
"Kalian bisa baca kan? Disitu tertulis bahwa aku sekarang hamil."
"Lalu apa hubungannya dengan kami?" tanya Aruna makin bingung.
"Anak yang aku kandung ini, adalah anak suamimu."
"Apa???" Aruna terkesiap. Serasa napasnya terhenti detik itu juga.
Lain halnya dengan Bram. Bram Terkejut bukan kepalang. Bahkan matanya terbelalak sempurna. Cobaan apalagi kali ini. Baru saja dia kehilangan calon bayinya, dan sekarang dia akan mendapatkan bayi lagi. Bukan dari isterinya, melainkan dari wanita lain yang bahkan Bram tidak mencintainya sama sekali.
"Jangan coba - coba menipu kami. Katakan, apa maumu? Kamu ingin uang, akan aku berikan. Berapapun yang kamu mau." Tandas Bram dengan amarah yang mulai tersulut.
"Sayangnya, aku bukan orang yang kekurangan uang. Kamu bisa berikan uang itu pada orang yang lebih membutuhkan."
"Maaf, aku tidak kenal siapa kamu. Tapi kenapa kamu mencoba memfitnah suamiku seperti ini. Katakan, apa yang kamu inginkan." Aruna ingin memastikan kalau perempuan ini bukan penipu.
"Aku tidak memfitnah. Kalian bisa lihat sendiri kan buktinya?"
"Hanya kertas seperti ini bisa di rekayasa." Aruna masih belum yakin.
"Silahkan pergi dari rumahku sekarang juga, sebelum aku panggil polisi. Aku pastikan kamu akan mendekam di penjara karna sembarangan memfitnah dan merusak nama baik orang." Ancam Bram.
Namun ancaman Bram tidak berpengaruh bagi Mona. Perempuan ****** itu justru tersenyum sinis.
"Kalau kalian masih belum percaya, kita bisa sama - sama ke dokter kandungan. Dan kita pastikan sama - sama, aku benar hamil atau tidak." Mona cukup berani menantang Bram dan Aruna.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Bram dengan amarahnya.
"Aku hanya butuh tanggung jawab."
Kini Aruna beralih menatap Bram yang nampak ketakutan. Ingin mempercayai apa yang di katakan perempuan itu, tapi bukti yang dia tunjukkan masih belum kuat. Bisa saja semua itu rekayasa. Bisa saja perempuan itu memang berniat memfitnah Bram. Akan tetapi atas dasar apa?
"Aruna, tolong jangan percaya apa dia katakan. Itu tidak benar, dia hanya ingin memfitnahku." Pinta Bram memelas.
"Maaf, sepertinya kamu salah menipu orang. Suamiku tidak mungkin menghamili kamu." Ucap Aruna dan kembali menatap Mona.
Kelihatannya Mona tidak kehabisan akal untuk meyakinkan Bram dan Aruna. Kemudian perempuan itu mengambil ponselnya. Dan mulai mengutak - atik ponselnya. Beberapa detik kemudian, diperlihatkannya satu foto digital yang memperlihatkan adegan mesumnya bersama Bram waktu itu.
Meski sudah melihatnya dengan jelas, tetapi Aruna masih berusaha bersikap tenang. Hal seperti ini pernah terjadi sebelumnya. Yang melibatkan Bram dan Hanna. Dan saat itu ternyata hanya rekayasa Hanna. Berdasarkan pengalaman itu, Aruna masih belum mempercayai Mona.
"Ini buktinya. Silahkan di lihat baik - baik." Mona semakin berani.
"Foto seperti itu juga bisa di rekayasa. Fotonya editan kan?" Aruna masih yakin berdasarkan pengalamannya waktu itu.
Sementara Bram makin terlihat ketakutan. Dia tidak menyangka Mona ternyata membohonginya.
Kemudian Mona kembali memperlihatkan satu video. Yang dengan jelas memperlihatkan adegan panas dirinya dengan Bram di atas ranjang saat itu.
Dan seketika Aruna pun terdiam dan terpaku. Entah harus bilang apa lagi. Tidak ingin mempercayainya, tapi video itu sangat - sangat jelas memperlihatkan wajah Bram.
__ADS_1
"Apa masih kurang buktinya?" tanya Mona menantang Aruna sekali lagi.
Sedangkan Bram, hanya bisa tercengang. Bram bisa apa lagi sekarang? Ingin mengelak, video itu sangat jelas memperlihatkan buktinya.
"Kamu berbohong padaku. Kamu bilang, kamu tidak mengambil foto ataupun merekam videonya. Tapi ternyata ... ternyata kamu__" kalimat Bram terpotong.
"Maaf, aku sengaja berbohong padamu. Ini aku lakukan hanya untuk berjaga - jaga saja. Jika nanti kalian tidak percaya padaku. Dan ternyata, kalian bisa lihat sendiri kan hasilnya?" sela Mona cepat.
Tanpa menunggu penjelasan apapun dari Bram, Aruna bergegas meninggalkan Bram dan Mona di ruang tamu itu. Dengan langkah setengah berlari Aruna menuju ke kamarnya.
"Dengar, urusan kita belum selesai. Aku bisa saja menuntutmu atas penipuan dan pencemaran nama baik. Jangan coba - coba datang menemuiku lagi. Atau aku akan membuatmu tidak bisa melihat dunia ini lagi." Ancam Bram dengan amarah yang berapi - api. Kemudian segera menyusul Aruna.
Mona pun tersenyum puas, "silahkan saja Bram. Kamu berani mengancam Mona? Cih, aku pastikan, setelah ini, kamu akan jadi milikku. Pria tampan sepertimu, lebih cocok denganku."
Kemudian Mona kembali memakai kacamata hitamnya dan pergi meninggalkan rumah itu.
Video yang memperlihatkan adegan panas itu memang benar. Bukan editan. Akan tetapi, Bram melakukannya karena pengaruh minuman beralkohol saat itu. Hingga Bram pun tidak menyadarinya. Astaga.
.
.
Dengan cepat Aruna menyambar tas nya di nakas. Lalu mengambil jaket dari lemari pakaian dan mulai memakainya. Kemudian Aruna bergegas keluar kamar. Akan tetapi langkahnya terhenti karena Bram sudah berdiri di depannya saat ini.
"Aruna, kita bisa bicarakan ini baik - baik. Aku mohon dengarkan dulu penjelasanku." Pinta Bram memelas.
"Penjelasan apa lagi? Bukannya video itu sudah jelas?" entah kenapa air matanya seakan telah mengering saat ini. Aruna begitu syok menyaksikan video itu dengan mata kepalanya sendiri.
"Kamu bisa menjelaskan semuanya saat di pengadilan nanti."
"Apa? Pengadilan? Apa maksud kamu." Bram terkejut.
"Kita CERAI." Kemudian Aruna berlalu meninggalkan Bram dengan berlari. Agar Bram tidak bisa menyusul langkahnya.
Beruntung ada taksi yang kebetulan lewat di depan rumah itu. Aruna mencegat taksi itu dan langsung naik. Kemudian taksi itu pun segera tancap gas.
Dan Bram terlambat menyusul Aruna. Taksi yang di tumpangi Aruna sudah jauh di depan. Menyusuri jalanan yang kebetulan lengang sore itu.
Bram mendengus sembari mengacak kasar rambutnya.
"Aargh ... sial. Benar - benar sial."
Namun Bram tidak ingin menyerah. Dia tahu kemana Aruna akan pergi. Dan Bram pun memacu langkahnya menuju mobilnya yang terparkir. Kemudian melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Semoga saja belum terlambat bagi Bram untuk menjelaskan semuanya pada Aruna.
.
.
Aruna masih berdiri mematung di depan unit apartemen nomor 273. Dua kali Aruna menekan bel pintu. Tapi sampai detik ini, penghuni apartemen itu belum membukakan pintu untuknya. Untuk ketiga kalinya, masih saja sama. Hingga akhirnya Aruna pun memutuskan untuk kembali saja.
__ADS_1
Namun, begitu Aruna memutar tubuhnya, dan hendak meninggalkan tempat itu. Langkahnya tiba - tiba saja terhenti. Di depannya, Dicko tengah berjalan bersama seorang wanita cantik.
Sarah.
Mereka berjalan sambil bersenda gurau. Setidaknya itu yang tampak di depan mata Aruna. Tapi entahlah. Karena hanya Sarah yang tampak tersenyum - senyum, sementara Dicko masih dengan wajah datarnya.
Sama seperti Aruna. Langkah Dicko dan Sarah pun terhenti saat melihat Aruna berdiri di depan dengan raut wajah suram.
"Aruna ..." panggil Dicko lirih sembari melangkah menghampiri.
"Maaf, mungkin aku datang di waktu yang salah." Ucap Aruna sembari melirik Sarah sekilas.
Dicko tahu apa maksud ucapan Aruna. Mungkin saat ini Aruna berpikiran yang bukan - bukan tentangnya. Dicko tanpa sengaja bertemu Sarah di lobby. Sarah datang untuk menemui adik sepupunya. Yang kata Sarah berada di lantai yang sama dengannya.
"Rupanya kamu sedang ada tamu. Maaf jika aku mengganggu waktumu ... Permisi." Aruna pun berlalu. Dan mempercepat langkahnya menuju lift. Saat pintu lift terbuka, Aruna langsung masuk.
Dicko yang berusaha mengejar Aruna pun gagal menghentikan Aruna. Beruntung lift berikutnya tidak berselang lama. Dan Dicko pun bergegas masuk.
Sarah yang menyaksikan itu hanya bisa menghembuskan napasnya panjang. Rasanya tidak mungkin dia bisa meraih perhatian pria itu.
.
.
Ting !
Pintu lift terbuka. Buru - buru Aruna melangkahkan kakinya keluar dari lift. Menyusuri lobby. Sampai tiba - tiba di depannya sudah berdiri sesosok yang familiar. Hingga langkahnya pun terhenti.
Bram.
"Aruna ..." panggil Bram.
Tak berapa lama, terdengar bunyi pintu lift berikutnya terbuka. Dicko melangkahkan kakinya cepat keluar dari lift itu dan berlari hendak menghampiri Aruna yang berdiri terpaku di tengah - tengah lobby.
Namun langkah Dicko pun terhenti tak jauh di belakang Aruna. Di depannya, Aruna tengah saling menatap dengan Bram.
"Aruna ..." panggil Dicko.
Aruna pun menoleh. Kini, Aruna tengah berdiri diantara dua pria. Kemana seharusnya langkah kakinya tertuju? Kepada Bram atau Dicko?
Aruna tampak berpikir. Dan seketika, ucapan Papa Danu terngiang kembali di telinganya.
Jangan sampai keputusan yang kamu ambil nanti, akan menyakiti kedua putera Papa.
.......
.......
.......
__ADS_1
...-Bersambung-...