
"Nak ...kenalan dulu dong dengan tamu Oma." Seru Oma Windi lagi memanggil Aruna.
Tak tahan lagi, Cika pun memutar paksa tubuh Aruna, "liat dulu di belakang kamu."
Saat tubuhnya memutar dan menengok ke belakang, detik itu juga, Aruna langsung berdiri dari duduknya.
Di depan matanya kini berdiri sesosok pria yang selama dua tahun ini hampir dilupakannya. Tubuhnya bahkan gemetaran melihat pria itu. Mendadak dia mulai kesulitan bernapas.
Hal yang sama pun terjadi pada Dicko. Detik itu juga, paper bag di tangannya itu terlepas begitu saja. Jatuh bebas menyentuh lantai. Napasnya serasa berhenti saat itu juga. Bahkan jantungnya seakan telah berhenti berdetak. Dalam sekejap tatapan matanya terpaku pada wanita berambut sebahu yang membuatnya penasaran sejak kemarin itu.
Kini keduanya berdiri terpaku sambil saling menatap satu sama lain. Dengan mata yang mulai berkaca - kaca.
Namun bulir - bulir air bening itu telah lebih dulu lolos dari pelupuk mata Dicko. Sedangkan Aruna, sebisa mungkin menghalaunya agar tak jatuh tertumpah ruah begitu saja.
Buru - buru Dicko menghapus air mata itu. Lalu mulai membungkuk, memungut kembali paper bag itu dengan tangan gemetaran. Kemudian memberanikan diri kembali menatap Aruna.
Oma Windi yang sejak tadi memperhatikan gelagat keduanya, tampak seperti sedang berpikir. Seraya memandangi keduanya bergantian. Kemudian Oma Windi menghampiri Aruna dan menarik lengannya. Membawanya lebih mendekat pada Dicko.
"Kenalkan, ini cucu Oma. Aruna." Oma memperkenalkan cucunya.
Gemetaran tangan Dicko mulai terulur sambil terus menatap lekat Aruna. Akan tetapi tangan yang terulur itu, bukan untuk bersalaman. Melainkan hendak menyentuh wajah Aruna. Tanpa sadar.
"Ehem ..." suara deheman Oma Windi pun menghentikan uluran tangan Dicko.
Dicko terlihat salah tingkah. Kemudian hendak memberikan paper bag di tangannya itu pada Aruna. Seraya berkata,
"Selamat ulang tahun." Ucapan itu teriring dengan perasaan haru dan bahagianya bisa bertemu kembali dengan wanita yang sangat dicintainya itu. Sejak dua tahun terpisah.
Aruna menerima paper bag itu dengan perasaan campur aduk. Dan hati deg - degan.
"Makasih."
"Oh ya, Run. Ini Dicko, kenalan Oma yang Oma ceritain kemarin sama kamu." Kata Oma Windi. Tetapi keduanya, semakin tenggelam dalam tatapannya masing - masing.
Melihat gelagat keduanya seperti itu, Oma Windi seakan merasa mereka berdua pernah saling mengenal sebelumnya.
"Apa kalian berdua udah saling kenal?" pertanyaan Oma Windi itu tidak mendapat tanggapan dari Dicko dan Aruna.
"Oma rasa sudah." sambung Oma Windi.
"Oh ya, gimana kalau kita langsung santap malam saja. Cika, meja makannya sudah siap kan?"
"Siap Oma." Sahut Cika sembari memandangi Dicko dengan mata berbinar - binar.
"Ya sudah, ayo kita langsung ke meja makan saja." Ajak Oma Windi seraya lebih dulu melangkahkan kakinya. Kemudian di ikuti oleh Aruna, Dicko, dan Cika.
Di meja makan itu, hanya ada mereka berempat, makan dengan khidmat. Sesekali terdengar di selingi obrolan - obrolan ringan. Seperti misalnya, apa Dicko sudah pernah berkunjung ke kota ini sebelumnya, dari mana Dicko berasal, apa tujuan Dicko datang ke kota ini. Begitulah kira - kira. Obrolan mereka di meja makan itu.
.
.
Setelah makan malam, kini mereka tengah duduk di teras belakang. Dengan ditemani kopi dan camilan.
"Oh ya, Nak Dicko ... Terima kasih banyak ya sudah bersedia datang di perayaan ulang tahun yang sangat sederhana ini. Sebenarnya, Aruna tidak ingin Oma merayakannya. Tapi Oma bersikeras, karna Oma tau, hanya ini yang bisa menghibur hatinya sejak datang ke kota ini dua tahun yang lalu." Kata Oma Windi memulai obrolan.
Bahkan saat ngobrol santai di teras belakang pun, tatapan keduanya masih saling bertaut. Seakan tak ingin terlepas.
__ADS_1
Melihat itu, Oma Windi tersenyum. Kemudian bangkit dari duduknya.
"Oma ke dalam sebentar ya ... Kalian mengobrol saja dulu." Kemudian menarik lengan Cika dan mengajaknya masuk. Cika cemberut mengikuti Oma Windi.
"Oma, kenapa mereka ditinggal berdua?" sungut Cika. Sebab masih ingin berlama - lama melihat Dicko.
"Sst! Coba kamu perhatikan mereka ..." sambil menunjuk dengan dagunya. Cika pun memperhatikan Aruna dan Dicko yang tengah saling menatap lekat.
"Memangnya kenapa dengan mereka Oma?"
"Oma rasa, mereka saling kenal sebelumnya. Atau mungkin saja pernah punya hubungan. Ya sudah, pokoknya jangan ganggu mereka. Kita beri mereka kesempatan untuk ngobrol. Ayo." Sembari menarik kembali lengan Cika.
Mungkin saat ini, terasa bagai mimpi bagi Dicko dan Aruna. Dua tahun tak bersua, tanpa kabar dan berita. Lalu tiba - tiba mereka bertemu. Dalam keadaan yang tak disangka - sangka.
"Apa kabarmu?" tanya Dicko memecah hening.
Aruna tersenyum tipis sembari menundukkan wajahnya.
"Seperti yang kamu lihat. Aku baik - baik saja." Lalu kembali mengangkat wajahnya.
"Kamu sendiri, apa kabarmu?" Aruna balik bertanya.
"Seperti yang kamu lihat."
"Kamu terlihat sangat baik. Syukurlah." Aruna kembali tersenyum tipis.
"Sayangnya hatiku tidak baik - baik saja."
Kini senyum di wajah Aruna memudar dalam sekejap. Hatinya seakan tersentil mendengar ucapan Dicko. Sementara Dicko malah tersenyum.
"Lama tidak bertemu. Kamu terlihat berbeda." Dicko bermaksud memuji tampilan Aruna saat ini. Yang terlihat lebih fresh dengan rambut sebahu.
Melihat Aruna tersenyum manis seperti itu, membuat hati Dicko berdebar - debar. Ingin rasanya dia memeluk Aruna erat saat ini. Tapi sebisa mungkin Dicko berusaha menahan diri.
"Oh ya, kok kamu bisa kenal Oma?" Aruna mengalihkan pembicaraan.
"Hanya kebetulan bertemu di depan Mall. Aku hanya memberikan sedikit bantuan padanya."
"Oma pasti cerita yang bukan - bukan padamu soal diriku."
"Tidak juga."
"Di kota ini, hanya Oma dan Cika yang aku punya. Aku tidak tau seperti apa hidupku di kota ini jika tidak ada mereka berdua."
"Tapi yang aku lihat, hidupmu terlihat jauh lebih baik. Mungkin hanya aku yang tidak baik - baik saja. Hidup dengan menahan rindu itu terasa sangat menyiksa. Wanita yang aku cintai pergi entah kemana. Aku hanya berharap, perasaannya padaku masih sama seperti dulu." Akhirnya Dicko tak tahan ingin membahas ini.
Aruna terlihat mulai salah tingkah. Sebab Dicko mulai membahas soal masa lalu. Hal yang tidak ingin di dengarnya lagi.
Sepanjang mereka mengobrol Aruna selalu menghindar disaat Dicko berusaha ingin tahu seperti apa perasaannya saat ini. Apakah Aruna masih punya perasaan yang sama.
Hingga saat Dicko pamit pulang pun Aruna masih menutupi soal perasaannya. Dengan berusaha mengalihkan pembicaraan dengan topik yang lain.
"Terima kasih banyak ya Nak, kamu sudah mau jauh - jauh datang kemari." Ucap Oma Windi saat Dicko pamit pulang. Di depan gerbang, sudah menunggu Bimo yang berdiri di samping mobil.
Dicko tersenyum. Membuat Cika makin klepek - klepek melihatnya.
"Cute banget ..." gumam Cika.
__ADS_1
"Terima kasih juga untuk undangannya Oma. Hari ini jadi sangat berkesan untuk saya."
"Kalau kamu ada waktu, jangan sungkan main - main kemari. Oma akan sangat senang jika kamu bisa meluangkan waktu."
"Tapi sayangnya, besok saya harus pulang. Dan mungkin tidak akan pernah kembali lagi kemari. Urusan saya disini sudah selesai." Kemudian Dicko melirik Aruna.
"Ooh ... begitu ya ..."
"Waaah sayang skali. Padahal disini ada banyak tempat - tempat wisata yang bagus - bagus loh. Siapa tau tuan mau berkunjung." Seloroh Cika.
"Maaf skali. Ini adalah kunjungan terakhir saya ke kota ini. Saya tidak akan pernah kembali lagi." Sambil melirik Aruna.
Sengaja Dicko mengulang - ulang kalimat itu. Dia hanya ingin melihat seperti apa reaksi Aruna. Jika ditanya sekali lagi, sejujurnya, Dicko masih ingin berlama - lama di kota ini. Terlebih saat dia bertemu Aruna. Membuatnya semakin ingin berlama - lama. Jika dia kembali pun, dia ingin membawa serta Aruna bersamanya. Sudah cukup mereka terpisah hingga dua tahun lamanya. Selama dua tahun itu, Dicko seakan telah kehilangan separuh jiwanya.
Ekspresi Aruna masih terlihat biasa - biasa saja. Meski Dicko mengulang - ulang kalimat itu. Bahwa besok dia akan kembali ke kotanya dan tidak akan kembali lagi ke kota ini. Mungkin dia terlalu berharap lebih dengan mengatakan itu. Dia berharap, Aruna akan datang padanya dan memeluknya. Tapi harapan itu sia - sia.
"Kalau begitu saya pamit dulu. Sekali lagi terima kasih buat makan malamnya. Selamat malam ..." kemudian Dicko mulai berjalan menuju mobil yang sudah menunggunya.
"Hati - hati di jalan ya Nak ..." seru Oma Windi.
Dicko langsung naik ke mobil. Kemudian di susul oleh Bimo setelah membukakan pintu untuk Dicko.
Dari balik jendela mobil, Dicko melayangkan pandangannya pada Aruna yang masih berdiri di depan rumah melepas kepergiannya. Saat mobil mulai bergerak meninggalkan rumah itu, Dicko melihat Aruna mulai berjalan ke arah gerbang sambil mengusap wajahnya. Seperti sedang menghapus air matanya.
Namun mobilnya sudah jauh meninggalkan rumah itu. Tanpa terasa air mata itu pun lolos begitu saja dari pelupuk matanya. Dua tahun mereka tidak bertemu. Dicko sangat merindukan Aruna. Kenapa pertemuan ini hanya sesaat. Bahkan pertemuan ini belum mengobati rindu di hatinya.
Bimo memperhatikan Dicko yang sedang menangis dari kaca spion. Apa yang harus dia perbuat untuk menghiburnya. Bimo bahkan tidak tahu apa penyebab pria itu menangis.
Lalu tiba - tiba saja ...
"Bim ..."
"Iya, Pak."
"Putar balik. Kembali ke rumah itu."
"Baik, Pak." Bimo segera memutar balik arah mobilnya. Dan memacu kencang mobil itu kembali ke rumah Oma Windi.
.
.
Aruna masih berdiri di depan gerbang dengan air mata yang bercucuran. Setelah beberapa menit memandangi jalanan di depannya, Aruna pun memutar tubuhnya. Hendak kembali ke dalam rumah. Sampai tiba - tiba terdengar suara mobil yang berhenti di belakangnya.
Sontak Aruna pun memutar kembali tubuhnya. Dari mobil itu, Dicko turun. Dengan wajahnya yang basah dengan air mata. Perlahan pria itu mulai melangkah menghampirinya.
Tak tahan lagi melihat Dicko menangis seperti itu, Aruna pun langsung menghambur ke dalam pelukannya. Menangis tersedu - sedu. Melepas kerinduannya yang menyiksa selama dua tahun ini.
Sama halnya dengan Dicko, air matanya semakin tertumpah ruah. Dua tahun rindu itu menyiksanya. Dua tahun dia kehilangan separuh jiwanya, semangat hidupnya, cintanya. Dan kini, takdir pun mempertemukan mereka kembali. Dicko berjanji tidak akan pernah melepaskannya lagi.
"Aku sangat merindukanmu ... Aku sangat merindukanmu ..." ucap Dicko di sela isak tangisnya sembari mempererat pelukannya.
.......
.......
.......
__ADS_1
...-Bersambung-...