Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
CUA S2 Bab - 61


__ADS_3

Di toko Oma Windi, Aruna terlihat murung sambil memandangi pergelangan tangannya yang masih terbalut perban.


Setelah mengantar Dicko ke Bandara dan mengiringi kepergiannya, Aruna langsung kembali ke toko. Seperti yang tampak saat ini, sejak kembali dari Bandara Aruna terlihat murung.


"Ada apa Run? Dari tadi Oma perhatikan, sejak kembali dari Bandara, kamu itu melamun saja." Oma Windi datang dan mengusap lembut punggung Aruna. Lembaran kertas gambar yang ada di depannya sejak tadi kosong melompong. Belum terlihat ada goresan pensilnya sedikitpun.


"Tidak ada apa - apa Oma." Aruna berkilah. Tidak mungkin juga dia menceritakan tentang kecemasannya akan hubungannya dengan Dicko pada Oma Windi.


"Jangan lupa perbannya di ganti biar lukanya cepat kering."


"Iya Oma."


"Kamu sudah makan?"


"Sudah Oma."


Mendengar jawaban Aruna di setiap pertanyaannya sesingkat itu, akhirnya Oma Windi pun menarik satu kursi dan duduk di sebelah Aruna.


"Kalau ada masalah cerita sama Oma." Ucap Oma Windi sembari menatap Aruna yang masih saja terlihat murung.


"Kamu sedih karena Dicko sudah kembali ke kotanya?” tanya Oma Windi.


"Oma ..."


"Kenapa?"


Aruna masih ragu mengutarakannya. Hal yang mungkin akan terdengar konyol bagi sebagian orang.


"Apa mungkin ada orang tua yang mau menerima kembali mantan menantunya?" Akhirnya Aruna memberanikan diri menanyakan hal aneh yang sejak tadi berkecamuk dalam dadanya.


"Maksud kamu?"


"Mantan istri putra bungsunya akan menjadi istri putra sulungnya. Apakah ada orang tua yang bisa menerima hal seperti itu?"


"Tergantung dari orang tua itu sendiri. Tapi kebanyakan, setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Dan hal seperti itu, sangat sulit mereka terima. Kalau itu terjadi pada Oma, jelas Oma tidak akan mau."


Kini Aruna tersenyum hambar. Ya. Jawaban Oma Windi sudah cukup mewakili perasaan Papa Danu yang sejak tadi menjadi kecemasannya. Sudah pasti Papa Danu juga akan melakukan hal yang sama. Dia ingin yang terbaik untuk putranya. Tidak mungkin semudah itu dia akan menyetujui hubungan putranya dengan janda putranya yang lain.


"Tapi kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Pria yang kemarin datang dan memelukku, itu adalah mantan suamiku. Adiknya Dicko."


"Apa?" Mungkin seperti inilah reaksi setiap orang yang mendengar kisah cintanya. Seperti Oma Windi, terkejut bahkan hampir tidak percaya.


.


.


Di lain kota. Kini Bram dan Dicko dalam perjalan pulang ke rumah. Bambang, supir Papa Danu yang datang menjemput mereka di Bandara. Sedangkan Clara pulang dengan naik taksi.


Sesampainya di rumah, baik Bram maupun Dicko langsung bergegas ke kamarnya masing - masing yang letaknya bersebelahan. Seperti dulu. Seperti saat semuanya masih baik - baik saja. Tetapi kini, ada luka yang masih membekas yang telah tercipta dalam hubungan kedua kakak beradik itu.


Di kamarnya, Bram menghempaskan tubuhnya di ranjang empuknya. Di tatapnya langit - langit kamar itu. Bulir - bulir air mata tampak mulai berjatuhan dari sudut matanya. Bram pun mengambil satu bantal dan menutup wajahnya dengan bantal itu.


Nyatanya, merelakan seseorang itu masih terasa sulit baginya. Ikhlas melepaskan seseorang yang dicintai nyatanya tidak semudah mengatakannya. Ada banyak kenangan yang begitu sulit untuk dilupakan.


Sementara di kamar yang lain, Dicko mendudukkan dirinya di tepian ranjang kamarnya. Berkali - kali dia menghembuskan napas panjang. Pikirannya kalut. Saat ini yang menjadi prioritasnya adalah mendapatkan restu ayahnya untuk hubungannya dengan Aruna.


Tok Tok Tok


Pintu kamarnya di ketuk dari luar. Dicko pun bangkit dan berjalan ke arah pintu. Tangannya sudah bersiap memutar handel pintu, tapi seseorang telah lebih dulu membuka pintu itu dari luar.


Papa Danu.


"Boleh Papa masuk?"


Dicko tidak menjawab, melainkan berjalan kembali mendekati ranjang lalu kembali mendudukkan dirinya disana. Sedangkan Papa Danu langsung saja masuk tanpa menunggu jawaban Dicko.


"Bagaimana keadaan disana? Sudah menemukan apa penyebabnya?" Tanya Papa Danu.


"Sudah. Strategi penjualannya saja yang harus di rubah."

__ADS_1


"Oh ya, besok malam kamu tidak usah kemana - mana ya?"


"Aku memang tidak akan kemana - mana. Memangnya kenapa?"


"Besok Papa mengundang teman lama Papa makan malam di rumah. Kamu dan Bram jangan kemana - mana. Temani Papa menyambut tamu Papa. Ya?"


Dicko mengangguk. Papa Danu pun tersenyum senang. Kemudian bergegas keluar dari kamar Dicko.


.


.


Keesokan harinya. Malam hari di kediaman Anggara.


Bi Surti tampak sibuk menyiapkan meja makan. Sejak sore tadi wanita paruh baya itu memasak banyak menu makanan. Sesuai perintah majikannya.


Bram yang tidak tahu apa - apa keheranan melihat meja makan malam ini tidak seperti biasanya. Bahkan terlihat seperti sedang ada pesta kecil - kecilan.


"Waaah ... Tumben Bi Surti masak banyak. Mau mengundang warga sekompleks ya Bi." Celetuk Bram sembari menyapukan pandangannya ke sepanjang meja makan itu.


"Bukan Den."


"Lah, trus? Ini siapa yang mau makan? Makanan sebanyak ini gimana cara menghabiskannya?"


"Tuan mengundang teman lama Tuan untuk makan malam disini. Itu yang Bibi tahu."


"Oooooh ..."


"Bram, Kakak kamu dimana?" Tanya Papa Danu yang datang tiba - tiba dari arah depan.


Mungkin teman lama Papa Danu sudah datang. Karena baru saja Bram mendengar suara derum mobil. Tak lama berselang dengan kemunculan Papa Danu dari depan.


"Mungkin masih di kamar. Kenapa Pa?"


"Tolong panggilkan dia. Katakan padanya, Papa tunggu di ruang tamu."


"Oke Pa." Bram bergegas ke kamar kakaknya.


"Di panggil Papa." Ucap Bram singkat sebelum akhirnya menutup kembali pintu itu.


Tanpa berlama - lama Dicko pun bergegas keluar dari kamarnya. Tetapi di ruang tengah Dicko tidak mendapati Papa Danu.


"Di ruang tamu Kak." Ucap Bram tiba - tiba membuat Dicko kaget.


"Temannya Papa sudah datang. Tuh, lagi ngobrol di ruang tamu." Sambung Bram sembari mengunyah sepotong kue yang diambilnya dari meja makan.


Tanpa menunggu aba - aba Dicko segera melangkahkan kakinya ke ruang tamu. Sebenarnya Dicko malas harus menyambut tamu Papa Danu malam ini. Tapi mau bagaimana lagi.


Di ruang tamu itu, Dicko mendapati Papa Danu tengah mengobrol dengan tiga orang tamunya. Sepasang suami istri, dan seorang wanita berparas cantik.


Sarah.


Begitu Dicko muncul di ruang tamu, perhatian Sarah pun teralihkan. Wanita itu menatap Dicko dengan tatapan berbinar - binar. Sembari tersipu malu. Saat Dicko menatapnya.


"Oh, ini dia putra sulungku." Ucap Papa Danu sambil menunjuk ke arah Dicko.


"Dicko, kesini sebentar." Titah Papa Danu. Dicko langsung mengambil duduk di sebelah Papa Danu, tepat berhadapan dengan Sarah. Yang hanya terpisah jarak oleh meja sofa ruang tamu itu.


"Kenalkan, ini Pak Burhan ..." Papa Danu menunjuk ke arah Pak Burhan yang di balas dengan senyum ramah Pak Burhan.


"Ini Bu Mirna, istrinya ..." Sembari menunjuk ke arah Bu Mirna yang juga di balas dengan senyuman ramah Bu Mirna.


"Dan ini putri mereka, Sarah ..." Sembari menunjuk ke arah Sarah yang tersipu malu sembari menyelipkan rambut panjangnya yang tergerai ke telinga.


Dicko menatap mereka satu per satu dengan senyum tipisnya. Di ruang tengah Bram tengah asik dengan ponselnya. Tanpa mempedulikan apa yang mereka perbincangkan.


"Sarah ini temannya Randa. Dia seorang dokter. Kamu pasti sudah mengenalnya kan?" Tanya Papa Danu sembari mengalihkan pandangannya pada Dicko.


Dicko kembali tersenyum menatap Papa Danu.


"Waaah ... Putra Pak Danu ini sangat tampan ya. Rasanya saya kurang percaya kalau dia masih singgel." Ucap Bu Mirna sembari mengarahkan pandangannya pada Dicko.

__ADS_1


Dan hal itu membuat Dicko mengernyit heran. Sembari menatap curiga Papa Danu.


"Dia ini cukup pemilih. Makanya sampai sekarang dia masih sendiri." Ucap Papa Danu.


"Sama saja dengan Sarah. Dia tidak sembarangan menaruh hati pada pria. Barangkali saja mereka ini bisa cocok. Sama - sama terlalu pemilih." Ucap Pak Burhan.


Dicko semakin mengernyit curiga. Jangan - jangan firasatnya benar. Situasi seperti ini dulu pernah terjadi pada Bram.


"Ya sudah, bagaiman kalau kita makan malam dulu. Nanti saja obrolannya kita lanjutkan setelah makan."


.


.


Di meja makan itu, tidak terjadi obrolan yang serius. Hanya obrolan - obrolan ringan yang tidak ada sangkut pautnya dengan Dicko dan Sarah. Mereka hanya saling menceritakan kenangan - kenangan mereka semasa muda.


Obrolan mereka pun kini berlanjut di taman belakang rumah itu dengan ditemani teh hangat dan camilan. Dan kali ini, Bram tidak ikut. Setelah makan, Bram langsung mengurung dirinya di kamar. Dan Papa Danu pun tidak mempermasalahkan. Hanya Dicko yang dimintanya untuk tetap menemaninya mengobrol dengan tamunya malam itu.


"Oh ya, kira - kira apa kita sudah bisa nih, membicarakan tentang rencana kita?" Tanya Papa Danu tiba - tiba.


"Tentu saja bisa. Itu pun kalau Dicko tidak keberatan. Sebelumnya aku sudah membicarakan ini dengan Sarah. Dan Sarah sama sekali tidak keberatan." Sahut Pak Burhan.


Dicko mulai curiga dengan arah - arah pembicaraan para orang tua ini.


"Sarah sih setuju - setuju saja Pak Danu. Apalagi kalau calonnya setampan ini. Sudah pasti Sarah mau. Iya kan Sarah?" Ucap Bu Mirna seakan tengah menggoda putrinya itu.


"Mama ... Apaan sih? Bikin malu aja." Sarah tersipu malu sembari menundukkan wajahnya yang mulai bersemu merah.


"Kalau mereka berdua setuju, kita bisa adakan pertunangannya dulu. Setelah itu, baru ke jenjang yang lebih serius. Tunggu apa lagi, mereka ini kan sudah sama - sama dewasa. Sudah cukup matang untuk membina rumah tangga. Bagaimana Danu?" Tanya Pak Burhan.


"Iya, aku setuju. Bagaimana Dicko? Apa kamu setuju dengan rencana Papa?" Papa Danu mengalihkan pandangannya pada Dicko yang tampak tenang dengan wajah datarnya. Papa Danu mungkin mengira Dicko akan setuju. Karena sejak tadi Dicko tidak memperlihatkan tanda - tanda akan menolak perjodohan ini.


"Maksud Papa, Papa mau menjodohkan aku dengan Sarah?" Tanya Dicko santai. Sebab sejak awal dia sudah bisa menebak. Dan firasatnya ternyata benar.


"Iya. Sarah ini adalah wanita yang pantas untukmu. Dia cantik, dokter pula. Jadi__"


"Makasih Pa." Sela Dicko cepat. Kemudian bangkit dari duduknya sembari tersenyum. Papa Danu pun tersenyum senang karena mengira Dicko setuju.


Begitupun dengan Sarah dan sepasang suami istri itu. Seketika wajah mereka terlihat sumringah. Mengira Dicko akan menyetujui rencana mereka.


"Sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar - besarnya. Saya tidak bermaksud menyakiti perasaan kalian semua." Ucap Dicko memulai keinginannya untuk mengutarakan perasaannya.


"Dicko, apa maksud kamu?" Tanya Papa Danu.


"Mohon maaf sekali lagi. Karna saya harus menolak perjodohan ini. Sebenarnya saya sudah memiliki seseorang yang saya cintai. Dan saya bermaksud akan menikahinya dalam waktu dekat ini."


Mereka pun terkejut bukan kepalang saat mendengar pengakuan Dicko yang tak terduga itu. Terlebih Papa Danu. Dia begitu syok sekaligus malu.


"Dicko, apa maksud kamu berkata seperti itu. Jangan bilang kalau wanita itu ... Wanita itu adalah ..."


"Aruna. Aku sangat mencintainya. Dan aku akan menikahinya. Terserah Papa mau memberi restu atau tidak. Aku sudah tidak peduli lagi. Sekali lagi, maafkan aku Pa." Kemudian Dicko bergegas meninggalkan tempat itu tanpa mempedulikan ekspresi mereka.


Papa Danu benar - benar syok dan sangat malu. Dan Papa Danu pun hanya bisa memegangi dadanya yang mulai terasa sakit itu.


.......


.......


.......


...-Bersambung-...


Mohon maaf sering telat² update 🙏


Duh, jadi bu ibu rempong itu bikin pusying.


Tiap hari kerjaan rumah numpuk. Tapi akan otor usahain untuk tetap update 🤧


Saranghae ❤️


Salam hangat

__ADS_1


Otor Kawe


__ADS_2