
Keesokan harinya saat Aruna sedang sarapan pagi bersama keluarganya, tiba-tiba bel pintu rumah berbunyi.
''Biar Aruna saja Pah-Mah yang membukanya.'' Ucap Aruna seraya beranjak dari tempat duduknya. Aruna sangat terkejut begitu melihat Daniel sudah berada di depan rumah Aruna.
''Tu-tuan Daniel.'' Aruna bahkan sampai tergagap.
''Pagi Aruna. Aku menjemputmu sekalian, kebetulan satu arah. Daripada meminta supir menjemputmu, membuat pengeluaran kantor semakin banyak bukan?'' kata Daniel.
Aruna mendengus mendengar ucapan Daniel. ''Ya sudah, Tuan sebaiknya langsung ke kantor saja. Aku akan naik taksi. Kebetulan di rumah sedang ada orang tuaku juga.'' Ucap Aruna seraya mendorong tubuh Daniel keluar. Karena keduanya sedari tadi masih berdiri di ambang pintu.
''Aruna, aku ini atasanmu. Berani-beraninya kamu mengusirku.''
''Kamu atasanku saat di kantor tapi kalau di luar kantor, hanya seorang Danile si playboy.'' Ucap Aruna dengan tegas. Aruna yang kesal lalu menutup pintu namun Daniel menahannya.
''Aku mau minta sarapan. Aku belum sarapan.'' Kata Daniel sambil menahan pintu rumah Aruna. Aruna mengernyitkan dahinya mendengar apa yang Daniel ucapkan.
''Hah? Tidak salah? Masa iya datang pagi-pagi mau minta makan? Kenapa tidak meminta para kekasihmu untuk mengantar makan.''
''Aruna, aku saat ini single dan sedang tidak ingin berhubungan dengan siapapun. Aku akan membayar sarapan pagimu hari ini. Ayolah, aku sungguh lapar.'' Kata Daniel. Dan tiba-tiba terdengar suara cacing di perut Daniel berbunyi. Daniel hanya meringis sambil mengelus perutnya.
''Maaf Tuan, aku tidak bisa. Kedatangan anda akan menimbulkan masalah.'' Ucap Aruna.
''Om Daniel!" seru Zidane.
''Hai Zidane. Sudah lama tidak bertemu ya.''
''Mami kenapa tidak menyuruh Om Daniel masuk?''
''Tidak perlu, sayang. Om Daniel juga mau pulang.''
''Mami, kata Mami kita harus menghargai tamu.''
''Zidane, Om ingin berbagi sarapan hari ini denganmu. Kamu tahu sendiri kalau Om dirumah sendirian dan tidak ada yang memasak kareja biasanya juga beli.''
''Boleh kok, Om. Ayo Om masuk! Aku akan kenalkan Om sama Opa dan Oma aku.'' Zidane lalu menggandeng Daniel masuk ke dalam rumahnya. Daniel mengerlingkan matanya pada Aruna karena akhirnya Daniel berhasil masuk ke dalam rumah Aruna. Aruna menghela, ia khawatir kalau orang tuanya akan berpikir buruk tentangnya.
''Opa-Oma, Zidane mau memperkenalkan teman Zidane.'' Seru Zidane dengan tangan yang sedari tadi masih menggandeng Daniel. Nyonya Galuh dan Tuan Wira terkejut melihat sosok pria tampan yang berdiri disamping Zidane.
__ADS_1
''Selamat pagi Om-Tante.'' Sapa Daniel dengan senyum ramahnya. Nyoya Galuh dan Tuan Wira lalu mengarahkan pandangannya pada Aruna.
''Pah-Mah, ini adalah Tuan Daniel, atasan Aruna. Aruna menjadi sekretaris di perusahaan Tuan Daniel.'' Jelas Aruna dengan terbata.
''Iya Oma-Opa. Om Daniel ini sangat baik. Om Daniel juga yang waktu itu menyelamatkan Mami saat kecelakaan.'' Cerita Zidane.
''Jadi begini Pah-Mah, Tuan Daniel ini adalah putra dari Tuan Hutama, atasan Aruna dulu. Tuan Hutama juga yang memberikan posisi ini pada Aruna. Jadi Aruna sekarang menjadi sekretaris Tuan Daniel, begitu Pah-Mah.'' Sambung Aruna.
''Oh begitu. Silahkan duduk Tuan Daniel. Pagi-pagi kita ada tamu besar, sudah seharusnya menyambutnya bukan?'' kata Tuan Wira. Aruna mengerutkan keningnya melihat respon Papanya.
''Iya lho Aruna. Jarang sekali ada seorang atasan yang mau bertamu kerumah karyawannya. Jadi kita harus menyambutnya. Tamu itu membawa rezeki.'' Sambung Nyonya Galuh. Daniel melempar senyum mengejek pada Aruna. Karena ternyata kedua orang tua Aruna bersikap ramah pada Daniel.
''Ayo silahkan Tuan Daniel, mari kita makan tapi hanya seadanya.'' Kata Tuan Wira.
''Iya Om terima kasih.''
''Aruna, kenapa kamu masih berdiri mematung? Ayo layani Tuan Daniel.'' Perintah Nyonya Galuh.
''Iya Aruna. Ayo tamunya di layani. Apalagi Tuan Daniel sudah baik sama kamu.'' Timpal Tuan Wira. Aruna hanya bisa menghela nafas kasar dengan sikap kedua orang tuanya itu. Aruna dengan wajah kesalnya lalu menuangkan nasi, lauk, dan sayur ke dalam piring Daniel.
''Silahkan Tuan.''
''Zidane, kamu juga makan ya.''
''Iya Om.''
Dan akhirhya mereka sarapan satu meja. Daniel begitu piawai mengambil tempat dihati orang tua Aruna.
Aruna mendumel dalam hati. ''Jurus rayuan mautnya mulai keluar. Bukan hanya wanita dirayu tapi juga orang tua. Dia kan kaya, untuk apa makan dirumahku? Seharusnya dia bisa beli atau minimal ada pembantu dirumahnya. Ya Tuhan, kenapa aku harus berhubungan dengan dia? Rasanya trauma dengan pria brengsek seperti itu. Satunya brengsek secara sembunyi-sembunyi, sedangkan pria dihadapanku ini begitu terang-terangan.''
''Maaf ya Om-Tante, kalau aku merepotkan dan membuat kalian harus berbagi sarapan denganku. Karena sebenarnya kedatanganku kemari ingin menjemput Aruna dan Zidane. Semalam Aruna lembur dan aku mengantarnya pulang jadi aku meminta Aruna untuk meninggalkan mobilnya di kantor.'' Ucap Daniel.
''Aruna, ini baru namanya atasan bertanggung jawab. Kamu harus berterima kasih pada Tuan Daniel. Sangat mustahil seorang bos menjemput anak buahnya ke rumah.'' Sahut Tuan Wira.
''Apa kamu sudah membeli mobil Aruna?'' tanya Nyonya Galuh.
''Tidak Mah. Itu mobil dari kantor. Tuan Daniel yang meminjamkan mobil kantor untuk Aruna karena tahu Aruna tidak ada mobil.''
__ADS_1
''Nah apalagi itu, Aruna. Seharusnya kamu bersyukur mempunyai atasan yang sangat baik. Jadi kamu harus bekerja sungguh-sungguh ya, Zidane biar Mama dan Papa yang menjaganya.'' Kata Tuan Wira.
''Papa ini berlebihan sekali.'' Kesal Aruna.
''Aruna, untuk saat ini lebih baik kamu menyibukkan diri daripada kamu banyak waktu senggang tapi kamu terus ingat mantan suami kamu.'' Kata Tuan Wira.
''Benar apa kata Papa kamu, Aruna. Dengan kamu sibuk, kamu akan dengan mudah melupakan semua tentang masa lalu kamu itu ya. Mama dan Papa lebih senang kalau kamu sibuk bekerja daripada harus menangis dan mengurung diri di kamar.'' Sahut Nyonya Galuh.
''Papa dan Mama ini apaan sih? Kenapa harus membahas itu disini?'' kesal Aruna.
''Baiklah Om-Tante, aku memang akan membuat Aruna sibuk sampai beberapa hari atau mungkin minggu karena perusahaan sedang menyiapkan acara bazar furniture. Jadi Aruna akan pulang malam.''
''Apa semalam Tuan Daniel yang mengantar Aruna pulang?'' tanya Tuan Wira.
''Iya Om. Semalam aku yang mengantar Aruna pulang.''
''Terima kasih ya Tuan Daniel sudah memperlakukan Aruna dengan baik.'' Kata Nyonya Galuh.
''Sudah seharusnya seperti itu, Tante.''
''Dia lama-lama memuakkan juga.'' Gerutu Aruna dalam hati.
''Zidane, ayo berangkat! Nanti kamu terlambat.''
''Iya Mami.'' Jawab Zidane yang segera menyudahi makanannya. Daniel juga buru-buru menghabiskan makanannya. Aruna kemudian beranjak dari duduknya, mengambili tas Zidane dan juga tasnya. Aruna lalu mencium punggung tangan kedua orang tuanya, Zidane juga melakukan hal yang sama pada Opa dan Omanya.
''Baiklah Om-Tante, aku permisi. Sekali lagi terima kasih.'' Ucap Daniel.
''Iya Tuan Daniel, sama-sama. Kalian hati-hati ya.'' Pesan Tuan Wira.
''Pasti Om.'' Daniel, Aruna dan Zidane lalu berjalan keluar rumah beriringan. Mereka tampak seperti keluarga kecil.
''Pah, Mama berharap Aruna selalu bahagia. Sepertinya Tuan Daniel pia yang baik.''
''Mah, jangan mudah menyimpulkan sesuatu. Tuan Daniel sepertinya juga masih muda dan dia punya segalanya. Tentu saja banyak wanita yang tergila-gila padanya. Ingat Mah, Aruna bukan anak gadis lagi. Dia janda anak satu, hanya seorang pria pemberani yang mau menjadikan Aruna istrinya. Jadi kita tidak usah berharap berlebihan, Mah. Kita cukup doakan semua yang baik-baik untuk Aruna.''
''Iya Pah, Mama mengerti kok. Tapi kan jodoh tidak ada yang tahu.''
__ADS_1
''Mama ini, luka Aruna belum kering masa iya mikirin itu. Sudah ah, tidak usah membahas itu lagi.''
Bersambung....