Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 12 Meluluhkan Prasangka


__ADS_3

Arya kini sedang dalam perjalanan menuju rumah, sesuai janjinya pada Aruna dan Zidane, Arya pulang sebelum jam makan malam. Namun tiba-tiba ponselnya berdering, sebuah panggilan dari Shella.


''Halo Arya, kamu dimana? Kenapa kamu tidak menemuiku sama sekali hari ini?'' kata Shella diseberang sana.


''Maafkan aku ya Shell, aku hari ini sibuk sekali. Oh ya aku minta dia hari ini kita jangan bertemu atau komunikasi dulu ya.''


''Memangnya kenapa? Kamu sudah tidak mencintaiku lagi?''


''Bukan begitu, aku ada acara pengajian 7 bulanan istriku. Aku ingin semuanya berjalan lancar tanpa ada gangguan apapun. Dan sekarang aku sedang perjalanan menuju rumah. Zidane memintaku untuk pulang lebih awal dan aku tidak bisa menolak. Maafkan aku ya.''


''Sepertinya aku bukan prioritas kamu lagi, Ar. Seharusnya dari awal aku sadar kalau aku hanya orang ketiga dalam kehidupanmu.''


''Hei, kamu jangan bicara begitu Shel. Kamu tetap prioritas di hatiku. Kamu tahu kan, aku melakukan ini semua supaya Aruna tidak curiga denganku. Semua ini demi kamu dan kita. Jadi aku harap kamu mengerti ya. Setelah dua hari, kita habiskan waktu bersama. Aku akan cuti dan kita liburan lagi seperti beberapa waktu lalu.''


''Kamu serius sayang? Kita mau liburan dimana?''


''Kamu saja yang mengatur mau kemana, sedangkan aku mencari waktu dan alasan dulu supaya kita bisa pergi.''


''Oke baiklah. Aku pasti akan sangat merindukanmu.''


''Aku juga akan merindukanmu, sayang. I love you.''


''I love you too Arya.'' Panggilan pun berakhir.


Sementara di rumah, Aruna sedang menyiapkan makan malam spesial untuk menyambut suaminya. Deru mobil Arya, membuat mata Aruna berbinar termasuk Zidane.


''Yeay Papi pulang!" sorak Zidane. Zidane pun berlari kecil menuju pintu utama.


''Hei Zidane, Papi terkejut lho kamu sudah didepan pintu.''


''Zidane senang sekali melihat Papi pulang. Terima kasih ya Pi, untuk waktunya.''


''Sama-sama sayang.'' Zidane pun naik ke dalam gendongan Arya.

__ADS_1


''Mami mana?''


''Mami sedang masak lah.'' Jawab Zidane.


''Hei Mas, sudah pulang?''


''Iya dong sayang, sesuai janjiku. Sepertinya istriku ada yang berbeda hari ini.'' Kata Arya. Arya terpesona dengan kecantikan Aruna. Tentu saja itu karena sentuhan tangan Dinda yang membuat Aruna lebih fresh.


''Beda apanya Mas? Cuma potong rambut sedikit, sama ini di cat sama si Dinda. Katanya biar fresh gitu.''


Arya menurunkan Zidane dari gendongannya. Ia kemudian mendekati istrinya.


''Oh pelakunya si Dinda. Iya sih kamu lebih fresh dan wangi tentunya.''


''Memang selama ini aku bau ya?''


''Tidak sayang, kamu selalu wangi dan cantik. Ya sudah, sekarang letakkan pisaunya biar Bi Tuti yang melanjutkan. Sekarang ayo kita ke kamar dulu.''


''Ayolah sayang, aku butuh bantuanmu.'' Rengek Arya. Aruna tersipu malu dengan sikap manja suaminya itu.


''Iya-iya.'' Jawab Aruna tergagap. Arya kemudian menggandeng tangan Aruna dan mengajaknya ke kamar. Sesampainya di kamar, Arya langsung mengunci pintu kamar. Ia kemudian mengajak Aruna duduk di sofa. Dan tiba-tiba Arya memeluk Aruna begitu sayang.


''Istri aku cantik sekali, aku jadi pingin.'' Bisik manja Arya. Aruna tersipu malu mendengar ucapan suaminya.


''Pingin apa Mas? Udah ah kamu mandi dulu.'' Ucap Aruna malu-malu.


''Hari ini Mas Arya aman, aku tidak mencium aroma parfum itu. Mungkin memang benar kalau dia bertemu banyak klien yang parfumnya sangat mendominasi. Melihat sikap Mas Arya selama ini denganku tidak mungkin dia berbuat macam-macam di luar sana.'' Gumam Aruna dalam hati.


''Sayang, ayolah! Aku merindukanmu.'' Pinta Arya.


''Iya baiklah.'' Jawab Aruna pasrah. Arya kemudian melepaskan pelukannya. Kedua tangannya menangkup wajah cantik Aruna. Arya lalu mendaratkan bibirnya pada bibir Aruna. Arya me...lu...mat bibir Aruna penuh gairah. Namun tiba-tiba Aruna melepaskan pagutan Arya.


''Kenapa sayang?'' tanya Arya sambil menyentuh lembut bibir Aruna.

__ADS_1


''Mas, kita lanjut nanti ya setelah makan malam. Kasihan Zidane kalau harus menunggu kita terlalu lama.''


Arya tersenyum. ''Iya juga ya sayang, nanti Zidane bisa marah kalau menunggu kita tidak keluar kamar. Habisnya kamu hari ini membuatku ingin buru-buru bercinta denganmu.''


''Sabar ya suamiku. Sekarang kamu mandi, kita makan malam terus kita lanjutkan lagi.''


''Oke sayang. Aku mandi dulu ya.'' Arya lalu memberikan kecupan di kening Aruna. Arune kemudian keluar kamar untuk menyiapkan makan malam.


Setelah makan malam selesai dan membacakan cerita untuk Zidane sampai Zidane tertidur, Arya segera kembali menuju ke kamar. Di kamar, Aruna sudah siap dengan pakaian dinas yang sudah lama tidak ia pakai. Aruna tampak sedang santai membaca sebuah buku di sofa.


''Sayang,'' kata Arya saat masuk ke kamar.


''Hei Mas, Zidane sudah tidur?''


''Sudah sayang.'' Arya mendekat duduk di samping Aruna.


''Meskipun hamil besar, kamu tetap cantik ya.'' Ucap Arya seraya mengecupi pundak Aruna yang terbuka. Arya kemudian mengusap perut istrinya yang semakin buncit itu.


''Rasanya Papi sudah tidak sabar menunggu kamu lahir, Nak.''


''Mas, kamu sudah ada nama untuk anak kita? Hasil USG cowok lagi lho Mas.''


''Sudah dong sayang. Kalau memang cowok lagi, kamu akan menjadi yang tercantik sayang. Dan kami para lelaki akan menjaga kamu, satu-satunya wanita tercantik di rumah ini.''


''Idih, kamu gombal banget.''


''Siapa yang gombal sih, aku jujur sayang. Ayo sayang, kita mulai saja. Aku sudah tidak sabar.'' Kata Arya.


''Lakukan saja apa yang kamu mau, Mas.'' Ucap Aruna. Arya pun tersenyum, ia mulai mengecup leher Aruna dengan lembut. Ciuman turun ke pundak Aruna yang yang terbuka. Malam itu Aruna melayani dan menjalankan tugasnya sebagai seorang istri untuk Arya. Ia di cumbu dan di jamah oleh Arya dengan begitu lembutnya. Sentuhan Arya pun mampu membuat Aruna melupakan semua prasangkanya. Aruna juga senang bahwa saran dan hasil Dinda mempercantik dirinya, membuat Arya langsung terpesona bahkan menghabiskan malam untuk bercinta dengan dirinya. Arya juga berhasil mendapatkan kenikmatan yang diberikan oleh sang istri. Setelah lelah bercinta, akhirnya Aruna pun tertidur lelap dalam dekapan Arya.


''Aruna, maafkan aku. Aku sudah menghianati pernikahan kita. Kamu adalah istri yang sempurna. Tapi aku juga tidak bisa meninggalkan Shella. Maaf jika aku harus mendua seperti ini. Kamu sangat berarti untukku begitu juga dengan Shella. Aku tidak bisa memilih salah satu di antara kalian. Kalian berdua sama-sama begitu penting untukku. Apalagi Shella adalah cinta pertama yang sangat sulit untuk aku lupakan. Bahkan kehadirannya membuatku jatuh cinta lagi padanya. Maafkan aku Aruna.'' Gumam Arya dalam hati.


Bersambung... Yuk dukung like, komen dan votenya ya, yang jelas nanti ceritanya semakin seruuu!!!!

__ADS_1


__ADS_2