
Rama.
Pria itu tersenyum begitu tatapannya bertemu tatapan Aruna. Senyum lembutnya, tatapan teduhnya. Sangat mirip Dicko. Dan entah kenapa, rasanya Aruna ingin menangis saat ini.
Jika Dicko masih ada, dia akan selalu ada di saat - saat seperti ini. Di saat suasana hatinya sedang kacau. Dicko selalu menjadi sandaran untuknya. Memberikan pelukan hangatnya, memberinya tempat untuk menumpahkan tangisnya.
Tapi kini, Dicko sudah tidak ada lagi. Dan pria yang berdiri di hadapannya saat ini hanya orang lain.
Hanya orang lain.
Rasanya sulit mencerna kalimat itu.
Bolehkah Aruna meminta, bahwa pria yang berdiri di hadapannya saat ini adalah Dicko. Sebab Aruna butuh tempat untuk bersandar saat ini.
"Aruna ..." Bram datang menghampiri.
Seketika, mood Bram memburuk. Saat pandangan matanya menangkap sosok Rama. Tengah berdiri saling menatap dengan Aruna. Namun dia berusaha menguasai diri. Lalu beralih menatap Aruna.
"Kamu marah? Aku minta maaf." Bram tidak peduli meski saat ini ada Rama di antara mereka.
Aruna menggelengkan kepalanya, "tidak perlu minta maaf. Bukan salah kamu. Aku tau itu tidak di sengaja."
"Terima kasih atas pengertian kamu."
"Tapi kenapa kamu tidak bisa tegas."
"Maksud kamu?"
"Kamu masih sama seperti dulu."
Aruna tidak ingin terlalu menyalahkan Bram. Karena memang insiden itu tidak di sengaja. Hanya saja, yang Aruna sayangkan kenapa Bram tidak bisa bersikap seperti Dicko.
Dicko?
Akh, lagi - lagi Aruna merindukan pria itu.
"Halo, adik." Sapa Rama mengalihkan pertengkaran kecil Bram dan Aruna.
Bram kini menatap tajam Rama. Dan Rama justru melempar senyum pada Bram. Jika saja ini bukan di tempat umum, ingin rasanya Bram memberi orang ini pelajaran. Kenapa Bram merasa pria ini selalu saja berada di sekitar Aruna.
"Berhenti memanggilku adik. Aku bukan adikmu."
"Masih saja sama."
Masih saja sama? Apa maksud Rama? Bukankah mereka belum saling mengenal. Kenapa seakan Rama sudah mengenal Bram? Bram pun mengerutkan dahinya.
"Aku tidak tau siapa kamu. Dan kamu tidak berhak menilai diriku. Dengar, sebaiknya kamu berhenti memanfaatkan ayahku. Jangan gunakan wajahmu itu untuk menipu ayahku dan mengeruk hartanya. Penipu seperti kamu itu lebih pantas berada di jalanan." Bram jadi geram saat mengingat ayahnya sudah membeli sebuah apartemen dan mobil mewah untuk Rama. Bram yakin bahwa Rama hanyalah seorang penipu.
"Penipu? Kamu bilang aku penipu?"
"Ya. Penipu. Pembohong."
Secepat kilat, tanpa Bram sempat untuk menghindar, tangan kokoh Rama dengan kuat mencengkeram kerahnya. Matanya nyalang menatap Bram. Menampakkan kilatan amarah.
Namun entah kenapa, semakin lama menatap Bram semakin amarah itu mereda. Rama tidak mengerti entah apa yang terjadi dengan hatinya.
Sementara Aruna memandangi mereka panik.
__ADS_1
Melihat raut wajah Aruna yang panik seperti itu, membuat Rama mulai melepaskan cengkeramannya perlahan. Di tatapnya terus wajah Aruna yang nampak ketakutan.
Dan hal itu membuat Bram kesal. Hingga dengan cepat, Bram meraih pergelangan tangan Aruna dan membawanya pergi.
Rama hanya bisa memandangi punggung mereka yang semakin menjauh. Sampai akhirnya Rama hanya bisa melihat bayangan Aruna dari balik kaca mobil yang melintas di depannya. Namun sekilas, dari balik kaca mobil itu, Aruna memalingkan wajahnya memandangi Rama.
Saat mobil Bram menghilang di tengah padatnya jalanan ibu kota, Rama pun berjalan masuk. Hendak menemui seseorang yang telah mengabaikan teleponnya sejak tadi.
Randa.
Dokter tampan itu terkejut dengan kedatangan Rama. Rupanya, mengabaikan teleponnya bukan pilihan yang tepat. Rama justru datang menemuinya. Seketika Randa jadi teringat perkataan Papa Danu. Bahwa Rama sering bertanya tentang Dicko. Semoga kedatangannya kali ini bukan untuk itu.
Rama langsung mengambil duduk di sebelah Randa, di depan Sheila yang memandanginya penuh selidik.
"Kenapa mengabaikan teleponku?" tanya Rama kesal.
"Emm ... aku lupa henfonku di silence tadi. Jadi, pas kamu telpon, tidak kedengaran. Maaf."
"Aku langsung saja. Beritahu aku, siapa itu Dicko."
Jleb ...
Saliva tertelan tanpa sadar. Randa harus jawab apa sekarang? Haruskah dia memberitahu Rama siapa itu Dicko? Toh, lambat laun semuanya pasti akan muncul ke permukaan suatu saat nanti. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat saja.
"Dicko?"
"Iya. Setiap orang yang melihatku, mengira aku hantunya Dicko. Siapa dia?"
"Dicko itu sangat mirip dengan kamu." Sheila menyahuti.
Rama tampak mengerutkan dahinya.
"Seperti apa hubungan Aruna dan Dicko?"
"Dicko sangat mencintai Aruna. Tapi Aruna hanya mencintai Bram. Dan Dicko itu adalah kakaknya Bram."
"Sheila, kenapa mulut kamu jadi ember begini." Tegur Randa lirih. Dan hanya mendapat pelototan dari Sheila.
"Tapi, setelah Dicko meninggal, barulah Aruna menyadari kalau dia sebenarnya mencintai Dicko. Itu yang aku tau dari kamu kan Beib?" Ucap Sheila kemudian melirik Randa.
Dasar Sheila. Paras sih cantik. Model terkenal, tapi mulut terkadang suka bocor. Randa harus bilang apalagi. Tidak bisa berkutik.
Sedangkan Rama terdiam. Mencerna setiap kalimat yang Sheila lontarkan. Seketika darahnya berdesir. Hatinya berdebar.
Aruna mencintai Dicko?
Rama mengulang - ulang kalimat itu dalam hatinya.
____
Sementara itu, TRF terlihat Ramai dengan orang - orang yang saling bergosip perihal video yang telah beredar luas dan menjadi viral di dunia maya itu. Sangat jelas wajah Bram dalam video itu. Dan seketika menjadi trending topik di TRF.
Bram dan Aruna baru saja kembali dari makan siangnya. Saat banyak pasang mata yang memperhatikan ketika mereka berjalan memasuki gedung itu.
Mereka terlihat saling berbisik. Sambil sesekali melirik ke arah Bram dan Aruna yang tengah berjalan bersama. Aneh.
Dan mungkin hanya Aruna saja yang mulai merasakan keanehan itu. Sedangkan Bram, dengan santainya melenggang menuju ke ruangannya.
__ADS_1
Begitu memasuki ruangannya, belum sempat Bram mengambil duduk, tiba - tiba Teddy datang dengan wajah paniknya.
"Boss, gawat Boss." Seru Teddy menghampiri Bram.
"Gawat? Apanya yang gawat?"
"Nih, Boss lihat sendiri," sambil memperlihatkan sebuah video yang berdurasi pendek dan tentu saja sudah di edit. Video itu sudah di potong sebagian. Sehingga yang terlihat hanya saat Mona mencium Bram.
Dan tidak sedikit netizen yang mencibir, menghina, bahkan ada pula yang menganggap mereka cocok sebagai pasangan. Bahkan para fans fanatik Mona berharap agar Bram berjodoh dengan sang idola.
Bram memijit keningnya. Seraya menghembuskan napas berat.
"Trending topik. Viral Boss. Katanya Boss punya selingkuhan. Brand Ambassador nya sendiri. Kalau begini jadinya, kita tidak bisa lagi menggunakan Mona sebagai model kita Boss. Dan nama TRF akan tercemar di masyarakat."
Bram kini menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya. Hal yang di anggapnya remeh, malah berakibat fatal seperti ini.
"Aruna gimana? Kamu sudah menemuinya?" hal pertama yang menjadi kekhawatiran Bram justru adalah sang istri.
"Kok malah Aruna sih Boss? Ini masalah perusahaan. Kalau nama baik kita tercemar, kan imbasnya ke produk kita Boss. Produk kita akan kehilangan peminatnya. Dan kita bisa rugi besar."
"Lebih rugi lagi kalau sampai aku kehilangan istriku."
"Memangnya ini kejadiannya kapan sih Boss? Kok bisa secepat itu viral."
Bram mengendikkan bahunya. Entahlah. Bram begitu malas menanggapi. Kejadian itu memang terjadi di depan mata Aruna. Dan Aruna tahu betul itu hanya kecelakaan tanpa di sengaja. Tapi yang Bram khawatirkan adalah bully dari masyarakat sekitar yang bisa mempengaruhi pikiran Aruna.
.
Di ruangannya Aruna iseng membuka akun media sosialnya. Dan yang pertama kali terlihat adalah video si artis muda itu.
Aruna hanya bisa menghembuskan napas panjang. Seraya memijit lembut keningnya. Mendadak kepalanya terasa pening. Semakin pening lagi saat dia iseng membaca komentar - komentar tidak senonoh dari netizen - netizen kurang kerjaan itu.
Setahun lebih menjadi istri Bram, tidak membuat Aruna lantas di kenal luas. Terkecuali seluruh karyawan TRF yang sudah kenal betul siapa dirinya. Hingga, sebagian orang yang belum mengenal Bram, mengira Bram masih single.
Mendadak Aruna merasa sedih. Dan yang terlintas di benaknya saat ini hanyalah Dicko. Aruna merindukannya.
.......
.......
.......
...-Bersambung-...
Pa kabar readers 🤗
Ibadahnya lancar kan?
Otor cuma mau bilang thankyou so much udah meluangkan waktunya membaca cerita recehan ini.
Tetap jaga kesehatan ya 🤗
Jangan lupa like nya ya 🤗
Saranghae ❤️
Otor Kawe
__ADS_1