Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 18 Curiga


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Aruna segera menuju kamarnya. Disaat yang bersamaan Dinda dan Gita melakukan panggilan vidio call. Aruna tersenyum melihat dua sahabatnya yang begitu kompak.


''Aruna, ada apa? Sorry banget, gue tadi ada konseling dan pasiennya gue ajak ke taman.'' Ucap Gita penuh sesal.


''Gue juga sorry, Run. Salon dan klinik ramai, hape gue silent juga. Elo ada apa hubungi kita?'' kata Dinda dengan segala kepanikannya.


''Tadi perut gue kontraksi, pas gue lagi di toko pigura.''


''Apa? Kontraksi? Terus gimana? Babynya udah lahir?'' cerocos Gita.


''Ya belum lah. Tadi cuma kontraksi palsu sih. Jadi gue telepon kalian buat minta jemput di rumah sakit.''


''Tapi elo baik-baik aja kan, Run? Terus ke rumah sakitnya sama siapa? Terus elo pulang naik apa? Dan mobil elo gimana?'' cerocos Dinda.


''Tadi ada yang nolongin gue kok. Udahlah jangan terlalu khawatir.''


''Terus Mas Arya gimana? Udah elo kasih tahu?'' tanya Gita.


''Nggak Git. Mas Arya sejak kemarin nggak bisa di hubungi.'' Jawab Aruna menunduk sedih.


''Ya udah mungkin Mas Arya saking sibuknya sampai lupa kalau ponselnya mati. Positif thinking aja, Run.'' Hibur Dinda.


''Iya, Din. Oh ya terus gue mau minta tolong kalian buat jemput Zidane ke sekolah bisa?''


''Ya udah deh nanti biar gue yang jemput.'' Kata Dinda.


''Sorry ya gue nggak bisa bantu, soalnya masih ada pasien lagi.'' Kata Gita.


''Iya Gita nggak apa-apa. Sekali lagi thanks ya dan sorry banget jadi ngrepotin kalian.''


''Udah lah gitu aja makasih. Ya udah elo istirahat ya, Run.'' Ucap Dinda.


''Iya Run. Biar Zidane nanti di urus Dinda, oke.'' Sahut Gita.


''Iya-iya.''


''Ya udah kalau gitu sampai ketemu di rumah nanti ya.'' Kata Dinda.


''Iya Din-Git. Sekali lagi thanks ya.''


''You're welcome Aruna.'' Ucap Gita dan Dinda dengan kompak. Panggilan pun berakhir. Aruna kemudian mencoba untuk menghubungi Arya kembali. Namun ponsel Arya benar-benar tidak bisa di hubungi. Aruna kemudian mengirimkan pesan beruntun pada Arya tapi pesan itu hanya centang satu, bahkan sejak kemarin. Senyum ceria Aruna seketika sirna. Ia lalu melihat foto pernikahannya yang sempat jatuh kemarin tergeletak di atas meja.


''Mas, kenapa kamu membuatku khawatir? Kamu baik-baik saja kan? Atau aku coba tanya Lula saja ya. Pasti dia tahu. Ini sudah masuk haru kelima Mas Arya di Singapura dan mendadak dia tanpa kabar.'' Gumam Aruna. Akhirnya Aruna mencoba menelepon ke kantor, sekretaris Lula.


''Halo, selamat siang. Lula?''


''Halo selamat siang. Dengan Nyonya Arya ya?''


''Iya Lula, kamu masih hafal suaraku juga ya.''

__ADS_1


''Iya Nyonya. Ada yang bisa saya bantu Nyonya?''


''Oh ya Lula, aku mau minta alamat hotel Tuan Arya di Singapura ya.''


''Baik Nyonya. Saya kirimkan langsung ke nomor anda ya. Tapi seharusnya tadi Nyonya bisa hubungi langsung ke ponsel saya.''


''Maaf ya Lula, tadi yang di ingat langsung kantor. Ya sudah aku tunggu ya.''


''Baik Nyonya. Kalau begitu selamat siang.''


''Selamat siang Lula.'' Panggilan telepon berakhir. Tak lama kemudian pesan masuk datang dari Lula. Aruna kemudian segera menghubungi ke hotel yang berada di Singapura.


''Maaf Nyonya, kamar 3304 atas nama Tuan Arya Pradikta sudah check out sejak dua hari lalu.''


''Apakah anda yakin Nona?'' tanya Aruna pada resepsionis hotel.


''Iya Nyonya, tentu saja saya yakin.''


''Tapi kalau boleh tahu, Tuan Arya apa check ini sendiri?''


''Iya Nyonya. Kamar itu di pesan atas nama Tuan Arya saja.''


''Baiklah kalau begitu, terima kasih untuk informasinya.''


''Sama-sama Nyonya.'' Panggilan pun berakhir.


''Mas Arya, check out dua hari lalu. Lalu kemana dia?'' Segala pikiran buruk kini berkecamuk di hati Aruna. Aruna teringat kembali tentang blouse itu. Aruna segera menuju alamari pakaiannya dan mengambil blouse itu. Aruna menempelkan blouse itu di tubuhnya.


''Ya Tuhan apa yang aku pikirkan tentang suamiku? Semoga semua prasangka ini salah semua.'' Aruna mencoba menenangkan perasaannya sendiri.


Padahal Shella sendiri yang sengaja menonaktifkan ponsel Arya. Shella membuat Arya sibuk menghabiskan waktu dengannya. Arya benar-benar lupa dengan Aruna dan Zidane. Shella benar-benar bisa mengalihkan pikiran Arya dari Aruna dan Zidane. Arya sendiri pun sampai lupa untuk memberi kabar Aruna. Bahkan sebelum pergi ke Maldives, Arya sudah menelepon Lula kalau dirinya menambah pekerjaannya di Singapura selama beberapa hari. Semua itu sudah Arya atur, supaya ia bisa menikmati waktu bersama Shella.


...****************...


''Mami!" sapa Zidane begitu melihat Maminya berdiri di ambang pintu untuk menyambutnya. Zidane kemudian memeluk Maminya.


''Hei jagoan Mami. Maaf ya Mami tidak bisa jemput dan harus Tante Dinda yang jemput.''


''Tidak apa-apa Mami. Tadi Tante Dinda sudah cerita kok. Mami sehat-sehat ya, jangan sakit.''


''Iya sayang. Ya sudah, kamu ganti baju terus makan ya. Nanti di bantu sama Mbak Lasmi.''


''Oke Mami.'' Zidane kemudian masuk ke dalam menuju kamarnya.


''Aruna, elo baik kan?'' tanya Dinda kembali memastikan.


''Iam okay Dinda. Kita nyantai di teras samping yuk.'' Ajak Aruna.


''Iya deh ayo.'' Dinda dan Aruna kemudian menuju teras samping.

__ADS_1


''Oh ya mau minum apa? Atau kita makan sekalian ya. Bibi sudah masak lumayan. Ada gado-gado tadi.''


''Wah, gado-gado? Boleh deh, kebetulan gue belum makan siang.''


''Bi Tuti! Tolong siapkan gado-gado dan es jeruk untuk Nona Dinda ya.'' Teriak Aruna.


''Siap Nyonya!" sahut Bi Tuti dari dalam.


''Oh ya hasil pemeriksaan gimana Run?''


''Semuanya baik kok, Din. Kontraksi palsu sudah biasa kayak gitu. Gue sih cukup kaget soalnya pas hamil Zidane, gue nggak pernah kayak gitu.''


''Namanya bawaan hamil pasti beda-beda lah, Run. Tapi syukurlah kalau elo baik-baik aja. Terus gimana Mas Arya? Apa sudah bisa di hubungi?''


''Belum,'' singkat Aruna denga sorot mata sendunya. Dinda kemudian menggenggam tangan Aruna.


''Kalian nggak lagi berantem kan?''


''Nggak kok. Kita bahkan hampir nggak pernah berantem, Din. Semuanya lempeng-lempeng aja.'' Kata Aruna.


''Run, elo cerita deh sama gue. Sebenarnya ada apa? Elo yang selalu ceria, nggak pernah mendadak mellow kecuali lagi ada masalah. Kita sahabatan udah lama jadi gue tahu saat ini suasana hati elo kayak apa.'' Desak Dinda. Aruna berusaha tersenyum untuk menyembunyikan keresahannya.


''Permisi Nyonya-Nona. Ini pesanan Nona Dinda sudah siap.'' Kata Bi Tuti dengan cerianya.


''Makasih ya Bi.'' Kata Dinda.


''Sama-sama Nona. Oh ya, Nyonya saya ambilkan juga ya. Nyonya belum makan juga kan?'' kata Bi Tuti.


''Iya Bi, ambilkan sekalian untuk Nyonya Aruna. Sama vitamin hamilnya ya, Bi.'' Pinta Dinda.


''Siap Nona Dinda.'' Bi Tuti kemudian berlalu dan segera menyiapkan makan siang untuk Aruna.


''Udah, mending elo makan deh. Nggak usah interogasi gue.''


''Aruna, ingat ya Zidane masih butuh elo. Kalau ada apa-apa mending cerita.''


''Iya tapi makan dulu gado-gadonya.''


''Tapi janji ya?''


''Kok maksa sih,'' celetuk Aruna dengan tawa kecilnya.


''Elo tetap nggak bisa bohongin gue dan Gita. Ingat itu!"


''Iya-iya nanti gue cerita. Mending sekarang makan dulu.''


''Oke, gue makan. Tapi habis ini cerita.''


''Iya Dinda, bawel deh.'' Kata Aruna dengan senyum kecilnya.

__ADS_1


''Ya udah, gue makan dulu. Udah ngiler gue.'' Ucap Dinda seraya melahap gado-gado di hadapannya itu.


Bersambung....


__ADS_2