Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 17 Kontraksi Palsu


__ADS_3

''Mah, sudah dua belas tahun berlalu kenapa rasanya masih sakit sekali ya Mah. Kehilangan Mama adalah kenangan terburuk dan paling menyakitkan di hidupku. '' Daniel kini tengah berada di pemakaman Mamanya. Ia duduk disana seorang diri, di tempat peristirahatan terakhir Mamanya, Nyonya Diana. Setelah mendoakan Mamanya, Daniel pun pergi meninggalkan pemakaman.


Daniel kemudian pergi ke sebuah toko pigura. Dimana foto pigura Mamanya semalam jatuh dan pecah.


Sesampainya disana, Daniel segera memilihnya. Ada sebuah pigura yang sangat cantik disana, menjadi pilihan pertama Arthur. Namun tiba-tiba ada satu tangan yang menyentuh pigura yang tersisa hanya satu. Daniel menoleh dan ia sangat terkejut bahwa itu adalah tangan milik Aruna.


''Kamu! " seru Aruna.


''Nyonya! " seru Daniel.


''Astaga, kenapa harus bertemu denganmu lagi. Ini milikku jadi kamu harus mengalah. ''


''Maafkan aku Nyonya tapi aku duluan yang menyentuhnya. Ini tidak ada hubungannya dengan mengalah ataupun tidak. Sekalipun anda seorang Ibu hamil pun aku tidak peduli. ''


Aruna mulai geram dengan tingkah Daniel yang memang benar-benar keras kepala.


''Seharusnya kamu tahu balas budi. Beberapa waktu lalu aku menolongmu. ''


''Oh rupanya anda mau menerima balas budi dari aku. Oke baiklah, kali ini aku mengalah Nyonya. Tapi anda perlu ingat kalau saat itu anda menampar ku dengan sangat keras juga. ''


''Itu pelajaran untukmu supaya tidak mempermainkan hati seorang wanita. Kamu pikir aku tidak tahu kelakuanmu di restoran waktu itu?''


''Oh jadi anda tahu. Baiklah, tidak masalah untuk ku. Itulah aku. Oke silahkan bawa pigura itu untuk membalas kebaikan anda beberapa waktu lalu. '' Akhirnya kali ini Daniel mengalah dan membiarkan Aruna mengambil pigura itu. Pigura yang besar itu cukup membuat Aruna kuwalahan untuk mengambilnya. Aruna melirik kesal kearah Daniel yang sama sekali tidak peka dengan kesulitannya itu.


''Memang ya orang satu ini sungguh egois. Tidak punya hati nurani untuk membantu Ibu hamil ini, '' gerutu Aruna dalam hati. Namun dengan kekuatannya Aruna bisa mengambil dan membawa sendiri pigura itu. Namun baru berapa kali melangkah, tiba-tiba Aruna merasakan perutnya sakit seperti kontraksi.


''Aduh! Aww, " rintih Aruna. Pigura itupun Aruna geletakkan begitu saja. Mendengar rintihan Aruna, para pembeli yang datang pun menghampiri Aruna.


''Nyonya, nyonya kenapa?'' tanya salah seorang Ibu-ibu.


''Perut saya sakit sekali, mules sekali. '' Rintih Aruna sambil memegangi perutnya.


''Jangan-jangan mau melahirkan?'' kata Ibu ke 2. Salah satu dari mereka kemudian melihat kearah Daniel yang berdiri tidak jauh dari sana. Daniel sendiri pura-pura tidak mendengarnya.


''Tuan, istrinya kontraksi ini. Jangan-jangan mau melahirkan. '' Kata ibu pertama sambil melihat ke arah Daniel. Daniel merasa terkejut kenapa dirinya harus di libatkan.

__ADS_1


''Aku? Aku bukan suam..., ''


''Tuan jangan banyak bicara, bahaya kalau sampai melahirkan disini. ''


''Apa? Melahirkan?'' Daniel terpengarah. Rintihan Aruna semakin keras membuat semua orang panik.


''Ayo tuan! Ini istri anda sendiri. Apa anda tega melihat istri anda kesakitan. ''


''Oh tidak, kenapa aku berada di situasi ini. '' Gumamnya dalam hati. Daripada di keroyok gerombolan orang yang mengerumuni Aruna, akhirnya Daniel memutuskan untuk membantu Aruna. Daniel lalu menggendong Aruna dan segera membawanya ke mobil.


''Nyonya, tolong jangan merintih terus. Aku semakin panik. '' Kata Daniel sambil terus tetap menyetir.


''Kamu tidak tahu rasanya kontraksi apa. Rasanya sangat sakit sekali,'' ketus Aruna sambil menahan rasa sakitnya.


''Iya tapi Nyonya berisik sekali. '' Kata Daniel. Aruna yang kesal lalu membekap mulut Daniel.


''Lebih baik kamu diam dan fokus menyetir. Kalau kamu banyak bicara aku akan meremas bibirmu itu. Jangan remehkan aku. '' Mendengar ancaman Aruna dan bekapan kuat tangan Aruna, Daniel hanya bisa mengangguk.


''Astaga, tenaganya kuat sekali. Baru kali ini aku menemukan ibu-ibu yang menyeramkan seperti ini. '' Gumam Daniel dalam hati.


Sesampainya di rumah sakit, Aruna pun segera di tangani. Daniel pun merasa panik karena terjebak dalam situasi yang tidak pernah ia bayangkan. Daniel pun ikut masuk ke ruangan UGD. Begitu sampai di ruang UGU, Arun heran mendadak rasa sakitnya hilang. Karena dulu di kehamilan pertamanya Aruna tidak pernah merasakan hal ini.


''Nyonya tenang saja, ini hanya kontraksi palsu. Semuanya masih dalam kondisi normal dan sehat,'' ungkap dokter setelah melakukan pemeriksaan.


''Iya dokter dan ini mendadak sakitnya hilang.'' Kata Aruna yang sudah merasa tidak kesakitan sama sekali. Daniel pun ikut bernafas lega mendengar ucapan dokter.


''Tuan, tolong ya lebih dijaga istrinya. Jangan melakukan aktivitas yang berat apalagi stres karena itu bisa pengaruh pada kandungannya. Di tambah tensi darah Nyonya naik. Saya akan menuliskan resep untuk Nyonya Aruna.''


''I-iya Dokter.'' Jawab Daniel tergagap. Saat ini Daniel hanya bisa mengatakan kalimat itu. Tidak mungkin dalam situasi ini ia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Setelah menulis resep, Dokter memberikannya langsung pada Daniel dan Aruna di perbolehkan untuk pulang. Setelah mendapatkan resep, Daniel segera menebusnya. Untuk pertama kalinya Daniel melakukan sesuatu di luar dugaannya selama ini.


''Ini obatnya Nyonya.'' Ucap Daniel.


''Terima kasih sudah menolongku.''


''Ya, sama-sama. Mau tidak mau. Lebih baik Nyonya hubungi suami Nyonya untuk menjemput. Tidak baik jika harus menyetir sendiri.''

__ADS_1


''Suamiku sedang ada pekerjaan di luar negeri.''


''Kalau begitu hubungi orang terdekat anda saja.'' Kata Daniel.


''Iya sebaiknya aku menelepon sahabatku saja.'' Aruna kemudian menelepon Gita namun tidak ada jawaban dari Gita. Gita sedang melakukan konseling dengan mengajak pasiennya ke taman, sehingga ponselnya tertinggal di ruangan. Aruna kemudian menelepon Dinda dan salon Dinda juga sedang full, apalagi ponselnya dalam mode silent. Aruna frustasi karena tidak ada yang menjawab panggilannya. Daniel bisa melihat kegelisahan dalam wajah Aruna.


''Bagaimana Nyonya?'' tanya Daniel.


''Sebaiknya aku naik taksi saja. Sekali lagi terima kasih sudah menolongku dan juga maaf untuk situasi ini. Aku permisi.'' Aruna kemudian beranjak dari duduknya dan segera berjalan keluar. Daniel tidak tega melihat Aruna berjalan sendiri dengan perut besarnya.


''Tunggu!" seru Daniel. Aruna lalu menghentikan langkahnya.


''Sebaiknya aku antar Nyonya pulang saja.''


''Tidak usah, terima kasih. Lagi pula mobilku masih di toko pigura tadi.''


''Nanti biar sekretarisku yang mengurusnya. Setidaknya anda harus pulang dengan aman dan tidak membuat suami anda yang bekerja menjadi khawatir.'' Jelas Daniel.


''Baiklah kalau begitu. Anggap saja hutang bantuanku padamu kemarin lunas.''


''Oke, sepakat. Aku Daniel.'' Daniel lalu mengulurkan tangannya. Aruna tersenyum lalu membalas uluran tangan Daniel.


''Aruna. Aku sudah tahu namamu tapi aku malas untuk mengingatnya.''


''Ya, semua wanita selalu berkata begitu kepadaku. Tapi tidak masalah, mendapat cacian sudah menjadi makananku. Sebaiknya aku antar Nyonya pulang.''


''Panggil nama saja. Aku tidak setua itu.'' Ucap Aruna.


''Oke, baiklah Aruna. Tapi tetap saja tidak enak karena anda sudah bersuami dan seorang Ibu.''


''Ya terserah saja kalau begitu.'' Ucap Aruna. Akhirnya Daniel mengantar Aruna pulang ke rumahnya. Dan ia segera meminta Fero untuk memanggil mobil derek, untuk mengantar mobil Aruna ke rumah. Akhirnya Aruna sampai juga di rumah.


''Ini rumah anda?''


''Iya ini rumahku. Sekali lagi terima kasih dan hati-hati.''

__ADS_1


''Sama-sama.'' Jawab Daniel. Aruna kemudian turun dari mobil Daniel. Aruna pun segera masuk ke rumah dan Daniel segera melajukan kembali mobilnya.


Bersambung....


__ADS_2