
''Aruna, aku pamit!''
''Kamu tidak jadi menginap disini, Mas?''
''Aku akan menunggu marah Zidane reda. Apalagi Shella hamil muda, kalau dia butuh apa-apa, tidak ada yang membantunya. Kamu disini ada Bibi dan Mbak Lasmi. Kalau memang kamu butuh aku, kamu telepon aku saja.''
''Baiklah kalau begitu.'' Singkat Aruna dengan senyum kecilnya.
''Aruna, aku pamit ya. Sampaikan salamku pada Zidane ya.'' Kata Shella yang sudah memeluk manja lengan Arya.
''Iya.''
''Kamu jaga diri baik-baik ya.'' Ucap Arya seraya mengusap bahu Aruna. Arya dan Shella kemudian pamit, meninggalkan rumah Aruna.
Setelah Arya dan Shella pergi, Aruna pergi ke kamar Zidane. Aruna mengintip sedikit dari celah pintu, namun ia melihat Zidane menangis di sudut ruangan sambil memeluk kakinya.
''Papi....,'' isak tangis Zidane. Sebagai seorang anak, Zidane di paksa dewasa oleh keadaan. Melihat itu, Aruna ikut menangis. Ia segera menghampiri Zidane dan memeluknya.
''Zidane, kamu kenapa sayang?''
''Mami.... Zidane marah, kecewa dan benci sama Papi tapi Zidane juga sayang Papi, Mi. Zidane merindukan Papi yang dulu.'' Ucap Zidane sambil sesenggukan.
''Mami juga sayang sekali dengan Papi tapi Papi tidak bisa bersama kita lagi. Kamu masih bisa mengunjungi Papi dan walau bagaimanapun, dia tetap Papi kamu, Ayah kandung kamu. Kamu berhak atas Papi, sayang. Kamu jangan khawatir itu ya.''
Malam itu keduanya saling berpelukan dan menenangkan satu sama lain. Sampai akhirnya Zidane tertidur dalam dekapan Aruna.
Keesokan harinya, Aruna bangun pagi sekali, menyiapkan semua keperluan Zidane untuk berangkat sekolah. Aruna juga memastikan kalau sarapan sudah siap. Tak lama kemudian Zidane turun menuju ruang makan.
''Pagi Mami.''
''Pagi sayang.''
''Oh ya Mami, aku sudah menyelesaikan gambarku.'' Kata Zidane sambil menunjukkan gambar yang ingin ia berikan pada Daniel.
''Wah, bagus sekali. Kalau begitu, Mama ambil bingkainya ya supaya rapi.''
''Iya Mami.''
Aruna bergegas menuju kamarnya untuk mengambil bingkai yang belum terpakai. Tak lama kemudian, Aruna kembali ke ruang makan.
''Sini Mami bantu bingkainya.''
''Terima kasih Mami.''
''Memangnya kamu mau memberikannya kapan?''
''Nanti Mami, sepulang sekolah ajak Zidane menemui Om Daniel ya.''
__ADS_1
''Oke. Tapi janji dulu, hari ini sarapannya harus habis. Terus di sekolah harus jadi anak kebanggan Mami.''
''Iya Mami. Zidane akan menjadi yang terbaik untuk Mami.''
''Terima kasih ya sayang. Mami tahu kalau Zidane anak yang baik dan kuat.''
''Semua demi Mami.''
''Baiklah, kalau begitu kita sarapan ya.''
''Iya Mami.''
Setelah selesai sarapan, Aruna segera mengantar Zidane ke sekolah. Kemudian segera bergegas menuju kantornya. Sesampainya di kantor, Aruna segera menuju ruangan Daniel untuk membersihkannya. Kebetulan Daniel juga belum datang. Aruna merapikan meja kerja, beberapa tumpukan dokumen dan juga membersihkan debu yang menempel dengan kemoceng. Aruna melihat ada bingkai foto kecil di meja Daniel. Dan itu adalah foto Mama Daniel. Aruna tersenyum, lalu merapikannya kembali. Setelah dirasa bersih, Aruna segera kembali keruangannya.
Selang sepuluh menit, Daniel akhirnya tiba juga di kantor. Ia langsung menuju ruangannya. Ia sedikit terkejut karena ruangannya sudah rapi.
''Apa Aruna sudah datang?'' gumamnya. Setelah meletakkan tas kerjanya, Daniel menuju ruangan Aruna.
''Aruna!"
''Tuan Daniel, anda sudah datang? Apa ada yang bisa saya bantu?''
''Kamu yang membersihkan ruanganku?''
''Iya Tuan.''
''Apa yang terjadi dengan Tuan Hutama?''
''Biasalah penyakit tua,'' jawab Daniel asal.
''Oh ya, nanti Fero akan mengirimkan semua jadwalnya padamu.''
''Baik Tuan.''
Daniel kemudian berlalu meninggalkan ruangan Aruna. Tak lama kemudian, datanglah Fero.
''Morning Aruna!" sapa Fero dengan senyum lebarnya.
''Selamat pagi, Fero.''
''Bagaimana kabarmu? Aku dengar dari Daniel, kamu mabuk ya saat di pesta itu?''
''Iya. Aku tidak tahu kalau yang aku minum adalah minuman beralkohol. Aku meminumnya begitu saja.''
''Kamu sama sekali tidak pernah minum ya?''
''Menyentuhnya saja tidak pernah.''
__ADS_1
''Pasti saat kamu masih muda dulu, kamu itu primadonanya di sekolah ya. Cantik, pintar, ramah, baik hati dan rajin menabung juga, iya kan?'' begitulah kelakukan Fero yang mudah sekali mengobral rayuan.
''Fero, ini masih pagi. Jangan menggombal!" Aruna terkekeh.
''Ya tidak apa-apalah. Asal kamu tahu, semua karyawan di kantor ini, tidak akan semangat kerja kalau belum mendapat gombalan dari Fero.''
''Kalau aku mungkin akan mual mendengar gombalanmu setiap pagi.''
''Wah, jahat sekali kamu Aruna. Tapi maklumlah, kamu bukan abg lagi. Tentu saja gombalan dariku tidak akan mempan.''
''Nah, itu jawabannya.''
''Oh ya, ini jadwal Daniel hari ini. Aku tidak yakin dia bisa menyelesaikannya. Selama ini dia selalu membuat rusuh dan menggagalkan beberapa proyek. Aku sedih, bagaimana perusahaan ini akan berjalan tanpa Tuan Hutama.''
''Tuan Daniel sebenarnya hebat, hanya saja dia tidak mau menunjukkan kehebatannya. Mungkin sekretarisnya yang dulu tidak bisa menggali potensi atau bahkan mengarahkan bosnya menjadi lebih baik.'' Kata Aruna dengan senyumnya.
''Aruna, kamu beberapa hari bekerja disini sudah berani menyindir di depanku. Tapi akui, kemarin satu hari bekerja bersamamu, aku bisa santai. Biasanya dia selalu membuat masalah. Dan selalu aku yang akhirnya menyelesaikan semua keonaran yang Daniel buat. Kemarin saja, dia saat pergi bersamaku, hampir saja membuat masalah lagi. Untung saja aku bisa menahan. Kalau masalah pekerjaan masih wajar, lah ini masalah wanita juga.'' Cerocos Fero dengan menggebu.
Aruna hanya tersenyum mendengar cerita Fero tentang suka dukanya bersama Daniel.
''Baiklah, Fer. Aku harus bekerja. Sebaiknya kamu harus kembali ke ruangan kamu. Karena, kalau Tuan Daniel tahu, dia bisa marah karena menganggap kita sedang bergosip.''
''Iya-iya, kamu benar juga. Tapi bagaimana kabar putramu? Aku sudah lama tidak melihatnya.''
''Dia baik Fero.''
''Syukurlah. Baiklah kalau begitu, aku kembali dulu ya. Selamat bekerja!"
''Selamat bekerja juga untukmu, Fero.''
Fero kemudian berlalu meninggalkan ruangan Aruna. Aruna kemudian menyiapkan semua berkas untuk presentasi pagi ini.
Hari ini jadwan Daniel sangat padat, namun Aruna bersyukur selalu ada celah untuk menjemput Zidane ke sekolah. Namun tiba-tiba ponsel Aruna berdering. Panggilan masuk dari Arya.
''Halo Mas, ada apa?''
''Aruna, hari ini biar aku yang menjemput Zidane ke sekolah. Aku ingin menghabiskan waktu dengannya.''
''Baiklah Mas kalau begitu. Kebetulan hari ini jadwal Tuan Daniel sangat padat.''
''Aku harap kamu benar bekerja dan tidak bermain-main dengan atasan kamu itu, Aruna.''
''Tidak usah menasihatiku, Mas. Nasihati dirimu sendiri. Sudah ya aku sibuk. Tolong jaga Zidane.'' Aruna mengakhiri panggilannya begitu saja, membuat Arya kesal dengan sikap Aruna.
Kesibukkan Aruna hari itu, benar-benar membuat Aruna lupa dengan semua masalahnya. Meskipun kata Fero, Daniel tidak suka bermain-main. Namun nyatanya hari ini Daniel menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya. Dari yang ia tahu dari Fero, ada beberapa proyek yang Daniel tolak, memang proyek itu hanya menginginkan keuntungan yang besar tanpa memikirkan kualitas produk yang dihasilkan. Sekalipun penolakan Daniel itu membuat Tuan Hutama marah tapi menurut Aruna, itu langkah yang terbaik. Sekalipun Daniel memang pencinta wanita tapi Aruma bisa melihat kalau Daniel punya kemampuan yang luar biasa.
Bersambung.... Yukkk like komen dan votenya yaa, makasih 🙏❤️
__ADS_1