Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 71 Jantung tidak aman


__ADS_3

Seaampainya dirumah, Zidane langsung berlari menuju kamarnya. Orang tua Aruna sangat marah melihat Arya datang bersama Shella. Mungkin jika Arya datang sendiri, orang tua Aruna masih bisa menerima tapi Arya justru datang bersama Shella, wanita yang sudah merenggut kebahagiaan putrinya.


''Mah, bagaimana kabar Mama?'' tanya Arya seraya mencium punggung tangan kedua orang tua Arya.


''Kami baik. Terima kasih sudah mengantar Zidane.'' Kata Tuan Wira.


''Mama dan Papa sekarang tinggal disini?''


''Iya tapi untuk sementara karena Aruna harus lembur jadi kami disini untuk menemani Zidane.''


''Mas, ayo pulang! Aku capek.'' Rengek Shella dihadapan kedua orang tua Aruna.


''Baiklah Mah, kalau begitu kami permisi.''


''Permisi Om-Tante.'' Pamit Shella.


''Iya hati-hati.'' Singkat Nyonya Galuh dengan menahan segala kekesalannya.


Setelah Arya dan Shella pergi, mereka pun segera menutup pintu..


''Berani-beraninya Arya datang kesini membawa wanita itu. Dia tidak tahu apa betapa sakit hati kami sebagai orang tua Aruna.'' Gerutu Nyonya Galuh.


''Papa pun juga sama, Mah. Papa sangat marah melihat mereka. Benar-benar tidak malu Arya.''


''Sebaiknya kita siapkan makan siang untuk Zidane ya, Pah. Zidane juga pasti terluka, makanya dia langsung lari ke kamarnya.''


''Memang kelewatan sekali si Arya.''


-


Dilain tempat, Aruna sedang meluangkan waktu makan siang di temani Fero.


''Oh ya, Zidane pulang sama siapa?''


''Aku meminta Mas Arya untuk menjemputnya.''


''Aku salut banget sama kamu, Aruna. Kamu masih bisa berdamai dengan keadaan. Maaf ya, kalau aku tahu cerita kamu yang sebenarnya.''


''Pasti Tuan Daniel yang cerita kan?''


''Ya, siapa lagi kalau bukan dia.''


''Ya sudahlah tidak apa-apa, mau bagaimana lagi memang kenyataannya seperti itu.''


''Sebagai seorang pria sejati, aku mau melihat kelakuan mantan suami Aruna. Bisa-bisanya dia meninggalkan kamu seperti itu. Kamu ini sangat sempurna, Aruna.''


Aruna tertawa. ''Sudah, jangan membual. Aku sudah kebal dengan rayuan seperti itu.''


''Oh ya, apa selama ini si playboy itu tidak pernah merayumu?'' tanya Fero dengan tatapan penuh selidik. Aruna tercekat, tatapan mata Fero seolah mengintimidasinya.

__ADS_1


''Ti-tidak. Dia tidak pernah merayuku sama sekali. Lagi pula kalau sampai dia macam-macam, aku akan menonjoknya.''


''Syukurlah kalau dia tidak macam-macam. Karena baru pertama kali dia mempunyai sekretaris wanita. Sikap playboynya kan tidak pandang bulu, aku khawatir kalau dia merayumu.''


''Kamu tenang saja, Fer. Dia tidak akan berani merayuku.'' Ucap Aruna terkekeh.


''Tapi sejak kamu menjadi sekretarisnya, dia menjadi jarang bermain dengan wanita. Sepertinya kamu benar-benar membuatnya sibuk kerja.''


''Apanya Fer, kemarin saja setelah lembur dia mengajakku menuju tempat karaoke dan banyak gadis disana. Bayangkan saja, aku harus menemaninya bercengkrama dengan para gadis.''


''Aku pikir dia tidak berani begitu tapi nyatanya sama saja,'' seloroh Fero dengan tawanya.


''Tapi itu juga bukan urusanku sih. Yang penting dia tetap sopan padaku itu sudah cukup.'' Ucap Aruna dengan senyum penuh arti. Senyum bahwa sudah dua kali dirinya dan Daniel tidak sengaja berciuman.


Sementara Daniel di dalam ruangannya ia tampak gusar. Ia sedari tadi melihat kearah jam dinding dan pintu keluar.


''Aruna sama Fero lama sekali. Sedang apa mereka?'' gumam Daniel dengan perasaan cemasnya. Daniel kemudian lalu mengambil ponselnya untuk menelepon Aruna.


''Halo Aruna, mau kembali jam berapa? Kalian makan siang dimana hah? Kamu tidak tahu aku menunggu makanan itu. Kamu pikir aku tidak lapar juga? Cepat kembali!" cerocos Daniel dengan kesal.


''I-iya Tuan. Namanya juga jam istirahat, makan harus di nikmati dong. Tuan kan bosnya, jadi mau makan jam berapa saja bisa.''


''Jangan banyak membantah, cepat kembali ke kantor!"


''Iya-iya bawel sekali. Ini juga sedang menunggu makananmu.'' Aruna yang kesal mengakhiri panggilannya begitu saja.


''Wah-wah, tidak sopan sekali. Berani-beraninya dia bersikap seperti itu padaku. Aku ini bosnya tapi dia bersikap seenaknya.'' Gerutu Daniel sambil memarahi ponselnya.


''Kamu berani sekali, Aruna.''


''Dia kadang-kadang memang sangat menyebalkan, Fer. Sebenarnya aku malas sekali memanggilnya dengan sebutan, Tuan. Rasanya tidak pantas saja memanggilnya Tuan. Ingin sekali mulut ini memanggilnya Daniel saja.'' Kata Aruna dengan tawa kecilnya.


''Memang sih tapi dia teman yang sangat baik, Aruna. Meskipun sikapnya kadang suka kekanak-kanakan dan membuatku repot tapi dia sangat baik. Dia sebenarnya memiliki hati yang lembut. Meskipun luarnya brutal,'' ungkap Fero dengan tawanya.


''Aku juga bisa merasakan kebaikannya kok, Fer. Sudahlah, ayo kita kembali! Nanti dia pasti akan memarahiku karena aku lama.''


''Oke baiklah. Terima kasih ya sudah menemaniku makan siang.''


''Sama-sama Fer. Oh ya kamu sendiri bagaimana? Masih single?''


''Ya, aku masih single. Belum menemukan yang cocok saja.''


''Dan sikapmu tidak beda jauh dengan bosmu.'' Seloroh Aruna dengan tawanya.


''Hahahaha aku sudah terkontaminasi dengan sikap playboynya. Tapi percayalah, kalau aku ini setia. Mending bandel sekarang tapi saat nikah setia. Bukankah begitu?''


''Lebih baik tidak dua-duanya sih? Asal kamu tahu Fer, setia itu mahal. Makanya sangat susah untuk di lakukan.''


''Iya itu benar Aruna. Aku merasa tertampar dengan ucapanmu.''

__ADS_1


''Makanya, sadarkan bosmu juga ya.'' Kata Aruna sambil menepuk pundak Fero.


Dan benar dugaan Aruna, saat ia kembali, wajah Daniel sudah tidak ramah.


''Ini Tuan makan siangnya.''


''Kalian ini makan siang atau pacaran? Dilarang menjalin hubungan satu kantor karena itu akan menganggu konsentrasi kerja.''


''Pacaran? Wah, gila ya elo. Main nuduh aja. Udah ah, gue cabut keruangan.'' Kata Fero dengan santainya seraya berlalu.


''Mmmm aku juga kembali ya, Tuan.'' Kata Aruna.


''Duduk si sofa sana. Kerjakan ini semua, aku mau makan dulu. Dan hukuman karena sikapmu yang tidak sopan tadi,'' Ketus Daniel.


Aruna menghela. ''Baiklah Tuan.'' Aruna hanya bisa pasrah karena perlahan, ia mulai hafal dengan tabiat Daniel.


Sembari makan, Daniel mencuri pandang Aruna yang tampak sibuk dengan pekerjaannya.


''Cantik juga kalau diam,'' gumam Daniel dalam hati.


''Tuan, ini apa ya?'' tanya Aruna. Daniel tercekat karena kepergok diam-diam memandangi Aruna, sampai ia tersedak. UHUK! UHUK! UHUK!


Melihat bosnya batuk, Aruna segera beranjak dari duduknya untuk mengambilkannya air.


''Maaf Tuan, pasti pertanyaanku mengejutkanmu yang sedang makan.''


Daniel kemudian meminum minuman yang diberikan oleh Aruna.


''Tidak apa-apa.'' Jawab Daniel dengan pelan. Aruna reflek mengambil tisu lalu menyeka kemeja Daniel untuk mengambil sisa makanan yang keluar dari mulut Daniel akibat makanan yang tersembur. Wajah Aruna sangat dekat pada wajah Daniel, mendadak Daniel merasakan sesuatu yang aneh.


"Maafkan aku, Tuan."


"I-iya. Biar aku bersihkan sendiri." Kata Daniel sambil mengambil tisu dari tangan Aruna. Aruna kemudian kembali duduk di sofa dan melanjutkan pekerjaannya.


"Huft, perasaan apa ini Daniel? Kedua kalinya jantung ini mulai berdebar dengan cepat," gumam Daniel dalam hati sambil memegangi dadanya.


"Apa dada Tuan sakit?" tanya Aruna yang melihat Daniel memegangi dadanya.


"Iya. Rasanya jantungku berdetak cepat. Apa aku punya gejala penyakit jantung ya?"


"Apa kita perlu kerumah sakit?"


"Tidak perlu. Mungkin aku terlalu lelah."


"Dan mungkin itu pertanda, sudah saatnya untuk taubat, Tuan." Celetuk Aruna dengan senyum manisnya.


Daniel menaikkan alisnya, terkejut dengan ucapan Aruna. "Kamu mendoakan aku supaya cepat mati ya?" kesal Daniel.


"Tuan salah paham. Aku tidak bilang begitu lho." UcapAruna dengan santainya. Daniel hanya bisa mengeratkan rahangnya mendengar ucapan Aruna.

__ADS_1


"Menyebalkan sekali. Aku cabut ucapanku tadi yang mengatakan dia cantik," gerutunya dalam hati.


__ADS_2