Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
CUA S2 Bab - 38


__ADS_3

Selama perjalanan dari minimarketnya Tante Novi Bram dan Aruna diam seribu bahasa. Baru saja Aruna melihat senyuman terbit di wajah Bram. Kini wajah Bram kembali dingin. Bahkan enggan menoleh untuk menatapnya.


Sementara perasaan Aruna semakin tidak enak. Mendadak cemas. Dalam hatinya masih bertanya - tanya. Tumben Bram datang menjemputnya. Dari mana Bram tau kalau dia pergi menemui keluarganya.


Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di kediaman Anggara. Bram memarkirkan mobilnya di depan rumah, tetapi Bram belum turun dari mobil. Bahkan tidak terlihat tanda - tanda dia akan turun dari mobil itu sekedar untuk mampir sebentar.


"Aku masih harus kembali ke kantor." Ucap Bram tiba - tiba.


"Makasih sudah menjemputku. Oh ya, kok kamu bisa tau aku pergi menemui Om dan Tanteku?" Aruna sedikit penasaran dengan perubahan sikap Bram.


Bram hanya diam. Dia tidak ingin memberitahu Aruna kalau sebenarnya dia sangat mencemaskannya. Hingga dia menghubungi Bi Surti sekedar untuk menanyakan keadaannya saat itu. Dan dari Bi Surti pula Bram tahu kalau Aruna pergi menemui Om dan Tantenya.


"Ini bukan berarti aku sudah melupakan kesalahanmu. Tetap saja, perbuatanmu itu tidak bisa dimaafkan."


Gluk ...


Aruna menelan salivanya dalam - dalam. Dia pikir, sikap Bram akan kembali hangat seperti dulu. Tidak apa Aruna. Kamu hanya perlu bersabar. Aruna menyemangati dirinya sendiri. Sebab hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini.


"Terima kasih sekali lagi. Aku turun dulu." Aruna pun turun dari mobil diiringi lelehan air mata yang berjatuhan tanpa permisi. Entah kenapa, dadanya terasa begitu sesak.


Dari balik jendela mobil, Bram bisa melihat Aruna tengah berjalan perlahan sambil mengusap - usap wajahnya. Meski hanya melihat punggungnya, tapi Bram tahu, wanita itu sedang menghapus air matanya. Bram pun mendesah lalu segera turun dari mobil dan menyusul langkah Aruna.


Aruna masih berdiri di ruang tamu. Berusaha menata perasaannya sambil menghapus sisa air mata yang masih berjatuhan. Mungkin saja karena perubahan hormon hingga perasaannya begitu sensitif.


Aruna hendak melangkahkan kakinya, saat tiba - tiba sebuah tangan kekar menarik lengannya dengan kuat. Dalam sekejap tubuhnya jatuh kedalam pelukan hangat Bram. Detik itu juga, Bram bisa mendengar isak tangis Aruna yang tertahan.


"Jangan ditahan. Menangislah. Aku akan membiarkanmu menangis dalam pelukanku. Menangislah sepuasmu." Ucap Bram seakan dia tahu perasaan Aruna saat ini.


Aruna tidak lantas menurutinya. Perlahan dia menarik diri dari pelukan Bram.


"Kembalilah ke kantor. Bukannya kamu sibuk?"


"Aruna ... Katakan padaku, apa kamu masih mencintaiku?"


Aruna mengangguk pelan. Jujur, masih ada cinta untuk Bram. Meski tak sebesar cintanya untuk Dicko. Astaga. Aruna sungguh tidak adil. Padahal Bram adalah suaminya. Seharusnya cintanya hanya untuk Bram.


"Jujur, aku ingin kita kembali seperti dulu lagi. Tapi aku punya satu permintaan." Ucap Bram sambil menatap tajam Aruna.


Apa permintaan Bram kali ini? Mendadak jantung Aruna berdetak kencang. Semoga saja Bram tidak akan meminta hal yang aneh - aneh.


"Jika kamu ingin hubungan kita kembali seperti dulu, aku minta kamu ..." Bram menarik napas sebentar. Sedangkan Aruna sudah menegang menunggu apa permintaan Bram.


"Aku minta ... gugurkan kandunganmu."


What ??? Menggugurkan kandungannya? Apa Bram sudah gila? Aruna sangat terkejut mendengarnya dengan mata terbelalak sempurna.


"Aku akan memaafkan kesalahanmu dan melupakan perbuatan mu, tapi dengan syarat ... kamu harus menggugurkan kandungan mu." Ucap Bram sekali lagi dengan penuh percaya diri.


Air mata yang telah mengering itu, kini berderai kembali. Sungguh tega Bram ingin membunuh darah dagingnya sendiri. Dari mana datangnya ide gila itu. Bram semakin dibutakan oleh syakwasangka nya sendiri. Sampai detik ini Bram masih berpikir anak yang Aruna kandung adalah anaknya Dicko.


"Menggugurkan kandungan? Apa kamu sudah gila?" Aruna lalu membekap mulutnya sendiri sambil berderai air mata. Saking syok dengan permintaan gila Bram.


"Untuk apa mempertahankan bayi yang bukan milikku. Yang aku inginkan hanya kamu, bukan bayi itu."


"Tidak akan aku lakukan. Kalau itu yang kamu inginkan, lebih baik kita ..." Aruna mengatur napasnya sebentar. Kemudian kembali berkata,

__ADS_1


"Lebih baik kita akhiri pernikahan kita sampai disini." Tubuh Aruna bergetar saat mengucapkan kalimat itu. Dadanya terasa begitu sesak serasa bagai ribuan bebatuan menghimpitnya saat ini.


Kini giliran Bram yang terbelalak saking terkejutnya mendengar kalimat itu. Akhirnya Aruna punya keberanian mengutarakan isi hatinya. Meski terdengar menyakitkan. Dada Bram bergemuruh hebat. Bahkan tubuhnya pun gemetaran.


Jadi inilah reaksi Aruna saat dia mengatakan keinginannya. Kenapa Aruna sangat ingin mempertahankan bayi itu.


Bram sungguh terlalu. Andai saja kamu tahu bayi yang di kandung Aruna itu adalah bayimu.


"Kenapa? Kenapa kamu ingin mempertahankan bayi itu?"


Aruna menggeleng tak percaya dengan sikap dan perlakuan Bram padanya. Air matanya kini semakin tertumpah ruah. Sungguh hancur hatinya saat ini. Teramat perih. Bram sungguh tega memperlakukannya seperti ini.


"Apa karena bayi itu adalah bayi Dicko? Itu kan alasan kamu ingin mempertahankannya?"


"Cukup!" pekik Aruna. Sembari mengatur deru napasnya yang semakin memburu sebab amarah yang tertahan.


"Skarang, aku tidak butuh lagi tanggung jawabmu. Akan aku pertahankan bayi ini. Tanpa kamu pun, aku bisa membesarkan bayi ini sendiri." Kemudian Aruna memutar tubuhnya, hendak meninggalkan Bram. Namun sebelum berlalu, Aruna kembali berkata,


"Saat anak ini lahir nanti, jangan pernah datang menemuiku. Karna aku tidak akan pernah mengijinkanmu melihat anak ini." Aruna pun bergegas ke kamarnya meninggalkan Bram yang masih berdiri terpaku dengan rasa tak percaya Aruna akan berani berkata seperti itu.


Di kamarnya, Aruna menyandarkan tubuhnya pasrah di balik pintu kamarnya. Semakin lama tubuh itu semakin merosot diiringi deraian air mata yang mengalir bagai air bah. Membasahi seluruh wajahnya. Hingga akhirnya Aruna terduduk lesu di lantai kamar itu.


Isak tangis pilunya kian terdengar. Sungguh menyayat hati. Bak sembilu mengiris kalbu. Perih. Teramat perih.


.


.


Cklek ...


Dari pintu itu, Shanti melangkah masuk perlahan dengan hati berdebar - debar aneh. Dan wajah sumringah. Tatapannya berbinar saat menatap Dicko dari jarak yang begitu dekat. Hanya berbatas sebuah meja kerja saja.


"Maaf Pak Rama. Ada apa Bapak memanggil saya?" tanya Shanti sopan.


Dicko menatap Shanti dengan senyum tipis di wajahnya. Membuat Shanti gemetaran.


Oh my God (ya Tuhan) baru kali ini dia tersenyum padaku. Batin Shanti girang.


"Jangan panggil saya Rama. Saya bukan Rama."


Shanti tercengang tak percaya.


"Jadi ... anda ..."


"Iya. Saya Dicko."


"Huaaaaaa .... huaaaaaa ..." Shanti menangis tersedu - sedu. Hingga Dicko pun mengernyit heran.


"Kamu kenapa?"


"Saya sangat terharu. Saya pikir Bapak ... Bapak sudah ..."


"Sudahlah. Saya langsung saja. Saya hanya ingin meminta bantuan kamu."


Shanti mengangguk mantap, "boleh, dengan senang hati." Sembari menghapus air matanya.

__ADS_1


"Sebenarnya, Aruna sedang hamil ..."


Kini Shanti terbelalak.


"Aaaah .... ya ampun ... akhirnya ... Aruna pasti sangat bahagia. Sudah lama dia menantikan kehadiran seorang bayi."


"Kalimat saya belum selesai ..."


Shanti kembali mengangguk mantap.


"Saya minta kamu menemani Aruna di rumah. Saat ini dia butuh support dari orang - orang terdekatnya. Saya hanya ingin kamu menemani dia, biar dia punya teman ngobrol. Setidaknya dia tidak akan merasa kesepian."


"Boleh, boleh. Dengan senang hati."


"Untuk pekerjaan kamu di kantor, nanti akan saya bicarakan dengan Roni."


"Boleh, Boleh." Shanti begitu sumringah.


"Ya sudah, apa skarang kamu boleh ke rumah? Mungkin skarang dia sendirian di rumah."


Di tengah - tengah obrolan, tiba - tiba ponsel Shanti berdering. Sebuah panggilan dari Aruna.


"Maaf Pak. Ini, Aruna menghubungi saya." Shanti memperlihatkan layar ponselnya yang menampilkan nama Aruna.


"Saya ijin menjawab telpon Aruna dulu."


"Silahkan."


Shanti pun mulai menjawab panggilan dari Aruna.


"Halo ..." sapa Shanti.


Namun yang terdengar di seberang hanyalah sebuah isak tangis.


"Run ... kamu kenapa?" tanya Shanti. Seketika perasaan Dicko pun jadi tak enak saat mendengar pertanyaan Shanti.


Yang terdengar masih isak tangis pilu Aruna.


"Run ... kamu kenapa Run. Kenapa kamu menangis?"


Refleks, Dicko langsung bangkit dari duduknya. Dan bergegas keluar ruangannya.


"Kamu ikut saya." Titah Dicko dan langsung dipatuhi Shanti.


Dengan tergesa - gesa mereka berjalan menuju mobil Dicko yang terparkir. Sejurus kemudian mobil itu melaju kencang meninggalkan pelataran parkir gedung TRF.


.......


.......


.......


...-Bersambung-...


Aduh 🤧 geregetan banget ngetik ini.

__ADS_1


Bram kelakuanmu ... 🤧🤧🤧


__ADS_2