Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 87 Dia istriku


__ADS_3

"Om sudah punya pacar belum?" sontak pertanyaan Zidane membuat Daniel terkejut sampai tersedak saat makan. Spontan, Aruna menuangkan minuman ke dalam gelas Daniel. Daniel pun segera meminumnya. Ia kemudian menatap Aruna sejenak sambil mengangkat sudut bibirnya. Ia merasa senang karena Aruna memperhatkannya.


''Saat ini Om tidak punya pacar dan sedang tidak ingin mencari pacar. Om ingin mencari istri.'' Jawab Daniel sambil mengarahkan padangannya pada Aruna.


''Bukannya pacar Om banyak ya.''


Daniel terkekeh. ''Iya tapi dulu kalau sekarang sudah tidak ada lagi. Tidak apa dong sebelum menikah punya banyak pacar tapi kalu istri harus dan cuma satu untuk selamanya.''


''Bagaimana kalau Om menjadikan Mami sebagai istri, Om?'' Ucapan random Zidane kali yang membuat Aruna terkejut sampai tersedak. Giliran Daniel yang memberikan Aruna minum.


''Zidane, apa yang kamu katakan? Itu tidak pantas di ucapkan oleh anak kecil.'' Tegur Aruna.


''Kalau itu tergantung Mami kamu. Mami kamu mau tidak sama Om?''


''Memangnya Om suka sama Mami? Cinta sama Mami?''


''Zidane, anak kecil. Memangnya kamu paham cinta itu apa?'' sela Aruna dengan nada kesal.


''Sebaiknya Mami diam saja. Aku sedang menginterogasi Om Daniel.'' Kata Zidane tak kalah tegas. Sikap Zidane itu membuat Daniel terkekeh namun membuat Aruna membeku.


''Baiklah, Om akan membuat pengakuan kalau Om suka sama Mami dan jatuh cinta sama Mami. Apa kamu menyetujuinya?'' Ucapnya sambil bergantian menatap Aruna dan Zidane.


''Bukan hanya setuju tapi juga memberi restu. Bagaimana Mami? Om Daniel sudah mengaku.''


''Zidane, sebaiknya habiskan makananmu.'' Aruna mencoba mengalihkan pembicaraan.


''Mami, jawab aku!'' paksa Zidane.


''Zidane, tidak ada yang harus Mami jawab. Jangan paksa Mami atau Mami marah. Sekarang kita bersiap ke sekolah.''


''Naik apa Aruna?''


''Naik taksi, angkot atau apa juga terserah.'' Ketusnya.


''Kalau kamu judes seperti itu, semakin cantik saja.'' Goda Daniel namun godaan Daniel tidak mempan. Daniel meletakkan sendoknya, tanda ia sudah selesai sarapan.


''Baiklah, ayo kita berangkat. Kasihan Zidane nanti terlambat kalau harus naik angkot atau taksi.''


''Iya Mi, sama Om Daniel saja ya. Nanti kelamaan nunggu.'' Rengek Zidane. Kali ini Aruna mengiyakan dan semua itu demi Zidane.


''Baiklah.'' Dengan berat hati Aruna menjawabnya. Mereka bertiga segera berangkat dan terlebih dahulu mengantarkan Zidane ke sekolah. Setelah mengantar Zidane ke sekolah, Aruna dan Daniel melanjutkan perjalanan menuju kantor. Keduanya saling diam, Aruna bahkan memilih duduk di bangku belakang, membiarkan Daniel duduk sendiri di bangku depan sembari menyetir. Aruna memilih fokus melihat jalanan sambil sesekali melihat keluar jendela. Melihat kesibukan jalanan yang padat dengan orang berlalu lalang dengan berbagai aktivitas. Sambil ia mengingat betapa teganya Arya mengambil semuanya tanpa memikirkan Zidane. Daniel memperhatikan wajah Aruna dari cermin sunvisor. Melihat wajah Aruna masih mengguratkan kesedihan.


Namun tiba-tiba ponsel Aruna berdering. Panggilan masuk dari Lasmi.


''Halo Nyonya. Hiks... hiks... Nyonya Den Zidane baik-baik saja kan?'' sapa Lasmi di seberang sana dengan isak tangisnya.


''Mbak kami baik-baik saja. Mbak kenapa? Nangis?''


''Iya Nya. Semalaman kami memikirkan Nyonya dan Den Zidane. Ya Allah, Tuan tega sekali Nya. Kami bahkan tidak bisa tidur memikirkan kalian. Nenek sihir itu keterlaluan sekali.'' Tangis Mbak Lasmi.

__ADS_1


''Mereka tidak memberikan kami kesempatan untuk menunggu Nyonya pulang. Nyonya yang kuat dan sabar ya.'' Kali ini terdengar suara Bi Tuti.


''Ya mau bagaimana lagi Bi. Tidak ada kata lain selain kuat dan sabar. Terima kasih sekali kalian sudah perhatiab pada kami. Tapi kenapa Bibi sama Mbak Lasmi?''


''Nya, sebenarnya kami semalaman tidak pulang. Kami menginap di masjid dekat komplek perumahan. Kami mengkhawatirkan Nyonya dan Den Zidane. Setidaknya jika terjadi sesuatu, kami selalu berada bersama Nyonya. Ini hape Lasmi juga baru bisa nyala karena kehabisan daya.''


''Ya ampun, Bi. Aku terharu sekali mendengar apa yang Bibi ucapkan. Tapi Bi, tolong jangan katakan apapun pada Papa dan Mama ya. Aku tidak mau membuat mereka sedih.''


''Iya Nya, kami akan tutup mulut.''


''Bi, maafkan aku ya karena sudah tidak bisa memperkerjakan kalian lagi. Dan sekarang juga aku akan menyusul kalian. Jadi jangan kemana-kemana.''


''Iya Nya.'' Panggilan pun berakhir.


''Tuan, turunkan aku disini.''


''Mau kemana kamu Aruna?''


''Aku harus menemui Bi Tuti dan Mbak Lasmi. Setidaknya aku mau memberikan mereka pesangon dan mengucapkan perpisahan pada mereka.''


''Baiklah, akan aku antar.''


''Tidak perlu, Tuan. Aku bisa sendiri. Tuan harus ke kantor.''


''Sudah, diam dan duduklah dengan tenang. Dimana mereka sekarang?''


''Tidak usah Tuan.'' Aruna masih bersikeras menolak bantuan Daniel.


''Mmmm di masjid komplek perumahan ku, Tuan.''


''Mulai sekarang, jika aku bertanya langsung jawab,'' ucapnya sekali lagi.


''I-iya.'' Aruna sampai di buat tergagap karena ini untuk pertama kalinya Daniel mengeluarkan suara yang menyeramkan. Akhirnya mereka sampai juga di masjid dekat komplek rumah. Aruna segera turun dari mobil dan menghambur ke pelukan Bi Tuti dan Mbak Lasmi. Mereka bertiga saling berpelukan, bahkan menangis. Tentu saja Bi Tuti dan Mbak Lasmi ikut merasa sedih dengan kisah hidup Aruna. Apalagi mereka bekerja bersama dengan Aruna sejak pertama kali Aruna dan Arya menikah.


''Nyonya,'' tangis keduanya memeluk Aruna. Mereka bisa merasakan betapa terlukanya hati Aruna. Setelah berpelukan cukup lama, mereka lalu saling melepaskan. Pandangan Bi Tuti dan Mbak Lasmi tertuju pada sosok Daniel yang berdiri di belakang Aruna.


''Tuan.'' Mereka menyapa Daniel. Daniel hanya mengangguk dengan senyum kecilnya. Bi Tuti dan Mbak Lasmi lega karena Aruna bersama dengan Daniel.


''Kalian kenapa masih disini? Kenapa tidak pulang saja? Mas Arya juga sudah memberikan pesangon kan?'' ucap Aruna sambil mengusap matanya yang basah.


''Tuan Arya memang memberikan kami pesangaon tapi saat kita sudah sampai di luar nenek sihir memalak kami, Nya. Nenek sihir itu merebut pesangon kami. Jadi akhirnya kami bermalam di masjid.'' Cerita Lasmi dengan kesal jika mengingat sikap Shella semalam.


''Ya ampun, tega sekali sih si Shella. Benar-benar tidak punya perasaan.'' Gerutu Aruna.


''Nyonya, sebenarnya kami juga tidak ingin pulang karena kami membutuhkan pekerjaan. Meskipun tidak bersama Nyonya, mungkin teman-teman Nyonya ada yang membutuhkan jasa kami.'' Timpal Bi Tuti.


''Kalian kerja di rumahku saja,'' sahut Daniel tiba-tiba. Aruna tentu terkejut saat Daniel mencoba menawarkan diri.


''Sungguh Tuan? Kami mau sekali.'' Kata Bi Tuti dengan semangat.

__ADS_1


''Aku masih butuh kalian untuk menjaga Aruna dan Zidane. Apalagi sejak kejadian semalam mereka tinggal di rumahku.''


''Hanya sementara Tuan. Saya juga mau pindah nyari kontrakan.'' Ketus Aruna.


''Jad-jadi Tuan tampan dan Nyonya tinggal satu rumah?'' tanya Mbak Lasmi dengan penuh rasa penasaran.


''Iya. Sebentar lagi dia juga akan menjadi istriku. Jadi kalian tidak usah bekerja di tempat lain. Setidaknya saat aku pulang larut atau dinas keluar kota, kalian bisa menjadi teman untuk Aruna dan Zidane.'' Ucap Daniel tanpa peduli reaksi Aruna.


''Anda percaya diri sekali ya, Tuan. Siapa juga yang mau menikah dengan anda? Jangan mengada-ada,'' kesal Aruna.


''Mungkin tidak dalam waktu dekat tapi pasti kamu akan aku jadikan istri.''


''Idih ogah. Lepas dari Mas Arya eh masuk kandang buaya.'' Seloroh Aruna memutar matanya.


''Hei, aku ini buaya yang sudah jinak ya.'' Kesal Daniel.


''Tuan dan Nyonya ini lucu sekali. Kalian seperti tom anda jerry tapi gemesin,'' ujar Mbak Lasmi.


''Saya setuju kalau Nyonya dan Tuan bersatu.'' Kata Bi Tuti.


''Saya juga setuju.'' Sahut Mbak Lasmi.


''Aku sudah mendapat tiga suara termasuk suara Zidane tadi.'' Senyum Daniel penuh kemenangan. Aruna hanya bisa membeku, kini semuanya mendukung Daniel.


''Mmm ini uang untuk kalian. Datanglah ke alamat rumahku.'' Daniel memberikan lima lembar uang berwarna merah pada Bi Tuti.


''Lho untuk apa Tuan?''


''Untuk naik taksi. Nanti sesampainya disana, Fero akan mengurus kalian. Pinjam ponselnya, aku akan menuliskan alamat rumahku.'' Mbak Lasmi lalu memberikan ponselnya pada Daniel. Daniel mengetikkan alamat rumahnya di posnel Lasmi.


''Oh ya dan satu lagi, Mbak Lasmi tolong nanti jemput Zidane ya, jangan sampai telat. Ini uang jajan untuk Zidane. Siapa tahu saat pulang dia menginginkan sesuatu. Karena dia menyukai pizza. Dan jemput dia dengan taksi ya, jangan angkot.'' Pesan Daniel seraya mengeluarkan uang lima lembar berwarna merah. Aruna tersentuh dengan sikap Daniel yang begitu royal, terutama perhatiannya pada Zidane. Zidane bukan darah dagingnya tapi ia begitu peduli pada Zidane.


''Tapi yang ini juga masih cuku, Tuan.'' Kata Mbak Lasmi.


''Tidak apa-ala bawa saja. Kalau dia mau mainan juga belikan saja. Aku dan Nyonya akan ke ke kantor sekarang. Tolong jaga rumah dan putraku baik-baik ya.'' Ucap Daniel seolah ia adalah Ayah Zidane.


''Tuan ini bicara apa? Mabuk?'' timpal Aruna.


''Ssstttt jangan cerewet Nyonya Daniel, kita harus ke kantor sekarang, oke.''


''Bi-Mbak, jangan dengarkan dia. Dia sudah gila. Aku berangkat dulu ya. Kalian hati-hati.''


''Nyonya dan Tuan juga hati-hati.'' Pesan Bi Tuti. Daniel dan Aruna mengangguk, mereka berdua segera masuk ke dalam mobil dan segera berangkat menuju ke kantor.


''Bi, semoga Tuan tampan dan Nyonya Aruna berjodoh ya.'' Kata Mbak Lasmi.


''Iya Lasmi. Aku juga ingin mereka bersatu. Kasihan Nyonya. Nyonya layak mendapatkan yang lebih segalanya dari Tuan Arya.''


''Betul sekali, Bi. Ya sudah kita kerumah Tuan Daniel sekarang.''

__ADS_1


''Iya, Las. Ayo!"


__ADS_2