Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 42 Menenangkan


__ADS_3

Begitu sampai di depan kelas, Zidane langsung berhambur kepelukan Aruna. Karena di dalam kelas, hanya tersisa Zidan bersama wali kelasnya.


''Maafkan kami ya Bu Mira, kami kurang memperhatikan Zidane.'' Kata Aruna pada wali kelas Zidane.


''Kami harap ini hanya mood Zidane yang berubah. Meskipun sebelumnya Zidane tidak pernah seperti ini. Zidane yang biasanya ceria, mendadak murung.''


''Iya Bu Mira. Kami akan lebih memperhatikan Zidane. Kalau begitu kami permisi.''


''Iya Nyonya silahkan.''


''Ayo Zidane, Papi gendong.'' Kata Arya.


''Tidak perlu. Zidane bisa jalan sendiri.'' Ucap Zidane.


''Oke baiklah, rupanya anak Papi sudah dewasa ya.'' Kata Arya. Arya lalu berusaha menggandeng tangan Zidane namun Zidane justru menepis tangan Papinya. Zidane hanya mau digandeng oleh Maminya. Keduanya lalu berjalan menyusuri koridor menuju ruang parkir.


''Zidane pulang sama papi ya?''


''Tidak mau! Aku mau sama Mami.''


''Zidane, maafkan Papi sudah meninggalkan rumah. Tapi ini yang terbaik untuk Papi dan Mami.'' Arya menghentikan langkahnya, berusaha membujuk Zidane.


''Papi sangat merindukanmu, Zidane.'' Arya memeluk Zidane. Namun Zidane tidak merespon pelukan Arya. Mata Aruna sudah berkaca-kaca. Antara menahan sakit, masih cinta dan juga benci melihat Arya.


''Mami, ayo kita pulang!" ucap Zidane.


''Iya sayang.'' Jawab Aruna. Zidane lalu menarik tangan Mamanya untuk menjauh dari Arya.


''Doktrin apa yang membuat sikap Zidane berubah Aruna?'' kata Arya dengan begitu lantangnya. Mendengar itu, Aruna sungguh sangat geram.


''Sayang, tolong tunggu Mami di ayunan itu ya. Mami akan bicara dulu dengan Papi.''


''Iya Mami.'' Zidane lalu menuruti perintah Maminya. Aruna berbalik lalu menghampiri Arya. Aruna menyeret tangan Arya, mencari tempat yang sepi untuk bicara.


''Jaga ucapanmu ya, Mas! Kamu sendiri yang membuat Zidane seperti itu. Kamu bukan hanya menghancurkan psikis Zidane tapi juga psikis ku. Kamu bahkan sejak pergi dari rumah, kamu sama sekali tidak menelepon ku untuk menanyakan kabar Zidane. Kamu pikir Zidane tidak terluka, Mas? Kamu egois memikirkan diri kamu sendiri.''


''Kamu sendiri kan yang meminta cerai? Aku sudah mengabulkan keinginanmu tapi kamu malah menyudutkan aku.''


''Mas, sekalipun kita tidak bercerai, Zidane sudah terluka Mas? Kasih sayang yang seharusnya utuh tapi malah terbagi. Kamu itu manipulatif sekali, Mas.''


''Sekarang kamu berani melawanku ya? Jangan mentang-mentang kamu sudah kerja dan cari uang sendiri, kamu mencuci otak Zidane.''

__ADS_1


''Aku tidak pernah mencuci otak Zidane, Mas. Dia itu tahu semuanya, Mas? Dia tahu permasalahan kita. Dia bahkan mendengar pertengakaran kita waktu itu. Aku sendiri terkejut saat dia mengetahuinya. Kamu bisa membayangkan sakitnya Zidane menahan semua itu? Sampai akhirnya kamu ketahuan selingkuh dah menikah diam-diam di belakangku. Bahkan saat aku menjelaskan semua persamalahan kita pada Zidane, dia bilang sudah tahu semuanya, Mas. Anak sekecil itu harus menanggung beban keegoisan kamu. Aku masih bingung ya Mas, apa yang ada di otak kamu, sampai kamu tega menduakan aku diam-diam?''


''Cukup menyudutkan aku, Aruna. Aku sudah mengutarakan niatku poligami. Bahkan saat aku akan menikahi Shella, aku juga akan jujur sama kamu. Tapi kamu malah memilih kita pisah, aku berusaha mempertahankan tapi kamu malah memilih menyerah.''


Aruna tersenyum miring. ''Kamu memang pria egois, Mas.''


Dan tiba-tiba ponsel Arya berdering. Panggilan masuk dari Shella.


''Aku angkat telepon dulu.'' Kata Arya. Aruna melihat sekilas, ada nama Shella di layar ponsel Arya.


''Iya sayang, ada apa?''


''Mas, kamu kok lama sekali? Aku sudah menunggu kamu makan siang. Kamu tahu kan kalau anak di perutku ini manja sekali, dia ingin dekat dengan Papanya.'' Rengek Shella diseberang sana.


''Iya Shella, ini aku habis ini pulang.''


''Kalau begitu belikan aku rujak buah ya, aku ingin sekali makan rujak.''


''Iya, aku akan belikan. Ya sudah tunggu sebentar, aku akan pulang.'' Kata Arya.


''Hati-hati ya, Mas. I love you.''


''Iya, i love you too.'' Kata Arya. Runtuh hati Aruna, mendengar obrolan mesra itu namun Aruna tetap berusaha tegar.


''Benar-benar brengsek pria itu. Ternyata begitu cerita yang sebenarnya,'' gumam Daniel dalam hati.


''Kuat Aruna, jangan tunjukkan air matamu pada Zidane.'' Gumam Aruna yang berusaha menenangkan dirinya sendiri. Aruna buru-buru menghapus air matanya. Ia lalu meninggalkan tempat itu dan menyusul Zidane yang masih duduk di ayunan.


''Ayo sayang, kita ke parkiran.''


''Mata Mami basah, habis nangis? Lalu Papi mana?''


''Tidak, Mami tidak menangis. Mata Mami kemasukan debu. Papi tadi pulang tapi katanya nanti Papi akan ke rumah.'' Kata Aruna.


''Untuk apa Papi kembali ke rumah? Aku benci Papi.''


''Zidane, walau bagaimanapun dia itu Papi kamu, Ayah kamu. Sebaiknya kita pulang ya, karena Mami harus kembali bekerja.''


''Iya Mami.''


Saat sudah sampai di parkiran, Aruna melihat Daniel sudah disana tampak Daniel bersender di mobilnya.

__ADS_1


''Mami, kok ada Om Daniel?'' tanya Zidane.


''Mami bekerja di perusahaan Om Daniel, Zidane.'' Ucap Aruna


''Hai Zidane, bagaimana kabarmu?'' tanya Daniel.


''Baik Om. Mami bekerja di sama Om ya?''


''Iya. Bolehkan Mami bekerja di kantor Om?''


''Tentu saja tapi Om jangan sakiti Mami ya. Awas saja kalau Om sampai menganggu dan menyakiti Mami.''


''Tenang saja Zidane. Om sendiri tidak tahu kalau Mami kamu sudah memasukkan lamaran kerja di perusahaan Om. Jadi sungguh tidak sengaja dan di luar rencana.''


''Iya Zidane. Mami sendiri tidak tahu kalau bosnya itu Om Daniel. Ya sudah Mami antar pulang dulu ya.''


''Tuan aku antar Zidane pulang ya?''


''Ayo, aku antar sekalian.''


''Tapi aku tidak mau merepotkan anda. Apalagi ada ucapan tidak enak tadi.''


''Sudahlah tidak usah di pikirkan. Dimaki dan di tampar wanita sudah makananku, masa iya di tuduh seperti itu sudah lemah.'' Jawah Daniel dengan tawa kecilnya.


''Ayo Zidane, Om antar pulang.''


''Terima kasih, Om.''


''Sama-sama.''


Akhirnya Daniel mengantar Zidane ke rumah. Suasana di dalam mobil pun menjadi hening, Aruna hanya fokus menatap kedepan namun pikirannya entah kemana. Sedangkan Zidane tampak murung.


''Zidane, kamu mau ice cream?''


''Tidak Om, terima kasih.'' Jawab Zidane dengan lemas.


''Ayolah, anggap saja ini awal pertemanan kita. Om tahu kedai ice cream yang sangat enak. Sejak Om masih kecil, kedai itu masih ada.''


''Oh ya aku sendiri sudah janji ingin memberikan sesuatu pada Om Daniel karena sudah menolong Mami. Aku hampir lupa,'' gumam Zidane dalam hati.


''Tuan, tidak usah! Biar Zidane langsung pulang saja. Setelah ini kita juga harus menemui klien.'' Kata Aruna.

__ADS_1


''Baiklah Om, aku setuju.'' Sahut Zidane.


''Kamu dengarkan Aruna, Zidane sudah setuju. Jadi kita pergi ke kedai ice cream!" seru Daniel seperti seorang bocah.


__ADS_2