Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
CUA S2 Bab - 41


__ADS_3

Bugh !!!


Terdengar suara benturan keras. Di iringi suara erangan keras Aruna menahan sakit.


"Aagh ..."


Serentak Bram dan Dicko pun mengalihkan perhatiannya.


"Aruna ..." pekik keduanya bersamaan.


Aruna tengah mengerang dan meringis menahan sakit yang tiada tara. Sambil memegangi perutnya yang terbentur keras di sisi meja makan mini.


"Aagh ..." Aruna menahan sakit sambil terus memegangi perutnya. Sambil satu tangannya bertumpu pada meja itu. Aruna pun tak kuasa menahan tangisnya, saat dilihatnya darah segar mulai mengalir dari pangkal pahanya.


"Huaaaaa .... Huaaaaa ...." Aruna menangis sejadi - jadinya.


Dengan cepat Dicko langsung menghampiri Aruna. Sedangkan Bram diam terpaku di tempat. Tercengang menatap Aruna yang menangis kesakitan dengan darah yang mengalir di pahanya.


"Aruna ... kita harus ke rumah sakit. Bertahanlah." Dicko benar - benar panik.


"Bayiku ... Hiks ... Hiks ... Bayiku ..." tangis pilu Aruna.


"Aku akan segera membawamu ke rumah sakit."


Kemudian Dicko mengangkat tubuh Aruna dan bergegas membawanya keluar.


Sementara Bram masih diam di tempat karena syok. Air mata itu mulai berjatuhan kembali dari sudut matanya.


"Apa yang sudah aku lakukan? Aruna ... maafkan aku. Maafkan aku." Lirih Bram bergumam dengan air mata yang mulai bercucuran.


.


.


Dicko benar - benar panik. Di gendongnya tubuh Aruna memasuki rumah sakit terdekat yang di datanginya.


"Suster ... tolong suster ..." panggil Dicko setengah berteriak pada seorang suster yang berdiri tidak jauh dari pintu masuk.


Dengan sigap suster itu berlari masuk ke sebuah ruangan. Lalu kembali dengan mendorong sebuah brankar.


"Baringkan saja dia disini." Titah suster itu.


Dicko lalu membaringkan tubuh Aruna di brankar itu. Dan bersama mereka mendorong brankar itu menuju ruang IGD.


"Suster, cepat panggilkan dokter Sarah. Ada pasien pendarahan." Titah suster yang membantu Dicko pada salah satu suster yang berjaga malam itu.


"Baik, Suster." Suster yang berjaga itu bergegas ke ruangan dokter Sarah.


Sementara suster yang membantu Aruna segera membawanya masuk ke ruang IGD. Dan Dicko tidak di perbolehkan masuk. Dengan cemas Dicko menunggu di depan ruangan itu.


Tak berapa lama seorang dokter datang dengan tergesa - gesa.


Dokter Sarah.


Sarah begitu terkejut saat melihat Dicko yang berdiri cemas di depan ruangan itu. Dalam kondisi babak belur dengan darah yang hampir mengering di hidung dan bibirnya.


"Dicko?" sapa Sarah bingung.


"Sarah ... tolong aku. Tolong selamatkan Aruna dan bayinya." Pinta Dicko memelas.

__ADS_1


Sarah mengangguk cepat, "i_iya." Kemudian bergegas masuk ke ruangan itu.


Dan Dicko masih setia menunggu di depan ruangan itu dengan harap - harap cemas. Dia hanya bisa berharap, semoga saja tidak terjadi hal yang buruk pada Aruna dan bayinya.


.


.


Sementara Dicko dibuat cemas setengah mati, Bram justru di buat menyesal setengah mati. Di dalam mobilnya Bram merenung. Apa yang dilakukannya sudah keterlaluan. Bram diluar kendali saat itu. Sampai tanpa sengaja dia mendorong Aruna.


Jika terjadi hal yang buruk pada Aruna, Bram tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Bagaimana jika apa yang dikatakan Aruna benar. Bahwa bayi itu adalah bayinya. Lalu Bram harus bagaimana?


Tiba - tiba ponsel Bram berdering. Bram pun meraih ponselnya yang tergeletak di dashboard mobil. Sebuah nomor tak dikenal. Bram pun menjawab telepon itu.


Setelah menutup panggilan telepon itu, Bram lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Menuju rumah sakit terdekat.


Begitu sampai di rumah sakit, Bram langsung menuju ruang inap Aruna setelah bertanya pada resepsionis.


Di dalam ruangan itu, Aruna sedang terbaring dengan pandangan lurus menatap langit - langit ruangan itu. Melihat Bram datang, Aruna merubah posisinya menyamping, memunggungi Bram.


Perlahan Bram menghampiri dan menatap punggung Aruna. Yang tampak bergerak naik turun, sebab menahan isak tangis agar tak terdengar.


Pihak rumah sakit menghubungi Bram atas permintaan Dicko. Dicko merasa Bram harus tahu kondisi Aruna. Karena memang Bram adalah suaminya.


"Aruna ..." panggil Bram lirih.


Jangankan menyahuti bahkan menoleh pun Aruna enggan.


Melihat Aruna tidak menggubrisnya, Bram pun mencoba mengambil duduk di tepi ranjang.


"Banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu. Tapi mungkin, waktunya tidak tepat."


Aruna pun akhirnya memalingkan wajahnya dan menatap Bram yang tampak menunduk penuh penyesalan.


Pelan Aruna mencoba bangun dari pembaringan dengan sisa tenaganya. Bram mencoba membantu, namun Aruna menepis tangannya.


Dengan mata berkaca - kaca, Aruna menatap Bram. Sejujurnya, Aruna merasa bersalah pada Bram. Akan tetapi kejadian tadi yang menyebabkannya harus kehilangan bayinya, membuat Aruna tidak bisa memaafkan Bram.


"Kamu memintaku menggugurkan kandunganku? Kamu mau aku menyingkirkan darah dagingmu sendiri? Skarang, bayi itu sudah tidak ada lagi." Bulir - bulir air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya itu mulai berjatuhan.


"Terima kasih. Karna kamu sudah membantuku menyingkirkan darah dagingmu sendiri." Kini Aruna mulai terisak.


Dan Bram pun terdiam seketika. Apa yang baru saja Aruna katakan membuat Bram hampir tak bisa berkata - kata.


Darah dagingmu?


Jadi bayi yang dikandung Aruna itu adalah bayinya? Sejak awal Aruna sudah mengatakan itu, tetapi Bram tidak mempercayainya sama sekali. Justru dia sendiri yang terus menyangkal dan meminta Aruna membuktikan bahwa bayi itu adalah darah dagingnya.


"Darah dagingku? Anakku?" Bram pun tak kuasa membendung air matanya.


Aruna membuang muka. Bram kini terisak. Betapa menyesalnya Bram tidak mempercayai Aruna sejak awal. Dan kini, karena ulahnya sendiri dia justru kehilangan hal yang paling berharga dalam hidupnya. Buah cintanya dengan Aruna. Sejak lama Bram menantikan kehadirannya, namun kini Bram harus kehilangannya. Bahkan sebelum melihatnya lahir ke dunia.


Perlahan, Bram menangkup wajah Aruna dan membawanya bertatapan dengannya. Baik Bram maupun Aruna, saling bercucuran air mata. Menangisi kepergian bayi yang sudah lama mereka nantikan. Dan siapa yang patut di persalahkan. Bahkan penyesalan pun tiada berguna lagi.


"Maafkan aku ... Maafkan aku ..." ucap Bram lirih dengan deraian air mata.


"Untuk apa meminta maaf. Semua sudah terjadi."


"Harusnya sejak awal aku percaya padamu. Aruna, aku sungguh minta maaf."

__ADS_1


Aruna bisa melihat penyesalan dari sorot mata Bram. Melihat Bram seperti itu, dengan wajah penuh lebam, membuat Aruna jadi iba. Meski hatinya masih terasa sakit. Namun, keadaan Bram yang seperti ini juga karena ulahnya. Bram tidak sepenuhnya bersalah. Aruna justru lebih bersalah.


"Sudah terlambat. Bayi kita sudah tidak ada lagi. Untuk apa kamu meminta maaf. Meski seribu kali pun kamu berkata maaf, bayi kita tidak akan kembali lagi." Aruna menatap mata Bram yang masih menumpahkan air mata.


Perlahan Aruna menurunkan kedua tangan Bram yang menyentuh wajahnya. Jemari lentiknya pun perlahan menghapus air mata di wajah Bram.


"Aku minta maaf atas semua kesalahanku. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya tidak bisa membohongi diriku sendiri." Aruna menarik napas sebentar. Lalu menundukkan wajahnya. Dan kembali menitikkan air mata.


Dan Bram, masih menunggu apa yang ingin dikatakan Aruna.


"Aku mencintaimu ..." ucap Aruna lirih. Kemudian kembali mengangkat wajahnya. Menatap lekat mata Bram.


"Tapi, aku juga sangat mencintainya."


Akhirnya Aruna mengakuinya. Bram sudah mengetahui ini jauh sebelumnya, bahkan tanpa Aruna mengatakannya. Akan tetapi, mendengarnya langsung dari mulut Aruna terasa begitu berbeda. Rasanya seperti hatinya bagai dihantam batu besar bertubi - tubi. Menyesakkan dada.


Meski hatimu telah terbagi, aku tidak peduli.


Bram pernah mengatakan kalimat itu setahun yang lalu. Saat mereka tahu Dicko telah meninggal saat itu. Namun siapa sangka, Dicko justru kembali lagi. Sebab kematiannya, sebuah kekeliruan semata. Dan ayahnya sendirilah yang telah memulai sandiwara itu.


"Aku tau aku egois. Aku serakah karna mencintai dua pria ..." Aruna berhenti sejenak, kemudian kembali berkata,


"Aku hanya tidak tau, harus bagaimana. Aku tidak ingin menyakiti kalian berdua."


"Aruna ...aku suamimu. Apa pantas aku mendengar istriku mencintai pria lain?"


"Untuk itu aku minta maaf. Aku tau, aku salah."


Bram memalingkan wajahnya. Hatinya terasa sakit mendengarnya. Bram yang terlalu takut kehilangan Aruna, justru harus menerima kenyataan pahit ini.


"Mulai skarang ... mari kita jalani hidup kita masing - masing."


Bram terkejut. Lalu menoleh, dan menatap tajam Aruna. Bram masih berusaha mencerna maksud kalimat yang terucap dari mulut Aruna. Jangan bilang kalau Aruna ingin ...


Cklek ...


Bunyi decitan pintu terbuka mengalihkan perhatian mereka. Dari pintu itu tampak Dicko melangkah masuk. Di susul seorang dokter cantik.


Kemudian Bram kembali memalingkan wajahnya menatap Aruna dengan seksama.


"Apa maksud kamu?" tanya Bram ingin kejelasan maksud kalimat itu. Meski sebenarnya Bram sudah punya firasat buruk.


"Mari kita ..." Aruna memejamkan matanya sembari menarik napas panjang. Sementara Bram terlihat tegang.


"Mari kita bercerai ..."


Kalimat itu bagai menggema di seisi ruangan. Dan Bram seketika terpaku.


.......


.......


.......


...-Bersambung-...


Always Saranghae readers ❤️❤️


Salam hangat 🤗

__ADS_1


Otor Kawe


__ADS_2