
Akhirnya Daniel sampai juga di depan rumah Aruna.
''Terima kasih Tuan, sudah mengantarku.''
''Sama-sama. Oh ya biar aku yang menggendong Zidane. Kasihan kalau dia bangun.''
''Terima kasih.'' Aruna dan Daniel turun dari mobil. Daniel membuka pintu belakang, menggendong Zidane yang sudah terlelap. Saat memasuk ke dalam rumah dan melewati ruang tengah, Aruna terkejut melihat Arya yang sudah duduk disana.
''Mas Arya," gumam Aruna. Arya menatap kesal Daniel dan Aruna. Apalagi Zidane yang terlelap dalam gendongan Daniel.
''Mbak Lasmi!" panggil Aruna.
''Iya Nyonya!" sahut Mbak Lasmi. Mbak Lasmi bergegas menuju arah suara Aruna. Mbak Lasmi pun terkejut melihat Aruna datang bersama Daniel.
''Mbak, tolong bawa Zidane ke kamar ya.''
''I-iya Nyonya.'' Mbak Lasmi bisa merasakan suasana akan memanas. Daniel lalu memberikan Zidane ke gendongan Mbak Lasmi.
''Baiklah Aruna, aku permisi.'' Ucap Daniel.
''Terima kasih Tuan.''
''Tunggu!" cegah Arya dengan sorot mata penuh amarah dan cemburu.
Daniel mendengus membalikkan tubuhnya. ''Ada apa lagi?''
''Aku ingin bicara dengan kalian.'' Sinis Arya.
''Bicara apalagi, Mas? Tuan Daniel tidak ada sangkut pautnya.''
''Kamu terus saja membelanya, Aruna. Kamu darimana? Apa ini artinya menjenguk orang sakit? Sungguh pandai berbicara kamu, Aruna.''
''Aku memang menjenguk orang sakit, Mas. Aku menjenguk Tuan Hutama.''
__ADS_1
''Lalu kenapa kamu bisa bersama dia? Dan dimana mobilmu?''
''Tuan Daniel adalah putra dari Tuan Hutama. Saat aku tiba disana, Tuan Daniel sudah ada disana. Dan saat aku akan pamit, ban mobilku kempes jadi Tuan Hutama meminta Tuan Daniel untuk mengantarku. Sudah puas kamu?'' jelas Aruna.
''Jadi dia putra Tuan Hutama? Atasan kamu dulu itu?'' Arya tergagap mengetahui fakta itu.
''Iya.''
''Baiklah, semuanya sudah jelas. Jangan salah paham padaku. Aku punya banyak stok wanita jadi aku tidak mungkin merebut sesuatu yang bukan milikku.'' Daniel sangat muak dan kesal melihat Arya. Ingin rasanya Daniel ikut campur tapi ia tidak ingin semakin menyulitkan Aruna. Tanpa pamit, Daniel kemudian pergi begitu saja.
''Kamu dengar sendiri kan? Tuan Daniel bicara apa. Sekarang ada maksud dan tujuan apa kamu datang kemari?''
''Aku ingin bilang, kalau aku besok tidak akan hadir. Karena itu akan mempermudah proses perpisahan kita. Aku mau menemani Shella pemotretan. Kami sedang berencana membeli rumah baru. Jadi dia ikut bekerja membantuku.''
''Oh begitu, syukurlah kalau kalian bisa membeli rumah.'' Ucap Aruna dengan menahan rasa perihnya.
''Aku menjual apartemen itu. Dan Shella juga merelakan mobil, perhiasan serta tabungan miliknya untuk kami membeli rumah. Nantinya kami akan memiliki anak, tentu saja apartemen tidak senyaman rumah. Keuangan ku juga sudah menepis Aruna, jadi aku ingin meminta Bpkb mobil yang kamu pakai.''
''Maksudmu Mas?''
''Sudah aku duga akan seperti ini.'' Gumam Aruna dalam hati.
''Lalu bagaimana dengan biaya kenaikan kelas Zidane nanti, Mas?''
''Kamu sekarang kan sudah kerja, Aruna. Aku untuk sementara tidak bisa membantumu. Aku juga butuh biaya untuk lahiran Shella. Shella bahkan hamil masih mau mengambil job demi kita memiliki rumah. Dia bahkan dengan senang hati merelakan harta bendanya untuk di jual. Aku sebenarnya kasihan karena kamu tahu sendiri dia tidak punya siapa-siapa. Jadi aku akan membahagiakannya.'' Ucap Arya tanpa sedikitpun merasakan betapa sakit Aruna. Secara tidak langsung, Aruna merasa dibandingkan dengan Shella. Karena sejak menikah, hampir semua yang ia miliki adalah hasil kerja keras Arya. Ia hanya memiliki sedikit tabungan untuk membantu Arya. Namun tidak masalah bagi Aruna tapi bagaimana dengan Zidane?
''Lalu aku dan Zidane harus naik apa Mas? Zidane juga harus berangkat sekolah pagi-pagi.''
''Kamu bisa naik ojek atau taksi. Kalau keuanganku sudah stabil, aku akan mengganti mobilmu Aruna. Aku tidak akan lepas tanggung jawab begitu saja. Kamu tidak usah mengantar mobilnya, biar aku saja yang mengambilnya.''
''Baiklah aku akan ambil surat-suratnya di kamar.'' Ucap Aruna seraya berlalu menuju kamar.
''Kamu keterlaluan sekali, Mas. Kamu sungguh tega melakukan ini padaku. Apa setelah ini sertifikat rumah yang akan kamu gadaikan?'' batin Aruna dengan menahan segala kesalnya.
__ADS_1
''Ini Mas, semua suratnya.''
''Terima kasih Aruna. Maafkan aku jika aku sangat kejam kepadamu. Tapi aku benar-benar harus melakukan ini. Kasihan Shella, aku tidak bisa membiarkannya menderita. Dan maaf kalau besok aku tidak bisa hadir.''
''Tidak apa-apa, Mas. Sebaiknya kamu segera pergi, aku lelah.'' Aruna kemudian berlalu menuju kamar dan meninggalkan Arya begitu saja. Arya dengan berat hati meninggalkan rumah Aruna.
...****************...
''Gino, aku bahagia sekali malam ini.''
''Saya bisa melihat itu, Tuan. Saya pun juga ikut bahagia.''
''Jangan lupa ya tambal segera ban mobil Aruna. Aku merasa bersalah juga karena mengerjainya. Aku hanya ingin mereka lebih dekat.'' Ucap Tuan Hutama dengan senyum lebarnya.
''Tuan ini memang ada saja idenya.''
''Oh ya Gino, pastikan besok sidang putusan perceraian Aruna segera ketok palu. Urus dan atur semuanya, bukti juga sudah kuat. Aku ingin besok status Aruna benar-benar menjadi seorang janda.''
''Tuan, kenapa anda begitu kekeh ingin mendekatkan Tuan Daniel dan Nona Aruna? Maaf jika saya lancang, apalagi dengan status Nona Aruna nanti.''
''Gino, mereka itu jodoh yang tertunda. Dan hanya Aruna yang tepat untuk Daniel. Aku tidak masalah dengan status Aruna nanti. Yang jelas aku menyukai Aruna karena beberapa sikap dan sifatnya mirip dengan Diana. Apalagi Daniel juga sangat dekat dengan Mamanya. Jadi aku yakin Daniel akan jatuh cinta pada Aruna. Daripada Daniel memilih wanita yang tidak jelas, yang mata duitan, bisa habis hartaku, Gino. Daniel itu harus dicarikan pawang dan pawang itu adalah Aruna.''
''Apa yang anda katakan benar Tuan. Karena saya mendengar kinerja Tuan muda di kantor perubahannya sangat jelas. Kita tenang karena tidak ada lagi klien atau investor yang marah.''
''Nah, maka dari itu Gino, besok kamu urus semuanya. Aku tidak akan membiarkan Aruna berlama-lama dengan pria brengsek seperti Arya.''
''Baik Tuan, saya akan melakukan yang terbaik. Dan Tuan sendiri tahu kalau perusahaan tempat suami Nona Aruna bekerja adalah anak induk perusahaan kita.''
''Iya, aku bahkan baru tahu saat memintamu menyelidiki Aruna. Aku akui kinerjanya memang bagus tapi sungguh disayangkan, dia mempunyai tabiat yang buruk bahkan tega menyakiti Aruna. Suatu saat dia akan menyesal telah meninggalkan Aruna. Apalagi Zidane, aku menyayanginya Gino. Aku setelah ini akan sering mengunjunginya. Meminta Daniel untuk menikah secepatnya juga sepertinya tidak mungkin. Aku kembali menemukan semangat hidupku setelah melihat Zidane.''
''Tuan harus semangat untuk selaku sehat. Pastikan Tuan muda nanti akan menikah dengan Nona Aruna.''
''Tentu saja, Gino. Kini tujuan hidupku semakin jelas. Tolong berikan aku obat dan biarkan aku istirahat.''
__ADS_1
''Baik Tuan.'' Jawab Gino dengan semangat.
Bersambung....