
Sejak pergi dari kantor siang tadi, Dicko tidak kembali lagi. Dia sedang bersama Aruna di apartemennya. Untuk urusan pekerjaannya yang belum terselesaikan, dia sudah meminta bantuan Andre, asistennya.
Malam hari pun tiba.
Mobil yang di kendarai Dicko terlihat memasuki halaman rumah kediaman Anggara.
"Aku takut." Aruna masih saja ragu. Bahkan untuk turun dari mobil Dicko saja, rasanya kakinya begitu berat.
"Tidak usah takut. Ada aku. Kamu bisa mengandalkanku." Hibur Dicko untuk mengusir ketakutan Aruna.
"Sini." Pinta Dicko. Aruna pun menoleh.
"Mendekat padaku." Pinta Dicko lagi. Aruna pun mendekatkan dirinya pada Dicko yang masih duduk di depan setir.
Sebuah kecupan hangat mendarat cepat di kening Aruna. Dicko hanya ingin memberinya sedikit keberanian. Untuk menghadapi mantan mertuanya itu.
"Apapun yang akan terjadi nanti, aku akan tetap bersamamu. Percayalah padaku, semua akan baik - baik saja." Ucap Dicko setelah mengecup kening Aruna. Memberinya sedikit keberanian, memberinya sedikit keyakinan. Bahwa cinta mereka akan memenangkan segalanya. Bahwa mereka akan bersatu untuk selamanya.
Akhirnya, Aruna pun turun dari mobil itu, di susul oleh Dicko. Bersama - sama, dengan saling bergandengan tangan mereka memasuki rumah itu.
Rasanya aneh. Dulu Aruna meninggalkan rumah itu, saat berpisah dengan Bram. Dan kini dia kembali ke rumah itu sebagai kekasih Dicko. Sungguh lelucon yang aneh. Bahkan Aruna sendiri tidak menyangka, takdir hidupnya tidak pernah jauh dari kedua kakak beradik itu.
Mantan suami yang akan menjadi adik ipar. Dan kakak ipar, yang akan menjadi suaminya. Seolah takdir tengah mempermainkannya saat ini. Tapi mau bagaimana lagi. Cinta itu telah terlanjur tumbuh dan bersemi di hatinya. Hingga Aruna pun berani bermain - main dengan takdirnya sendiri.
Dan malam ini. Entah mendapat keberanian dari mana, dia akan memperjuangkan takdir cintanya. Berjuang untuk kebahagiaannya sendiri.
"Malam Den." Sapa Bi Surti saat membukakan pintu untuk majikannya.
"Non Aruna? Ya ampun, Non kok bisa ada disini?" Bi Surti terkejut melihat Aruna berdiri di depannya sambil bergandengan tangan dengan Dicko. Aruna pun menyunggingkan senyumnya.
"Papa ada Bi?" Tanya Dicko. Sembari berjalan masuk dengan menggandeng tangan Aruna.
"Ada Den, di ruang tengah. Apa perlu Bibi kasih tau Tuan kalau Aden sudah pulang? Soalnya sejak sore tadi Tuan Danu menunggu Aden pulang."
"Tidak usah Bi. Biar aku sendiri yang menemui Papa."
"Baiklah Den. Bibi permisi ke belakang dulu." Bi Surti pun kembali ke belakang untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Kamu siap?" Tanya Dicko sembari melirik Aruna.
Aruna pun menghela napasnya panjang lalu menghembuskannya perlahan. Lalu menganggukkan kepalanya.
.
Di ruang tengah itu, Papa Danu tengah duduk bersama Bram. Membicarakan masalah kantor. Dan seketika perhatian mereka pun teralih saat Dicko dan Aruna datang dengan saling bergandengan tangan.
Sontak Papa Danu bangkit dari duduknya. Dengan wajah yang mulai di liputi amarah detik itu juga. Wajah yang semula damai kini berganti dengan wajah menegang dan merah padam. Sebab amarah yang perlahan - lahan mulai memuncak. Akibat melihat pemandangan menjijikkan yang tersaji di depan matanya saat ini.
Lain halnya dengan Bram. Perlahan - lahan dia mulai terbiasa melihat kedekatan kakaknya dengan mantan istrinya itu. Bahkan Bram pun perlahan - lahan mulai bisa mengikhlaskannya. Meski masih sedikit terasa sulit.
"Malam Pa. Ada yang ingin aku bicarakan dengan Papa. Aku minta waktunya sebentar." Ucap Dicko tanpa rasa takut sedikitpun.
Papa Danu tampak tengah menahan amarahnya saat ini. Amarah yang sebentar lagi mungkin akan meledak.
__ADS_1
"Pa. Maaf aku datang dengan cara seperti ini. Aku dan Aruna hanya ingin meminta restu Papa. Kami ingin Papa merestui hubungan kami. Jika Papa memberikan restu, kami akan menikah secepatnya." Tambah Dicko dengan penuh keyakinan.
"Restu katamu? Kamu mau Papa merestui hubungan kalian?" Papa Danu setengah mati menahan amarahnya. Tatapannya begitu tajam bagai menghujam jantung.
Aruna hanya bisa menundukkan wajahnya. Kemudian melepaskan tangannya dari genggaman Dicko dan berpindah menggelayut di lengan Dicko.
Dan hal itu membuat amarah Papa Danu kian tersulut.
"Restu? Jangan pernah berharap Papa memberi restu untuk hubungan konyol kalian ini. Sampai mati pun, Papa tidak akan memberi restu." Ucap Papa Danu lantang.
"Pa ... Tenanglah sedikit. Tolong hargai keinginan Kakak." Pinta Bram.
"Menghargai keinginan Kakakmu? Apa dia juga menghargai Papa? Tidak. Papa tidak akan merestui. Sampai kapan pun."
"Pa ... Hargailah niat tulus Kakak." Pinta Bram sekali lagi.
Namun Papa Danu sama sekali tidak menggubris permintaan Bram. Kini dia melangkah lebih mendekat pada Dicko dan Aruna.
"Perempuan ini ... Perempuan jalang ini yang sudah mengkhianatimu Bram. Dan kamu mau Papa merestui hubungan mereka? Gara - gara dia kamu kehilangan calon buah hatimu. Gara - gara dia kamu menderita selama dua tahun ini."
"Papa!" Hardik Bram seketika. Saat mendengar ayahnya memanggil Aruna dengan sebutan perempuan jalang.
Papa Danu pun tersentak kaget. Baru kali ini Bram berani membentak ayahnya sendiri. Ini sungguh ... Sungguh tidak bisa di terima. Gara - gara perempuan itu, kedua putranya jadi kehilangan kewarasannya seperti ini. Gara - gara perempuan itu kedua putranya sudah berani membantahnya.
"Bram?" Dicko hampir tidak percaya, adiknya akan membelanya.
"Kakak berhak hidup bahagia. Dengan siapapun itu. Aku tidak bisa membahagiakan Aruna. Hanya Kakak yang bisa membahagiakannya. Demi kalian berdua, aku ikhlas. Aku minta tolong pada Kakak, tolong bahagiakan dia. Untukku." Pinta Bram dengan tulus dan penuh rasa haru.
Aruna dan Dicko pun tersentuh mendengar ungkapan hati Bram yang benar - benar tulus itu.
"Kalian benar - benar sudah gila. Dan kamu Aruna, silahkan kamu pergi dari rumah ini sekarang juga. Tinggalkan putraku. Sejak kamu berpisah dengan Bram, kamu sudah menunjukkan siapa dirimu sebenarnya. Bahkan aku sangat menyesal telah menikahkan kamu dengan Bram. Kamu itu tidak lebih dari perempuan jalang. Perempuan baik - baik tidak mungkin akan berbuat hal serendah ini. Selingkuh dengan ipar sendiri." Tandas Papa Danu tanpa ampun lagi.
"Papa!" Pekik Dicko sekencangnya. Hingga membuat semua yang ada terperanjat kaget. Bahkan Bi Surti yang tengah berada di dapur pun, sejenak menghentikan pekerjaannya. Dan diam - diam mengintip ke ruang tengah. Ingin tahu apa yang tengah terjadi.
Sementara Aruna, semakin menundukkan wajahnya dengan air mata yang mulai bercucuran. Keberaniannya mendadak menciut. Lalu sirna bagai hilang di telan bumi.
"Kamu ... Kamu berani sekali membentak Papa? Demi perempuan ini kamu berani berteriak di depan Papa?" Papa Danu bahkan syok melihat perubahan drastis putra sulungnya itu.
"Seharusnya Papa bersyukur, aku masih menghargai Papa dengan meminta restu Papa. Tapi dengan cara Papa menghina Aruna seperti ini, aku tidak peduli lagi skarang. Terserah Papa setuju atau tidak. Aku akan tetap menikahinya." Dicko pun semakin kehilangan kesabarannya.
Kini dia benar - benar sudah tidak peduli lagi. Yang terpenting baginya adalah kebahagiaannya. Dua kali terpisah dari Aruna, sungguh membuatnya tersiksa. Harus terpisah untuk ketiga kalinya, Dicko tidak akan rela.
Ya ampun. Papa Danu semakin tidak bisa menahan amarahnya lagi. Darahnya seakan mendidih hingga ke ubun - ubun. Papa Danu pun hanya bisa memegangi dadanya yang terasa sesak itu.
"Pergi! Pergi kalian dari sini. Pergi!" Pekik Papa Danu mengusir Dicko dan Aruna.
"Papa. Tenanglah Pa. Kita bisa bicarakan ini baik - baik." Pinta Bram.
Namun Papa Danu tidak peduli.
Sedangkan Aruna, sejak tadi tidak sepatah kata pun terucap dari bibirnya. Dia hanya bisa menangis dan terus menangis. Menangisi nasib buruk yang selalu menimpanya.
Dicko pun mengusap lembut pundak Aruna. Berusaha menenangkannya dari isak tangisnya.
__ADS_1
"Jangan takut. Aku ada bersamamu." Hibur Dicko.
Melihat hal itu, semakin menyulut api amarah Papa Danu.
"Pergi kalian. Mulai skarang, kamu bukan putraku lagi. Pergi dari sini. Pergi!" Pekik Papa Danu kembali.
"Papa ... Tolong jangan berkata seperti itu." Pinta Bram yang iba melihat kakaknya berdiri terpaku saat mendengar kalimat Papa Danu yang terasa menyakiti hatinya.
"Baik." Dicko mengangguk diiringi air mata yang terbendung lagi. Jatuh berderai begitu saja.
"Aku akan pergi. Mulai skarang, kalian bukan siapa - siapa lagi bagiku. Ayo Aruna, kita pergi."
Dengan menggandeng tangan Aruna, Dicko melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu dengan perasaan hancur berkeping - keping. Diiringi air mata yang semakin deras bak air bah tertumpah ruah membanjiri wajahnya.
Baiklah. Hubungan ayah dan anak ini, harus berakhir sampai di sini. Cukup sampai disini. Hubungan pertalian darah ini harus berakhir dengan tragis.
"Kak ... Kakak ..." Panggil Bram pada Dicko yang semakin mempercepat langkahnya menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah.
"Kakak ... Tunggu dulu Kak. Tolong jangan pergi." Bram berusaha mengejar Dicko dan Aruna yang kini sudah berada di dalam mobil. Dan sudah bersiap untuk pergi.
"Kakak ..." Panggil Bram lagi.
Namun terlambat. Dicko telah memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bram pun hanya bisa mendesah panjang. Kali ini dia tidak bisa menghentikan kakaknya.
.
.
Satu jam setelahnya.
Papa Danu dan Bram masih berada di ruang tengah itu. Mencoba memahami situasi yang baru saja terjadi. Saat tiba - tiba terdengar bunyi dering ponsel Bram. Bram pun segera meraih ponselnya yang tergeletak di meja di depannya.
Layar ponsel Bram menampilkan sebuah panggilan dari nomor tak di kenal saat itu.
"Halo?" Sapa Bram.
Entah siapa yang menelfon Bram saat itu, dan entah kabar apa yang dia dapat. Hingga wajahnya pun mendadak tegang. Dengan air mata yang mulai bercucuran detik itu juga.
"Kakak ... Aruna ..." Gumam Bram lirih dengan air mata yang semakin deras membanjiri wajahnya. Dan Bram pun terkulai lemas detik itu juga. Bram terduduk lesu di lantai yang dingin itu. Sambil menangis tersedu - sedu.
"Bram? Ada apa?" Papa Danu pun mulai cemas.
"Kakak ..."
"Aruna ..."
.......
.......
.......
...-Bersambung-...
__ADS_1
Bentar lagi mau ending 🤧🤧