
Aruna dengan perutnya yang semakin membesar, menjalani hari-harinya seperti biasa. Mulai dari mengantar Zidane ke sekolah, menjemputnya, mengantarnya bimbel dan menemaninya belajar, semua Aruna lakukan dengan semangat tanpa berprasangka buruk pada suaminya. Sedangkan Arya sendiri setelah menyelesaikan pekerjaannya, Ia dan Shella terbang ke Maldives untuk bulan madu.
Sepulang sekolah, Zidane mengajak Aruna untuk makan siang di sebuah restoran Jepang. Sushi adalah salah satu makanan favorit Zidane.
''Terima kasih ya Mami, sudah mengajakku makan disini. Kalau ada Papi pasti lebih seru.''
''Iya sayang, Papi kan sedang kerja. Jadi kamu habiskan makanannya ya.''
''Iya Mami.''
''Oh ya, Mami ke toilet sebentar ya. Kamu tunggu disini and don't go anywhere.''
''Okay Mami.''
Aruna kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan menuju toilet. Namun saat hendak menuju toilet, Aruna melihat seseorang yang tidak asing. Seorang pria paruh baya sedang memegangi kepalanya, tampak kesakitan.
''Tuan Hutama!" seru Aruna setelah mengingat siapa pria paruh baya itu.
''Ar-Aruna,'' ucap Tuan Hutama lirih. Aruna pun segera menolong dan memapah Tuan Hutama untuk duduk di mejanya. Zidane menatap bingung melihat Maminya bersama seorang pria yang pantas menjadi kakeknya itu. Aruna lalu meminta air putih kepada pelayan dan segera memberikan air putih itu pada Tuan Hutama.
''Tuan, minumlah dulu.''
''Terima kasih Aruna.'' Tuan Hutama lalu mengambil obat dari saku jasnya dan segera meminumnya.
''Tuan sendiri saja?''
''Iya. Aruna, kamu sekarang sudah dewasa ya. Kamu juga sedang mengandung, apa dia putramu?''
''Iya Tuan. Ini putra saya namanya Zidane dan ini calon putra kedua saya, Tuan.'' Jelas Aruna.
''Mami, ini siapa?'' tanya Zidane.
''Dulu sebelum bertemu Papi, Mami bekerja di perusahaan Tuan Hutama, sayang. Jadi lebih tepatnya Tuan Hutama ini bosnya Mami.''
''Halo Tuan Hutama, aku Zidane.'' Ucap Zidane sambil mengulurkan tangannya.
''Panggil saja Kakek, masa iya di panggil Tuan.'' Kata Tuan Hutama dengan tawa kecilnya.
''Baiklah Kakek Hutama, senang bertemu dengan Kakek.''
''Kamu tampan sekali ya. Dimana suami kamu, Aruna?''
''Oh suami saya sedang ada pekerjaan di luar negeri, Tuan. Oh ya Tuan kenapa disini sendirian? Dan tadi tuan kenapa? Apa perlu saya bawa ke rumah sakit?''
''Oh tidak perlu, Aruna. Ini adalah hari jadi pernikahanku dengan almarhumah istriku. Setiap tahun kami merayakannya disini jadi hari ini aku sengaja kemari sendiri untuk mengenang kenangan indah kami. Tapi mendadak kepalaku sakit, biasa lah usia sudah tua. Aku juga senang karena sejak memutuskan berhenti bekerja, kamu semakin bahagia dan mendapatkan suami yang mapan.''
''Iya Tuan, alhamdulillah.''
__ADS_1
''Aruna, sayang sekali kamu tidak bisa menjadi menantuku. Aku berharap Daniel bisa mendapat istri seperti dirimu,'' gumam Tuan Hutama dalam hati.
''Baiklah Aruna, kalau begitu aku pamit dulu. Terima kasih ya sudah menolongku.''
''Tuan yakin pergi sendiri?''
''Sudah, tidak apa-apa. Aku sudah enakan. Salam untuk suamimu ya.''
''Iya Tuan. Tuan hati-hati ya.''
''Iya Aruna. Zidane, Kakek pamit ya.''
''Iya Kakek, hati-hati.''
''Iya Zidane, terima kasih.'' Tuan Hutama kemudian beranjak dari tempat duduknya dan segera pergi meninggalkan restoran.
-
''Shella, aku ada sesuatu untukmu.'' Ucap Arya.
''Apa itu Mas?'' tanya Shella dengan penuh rasa penasaran.
''Pejamkan mata kamu dulu.'' Pinta Arya.
''Baiklah.'' Shella kemudian memejamkan matanya. Arya tersenyum, ia kemudian memakaikan sebuah kalung pada leher Shella.
''Ya ampun Mas, ini cantik sekali.''
''Apa kamu menyukainya?''
''Tentu saja aku sangat suka. Terima kasih ya, Mas.''
''Masih ada satu lagi, Shell.''
''Apa itu Mas?''
Arya kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya.
''Ini sebagai hadiah pernikahan kita.''
''Cincin?''
''Iya sayang. Aku pakaikan di jari manis kamu ya?''
''Iya Mas.'' Arya kemudian memakaikan sebuah cincin berlian pada jari manis Shella.
''Ya ampun Mas, ini bagus banget. Kapan kamu belinya? Kok aku tidak tahu?''
__ADS_1
''Aku membelinya waktu kita masih di Singapura. Aku sengaja memberikannya saat kita sudah di Maldives.''
''Terima kasih ya Mas. Ini indah sekali.'' Shella kemudian memberikan pelukan pada Arya.
''Aku bahagia sekali, Mas. Bahagia bisa memiliki pria seperti dirimu. Sejak kita berpisah dulu, belum ada satupun pria yang berhasil membuatku jatuh cinta. Aku sangat mencintaimu, Mas.''
''Aku juga sangat mencintaimu, Shella. Maafkan aku ya yang buru-buru memilih lembaran baru.''
''Kamu tidak perlu meminta maaf, Mas. Ini semua salahku. Aku yang meninggalkan mu. Jadi apa yang terjadi saat ini kita nikmati saja. Tapi apa kita tidak perlu meminta ijin pada Aruna?''
Mendengar pertanyaan Shella, Arya pun terdiam.
''Mas, kenapa diam?'' tanya Shella.
''Mmmm aku belum bisa menjawabnya, Shel. Yang aku tahu saat ini, cukup kita saja yang tahu tentang kebahagiaan ini. Bagaimana kalau Aruna tahu dan dia memintaku untuk meninggalkan kamu?''
''Aku tentu tidak mau berpisah denganmu, Mas. Baiklah kita rahasiakan saja pernikahan ini. Aku tidak masalah dengan kondisi seperti ini asalkan kita tetap bersama. Aku benar-benar sangat membutuhkanmu, Mas. Karena di dunia ini yang aku butuhkan cuma kamu, Mas.''
Arya hanya tersenyum lalu mengecup kening Shella.
-
''Mas Arya dua hari ini kok tidak ada kabar sama sekali ya. Ponselnya bahkan tidak bisa di hubungi.'' Gumam Aruna sambil menemani Zidane belajar di kamarnya.
''Apa dia sibuk sekali ya? Atau mungkin ponselnya mati daj di lupa nge-charge?'' Aruna terus bergumam dengan batinnya sendiri.
''Mami, apa Papi masih lama ya pulangnya?'' tanya Zidane.
''Kan Papi bilang kalau satu minggu di Singapura, sayang. Jadi kita sabar ya. Papi juga kerja untuk kita.''
''Iya Mami. Tapi beberapa hari ini Papi tidak menelepon Zidane?''
''Sabar ya sayang, pasti Papi sangat sibuk. Kita doakan Papi disana baik-baik saja ya dan supaya Papa segera menghubungi kita.''
''Iya Mami.''
''Kalau belajarnya sudah selesai, kamu langsung tidur ya.''
''Iya Mami.''
Setelah menemani Zidane belajar sampai akhirnya Zidane tidur, Aruna kembali ke kamarnya. Ia melihat kembali selembar fotonya yang telah terjatuh itu.
''Ya ampun, aku bahkan lupa membeli pigura baru untuk foto ini. Sebaiknya besok setelah mengantar Zidane ke sekolah, aku membeli pigura baru.'' Gumam Aruna. Melihat foto itu, membuatnya Aruna flashback awal perkenalannya dengan Arya sampai akhirnya mereka menikah.
Padahal dulu kedua orang tua Aruna, tidak sepenuhnya menyetujui pernikahan keduanya. Karena dulu usia Aruna masih sangat muda, di tambah karir Aruna saat itu sedang naik-naiknya. Begitu pula dengan Gita dan Dinda, mereka awalnya menyayangkan keputusan yang di ambil Aruna untuk menikah muda. Sampai akhirnya Gita dan Dinda menguji keseriusan Arya. Karena Gita dan Dinda benar-benar ingin Aruna melepas masa mudanya dengan bahagia. Apalagi usia 20 tahun bagi Gita dan Dinda masa-masa Aruna mencapai puncak karir. Ibarat buah, Aruna sedang ranum-ranumnya. Namun Arya dengan mudah memetiknya begitu saja. Meskipun tak sepenuhnya setuju namun pada akhirnya Gita dan Dinda juga tidak bisa mengatur kehidupan Aruna. Melihat Aruna bahagia, sudah cukup bagi keduanya.
Bersambung....
__ADS_1