulai menggenang di pelupuk matanya. Kedua tangannya terkepal erat. Kilatan amarah terpancar di wajahnya.


.......


.......

__ADS_1


.......


...-Bersambung-...


__ADS_2