
"I miss you." Lirih wanita itu berkata. Membuat darahnya berdesir. Membuat napasnya terhenti detik itu juga.
"Aruna?" Lirih Dicko sembari mengulurkan tangannya hendak menyentuh wajah Aruna. Dia berharap ini bukanlah mimpi. Atau bukan sekedar halusinasi semata.
"Apa kabarmu?" Tanya Aruna saat tangan kekar Dicko menyentuh wajahnya. Aruna pun meraih tangan itu dan menggenggamnya erat. Hingga membuat isak tangis Dicko yang sejak tadi tertahan, pecah begitu saja.
Ini bukan mimpi. Ini nyata. Dicko bahkan bisa merasakan genggaman tangan Aruna.
Oh Tuhan. Ini benar - benar bukan mimpi. Aruna masih hidup. Aruna masih hidup. Dan dia kembali hanya untuk cintanya.
"Bagaimana bisa? Aruna, apa ini benar - benar kamu? Aku tidak berhalusinasi kan? Ini benar kamu?" Racau Dicko haru sembari memandangi Aruna dari ujung kaki hingga ke ujung kepalanya. Berharap bahwa ini bukanlah mimpi.
"Ini aku."
Dicko kembali terisak. Sambil terus menatap Aruna dengan cucuran air mata. Akhirnya, Tuhan berbaik hati padanya. Tuhan telah mengabulkan doa - doanya.
Tuhan. Ijinkan sekali ini saja aku hidup bahagia bersamanya.
Dan Tuhan pun telah mengabulkannya. Jeritan hati yang selalu dia panjatkan di setiap doa - doanya.
Tak tahan lagi, dengan cepat Aruna pun menghambur ke dalam pelukan Dicko. Sambil menangis tersedu - sedu.
Sama halnya dengan Dicko. Dia membalas pelukan Aruna erat sambil menangis tersedu - sedu. Wanita yang dicintainya telah kembali hanya untuknya. Dicko hampir tidak percaya. Selama sebulan ini, Dicko mengira bahwa Aruna sudah meninggal dunia.
Oh God. Lelucon macam apa ini?
Dicko pun melepaskan pelukannya. Kemudian menciumi setiap inci wajah Aruna. Mulai dari kening, pipi kanan, pipi kiri, kemudian mengecup singkat bibir ranumnya. Dengan penuh rasa haru.
"Aku sangat merindukanmu. Rasanya aku hampir mati, saat tahu kamu ..." Betapa terharu dan bahagianya Dicko saat ini.
Aruna pun kembali memeluk erat tubuh Dicko. Mengobati kerinduannya yang selama ini terpendam dan terasa sangat menyiksa. Sejujurnya, ini pun terasa sulit bagi Aruna. Selama sebulan dia berjuang antara hidup dan mati. Dan cinta Dicko telah memberinya kekuatan untuk melewati masa - masa kritisnya.
"Aruna ... Tolong jangan tinggalkan aku lagi. Jangan pernah pergi dariku. Sungguh aku tidak akan sanggup kehilangan kamu." Semua ini masih menjadi tanda tanya besar bagi Dicko. Ada dimana Aruna selama sebulan terakhir ini.
"Maafkan aku. Maaf, aku baru datang sekarang. Aku harus menunggu sampai kesehatanku benar - benar pulih dulu. Agar aku bisa bertemu denganmu." Sembari mempererat pelukannya. Seakan Aruna tak ingin melepasnya lagi.
"Aruna, ayo kita menikah secepatnya. Aku sudah tidak sanggup harus terpisah lagi darimu." Pinta Dicko.
Aruna mengangguk haru dalam pelukan itu. Kemudian melepaskan pelukannya, lalu menatap Dicko lekat - lekat.
"Selamat Ulang Tahun, Dicko. Aku mencintaimu. Tapi maaf, aku tidak membawa hadiah untukmu."
"Kamu adalah hadiah termanis bagiku. Hadiah yang paling berharga untukku. Aku tidak butuh apapun lagi selain dirimu." Sembari mendekap wajah mungil Aruna dan menatap matanya lekat - lekat.
"Aku mencintaimu Aruna. Aku sangat mencintaimu." Ungkapan perasaan tulus Dicko yang teriring dengan perasaan bahagianya. Bahagia karena Tuhan mengembalikan cintanya. Cinta dalam hidupnya.
Pertemuan kembali yang penuh rasa haru ini pun tidak bisa menahan hasrat keduanya untuk saling melepas rindu. Di bawah sinar rembulan malam, di hari yang spesial ini, dua insan yang saling mencintai itu saling memadu kasih. Ciuman yang panjang menjadi saksi betapa keduanya memendam rindu yang teramat dalam.
..
__ADS_1
Sebulan sebelumnya, saat kecelakaan itu.
Di rumah sakit tempat keduanya dirawat. Dokter Anton yang menangani Dicko dan Aruna baru saja keluar dari ruang ICU.
"Seperti yang sudah saya katakan tadi. Kemungkinan hanya satu orang yang akan selamat. Saya sebagai dokter sudah berusaha keras dengan semampu saya. Tapi takdir berkata lain. Maaf, saya harus mengatakan ... Bersyukurlah, karena Tuhan masih memberi kesempatan. Keduanya selamat. Hanya saja pasien wanita keadaannya sangat parah. Dia harus mendapatkan penanganan lebih. Sungguh ajaib, jika dia masih bisa bertahan hidup."
Begitulah penjelasan dokter Anton saat itu. Membuat semua yang hadir saat itu terharu. Hingga saling berpelukan.
Seminggu sebelum Dicko tersadar.
Papa Danu menemui keluarga Aruna tanpa sepengetahuan siapapun. Dengan bermodalkan informasi yang di peroleh nya dari Andre, asisten Dicko. Papa Danu menemui Om Heru dan Tante Novi di rumahnya. Yang kebetulan saat itu mereka tengah bersiap ke rumah sakit untuk menjenguk Aruna.
"Saya akan membiayai perawatan ponakan kalian sampai kondisinya benar - benar pulih, dengan satu syarat." Ucap Papa Danu saat itu.
"Trima kasih, Pak. Tapi kami masih sanggup untuk membiayai perawatan ponakan kami." Tolak Om Heru tanpa mengurangi rasa hormatnya terhadap mantan besannya.
"Saya tau, biaya renovasi besar - besaran warung kalian itu berasal dari putra saya. Saya bisa saja menuntut kalian atas dasar pemerasan__"
"Baik. Katakan apa syaratnya."
"Pindahkan perawatannya ke rumah sakit lain. Kalau perlu ke luar kota. Lakukan secara diam - diam. Jangan sampai kedua putra saya tau."
"Baik."
Berdasarkan kesepakatan itu, untuk menghindari ancaman Papa Danu. Segera Om Heru dan Tante Novi membawa Aruna secara diam - diam dari rumah sakit. Dan memindahkan perawatannya di rumah sakit terbaik di kota MA. Selama perawatannya, Oma Windi lah orang yang selalu setia menjaganya siang dan malam. Sampai kondisinya pulih sepenuhnya.
Seminggu setelah Dicko tersadar.
Sialnya, saat itu Dicko dan Bram tidak bertanya lebih. Saking shock nya, Dicko pun menyangka yang meninggal saat itu adalah Aruna. Bram tahu, kondisi Aruna sangat kritis. Seperti kata dokter, sungguh ajaib jika dia masih bisa bertahan hidup. Hingga Bram pun menyangka Aruna tidak mampu bertahan hidup.
Tetapi keajaiban justru terjadi. Aruna mampu melewati masa kritisnya. Selama hampir sebulan dia dirawat di rumah sakit di kota MA.
Sehari sebelum ulang tahun Dicko.
"Bram, Papa minta bantuan kamu."
"Bantuan apa Pa."
"Tolong kamu temui keluarganya Aruna. Minta mereka datang ke ulang tahun Kakakmu besok. Katakan juga pada mereka untuk meminta Aruna datang."
"Apa? Aruna? Bukankah dia sudah meninggal?" Bram terkejut saat itu.
"Siapa yang bilang dia sudah meninggal? Dia hanya dirawat di rumah sakit lain di luar kota. Mungkin, hanya ini yang bisa Papa lakukan sebagai permintaan maaf Papa pada Kakakmu."
.
.
Dengan saling bergandengan tangan, Dicko dan Aruna melangkahkan kakinya menuju ke ruang tengah. Di mana sebuah pesta kecil - kecilan diadakan.
__ADS_1
Sebuah sambutan meriah pun menyambut kedatangan mereka. Satu per satu dari tamu yang hadir, memberikan ucapan Selamat Ulang Tahun untuk Dicko.
Kini, giliran Papa Danu yang memberi ucapan selamat itu.
"Selamat Ulang Tahun Nak. Maafkan Papa karna terlambat menyadari. Mulai skarang, kalian berdua, tidak akan pernah terpisahkan lagi. Papa merestui kalian."
"Aruna ... Sebagai mantan mertua mu, dengan segenap hati Papa meminta ... Maukah kamu, sekali lagi menjadi menantu Papa?" Permintaan tulus Papa Danu teriring dengan perasaan bahagianya bercampur haru.
Aruna pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Iya, aku mau."
"Terima kasih Nak."
Prok Prok Prok
Tepukan meriah dari tamu undangan pun terdengar mengiringi perasaan bahagia di hati keduanya.
"Selamat ya Kak? Aruna?" Ucap Bram saat menghampiri Dicko dan Aruna. Kemudian merangkul kakaknya. Lalu berganti memeluk Aruna. Sedikit lebih lama.
"Bram, Jangan lama - lama." Seloroh Dicko. Dan Bram pun melepaskan pelukannya sambil terkekeh setelah mendapat teguran dari sang kakak.
Kini, giliran Oma Windi yang datang menghampiri.
"Selamat ya untuk kalian berdua." Ucap Oma Windi.
"Makasih Oma."
"Makasih Oma. Tapi Oma curang." Seloroh Dicko. Hingga membuat dahi wanita tua itu mengerut.
"Oma curang. Kenapa Oma tidak memberitahuku, kalau Oma datang bersama Aruna."
"Kamu juga tidak bertanya, Oma datang bersama siapa. Kan tidak mungkin kalau Oma datang sendiri." Canda Oma Windi hingga membuat mereka tergelak.
Setelah itu, semua yang hadir kembali menghambur, memberikan ucapan selamat kembali untuk Dicko dan Aruna. Yang telah mendapat restu dari Papa Danu.
"Selamat ya Dicko, Aruna. Secepatnya, aku tunggu undangannya." Ucap Randa sembari merangkul sahabatnya.
Bergiliran mereka memberikan ucapan selamat pada dua insan yang tengah berbahagia itu.
Entah mendapat ide dari mana, tiba - tiba saja Sheila usil. Dengan mendorong Clara. Hingga Clara yang tengah berdiri di samping Bram pun mendadak oleng dan hampir terjatuh. Jika bukan karena Bram yang sigap menangkap tubuhnya. Seketika itu juga tatapan mata mereka bertemu. Saling menatap disertai debaran - debaran aneh di hati keduanya.
"Ciye - ciye ... Ada yang lagi jatuh cinta nih ..." Goda Sheila hingga membuat wajah Bram dan Clara bersemu merah. Keduanya pun saling melempar senyum malu - malunya.
Bakal ada pasangan baru nih ...
.......
.......
.......
__ADS_1
...Bersambung...