Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 61 Hari Baru


__ADS_3

Malam itu Arya merasa tidak percaya, jika semua barang-barangnya di kembalikan oleh Aruna tanpa tersisa sedikitpun. Ia termenung menatap keluar jendela apartemen. Tiba-tiba Shella memeluknya dari belakang.


''Mas, aku bahagia sekali. Akhirnya rumah itu terbeli juga ya. Besok kita akan pindah dan meninggalkan apartemen ini. Kamu bahagiakan?''


''Iya aku bahagia.'' Ucap Arya dengan ekspresi datarnya. Shella lalu membalikkan tubuh Arya menghadapnya.


''Tapi wajahmu tampak murung Mas. Apa kamu sedih karena sidang putusan itu terlalu cepat?''


''Iya. Aku memang sedih. Apalagi Aruna mengembalikan semua barang-barangku termasuk cincin pernikahan kami.''


''Aku pikir kamu akan bahagia tapi ternyata kamu masih tetap saja memikirkannya.''


''Tolong ya kamu mengerti, beri aku waktu. Apalagi perceraian ini atas kemauan Aruna. Aku sudah menuruti semua keinginanmu termasuk mengambil mobil Aruna. Dia juga merelakannya untuk kita. Apalagi semua tabungan sudah terkuras habis untuk membeli rumah itu. Itupun aku masih harus mencicil 20 milyar. Aku juga menggunakan tabungan sekolah Zidane, untuk membeli rumah itu. Jadi tolong kamu mengerti aku saat ini.'' Arya kemudian berlalu meninggalkan Shella begitu saja. Arya keluar dari apartemen untuk mencari udara segar di luar sana. Shella hanya bisa terdiam mendengar apa yang Arya ucapkan.


......................


Keesokan harinya, saat Daniel terbangun, ia merasakan sekujur tubuhnya sangat sakit. Saat Daniel membuka matanya, ia sangat terkejut melihat tangan dan kakinya terikat oleh lakban. Daniel juga baru menyadari kalau mulutnya juga terplester oleh lakban. Daniel lalu turun dari tempat tidurnya dengan berjalan melompat mendekat kearah laci. Ia lalu duduk di lantai, mengangatkat kedua kakinya, menggunakan kedua jari kakinya untuk menarik gagang laci. Setelah berhasil, Daniel lalu berdiri dan mengambil gunting dengan kedua tangannya yang terikat itu. Setelah berhasil, Daniel duduk di lantai membuka ikatan di tangannya. Setelah berhasil dengan susah payah, ikatan ditangannya terlepas. Ia lalu membuka lakban di mulutnya dan terakhir ikatan di kakinya.


''Siapa yang melakukan ini padaku?'' teriak Daniel dengan kesal.


''Pasti ada yang berniat jahat padaku.'' Gumamnya. Daniel sama sekali tidak ingat apapun. Daniel dengan langkah yang masih sempoyongan menuju ruang kerjanya untuk melihat rekaman CCTV di rumahnya. Matanya seketika membulat, melihat ia pulang dalam keadaan mabuk dan Aruna yang memapahnya sampai menuju ke kamar.


''Aruna? Bukannya Fero. Aku kan meminta Fero untuk menjemputku.'' Daniel lalu menelepon Fero.


''Fer, elo dimana? Kenapa Aruna yang jemput gue?''


''Gue di Sumba, dapat tugas dadakan dari Om Hutama. Gue semalam bilang nggak bisa jemput, baru juga mau jelasin, elo matiin telepon gitu aja seperti biasa. Jadi ya gue minta Aruna buat elo lah. Gue khawatir kalau elo pulang dalam keadaan mabuk.'' Jelas Fero. Dan setelah mendapat penjelasan dari Fero, Daniel mengakhiri panggilannya begitu saja. Dan lagi-lagi itu membuat Fero kesal.


''Emang kebiasaan nih anak. Telepon main tutup gitu aja. Dari dulu nggak pernah berubah.'' Gerutu Fero.


Setelah mendapat penjelasan dari Fero, Daniel lalu berusaha mengingat kembali apa yang terjadi semalam.


''Aruna, apa Aruna juga yang mengikatku? Atau semalam ada penyelundup? Astaga! Atau Aruna sengaja ingin menyingkirkan aku supaya bisa bersama dengan Papa. Wah, itu tidak bisa dibiarkan! Aku akan meneleponnya dan memintanya datang ke rumah.'' Daniel lalu menelepon Aruna. Aruna sendiri sedang sarapan bersama dengan Zidane. Melihat ada panggilan masuk dari Daniel, Aruna segera mengangkatnya.


''Selamat pagi Tuan. Ada yang bisa aku bantu?''

__ADS_1


''Setelah mengantar Zidane ke sekolah, datanglah ke rumahku. Ada yang ingin aku bicarakan.''


''Dia sudah bangun rupanya. Baiklah aku akan datang dan memberinya pelajaran. Aku tidak peduli sekalipun di pecat karena harga diriku jauh lebih penting.'' Gumam Aruna dalam hati.


''Baik Tuan, aku akan segera kesana.'' Setelah mendengar jawaban Aruna, Daniel mengakhiri panggilannya begitu saja.


''Tidak sopan! Dimatikan begitu saja.'' Gumam Aruna.


Daniel lalu kembali tersadar, ia kembali ke kamarnya. Ia melihat kamarnya sangat rapi. Daniel lalu turun ke lantai bawah dan semuanya sudah sangat bersih dan rapi.


''Apa Aruna yang membersihkannya juga? Ah, aku tahu pasti dia modus. Dia pasti nanti akan berlagak sok pahlawan di hadapanku. Awas saja nanti!"


...****************...


Sesuai perintah Daniel, setelah mengantar Zidane ke sekolah, Aruna lalu menuju rumah Daniel. Aruna yang sudah menahan kesal, masuk begitu saja ke rumah Daniel tanpa mengetuk pintu. Daniel yang sedang sarapan, terkejut setengah mati bisa masuk ke rumahnya.


''Aruna, bagaimana kamu bisa masuk?''


''Tuan sendiri yang mengatakan password pintu rumah anda.'' Ketus Aruna seraya berjalan mendekat kearah Daniel.


''Aku akan melaporkanmu ke kantor polisi.''


''Kantor polisi? Memang apa yang aku lakukan? Kamu pasti yang mengikatku kan?''


''Iya. Memang kenapa? Itu karena sikap kurang ajarmu, Daniel.'' Tegas Aruna.


''Apa? Daniel? Hei, aku atasanmu Aruna. Panggil aku Tuan!"


Aruna menggigit bibir bawahnya. ''Atasan mesum dan tidak sopan sepertimu, masih saja minta di haragai. Kamu saja tidak bisa menghargai bawahanmu.''


Daniel lalu beranjak dari duduknya, ia bertolak pinggang menatap kesal Aruna. Aruna juga tidak mau kalah, ia juga bertolak pinggang membalas tatapan kesal Daniel.


''Apa kamu tidak ingat apa yang kamu lakukan semalam Daniel? Sampai aku mengikatmu seperti itu. Apa kamu tidak ingat? Atau sengaja lupa? Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.''


''Wait, wait! Semalam aku mabuk. Apa terjadi sesuatu di antara kita?'' Daniel memelan suaranya.

__ADS_1


''Menurutmu, apa yang kamu lakukan saat kamu sedang mabuk? Apa kamu selalu bersikap seperti itu dengan wanita? Melecehkannya begitu saja, iya?'' bentak Aruna.


''Memang apa yang aku lakukan Aruna? Aku sungguh tidak ingat.''


Aruna mendengus. ''Baiklah aku akan mengingatkanmu. Semalam kamu mencium bibirku. Apa kamu ingat?''


''Ap-apa? Mencium bibirmu?'' Daniel tergagap.


''Iya. Dan itu adalah pelecehan. Aku akan melaporkanmu ke kantor polisi. Aku tidak terima!"


Daniel berusaha mengingat lagi, apa benar ia ucapan Aruna itu. Daniel memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya. ''Ah sial!"


''Bagaimana? Ingat?'' tanya Aruna.


''Iya, aku ingat sekarang! Tapi aku tidak sengaja. Namanya juga mabuk. Pasti aku mengira kalau kamu itu pacarku. Jadi kamu tidak bisa membawa kasus ini ke jalur hukum. Karena tidak ada bukti yang ontentik. Semua itu murni ketidak sengajaan. Aku minta maaf.''


''Tidak bisa! Kamu merendahkan diriku, Daniel.''


''Kalau kamu melaporkanku, bukan hanya namaku saja yang jelek. Tapi juga nama mu. Apalagi dengan status barumu sekarang. Kamu yakin media tidak memilintir berita tentang kita? Aku bisa saja memutar balikkan ucapanmu itu. Seorang janda menggoda pewaris Sky Group. Pasti berita itu booming, iya kan?'' Daniel tersenyum simpul, melihat reaksi Aruna yang hanya bisa menghela nafas kasar.


''Aku lupa, aku berurusan dengan siapa. Bisa jadi ini boomerang untukku. Citraku sebagai seorang wanita baik-baik bisa rusak begitu saja. Huft, memang yang beruang lebih berkuasa. Apa yang harus aku lakukan?'' gumam Aruna dalam hati.


''Aku sudah minta maaf padamu, Aruna. Itu semua tidak sengaja. Aku saja tidak ingat. Kita akhiri saja dengan damai. Sebaiknya kita pergi ke kantor. Dan kita lupakan semuanya. Karena sebelumnya aku menelepon Fero tapi tidak tahunya kamu yang datang. Aku akan mengganti rugi atas sikap ku semalam. Berapa uang yang kamu minta sebagai ganti rugi?''


Aruna menarik sudut bibirnya. ''Ini bukan soal uang Daniel. Tapi soal harga diri ku sebagai seorang wanita.''


''Iya, aku tahu kalau kamu wanita baik-baik. Makanya aku minta maaf. Semuanya di luar kendaliku semalam. Biasanya aku juga tidak begitu. Sudahlah jangan di perpanjang lagi. Kalau mau marah denganku juga terserah, yang penting kita kerja secara profesional saja.''


''Baiklah, aku permisi.'' Ketus Aruna seraya berlalu.


''Hei, kita berangkat bersama.'' Teriak Daniel.


''Aku sudah memesan taksi,'' sahut Aruna tanpa menoleh kearah Daniel.


''Aduh, Aruna kalau marah serem juga. Ini bibir juga ngapain sih main nyosor aja, ah.'' Kesal Daniel sambil memukul bibirnya sendiri.

__ADS_1


Bersambung.... Yukkk like, komen dan vote yang banyak ya, makasih 🙏🙏


__ADS_2