
Ting Tong ... Ting Tong
Bunyi bel pintu menyadarkan mereka dari kekhilafan yang hampir saja terjadi.
Rama pun berjalan ke arah pintu dan membukakan pintu itu. Saat pintu terbuka, sesosok pria paruh baya berdiri menatapnya penuh selidik.
Papa Danu.
Hembusan napas Rama terasa berat saat melihat Papa Danu sudah berdiri di depan pintunya saat ini. Rasa ingin tahu dan amarah yang bercampur di dadanya, sebisa mungkin Rama mengendalikannya. Sebab sampai saat ini, Papa Danu belum tahu kalau ingatannya sudah kembali.
"Kenapa kamu tidak ke kantor?" tanya Papa Danu.
"Kepalaku sedikit pusing. Aku ingin istirahat sebentar."
"Papa mau masuk. Kita bicara di dalam."
Papa Danu hendak melangkah masuk. Namun Rama mencegahnya dan sedikit menutup pintu itu.
"Papa pulang saja. Aku mau istrahat."
"Tapi kamu kan__"
"Papa pulang." Tegas Rama.
"Rama ..."
Rama justru menatap tajam ayahnya. Hingga mau tidak mau, Papa Danu pun menuruti perintahnya. Lalu segera meninggalkan tempat itu. Setidaknya, dari sikap Rama tadi jelas memperlihatkan kalau ingatannya belum kembali. Jadi Papa Danu tidak perlu terlalu mencemaskannya.
Klek ...
Rama menutup kembali pintu itu. Kemudian menghampiri Aruna yang kini sudah mengambil duduk kembali di sofa.
"Tamunya tidak di persilahkan masuk?"
"Hanya orang yang tidak penting." Ucap Rama seraya mengambil duduk di sebelah Aruna.
"Siapa?"
Rama mengendikkan bahunya.
"Maaf, mungkin sebaiknya aku pulang. Aku tidak mau membuat Bram cemas." Seraya bangun dari duduknya.
"Kamu takut Bram marah?"
Apa lagi ini? Kenapa lagi - lagi Aruna merasa seolah Rama itu adalah Dicko. Hanya Dicko yang bisa menghadapi kemarahan Bram. Dicko tahu betul seperti apa Bram.
Rama menatap Aruna dengan seksama. Menatap sorot matanya lekat. Berharap Aruna bisa mengenalinya melalui caranya menatap Aruna.
Perlahan Rama pun bangun berdiri dan menghampiri Aruna. Masih menatapnya lekat dan dalam. Seketika detak jantung Aruna pun semakin berlomba.
Astaga. Apa gerangan yang terjadi. Kenapa Aruna seperti ini? Hatinya berdebar aneh.
Tidak. Tidak!
Aruna tidak boleh seperti ini. Ini tidak boleh terjadi.
"Sebaiknya aku pulang skarang." Kemudian bergegas ke arah pintu. Dan diikuti oleh Rama mengekor di belakangnya.
__ADS_1
"Aku antar kamu pulang." Tawar Rama saat mereka sudah berada di luar unit apartemen Rama.
"Tidak perlu. Aku bisa pesan taksi."
"Tapi__" kalimat Rama terpotong saat tiba - tiba terdengar suara seorang wanita yang datang menyapa.
"Kita ketemu lagi. Sepertinya aku kenal kamu." Sapa wanita itu seraya memperhatikan Aruna.
Wanita itu, Mona Kartika, si artis yang lagi naik daun. Menatap Aruna dengan senyum manisnya. Namun berbinar begitu tatapannya berpindah pada Rama. Dan wanita seperti Mona ini, sama sekali tidak bisa menggugah selera Rama.
"Kamu ... bukannya istrinya Bram? Sedang apa kamu di apartemen ini? Bersama pria lain?" Mona penuh selidik. Seperti baru saja menemukan umpan yang pas untuk menarik mangsa yang besar.
"Bukan urusan kamu." Sahut Rama ketus.
"Oh wow ... sepertinya ada sesuatu diantara kalian berdua yang Bram tidak tau. Benar begitu?"
"Aku penghuni unit sebelah. Tetangga. Unit 274." Sambil menunjuk satu unit di sebelahnya Rama.
Mau tetangga ataupun bukan, Rama tidak peduli. Dengan cepat Rama menarik pergelangan tangan Aruna dan meninggalkan tempat itu.
Setelah menemani Aruna menunggu taksi yang telah dipesannya melalui aplikasi, hingga taksi itupun akhirnya membawa Aruna pergi. Rama kemudian kembali ke apartemennya.
Menghempaskan tubuhnya di ranjangnya. Menatap langit - langit kamar, memikirkan apa yang hampir saja terjadi diantara dirinya dan Aruna tadi. Sungguh Rama tidak bisa menahan dirinya. Berada di dekat Aruna, seketika membangkitkan kembali hasrat cintanya yang begitu menggebu. Seketika membuat rasa rindunya yang kian membuncah ingin terobati saat itu juga. Kalau seperti ini terus bisa - bisa nanti dia kebablasan. Semoga saja dia bisa mengendalikan dirinya.
____
Dengan taksi online Aruna pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Aruna pun langsung pergi ke kamarnya. Ingin rasanya dia merebahkan diri sebentar. Meluruhkan segala kepenatan yang ada. Menguapkan segala kegundahan yang ada.
Bayangan Rama perlahan mulai sering mengganggu pikirannya. Apa yang hampir saja terjadi antara dirinya dan Rama di apartemen tadi, sungguh membuatnya tak habis pikir. Berada di dekat Rama perlahan membuatnya kehilangan akal pikirnya. Bagaimana bisa dia melupakan Bram saat berada di dekat Rama. Apa Aruna terlalu merindukan Dicko?
..
Sementara Aruna berusaha menghalau bayangan Rama yang mendadak mengacaukan pikirannya. Di ruangannya Bram justru kini meradang karena Rama.
Di tengah kesibukannya dalam memimpin rapat, tiba - tiba saja sebuah nomor tidak di kenal, nomor yang sama waktu itu, lagi - lagi mengirimkan sebuah pesan gambar. Yang berisi foto Aruna dan Rama saat berada di pekuburan.
Sontak hal itu membuat Bram menyudahi rapat siang itu. Dan bergegas pergi ke ruangannya. Bram mencoba menghubungi nomor yang mengirimkan pesan itu, namun nomornya sudah tidak aktif lagi.
Entah siapa yang sering mengirimkan pesan itu. Selama ini Bram merasa tidak mempunyai masalah dengan orang lain. Lalu kenapa ada saja orang yang selalu berusaha mengusik ketenangan hidupnya.
Dan Rama. Kehadiran pria itu sungguh telah mengacaukan hati dan pikirannya. Kehadirannya bagai sebuah ancaman. Yang mengancam ketenangan kehidupan rumah tangganya.
Akhirnya, Bram memutuskan untuk pulang lebih awal dari biasanya. Dia harus meminta penjelasan dari Aruna tentang foto itu. Setahunya, dia sudah meminta Aruna untuk pulang ke rumah. Lalu kenapa dia malah pergi ke makam Dicko bersama Rama.
Akh. Rama lagi Rama lagi. Lagi - lagi orang itu membuat mood Bram mendadak memburuk. Dan amarah yang ada dalam dirinya kembali tersulut.
Cklek ...
Saat pintu kamar terbuka, tampak Aruna sedang berbaring. Namun matanya belum terpejam. Aruna menoleh seiring dengan pintu kamar yang terbuka.
Dengan berusaha menahan amarahnya, Bram menghampiri dan duduk di tepi ranjang. Sementara Aruna bangun dan duduk dengan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Lalu tersenyum menyambut kedatangan suaminya.
"Bram, kok secepat ini kamu pulang? Ada masalah di kantor?" tanya Aruna.
Bram menghela napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Mencoba meredam amarah yang perlahan mulai menguasai diri. Di rogohnya saku celananya dan mengambil ponselnya dari sana. Lantas menghidupkan ponsel itu dan mulai mencari sesuatu dari sana. Beberapa detik kemudian, satu foto digital kini terpampang jelas di depan mata Aruna. Hingga membuat Aruna tak bisa berkata - kata lagi.
"Kamu bisa menjelaskan ini? Bukankah aku memintamu pulang ke rumah?" tanya Bram dengan amarah yang tertahan.
__ADS_1
"Bram ... itu ..." Aruna gugup harus menjawab apa.
"Kenapa? Kenapa sekarang aku merasa kamu mulai berubah. Sejak kehadiran pria itu." Bram kembali menghela napas panjang. Mencoba menguasai amarah yang kian merasuki diri.
"Itu tidak seperti yang kamu kira. Itu__"
"Aruna. Berkali - kali aku memintamu menjauhinya, tapi kamu malah menganggap enteng permintaanku. Inilah yang aku takutkan. Aku tau, kamu belum bisa melupakan kakakku. Tapi orang itu? Apa kamu sungguh berharap kalau dia itu adalah Dicko?"
"Bram, kamu salah. Aku__" Astaga, Aruna benar - benar gugup. Hanya sebuah foto saja sudah bisa membuat Bram marah. Bagaimana jadinya jika Bram tahu dia berada di apartemennya Rama? Bahkan mereka hampir saja berciuman.
"Mulai skarang, kamu tidak perlu lagi ke kantor. Kamu tidak aku ijinkan keluar rumah."
"Tapi Bram__"
"Aku tidak suka kamu membantah perintahku." Kemudian beranjak pergi. Dengan amarah yang masih tertahan.
Aruna tertegun melihat perubahan sikap Bram yang begitu drastis. Terlalu posesif. Atau ini hanya perasaannya saja. Atau memang Bram sudah berubah.
Di ruang tengah rumah itu, Bram menghempaskan tubuhnya. Melepas jas yang dikenakannya, lalu menyandarkan punggungnya. Seraya menghembuskan napas berat.
"Ada apa Bram? Kok jam segini kamu sudah pulang?" tanya Papa Danu yang datang dari arah depan.
"Pa, apa aku boleh meminta sesuatu dari Papa?" alih - alih menjawab pertanyaan ayahnya, Bram malah balik bertanya. Seraya duduk dengan benar.
"Boleh. Apa permintaan kamu?" seraya mengambil duduk di samping Bram.
"Aku minta, tolong Papa jauhkan Rama dari kehidupanku dan Aruna."
"Kenapa?" Papa Danu agak terkejut mendengar permintaan Bram.
"Aku tidak suka melihat dia berusaha mendekati Aruna."
"Ap_apa?" kali ini Papa Danu sungguh terkejut.
"Siapa Rama sebenarnya? Kenapa dia selalu berada di sekitar istriku? Ada satu hal yang ingin skali aku tanyakan pada Papa sejak dulu."
"Sejak Kak Dicko meninggal, aku bahkan tidak pernah melihat jasadnya. Apa benar dia sudah meninggal?"
Papa Danu terdiam. Jawaban apa yang harus dia berikan atas pertanyaan Bram.
.......
.......
.......
...-Bersambung-...
Maaf telat² update. Otor sibuk bikin kue lebaran 🤭🤭
Tapi otor usahakan tetap update.
Tetap jaga kesehatan ya?
Saranghae ❤️
Otor Kawe
__ADS_1