
''Mas, kamu lama sekali. Kamu tahu kan kalau aku ini sering mual dan muntah seperti ini.'' Protes Shella.
''Maaf sayang, aku tadi sudah bilang kalau aku mendapat telepon dari sekolah.''
''Kamu pasti bertemu dengan Aruna kan?''
''Iya. Kan orang tua Zidane aku dan Aruna.''
''Pasti kalian mesra-mesraan dulu kan di sekolah?''
''Ya ampun, untuk apa sih? Masa iya di sekolah mau mesra-mesraan. Kita bertemu juga untuk urusan anak. Kamu tahu sendiri, sejak aku keluar dari rumah, aku belum memberi kabar pada Aruna. Aku fokus untuk mengurus kamu. Walau bagaimanapun Aruna masih istri aku, sebelum hakim mengetuk palu perpisahan.''
''Iya-iya, aku memang cuma istri sirimu saja. Lalu kapan kamu mau menikahi ku secara resmi, Mas?''
''Kita tunggu sidang perceraian ku dengan Aruna ya. Situasi seperti ini, kita tidak mungkin meresmikannya. Harus ada akta cerai dulu. Karena mengesahkan secara negara tidak bisa di lakukan, kalau Aruna tidak mengijinkannya. Kamu tahu sendiri kalau Aruna lebih memilih berpisah daripada di poligami jadi tentu itu akan menyulitkan kita untuk mengesahkan pernikahan kita. Aku harap, kamu bersabar ya.''
''Baiklah, aku akan bersabar. Oh ya Mas, aku tidak mau tinggal diapartemen lagi. Aku jenuh disini. Aku ingin punya rumah juga seperti Aruna. Kamu sudah memberikan Aruna rumah, sedangkan aku belum.''
''Tapi aku juga sudah membelikanmu apartemen ini.''
''Mas, kita jual saja ya apartemen ini. Terus uangnya kita pakai untuk membeli rumah. Aku ingin rumah yang besar, ada tamannya, kolam renang, pokoknya halamannya yang luas juga. Supaya kita bisa bermain dengan leluasa bersama anak-anak kita.''
''Baiklah kalau itu keinginan kamu. Kamu coba cari-cari dulu rumah yang kamu inginkan.''
''Aku sudah mencarinya, Mas. Dan ini rumahnya.'' Shella kemudian menunjukkan situs property pada Arya.
''Nah ini Mas, rumah impian ku. Dengan gaya modern klasik. Ini bagian depannya, fasadnya tinggi dan mewah. Yang paling aku suka ini Mas, kolam renangnya seperti kita sedang di resort paling mewah di Bali. Dapurnya juga sangat cantik. Semua lantainya dari marmer. Nah ini kamar utamanya, Mas. Kamarnya luas banget. Aku ingin sekali punya walk ini closet. Kamu tahu kan sebagai model, baju aku sangat banyak. Almari ku saja tidak cukup. Belum lagi koleksi tas dan sepatu aku. Luas tanahnya 3000 meter, Mas. Ada lima kamar untuk keluarga dan dua kamar lagi khusus kamar pembantu. Kamu lihat deh, Mas.'' Ucap Shella sambil menggeser layar ponselnya, menunjukkan detail setiap isi rumah.
''Sayang, rumah sebesar ini untuk kita terasa sepi. Kita beli yang sederhana saja ya, ya maksudnya tidak sebesar ini.'' Kata Arya.
''Mas, ayolah! Ini rumah seumur hidup kita. Kita nanti punya anak yang banyak. Belum nanti kalau anak-anak dewasa, Mas. Kita tidak perlu beli lagi nanti. Aku tidak masalah apartemen ini di jual. Kalau di rumah, aku bebas dan punya ruang gerak yang luas. Kalau disini cuma lihat gedung-gedung saja. Apalagi aku sedang hamil, sudah pasti butuh udara yang segar. Jenuh Mas disini terus.'' Shella terus berusaha membujuk Arya.
''Memang rumah ini harganya berapa, Shella?''
''Harga rumah ini sebanding lah dengan jabatan kamu di kantor, Mas. Rumah ini harganya 70 Milyar.''
''APA? 70 MILYAR?'' Arya benar-benar terkejut mendengar nominal yang disebut oleh Shella.
''Kamu kok kaget gitu sih, Mas.''
''Ya aku mana punya uang sebanyak itu, Shella.''
__ADS_1
''Aku nanti akan jual mobil aku, Mas. Terus aku ada sedikit tabungan juga. Meskipun aku sudah tidak banyak mengambul job, aku masih bisa endorse di akun medsos aku, Mas. Bisa di bayar setengah dulu Mas, sisanya di cicil. Aku juga masih punya penghasilan jadi jangan khawatir. Aku lebih mandiri dari dari Aruna. Kamu pasti membeli rumah itu full uang kamu kan? Sedangkan aku masih baik dan mau mengalah dengan memberikan tabungan juga mobil aku.''
''Iya tapi tidak usah membanding-bandingkan begitu, Shella. Dulu aku yang meminta Aruna resign. Dan rumah itu memang aku berikan untuknya.''
''Tuh kan kamu lebih cinta sama Aruna. Dia tidak perlu keluar modal untuk mendapat rumah mewah dari kamu. Aku ini cinta pertama kamu Mas tapi kamu ini sungguh tidak adil.''
''Itu kan dulu, Shella. Lagi pula rumahnya juga biasa, masih mewah rumah yang kamu pilih ini.''
''Kamu tahu kan Mas, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Jadi dengan rumah sebesar ini, kita bisa punya banyak anak, terus punya banyak cucu, supaya aku tidak merasa kesepian. Aku ingin rumah kita nanti jadi tempat berkumpulnya anak dan cucu kita nanti, Mas. Aku tidak mau sendirian dan kesepian.'' Shella memasang wajah melasnya untuk meluluhkan hati Arya.
Arya menghela nafas panjang. ''Baiklah, kita akan beli rumah ini. Kita besok menemui agen propertynya ya, kita DP dengan uang tabungan ku dulu saja.''
''Kamu serius Mas?''
''Iya sayang, aku serius.''
''Oh terima kasih ya, Mas.'' Shella memberikan pelukan untuk Arya karena sebentar lagi rumah impiannya akan segera terwujud.
''Tapi nanti malam ijinkan aku kerumah Aruna. Aku harus membicarakan masalah Zidane di sekolah tadi.''
''Iya Mas, aku tidak pernah melarangmu. Kamu sendiri tahu kan kalau trimester pertama kehamilan ini menyiksaku. Apalagi dengan masalah kemarin, kita juga harus menenangkan diri begitu juga dengan Aruna.''
''Sama-sama, Mas.''
...****************...
''Bagaimana Zidane? Apa enak ice creamnya?''
''Enak sekali, Om. Terima kasih ya.''
''Sama-sama.'' Daniel melihat Aruna yang hanya memainkan ice creamnya, bahkan ice cream itu hampir meleleh.
''Aruna, kenapa ice creamnya tidak di makan? Diet ya?'' celetuk Daniel.
''Tidak Tuan.''
''Mami, ayolah makan. Mami sejak pagi tadi bahkan belum sarapan. Nanti Mami sakit.'' Ucap Zidane.
Aruna tersenyum sambil mengelus kepala Zidane. ''Iya Zidane, Mami akan memakannya.''
''Atau kita cari restoran untuk makan siang?'' sahut Daniel.
__ADS_1
''Tidak usah, Tuan Daniel. Sebaiknya kita antar Zidane dulu. Setelah ini kita harus bertemu klien.''
''Oke baiklah, kalau itu keinginanmu. Tapi habiskan ice cream mu. Setidaknya kamu harus punya energi untuk bekerja. Jangan sampai aku dicap sebagai bos kejam.'' Ketus Daniel.
''Iya-iya.'' Kesal Aruna.
Setelah puas makan ice cream, Daniel lalu mengantar Zidane pulang.
''Sebaiknya Tuan tidak usah turun. Aku akan mengantar Zidane ke dalam.''
''Siapa juga yang mau turun?'' sinis Daniel.
''Sumpah ya manusia ini kadang baik tapi kadang ngeselin.''
''Om terima kasih untuk ice cream dan tumpangannya.''
''Sama-sama Zidane.''
Aruna dan Zidane kemudian turun dari mobil. Ia lalu membawa Zidane ke kamarnya.
''Zidane, Mami harus kejar dulu ya. Kamu baik-baik di rumah sama Mbak Lasmi dan Bi Tuti ya. Kalau ada apa-apa telepon Mami.''
''Mami, maafkan Zidane ya sudah menyusahkan Mami dengan membuat ulah disekolah.''
''Kamu tidak salah, Nak. Papi dan Mami yang salah, maafkan Mami ya.''
''Mami, Zidane janji tidak akan seperti itu lagi. Zidane sudah membuat Mami sedih dengan ulah Zidane.'' Zidane kemudian memeluk Maminya. Ibu dan anak itu pun menangis.
''Tidak apa-apa sayang. Ini memang sangat berat untuk anak seusia kamu. Tidak seharusnya kamu melewati hal buruk seperti itu. Kita bangkit sama-sama ya, Nak. Kita harus tunjukkan pada Papi, kalau kita kuat dan bisa tanpa ada Papi disini. Saat ini yang Mami butuhkan adalah kamu, sayang.''
''Maafkan Zidane ya, Mi. Zidane menyesal bersikap seperti itu. Zidane janji akan memperbaiki semuanya.''
''Iya sayang, Mami tidak marah kok pada Zidane. Maafkan Mami kalau Mami harus bekerja. Mami bekerja untuk Zidane.''
''Iya Mami, Zidane mengerti. Zidane janji akan menjadi anak yang baik. Mami semangat ya kerjanya dan jangan lupa makan ya, Mi.''
''Iya sayang, terima kasih. Mami pergi dulu ya.''
''Iya, Mami hati-hati ya.''
''Iya sayang.'' Aruna kemudian menciumi wajah putranya sebelum ia kembali berangkat kerja. Sungguh berat, meninggalkan Zidane untuk bekerja. Aruna merasa bersalah karena waktunya dengan Zidane semakin sedikit. Tapi bagaimana lagi, semua ini ia lakukan untuk Zidane. Karena bagi Aruna, mustahil Arya akan tetap bertanggung jawab pada hidupnya dan juga Zidane.
__ADS_1