Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
CUA S2 - Bab 33


__ADS_3

"Tolong ... Tolong ..."


Di ambang pintu itu Bram masih berdiri. Mendengar suara teriakan Bi Surti, dengan setengah berlari Bram menuju ke ruang tengah. Di lihatnya Aruna terlentang di lantai tak sadarkan diri.


"Den, tolongin Bibi Den." Pinta Bi Surti.


Tanpa berlama - lama Bram langsung membopong tubuh Aruna dan membawanya ke kamar. Lalu membaringkannya di ranjang.


Bi Surti datang dengan membawa minyak angin. Mungkin saja di butuhkan.


"Coba pake ini saja Den. Tadi Non katanya pusing." Sembari menyodorkan minyak angin itu pada Bram yang sedang duduk di sisi ranjang sambil memandangi Aruna.


"Tidak perlu Bi. Biarkan saja dia beristrahat. Mungkin dia kelelahan."


"Kemarin Non demam, sampe jatuh di kamar mandi. Eh, skarang malah pingsan."


"Jatuh di kamar mandi?" Bram mengernyit. Kenapa Bram tidak tahu kalau Aruna jatuh di kamar mandi.


"Iya, kata Non begitu waktu Bibi tanya kenapa dahinya terluka."


Oh begitu. Entah seperti apa perasaan Bram saat ini. Padahal luka itu Bram sendiri penyebabnya. Tetapi Aruna berusaha menutupinya.


"Apa tidak sebaiknya Non dibawa ke dokter saja Den. Menurut pengalaman Bibi, sepertinya Non Aruna ini sedang ..."


"Bi, tolong jaga dia baik - baik. Aku ada urusan sebentar." Kemudian Bram berdiri dan bergegas keluar.


Bi Surti hanya bisa terbengong - bengong melihat perubahan sikap Bram yang seakan tak peduli lagi dengan isterinya. Belakangan ini Bi Surti merasa ada yang aneh antara Bram dan Aruna. Mungkinkah mereka sedang bertengkar? Padahal Bi Surti hanya ingin menyampaikan kabar gembira. Menurut pengalamannya, kondisi Aruna saat ini sesuai dengan perkiraannya.


.


.


Bram kini tengah berada di sebuah Bar bersama Mona. Hingar bingar musik di Bar itu tak sedikitpun mengusik lamunannya. Tatapannya lurus, kosong, dan pikirannya melayang entah kemana.


"Beb, kok melamun sih? Kenapa? Ada masalah dengan istri kamu?" tanya Mona sambil menyandarkan kepalanya di pundak Bram.


Waduh, Mona memanggil Bram dengan sebutan Beb. Ada hubungan apa diantara mereka berdua. Apa Bram sungguh ingin membalas sakit hatinya dengan cara yang sama? Selingkuh?


Bram pun terusik. Pelan di tepisnya kepala Mona dari pundaknya.


"Jangan panggil aku Beb. Risih aku mendengarnya."


Mona cemberut mendengarnya. Dengan manjanya dia menggelayut di lengan Bram. Dan kembali menyandarkan kepalanya di lengan kekar itu.


"Ya udah, aku panggil honey aja ya?"


"Apalagi itu."


"Kalau sayang?"


"Jangan macam - macam kamu. Aku hanya memintamu berpura - pura."


"Beneran pun aku tidak keberatan kok. Serius juga aku mau."


Bram mendengus. Kemudian menepis kembali kepala Mona yang seenaknya main nyender sembarangan di pundaknya.


Dalam benaknya kini hanya ada Aruna. Kondisi Aruna yang pingsan sore tadi membuatnya cemas. Meski dia sedang marah, tetapi dalam hatinya dia masih mencemaskan Aruna. Walau bagaimanapun, Aruna adalah isterinya. Dan dia masih sangat mencintainya.

__ADS_1


.


.


Sementara itu, Dicko baru saja tiba di kediaman Papa Danu. Malam itu dia memberanikan diri hendak menemui Bram. Namun yang ingin ditemuinya tidak berada di tempat. Papa Danu yang baru saja pulang terkejut melihat kedatangan Dicko dengan wajah penuh lebam. Akibat perkelahiannya siang tadi dengan Bram.


"Dicko ..." sapa Papa Danu seraya menghampiri.


"Aku kemari untuk menemui Bram. Tapi sepertinya dia sedang pergi."


Tak berapa lama Bi Surti kembali menemui Dicko di ruang tamu.


"Maaf Den, tadi Bibi lagi nengokin Non Aruna. Dia udah sadar. Soalnya tadi Non Aruna sempat pingsan." Kata Bi Surti cemas.


"Pingsan?" tanya Papa Danu dan Dicko serentak.


"Iya, Tuan. Tadi Non Aruna, kepalanya pusing. Trus pingsan. Tapi skarang sudah sadar."


"Trus Bram kemana?" tanya Papa Danu.


"Den Bram sudah pergi sejak tadi Tuan. Habis nganterin Non ke kamar, trus Den Bram langsung pergi gitu aja. Den Bram cuma nitipin Non Aruna ke saya Tuan."


"Bram keterlaluan." Gerutu Dicko dengan kesalnya. Isteri lagi sakit dia malah pergi.


Tanpa meminta ijin terlebih dahulu, Dicko langsung beranjak ke kamar Bram. Di kamar itu, Dicko mendapati Aruna masih terbaring lemah. Melihat kedatangan Dicko, Aruna bangun dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.


"Kamu ... kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Aruna cemas sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dia khawatir jangan sampai Bram melihat Dicko ada dalam kamarnya.


Namun yang datang hanyalah Papa Danu. Yang ikut cemas melihat keadaan menantunya itu.


"Kamu tidak apa - apa Aruna?" tanya Papa Danu.


"Tidak apa - apa Pa. Cuma pusing, tapi sekarang aku baik - baik saja."


Beberapa menit kemudian, orang yang dihubungi Dicko datang dengan tergesa - gesa.


Randa.


"Maaf memintamu datang kemari ditengah - tengah kesibukanmu." Ucap Dicko.


"Untuk kamu kapan saja akan aku luangkan waktu. Malam Om ..." sembari menganggukkan kepalanya sekilas menyapa Papa Danu, dan di balas dengan senyuman oleh Papa Danu.


"Oh ya, apa keluhan kamu kali ini?" tanya Randa cemas sembari mengamati Dicko. Mungkin saja penyakit Dicko kambuh lagi. Meski kini dia dinyatakan sembuh, ada kemungkinan penyakit itu bisa kembali.


"Bukan aku. Tapi dia ..." Dicko menunjuk Aruna yang sedang duduk di ranjang.


"Oh ... Aku pikir kamu yang sakit. Baiklah, akan aku periksa keadaannya sekarang." Kemudian Randa menghampiri Aruna. Lalu mulai memeriksa Aruna.


Di mulai dari memeriksa detak jantungnya, disusul pemeriksaan standar lain. Sejurus kemudian Randa kembali menghampiri Dicko dengan wajah tersenyum.


"Gimana? Katanya dia tadi pusing, lalu pingsan."


"Aku bukan dokter yang tepat untuk kondisinya saat ini."


"Maksud kamu?" Dicko mengerutkan dahinya.


"Sebentar. Aku akan meminta bantuan seseorang." Randa mengambil ponselnya dan mulai menghubungi seseorang.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, seorang wanita cantik datang dengan ditemani oleh Bi Surti.


"Tuan, dokternya sudah datang."


Setelah mengantarkan tamunya, Bi Surti pun kembali ke dapur.


Wanita cantik itu, adalah seorang dokter kandungan. Teman seprofesi Randa. Dokter Sarah Natania.


"Dokter Sarah, maaf ya, aku jadi mengganggu waktumu." Ucap Randa.


Sarah tersenyum, lalu melirik Dicko. Matanya begitu berbinar saat melihat Dicko. Terlebih tanpa sengaja tatapan mereka saling bertemu. Seakan mereka pernah saling mengenal sebelumnya. Melihat tatapan Sarah pada Dicko, Randa jadi mengerti.


"Ehem ... ehem ..." Randa berdehem. Sarah pun buru - buru memalingkan wajahnya.


"Boleh langsung diperiksa saja. Silahkan." Randa mempersilahkan sambil menunjuk ke arah Aruna.


"Oh iya. Maaf ya, boleh tolong berbaring sebentar." Pinta Sarah dan langsung dituruti Aruna.


Sarah pun mulai memeriksa kondisi Aruna. Sebagaimana pemeriksaan yang sering dilakukan. Seperti memeriksa tekanan darah, denyut nadi, dan detak jantung.


Setelah memeriksa kondisi Aruna, Sarah pun tersenyum. Kemudian berdiri dan menghampiri Dicko.


"Istri kamu baik - baik saja." Kata Sarah seraya mengulum senyum menatap Dicko.


Mendengar itu Papa Danu dan Randa saling memandang satu sama lain dengan dahi mengerut. Sedangkan Dicko tersenyum tipis sambil melirik Aruna sekilas.


Kalimat itu terasa menyenangkan di dengar. Andai saja itu adalah kenyataan. Mungkin Dicko adalah orang yang paling berbahagia saat ini. Tapi kenyataannya kini, justru memilukan hati.


"Istri kamu harus banyak istrahat, jangan terlalu capek, jangan terlalu banyak pikiran, apalagi kalau sampai stress. Karna itu tidak baik untuk perkembangan janinnya." Tambah Sarah.


"Maksud kamu?" kini dahi Dicko mengerut. Ingin mendengar lebih jelas lagi penjelasan Sarah tentang kondisi kesehatan Aruna.


Sama hal nya dengan Papa Danu yang merasa penasaran. Sedangkan Randa hanya tersenyum. Karena dia sudah tahu apa yang terjadi dengan Aruna.


"Apa maksud dokter saya ... saya ... sedang ..." Aruna begitu gugup menyelesaikan kalimatnya.


"Iya, anda sedang hamil. Selamat ya? Selamat ya ... Dicko." Ucap Sarah ragu saat menyebut nama Dicko. Seseorang yang dulu pernah di taksirnya. Namun sayang, hanya bertepuk sebelah tangan. Bahkan rasa itu tak pernah tersampaikan. Masih tersimpan rapi dihatinya, hingga kini.


Dicko terlihat salah tingkah. Sedangkan Aruna dan Papa Danu begitu bahagia saat mendengarnya. Bahkan sangat terharu. Hingga tanpa sadar Aruna meneteskan air mata.


"Selamat ya, anda akan jadi seorang ibu." Ucap Sarah.


"Selamat ya, kamu akan jadi seorang ayah." Tambah Sarah lagi sambil menatap Dicko.


"Maaf, aku bukan suaminya." Kemudian menatap Aruna yang juga menatapnya.


Entah Dicko harus berbahagia ataukah justru harus bersedih. Dengan hamilnya Aruna, jelas akan semakin membentangkan jarak diantara mereka. Harapannya tidak akan mungkin bisa terwujud. Harapan konyolnya. Mengharapkan Aruna kembali padanya.


Namun kini, harapan itu sirna sudah.


.......


.......


.......


...-Bersambung-...

__ADS_1


__ADS_2