
Saat jam makan siang, Fero mengajak Daniel pergi ke club. Dan anehnya pergi ke club, Daniel membawa rantang makanan.
''Gila ya elo! Masa ke club bawa rantang makanan. Bikin malu aja.'' Protes Fero.
''Emang kenapa? Masalah? Suka-suka gue lah. Ayo masuk!" kata Daniel seraya turun dari mobil.
''Ini anak akhir-akhir ini makin gila deh. Ini pertama kalinya bawa rantang makanan. Masih mending bawa rantang pas piknik, lah ini ke club mau ajep-ajep malah bawa rantang makanan.'' Gerutu Fero dalam hati. Begitu masuk ke dalam. Para wanita menyapa Daniel dengan begitu ramahnya.
''Hai Tuan. Sudah lama kita tidak bertemu.'' Sapa salah satu wanita yang biasanya melayani Daniel. Daniel hanya menyunggingkan senyumnya saja. Sementara Fero menyambut sapaan para wanita dengan begitu antusias. Entah kenapa kali ini Daniel merasa risih berdekatan dengan wanita yang membelainya itu. Fero menatap heran ke arah Daniel.
''Sorry, aku mau makan dulu. Jadi tolong kalian menjauh dulu.'' Kata Daniel. Wanita penghibur itu merasa kesal karena mendapat penolakan dari Daniel. Daniel memilih fokus pada makanannya tanpa menghiraukan banyaknya wanita seksi yang mendekati dan merayunya. Melihat keanehan sahabat sekaligus bosnya, Fero mendekati Daniel.
''Eh elo kenapa sih? Dan ini siapa yang masak? Sejak kapan elo suka makanan rumahan begini?''
''Gue udah dari dulu kali suka masakan rumahan. Hanya sejak semenjak nyokap pergi nggak ada lagi yang masak.''
''Iya tapi siapa yang masak buat elo? Ini kelakuan elo super aneh banget.''
''Ini masakan Aruna.''
''What? Aruna? Elo...?''
''Dia gadis pemilik jepit kupu-kupu yang selama ini gue cari.''
''Maksud elo gadis yang bantu elo nyari Tante Diana saat itu?''
''Iya. Dan ternyata itu adalah Aruna. Sempat kaget dan terkejut tapi gue seneng. Dan gue kayaknya jatuh cinta sama Aruna.''
''Elo serius Niel? Sebelumnya elo belum pernah seceria ini saat bersama wanita. Elo tahu kan status Aruna apa?''
''Iya gue serius dan gue nggak peduli sama status Aruna. Gue juga udah sayang sama Zidane.''
''Gue nggak mimpi kan ini?'' Fero mencubit pipinya sendiri dan merasakan sakit.
''Terus Aruna emang mau sama elo?''
''Belum tahu juga sih. Gue bakal nungguin sampai dia siap. Apalagi dia juga baru berpisah sama suaminya dan dia juga pasti trauma dengan pernikahan. Dan rahasiakan ini pada Aruna. Apalagi Aruna tahu gue ini playboy jadi udah pasti dia bakal nolak gue.''
''Wah-wah, seorang casanova tunduk pada janda beranak satu.''
''Heh jaga ucapanmu! Aruna itu wanita berkelas ya. Jangan asal nyeplos aja lho.''
__ADS_1
''Iya-iya sorry. Terus apa yang mau elo lakuin sekarang?''
''Putusin semua cewek-cewek gue.''
''Hah? Yakin? Udah siap di gampar?''
''Siap, kenapa tidak?''
''Elo kayaknya benar-benar gila Daniel. Baru kali ini gue lihat seorang Daniel gila pada wanita.''
''Sudah jangan cerewet. Setelah ini, kita pergi temui mereka satu-satu.''
''Elo yakin? Banyak banget, Niel. Seharian emang selesai?''
''Selesai lah.''
''Emang apa alasan elo mutusin mereka?''
''Mudah sekali membuat alasan, Fer.''
Dan setelah selesai makan dan bersantai sejenak di club, Daniel di temani Fero mendatangai semua wanita yang menjadi teman kencan Daniel. Berbagai macam reaksi mereka. Namun tentu saja pipi Daniel memerah dan penuh cap tangan para wanita. Ditambah wajah dan bajunya basah karena guyuran air para wanita yang memarahinya. Daniel hanya bisa pasrah dan membiarkan mereka berbuat sesuka hati mereka. Sekalipun rambutnya terkena jambakan. Yang penting ia tidak memiliki urusan dengan mereka semua. Fero tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk merekam kejadian langka itu. Antara tertawa tapi juga kasihan melihat wajah Daniel yang benar-benar berantakan.
Sementara Aruna kesal karena Daniel tidak bisa di hubungi. Karena Aruna terpaksa menunda rapat dengan klien penting. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam tapi Daniel tidak kunjung kembali.
''Aruna, tolong aku!" teriak Fero. Saat Aruna berbalik, Aruna terkejut melihat Fero sedang memapah Daniel dalam keadaan berantakan dan tidak berdaya.
''Tuan Daniel! Ya ampun? Apa Tuan Daniel kecelakaan?'' Aruna berlari kearah Fero.
''Panjang ceritanya.'' Kata Fero. Aruna lalu membantu Fero memapah Daniel menuju ruangannya.
''Tuan Daniel kenapa? Kenapa wajahnya biru-biru begini? Terus bau lagi?'' kata Aruna. Daniel tidak bisa menjawab karena ia benar-benar syok dan tidak berdaya dengan amukan para wanitanya harinya. Fero dan Aruna lalu membaringkan tubuh Daniel diatas tempat tidur.
''Aruna, siapkan air hangat. Aku mau mandi di kantor. Siapkan juga bajuku.'' Pinta Daniel dengan suara lirihnya.
''Ba-baik Tuan.'' Aruna pun ikut panik melihat kondisi Daniel. Setelah semuanya siap, Fero dan Aruna keluar dari ruangan Daniel dan membiarkan Daniel membersihkan diri. Fero mengajak Aruna pergi ke teras kantor.
''Ada apa sebenarnya Fer? Kenapa Tuan Daniel menjadi seperti itu?''
''Nih, kamu lihat sendiri.'' Fero menunjukkan vidio rekaman Daniel mengakhiri hubungannya dengan para wanitanya. Aruna pun tertawa terbahak-bahak melihat vidio itu. Melihat bagaimana para wanita itu memukul dan menyiksa Daniel dengan penuh amarah. Apalagi melihat ekspresi Daniel yang hanya bisa pasrah tanpa melakukan perlawanan.
''Jadi seharian ini dia mengajakku menemui para wanitanya hanya untuk mengatakan putus.''
__ADS_1
''Ya ampun, untuk apa coba?''
''Untuk taubat mungkin,'' seloroh Fero.
''Hah? Taubat? Mana mungkin Tuan Daniel taubat Fer.''
''Asal kamu tahu ya, setelah mereka puas memukuli Daniel, mereka minta kompensasi.''
''Kompensasi? Untuk apa?''
''Untuk ganti rugi hati mereka yang sakit lah.''
''What? Gila apa ya? Masa iya uang bisa menyembuhkan luka?''
''Ya, kamu tahu lah. Mereka hanya bersenang-senang saja dengan Daniel. Begitu juga dengan Daniel. Tapi Daniel tidak keberatan dengan itu. Yang penting mereka tidak menganggunya lagi. Bahkan ada perjanjian diatas materai.''
''Hah? Sampai sejauh itu?''
''Iyalah. Ada banyak wanita yang mengaku hamil anak Daniel tapi nyatanya semua itu palsu. Mereka hanya ingin memeras Daniel dan ingin mendapatkan Daniel karena tahu Daniel itu beruang. Makanya dia meminta mereka semua untuk tanda tangan. Memang sih dia playboy tapi tidak ada satupun wanita yang pernah dia tiduri.''
''Kamu kan sahabatnya, jelas saja kamu membelanya.''
''Namanya sahabat, membela itu pasti. Tapi kalau dia salah, aku juga tidak akan membelanya. Daniel itu sebernya memiliki hati yang lembut, Aruna. Dia berubah drastis saat Mamanya meninggal. Sejak saat itu dia menjadi brutal dan tidak di kendalikan. Namun ada satu alasan yang pasti dia kenapa begitu.''
''Memangnya kenapa?''
''Dia tidak mau membuat Papanya sedih. Jadi dia menjadi anak yang nakal supaya Papanya kesal dan memikirkan dirinya saja. Tuan Hutama pun sama terpuruknya dengan Daniel, Aruna. Apalagi Daniel menyaksikan sendiri Mamanya meninggal di depan matanya, di saat hari ulang tahunnya pula. Hati seorang anak mana yang tidak hancur. Jadi dia sengaja membuat onar sampai detik ini, supaya Tuan Hutama tidak berlarut dalam kesedihannya dan justru menghabiskan waktu untuk mengatur dan marah-marah pada Daniel. Dia juga sedih, setiap kali melihat Papanya sedih. Saat bertemu, mereka memang tidak pernah akur karena Daniel sendiri sengaja menciptakan suasana seperti itu. Padahal sebenarnya Daniel sangat mencintai Papanya. Dia bahkan berusaha menyembunyikan rasa traumanya di hadapan Papanya. Dia berusaha bersikap baik-baik saja, padahal dia tertekan dengan kondisi itu. Dia sebenarnya pribadi yang hangat dan ceria namun ya keadaan yang membuatnya menjadi si pembuat onar. Dia mendekati banyak wanita, berharap menemukan sosok wanita yang seperti Mamanya, Nyonya Diana. Namun tidak ada satupun yang setulus Mamanya. Meskipun aku tahu apa yang dia lakukan itu salah. Tapi itulah Daniel, ia berusaha menyembunyikan lukanya di balik sikapnya yang menjengkelkan itu.'' Cerita Fero panjang lebar. Berharap denhan menceritakan itu, hati Aruna terketuk dan bisa melihat sisi lain dari Daniel. Karena Fero menganggap memang hanya Aruna yang bisa tulus mencintai Daniel.
''Iya, aku tahu kalau sebenarnya dia baik. Seburuk-buruknya manusia pasti punya sisi baik di hidupnya. Sebaiknya kita ke dalam untuk melihat Tuan Daniel.''
''Maaf ya Aruna, tolong urus Daniel. Aku setelah ini mau pulang kampung menemui orang tuaku.''
''Memang dimana orang tuamu?''
''Orang tuaku di kampung terpencil. Orang tua Daniel sudah banyak membantuku dan keluargaku, Aruna. Aku ini dulu hanya anak tukang kebun saja di rumah Daniel. Tapi Daniel mengajakku untuk sekolah yang sama dengannya, bahkan sampai kuliah. Akhirnya orang tuaku diberi kepercayaan untuk mengurus lahan perkebunan oleh orang tua Daniel. Aku bisa berada di posisi ini semua karena Daniel dan kedua orang tuanya. Jadi tolong jaga Daniel ya. Aku buru-buru Aruna karena Daniel sudah banyak membuang waktuku hari ini.''
''Baiklah, kamu hati-hati ya.''
''Kapan-kapan aku akan mengajakmu dan Daniel ke kampungku.''
''Oke Fer. Hati-hati.''
__ADS_1
''Oke Aruna. Kalau Daniel membuat masalah, laporkan saja pada Tuan Hutama.''
''Iya, jangan khawatir.''