Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 11 Prasangka


__ADS_3

Seperti biasa Aruna tidak bisa tidur karena suaminya tak kunjung pulang. Sembari menunggu suaminya pulang, ia memilih menonton televisi namun tak di pungkiri hatinya sungguh gelisah. Aruna berusaha menelepon suaminya namun ponsel Arya tidak bisa di hubungi. Bertahun-tahun hidup berumah tangga dengan Arya, baru kali ini hati Aruna dibuat gelisah dengan segala pikiran yang buruk.


Aruna bernafas lega, kala terdengar suara deru mobil Arya memasuki pelataran rumah.


''Akhirnya kamu pulang juga, Mas.'' Gumam Aruna dalam hati. Ceklek! Suara Arya membuka pintu dengan sangat pelan. Namun Arya di kejutkan dengan Aruna yang sedang berada di ruang tengah.


''Lho sayang, kok belum tidur? Kamu tidak boleh tidur larut malam.'' Ucap Arya seraya mendekat kearah istrinya itu.


''Kamu darimana saja, Mas?'' tanya Aruna dengan sorot mata penuh rasa curiga.


''Ak-aku kerja dong, sayang. Lagian baru tadi siang, kita ketemu. Kamu kangen ya sama aku?'' Arya berusaha mengalihkan pembiacaraan.


''Sayang, maafkan aku ya. Posisi aku sekarang, justru membuatku sangat sibuk. Aku hanya berusaha profesional saja dalam pekerjaan karena jabatan yang diberikan kepadaku saat ini juga beban. Aku tidak bisa bermain-bermain atau bahkan pulang sore seperti dulu. Aku sebenarnya juga sangat lelah karena harus pulang larut terus, sayang. Kalau kamu seperti ini terus, apa perlu aku resign atau mengembalikan jabatan ini?'' Jelas Arya dengan segala kebohongannya.


''Ya sudah Mas, kamu bersih-bersih sana. Maaf kalau aku seperti ini. Aku hanya terlalu khawatir denganmu.'' Ucap Aruna. Arya kemudian memeluk istrinya dengan erat.


''Aku mengerti sayang, apalagi kamu sedang hamil pasti kamu sensitif. Apalagi usia kandunganmu semakin besar, seharusnya aku tidak pulang selarut ini dan bisa menemanimu. Maafkan aku ya.''


''Iya Mas.'' Jawab Aruna pasrah. Namun lagi-lagi Aruna mencium aroma parfum itu lagi.


''Mas, sebenarnya apa yang kamu sembunyikan? Aroma parfum ini kenapa ada lagi di tubuhmu? Sedangkan aku tahu betul parfum kamu itu apa tapi setiap kamu pulang, wangi parfum kamu beda. Bertahun-tahun kita menikah, aroma parfum kamu tidak pernah berubah.'' Gumam Aruna dalam hati dengan segala tanda tanya di dalam benaknya. Aruna kemudian melepaskan tubuhnya dari pelukan suaminya.


''Ya sudah ayo kita ke kamar.'' Arya selalu berhasil membujuk dan merayu Aruna. Namun kali ini Aruna menyimpan rasa curiga itu dalam hati.


''Semoga kamu benar-benar kerja, Mas. Entahlah parfum ini benar-benar menganggu pikiranku,'' gumam Aruna dalam hati.


-


Keesokan harinya seperti biasa, Aruna menyiapkan sarapan pagi di bantu oleh Bi Tuti, pembantu di rumah mereka. Sedangkan Mbak Lasmi, baby sitter Zidane, membantu Zidane bersiap di kamar. Arya menuruni anak tangga dengan santainya tanpa ada perasaan berdosa sedikitpun. Ia menyapa Aruna dengan memberikan kecupan di pipi istrinya itu.


''Morning sayang.'' Ucap Arya. Namun Aruna hanya menjawabnya pelan tak bersuara.

__ADS_1


''Oh ya sayang, aku sudah merencakan pengajian tujuh bulanan anak kita ya. Kamu tidak usah capek-capek mikirin ya. Pokoknya lusa semuanya siap dan aku ambil cuti jadi kamu tidak perlu khawatir.''


''Iya Mas.'' Singkat Aruna.


''Papi!" seru Zidane berlari menuruni anak tangga.


''Hei jagoan Papi. Bagaimana sekolahmu Zidane?''


''Semuanya baik, Pi. Papi pulang malam lagi?''


''Iya Zidane, maafkan Papi ya.''


''Papi sekarang sering sekali pulang malam. Papi jadi jarang juga menemani Zidane.''


''Bagaimana lagi Zidane? Papi juga tidak menolak karena jabatan ini juga amanah. Papi harus menjalankan semua tugas dengan baik. Papi juga sangat merindukan kebersamaan kita dulu tapi mau bagaimana lagi, Papi hanya bisa minta maaf sama kamu.''


''Tolong ya Pi, usahakan makan malam di rumah nanti. Zidange kangen, Pi.''


''Terima kasih Papi.''


''Sama-sama Nak.'' Jawab Arya. Aruna tersenyum kecil melihat kedekatan Ayah dan anak itu. Apalagi setelah mendengar Arya akan pulang lebih awal.


-


Setelah mengantar Arya ke sekolah, Aruna pergi ke salon milik Dinda.


''Hai Din!" sapa Aruna pada Dinda yang sedang mengcreambath pelanggannya.


''Hei, Run. Duh bumil nih tumben ke salon. Gue selesaiin creambath dulu ya, elo santai aja di sofa.''


''Iya, Din. Santai aja lagi.'' Sembari menunggu Dinda, Aruna membaca majalah yang ada di hadapannya itu. Namun tiba-tiba saja Aruna mencium aroma parfum yang tidak asing untuk indra penciumannya. Aruna mendongakan kepalanya, saat melihat seorang wanita tinggi semampai bak model, masuk ke dalam salon Dinda. Ya, itu adalah Shella.

__ADS_1


''Mbak, saya mau treatment paket lengkap dong.'' Kata Shella pada Dinda.


''Oh baik Nona.'' Jawab Dinda. Dinda lalu memanggil salah satu karyawannya untuk segera melayani Shella.


''Mari ikut saya Nona.'' Kata salah satu karyawan Dinda. Shella mengangguk dan mengikuti langkah kaki karyawan Shella itu. Sementara Dinda, memperhatikan sikap Aruna dari pantulan cermin di hadapannya.


''Kenapa parfum wanita itu mirip dengan parfum yang selalu menempel di tubuh Mas Arya? Ah namanya parfum pasti aromanya banyak yang sama. Lagi pula aku tidak mau berprasangka buruk pada Mas Arya. Dia bahkan sudah menjelaskan tentang aroma parfum itu dulu. Tapi apa dia selalu bertemu dengan kliennya itu? Sejujurnya hal ini sangat menggangguku tapi aku tidak punya cukup bukti untuk membuktikan prasangka burukku. Apa mungkin aku yang terlalu sensitif? Sedangkan jabatan sebagai wakil direktur memang bukanlah hal yang mudah. Tugas dan tanggung jawab Mas Arya semakin berat. Jadi Aruna, berpikirlah positif. Mas Arya tidak mungkin melakukan hal yang aneh, apalagi selama ini Mas Arya tidak pernah sekalipun bersikap kasar kepada aku dan Zidane. Dia selalu lembut dan penuh perhatian.'' Batin Aruna bergejolak memikirkan semua prasangkanya pada Arya.


Dinda setelah selesai mengcreambath pelanggannya, segera menedekati Aruna yang sedari tadi tampak melamun.


''Aruna, elo lagi mikirin apa? Gue perhatinn melamun sampai lihatin tamu tadi.''


''Eh nggak kok. Gue seneng aja kalau lihat ada wanita cantik seperti tadi. Dia sepertinya model ya?''


''Dia baru dua kali ini ke salon gue dan katanya sih dia ngakunya model.''


''Oh gitu. Oh ya, elo udah punya banyak karyawan kenapa terjun langsung juga sih?''


''Eh itu pelanggan, maunya cuma di creambath sama gue, Run. Jadi mau nggak mau. Oh ya elo mau treatment apa?''


''Gue cuma mau ngasih tahu kalau lusa ada pengajian 7 bulanan. Jadi elo hadir ya.''


''Ah itu pasti, Run. Ya udah gue treatment meni-pedi ya, biar bumilnya cantik membahana. Sekalian facial deh biar makin kinclong. Ayolah Run! Biar elo makin fresh dan cantik pas acara lusa. Treatmentnya aman kok buat bumil.''


Aruna terdiam sejenak berpikir. ''Boleh juga sih, apalagi nanti Mas Arya pulang lebih awal. Kalau aku cantik dan fresh, dia pasti makin sayang.'' Gumamnya dalam hati.


''Boleh deh kalau gitu.'' Jawab Aruna.


''Ya udah yuk, cusss!" kata Dinda dengan tawa kecilnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2