Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
CUA S2 Bab - 62


__ADS_3

"Mohon maaf yang sebesar - besarnya. Aku merasa sangat malu padamu Burhan. Aku tidak menyangka Dicko akan berkata seperti itu." Ucap Papa Danu meminta maaf saat tengah mengantar Pak Burhan sekeluarga sampai ke depan rumah.


"Jujur, sebenarnya aku sangat kecewa. Kesan pertama yang aku dapat dari pertemuan kita ini, putramu seperti tidak menghargai kami. Kalau memang dia sudah punya wanita lain, tidak seharusnya dia berkata seperti itu di depan kami. Aku sangat tersinggung, putramu menolak mentah - mentah putriku." Pak Burhan nampak sangat kecewa atas sikap Dicko tadi.


"Sekali lagi maafkan aku." Papa Danu merasa sangat bersalah. Dia sudah mengecewakan teman lamanya. Rencana yang sudah mereka susun rapi sebelumnya, harus gagal total.


Sementara Sarah, raut wajahnya benar - benar terlihat sedih. Sudah lama dia menaruh hati pada Dicko. Bahkan hingga detik ini, pria itu sama sekali tidak memiliki ketertarikan padanya.


"Apa sih yang kurang dari Sarah. Sudah cantik, baik, cerdas, dokter lagi. Memangnya wanita seperti apa sih yang menjadi kriteria dari putra Pak Danu itu." Bu Mirna ikut menimpali. Wanita paruh baya itu terlihat kesal.


"Sekali lagi mohon maaf yang sebesar - besarnya." Hanya itu yang bisa Papa Danu ucapkan berkali - kali agar tidak memutus tali silaturahmi dengan teman lamanya itu.


"Ma, Pa, kita pulang saja." Pinta Sarah.


"Ayo Pa, kita pulang." Ajak Bu Mirna.


"Aku sangat kecewa Danu."


"Sekali lagi, maafkan aku." Hanya itu kalimat terampuh untuk mengobati kekecewaan teman lamanya itu. Papa Danu merasa sakit hati atas sikap Dicko yang sudah mempermalukannya.


.


.


Dicko melangkah panjang hendak keluar rumah untuk mencari udara segar. Sampai tiba - tiba sebuah panggilan dari Papa Danu menghentikan langkahnya.


"Dicko." Dicko menghembuskan napas panjang saat langkahnya terhenti. Kemudian memutar tubuhnya menghadap Papa Danu yang kini tengah menatapnya tajam.


"Mau kemana kamu malam - malam begini?" Tanya Papa Danu seraya perlahan menghampiri.


"Cari udara segar. Aku bosan di rumah." Saru perubahan sikap dari Dicko. Semenjak mengenal Aruna, Dicko jadi berubah. Dia tidak seperti dulu lagi. Yang akan selalu menuruti setiap perkataan Papa Danu.


"Papa sangat kecewa dengan apa yang kamu lakukan tadi. Kamu sudah sangat mempermalukan Papa. Burhan itu adalah teman lama Papa. Papa benar - benar kehilangan muka di depan teman Papa sendiri. Gara - gara kamu." Papa Danu memulai ocehannya. Dan Dicko sama sekali tidak peduli. Dia justru terlihat biasa saja. Tetap bersikap tenang seperti biasanya.


"Salah Papa sendiri. Kenapa mau menjodohkan aku dengan wanita yang tidak aku cintai. Aku bukan Bram. Yang tidak akan bisa berbuat apa - apa atas segala rencana bodoh Papa."


Papa Danu terperanjat melihat perubahan drastis sikap Dicko terhadapnya. Dicko bukan anak pembangkang seperti ini sebelum mengenal Aruna. Kalau begini jadinya, Papa Danu benar - benar kesal terhadap mantan menantunya itu.


"Jangan pernah berharap Papa akan menyetujui hubungan kalian. Tidak akan pernah. Papa tidak akan pernah memberi kalian restu."


"Tidak apa - apa. Aku bukan anak kecil lagi yang akan selalu menuruti keinginan orang tuanya. Orang tua yang egois seperti Papa."


"Dicko_" Pekik Papa Danu tertahan sembari memegangi dadanya.


"Aku tau Papa tidak punya riwayat penyakit jantung. Dan aku tidak akan mudah tertipu. Jadi tolong, bersikaplah yang realistis. Tidak perlu terlalu mendramatisir. Aku akan tetap pada pendirianku."

__ADS_1


"Kamu ... Kamu sungguh keterlaluan. Wanita itu sudah mengubahmu jadi anak pembangkang seperti ini. Sampai kapanpun Papa tidak merestui hubungan kalian."


"Terserah Papa. Aku tidak peduli. Aku mencintai Aruna. Sejak dulu sampai detik ini. Dan aku akan hidup bahagia dengan caraku sendiri." Kemudian berlalu pergi meninggalkan Papa Danu begitu saja.


Papa Danu benar - benar syok dibuatnya. Bagaimana mungkin ini terjadi. Dicko sungguh telah kehilangan akal sehatnya saat ini. Cinta telah membutakannya dari segala logika yang ada.


Tidak.


Ini tidak boleh terjadi. Walau apapun yang terjadi, sampai kapanpun, Papa Danu tidak akan menyetujui hubungan yang tidak masuk akal itu. Ini sungguh memalukan.


"Papa ..." Panggil Bram tiba - tiba. Bram sedang berada di kamarnya saat dia mendengar perdebatan antara ayah dan kakaknya itu.


"Kenapa dengan Kakak? Kenapa Papa bertengkar dengan Kakak?" Tanya Bram.


Papa Danu meremas - remas dadanya yang tiba - tiba saja terasa nyeri itu. Bram tengah memperhatikan dengan dahi mengerut.


"Papa sakit?" Tanya Bram lagi.


"Katakan pada Kakakmu, bahkan sampai Papa mati pun, Papa tidak akan merestui hubungannya dengan perempuan jalang itu." Ucap Papa Danu lantang. Hingga Bram pun terperanjat.


"Perempuan jalang?" Bram mengernyit namun kesal.


"Perempuan jalang itu tidak pantas menjadi menantuku. Aku tidak sudi menerima dia kembali dalam keluargaku."


"Aruna bukan perempuan jalang. Papa jangan suka berkata sembarangan tentang Aruna."


"Aku sudah merelakan wanita yang aku cintai untuk Kakakku. Semua ini juga karena Papa. Karena Papa sudah memalsukan kematian Kakak. Jadi, Papa tidak usah menyalahkan siapapun dalam hal ini." Kemudian Bram pun bergegas meninggalkan Papa Danu yang masih mematung di tempatnya dengan wajah penuh amarah.


"Gara - gara perempuan jalang itu, kedua putraku telah kehilangan akal sehatnya. Sampai kapanpun, aku tidak akan merestui kalian. Walau apa pun yang terjadi." Papa Danu bersikukuh tidak akan memberi restu untuk hubungan yang hanya akan membawa malu bagi keluarganya itu.


.


.


Di malam yang sama. Di lain kota.


Malam mulai merangkak semakin larut. Di kamarnya, Aruna tidak bisa tidur. Sejak tadi matanya belum merasakan tanda - tanda kantuk akan menyergapnya.


Entah kenapa, bahkan sejak tadi perasaannya mendadak cemas tak beralasan. Dalam pikirannya saat ini hanya di penuhi oleh kekasih hatinya.


Entah kenapa.


Perasaan aneh ini membuat darahnya berdesir. Seolah akan ada kabar buruk yang tak mengenakkan hati tengah menanti. Aruna hendak turun dari ranjangnya saat tiba - tiba terdengar bunyi dering ponselnya yang tergeletak di nakas. Buru - buru diraihnya ponsel itu yang menampilkan nama Dicko. Dalam panggilan video.


Aruna pun segera menjawab panggilan video dari kekasih tercintanya yang berada di seberang jauh sana.

__ADS_1


"Aku pikir kamu sudah tidur." Ucap Dicko dari seberang. Sama seperti Aruna, Dicko pun tidak bisa tidur. Entah kenapa rasa kantuk belum jua datang menyergap.


"Aku tidak bisa tidur."


"Kamu merindukanku?"


Aruna pun tersenyum lalu mengangguk pelan. Tampak di layar ponsel itu, Dicko pun tersenyum.


"Aku lebih merindukanmu. Bahkan rasanya aku sulit untuk bernapas bila tidak ada kamu disisiku. Aruna ... Aku mencintaimu. jangan pernah berubah. Tetaplah seperti ini untukku. Tetaplah jadi Aruna yang hanya mencintai Dicko seorang. Karna di hatiku, hanya ada kamu. Sekarang dan selamanya. Kamu hanya milikku."


Bukan hanya senyum bahagia yang tampak di wajah Aruna. Bahkan buliran air mata bahagia mulai berjatuhan membasahi wajahnya saat ini. Bahagia karena bisa memiliki Dicko. Pria yang paling mencintainya melebihi siapapun. Sejak dulu hingga detik ini.


"Jangan menangis. Aku tidak bisa menghapus air matamu itu. Menangislah saat aku ada di sisimu nanti."


Bukannya berhenti menangis, air mata Aruna justru semakin berderai. Entah kenapa dia begitu terharu melihat cara Dicko memperlakukannya. Dia begitu terharu melihat cinta Dicko yang teramat besar untuknya.


"Aku ingin sekali memelukmu." Ucap Aruna diiringi derai air matanya.


"Baiklah. Aku akan datang. Jadi tunggu aku. Aku akan membawamu pergi jauh bersamaku. Kita akan bersama selamanya. Hem?"


Di layar ponsel itu, tampak Dicko tengah mengusap wajahnya. Air mata itu pun telah terjatuh membasahi wajahnya. Jarak yang membentang diantara mereka saat ini, telah membuat kerinduan itu kian memuncak. Hingga terasa begitu menyesakkan dada.


"Aruna ... Bersabarlah sebentar. Aku akan berjuang untuk cinta kita. Mulai skarang, tidak ada lagi yang dapat memisahkan kita."


"Aku sangat takut. Aku takut tidak akan bisa berada disisimu slamanya. Bagaimana jika seandainya aku tiba - tiba pergi dari sisimu. Aku__"


"Tolong jangan berkata seperti itu. Yakinlah, semua akan baik - baik saja. Jadi, tunggu aku. Aku akan datang untukmu."


"Aku mencintaimu."


"Katakan sekali lagi."


"Aku mencintaimu." Aruna kemudian membekap mulutnya sendiri. Menahan tangis yang hampir saja pecah malam itu.


"Aku sangat mencintaimu. Sangat ... Sangat mencintaimu."


Malam itu mereka habiskan dengan mengobrol lewat panggilan video. Mengobati segala kerinduan yang menyiksa. Hingga menjelang subuh, tanpa tahu siapa yang telah lebih dulu terlelap dalam mimpi indahnya.


Terkadang setiap jalan yang terjal akan mudah di lalui jika ada cinta yang kuat di antara dua insan yang ingin menggapai bahagianya. Semoga saja jalan yang terjal itu pun akan mudah mereka lalui karena cinta diantara mereka yang begitu dalam.


.......


.......


.......

__ADS_1


...-Bersambung-...


__ADS_2