Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 59 Prasangka


__ADS_3

“Niel, makan siang yuk!” Ajak Fero yang masuk begitu saja keruangan Daniel.


“Sorry, gue bawa bekal.” Jawab Daniel tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya. Mendengar apa yang Daniel katakan, Fero pun tertawa terbahak.


“Bekal? Sejak kapan elo bawa bekal? Emang siapa yang bawain elo bekal? Hah?”


Daniel mendengus. Ia lalu mengelurkan sebuah kotak makan dari tasnya. “Nih, gue udah bawa bekal.”


“Iya tapi siapa? Cewek elo yang mana lagi?” seloroh Fero.


“Dari Aruna.”


“What? Aruna? Wait, wait! Gue nggak salah dengar kan?” Fero seolah tidak  percaya dengan apa yang dikatakan oleh Daniel. Daniel hanya mengangkat bahunya saja.


“Jangan bilang elo suka sama Aruna. Sebaiknya sekarang elo ceritta sama gue. Elo sama Aruna ada hubungan apa? Elo bukan orang ketiganya kan?”


“Enak aja elo ngomong. Ya nggak lah!” sanggah Daniel dengan tegas.


“Ya makanya cerita. Elo kan biasanya cerita kalau punya cewek. Tapi soal Aruna elo sama sekali nggak pernah cerita.”


“Ya apa untungnya cerita sama elo.”


“Ya sekarang cerita, kok bisa elo sampai dibawain makanan sama Aruna. Kayaknya diam-diam hubungan elo sama Aruna semakin berkembang tanpa sepengetahuan gue deh.”


“Kepo banget!”


“Banget lah! Secara, elo punya koleksi banyak wanita. Makanya cerita. Jujur sih, gue juga penasaran sama kehidupan pribadi Aruna sejak kita di rumah sakit waktu itu.”


“Gue sebenarnya kasihan sama Aruna. Ya meskipun gue brengsek tapi kan gue belum married. Sedangkan Aruna diselingkuhi saat dia sedang dalam kondisi hamil.”


“Apa? Sumpah Niel? Apa kecelakaan itu terjadi karena itu?”


“Sudah pasti itu penyebabnya. Gue tahu semua itu juga tanpa sengaja. Jadi waktu itu……,” Daniel lalu menceritakan semua masalah kehidupan Aruna pada Fero. Daniel juga menceritakan bagaimana awalnya ia bisa tahu semua masalah Aruna. Daniel juga menceritakan kalau dulu Aruna pernah bekerja dengan Tuan Hutama, Papanya.


“Wah, emang brengsek lakinya si Aruna. Gue emang bukan orang baik dan suci tapi kalau sudah menikah, sebisa mungkin harus jaga komitmen. Masa iya selingkuh sama cinta pertamanya. Kenapa nggak di nikahin aja cinta pertamanya itu? Kenapa malah nikahin Aruna. Terus sekarang Aruna mana?”


“Hari ini dia sidang putusan cerai. Oh ya tolong siapkan fasilitas mobil juga untuk Aruna ya.”


“Mobil? Bukannya dia sudah punya?”


“Nah itu, suaminya minta mobil Aruna. Mobil suaminya di jual buat ngasih rumah istri barunya. Jadi mobilnya Aruna diminta sama suaminya lagi.”


“Wah gila tuh orang! Kenapa nggak suaminya aja sih yang kecelakaan saat itu? Kenapa harus Aruna?”

__ADS_1


“Ya udahlah, pokoknya elo siapkan mobil untuk Aruna. Kasihan kalau dia harus bolak-balik antar jemput anaknya pakai taksi.”


“Ya udah deh, kalau gitu gue siapin. Tapi bener nih nggak mau makan siang sama gue?”


“Lain kali aja deh. Tahu kan, Papa mantau gue terus. Gue nggak maulah miskin mendadak.”


“Hehehe gue juga nggak mau. Ya udah kalau gitu gue pergi dulu.”


“Oke.”


Fero lalu pergi meninggalkan ruangan Daniel. Sementara Daniel membuka bekal makan siang dari Aruna. Melihat bekal makan siang itu, membuat Daniel teringat almarhumah Mamanya. Karena hampir setiap hari Daniel makan masakan Mamanya termasuk untuk bekal ke sekolah.


“Oh ya bagaimana hasil sidang Aruna ya? Ah, tapi sudahlah, itu bukan urusanku. Lebih baik aku berdiri dibalik layar saja.” Gumamnya lalu menyantap bekal yang dibawakan Aruna.


 


...****************...


“Bagaimana Gino?”


“Satu kali sidang, status Nona Aruna langsung berubah Tuan.”


“Syukurlah, aku senang sekali mendengarnya. Kerja bagus!”


“Apa yang terjadi pada Aruna, Gino?”


“Menurut mata-mata yang Tuan kirim untuk mengawasi dan melindungi Nona Aruna, mantan suaminya mengambil kembali mobil yang sudah diberikan pada Nona Aruna.”


“Keterlaluan sekali orang itu. Kalau dia ujung-ujungnya menyakiti Aruna, kenapa dulu dia menikahi Aruna? Aku geram sekali mendengarnya. Lalu apa Daniel tahu tentang ini?”


“Saya belum tahu, Tuan.”


“Baiklah, aku akan meneleponnya.” Tuan Hutama lalu mengambil ponsel di nakas samping tempat tidur.


“Iya Pah, ada apa? Semua tugas dari Papa sedang aku selesaikan. Jadi tolong jangan mengangguku ya.”


“Anak kurang ajar! Ditelepon orang tua bukannya disambut baik tapi sok-sokan sibuk.” Kata Tuan Hutama dengan suara meninggi.


“Iya maaf-maaf Tuan Hutama. Ada apa Tuan? Ada yang bisa saya bantu?” kata Daniel dengan suara lembut.


“Papa dengar kamu meminta mobil untuk Aruna.”


“Iya Pah. Memangnya kenapa? Aruna sedang butuh.”

__ADS_1


“Daniel, sebenarnya Papa sudah tahu semua masalah yang Aruna hadapi. Mungkin Papa lebih tahu daripada kamu termasuk mobil Aruna yang diminta kembali oelh mantan suaminya.”


“Apa Papa mencampuri urusan Aruna?”


“Ya tidaklah, untuk apa. Kalau ada waktu, kita perlu mengobrol serius Daniel. Papa tunggu kamu dirumah.”


“Oke baiklah, Pah.” Panggilan pun berakhir.


“Aku curiga sama Papa. Jangan-jangan Papa menyukai Aruna?  Buktinya kedatangan Aruna bisa membuat Papa semangat lagi. Jangan-jangan, Papa ingin menjadikan Aruna istri dan Aruna jadi ibu tiriku. Oh tidak mungkin! Itu tidak boleh terjadi. Sebaiknya setelah ini aku kerumah Papa. Aku tidak bisa menunggu besok. Kalau sampai itu terjadi, aku tidak akan setuju dan akan ku pecat Aruna. Papa benar-benar gila! Sudah tua, masa iya mau cari daun muda.” Daniel bergumam dengan segala prasangka buruknya.


 


...****************...


“Papi sudah pergi, Mi?” tanya Zidane saat Aruna menghampiri Zidane di kamarnya.


“Sudah sayang. Oh ya, sekarang Papi dan Mami sudah resmi berpisah. Kami sudah bukan suami istri lagi dan kami juga tidak bisa tidak satu rumah lagi. Papi sudah punya kehidupan baru dengan keluarga barunya. Tapi Papi tetaplah Ayah Zidane dan itu tidak tergantikan.”


“Bagi Zidane, Papi seperti orang asing, Mi. Jangan salahkan Zidane kalau Zidane merasa benci dengan Papi.”


Aruna lalu memeluk Zidane. “Mami tahu kalau kamu butuh waktu. Baiklah, lebih baik sekarang kita makan siang ya. Mami sudah sangat lapar.”


“Baiklah Mi. Aku juga sangat lapar.” Zidane dan Aruna lalu menuju ruang makan. Disana sudah terlihat Bi Tuti dan Mbak Lasmi yang sedang sibuk menyiapkan makan siang.


“Masak apa Bi?” tanya Aruna.


“Sayur asem sama ikan nila goreng Nyonya.”


“Wah enak tuh Bi, kayaknya. Tapi apapun itu masakan Bibi selalu enak. Oh ya Bi Tuti, Mbak Lasmi, daripada banyak kursi kosong, sebaiknya kita makan siang bersama. Bibi dan Mbak Lasmi duduk sama kita disini.”


“Aduh, jangan Nyonya. Tidak enak.” Kata Bi Tuti.


“Iya Nyonya, jangan. Kami kan sudah punya ruang makan sendiri.”


“Ayolah Bi, Mbak, jangan tolak! Kami bosan kalau makan hanya berdua saja. Kalau ada teman, lebih ramai. Apalagi hari ini sidang resmi perceraian saya dengan Mas Arya. Apa kalian tidak mau menghibur saya?”


Bi Tuti dan Mbak Lasmi saling melempar pandangan. “Baiklah Nyonya, kami akan duduk bersama Nyonya dan Den Zidane.” Kata Bi Tuti.


“Kita juga doakan untuk kebahagiaan Nyonya dan Den Zidane ya. Semua kesedihan akan berlalu dan diganti oleh kebahagiaan yang berlipat ganda.'' Sahut Mbak Lasmi.


''Amin." Mereka semua mengaminkan semua doa baik itu. Dan akhirnya Bi Tuti dan Mbak Lasmi makan satu meja dengan juragannya. Mereka berdua berusaha semaksimal mungkin membuat lelucon untuk menghibur hati Aruna yang sudah pasti sedang tidak baik-baik saja.


 

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2