Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 55 Makan Malam


__ADS_3

Aruna kemudian menyiapkan semua makanan yang dibeli oleh Daniel di meja makan. Aruna bingung kenapa rumah sebesar ini tidak ada pembantu. Yang banyak justru pengawalan rumah yang cukup ketat.


''Nah, Zidane, sekarang kamu bisa makan.'' Kata Tuan Hutama.


''Tuan, mau saya ambilkan?''


''Aku sedang tidak selera makan beberapa hari ini, Aruna. Apalagi makanan yang dibawa Daniel, tidak ada satupun yang bisa aku makan. Sepertinya dia memang sengaja.''


''Anda keterlaluan sekali, Tuan Daniel. Seharusnya anda bisa membawa makanan yang memang sesuai dengan kesehatan Papa anda. ''


''Dia memang begitu, Aruna. Manja! "


''Dasar, anak kurang ajar! " Tuan Hutama melempar sendok kearah Daniel. Zidane bukannya takut tapi malah tertawa melihat kelakukan Tuan Hutama dan Daniel.


''Zidane, kamu kenapa malah tertawa? Tidak sopan sayang. ''


''Habisnya Kakek dan Om Daniel lucu. Sungguh Ayah dan anak yang kompak. ''


''Kamu ini pintar sekali ya, Zidane. Sudah-sudah, cepat makan ya. Habiskan semuanya. Jangan hiraukan Om Daniel dan jangan tiru sikapnya itu. ''


''Hehehehe iya Kakek. ''


''Kalau begitu, saya buatkan Tuan sup ayam dan nasi merah ya. Anda harus makan dan minum obat supaya segera pulih. ''


''Aruna, tidak usah repot-repot. ''


''Tidak apa-apa Tuan. Saya akan memasaknya untuk anda. '' Aruna kemudian pergi menuju dapur. Sesekali Daniel mencuri pandang Aruna yang sibuk memasak. Aruna bahkan terlihat luwes di dapur. Karena dapur dan ruang makan bersebelahan tanpa sekat.


Rupanya Tuan Hutama juga diam-diam memperhatikan putranya itu. Tak butuh waktu lama bagi Aruna untuk menyiapkan semangkuk sup dan nasi merah untuk Tuan Hutama.


''Permisi Tuan, ini sudah siap.'' Ucap Aruna seraya meletakkan makanan di hadapan Tuan Hutama.


''Aruna, kamu disini tamu tapi kamu malah melayaniku. ''


''Tidak apa-apa Tuan. Semoga Tuan menyukainya. ''


''Baiklah, kalau begitu kita makan sama-sama ya.''


Suasana makan malam itu terasa sangat hangat. Tuan Hutama yang sudah lama hidup sendiri merindukan kehangatan keluarga seperti ini. Tuan Hutama serasa makan malam bersama anak, cucu dan menantunya. Ia merasa mendapat semangat untuk hidup. Sementara Daniel, senang sekali menggoda Zidane. Bukan apa-apa, Daniel hanya ingin menghibur Zidane yang sedang sedih karena perpisahan kedua orang tuanya.


''Om, sepertinya kesabaranku sudah habis.'' Suara marah Zidane mengagetkan Aruna dan Tuan Hutama.


Aruna menegur Zidane. ''Zidane, pelankan suaramu. Tidak sopan berbicara dengan nada seperti itu. ''


''Tapi Mami, Om Daniel merebut pizza ku lagi. Dia tadi bilang memberikan pizzanya padaku tapi dia malam makan yang lebih banyak lagi.''

__ADS_1


''Dasar ya, masih kecil suka sekali mengadu. '' Celetuk Daniel.


Aruna menghela. Seandainya saja tidak ada Tuan Hutama, Aruna sudah menjambak Daniel karena terus menganggu putranya.


''Daniel, kamu ini kekanak-kanakan sekali. Jangan terus membuat ulah dan membuat Papa marah. Kapan kamu dewasanya.'' Bentak Tuan Hutama. Zidane lalu menggeser kotak pizza kearahnya. Ia lalu membawanya dan pindah tempat duduk di samping Tuan Hutama. Aruna terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Zidane.


''Sepertinya Zidane lebih aman jika bersama Kakek. Om Daniel tidak akan mengangguku lagi.''


Tuan Hutama terkejut, sekaligus senang karena Zidane duduk di dekatnya.


''Benar sekali, Zidane. Kamu akan selalu aman bersama Kakek. Jadi, sekarang makanlah yang tenang. Kakek tidak akan membiarkan siapapun mengganggumu. ''


''Iya, Kek. ''


''Baru kali ini aku melihat sikap Papa sehangat ini. Sudah lama sekali aku tidak melihat Papa tersenyum.'' Gumam Daniel dalam hati.


Setelah makan malam selesai, Aruna dan Zidane pamit pulang. Daniel dan Tuan Hutama mengantarnya sampai ke depan.


''Tuan, kami permisi. Semoga anda lekas pulih dan sehat kembali. ''


''Pasti Aruna. Aku akan sehat dan panjang umur, supaya bisa menyaksikan Daniel menikah dan punya anak. Aku ingin sekali merasakan menggendong seorang cucu. ''


''Masih lama, Pah. '' Sahut Daniel. Ucapan Daniel, mendapat lirikan tajam dari Tuan Hutama.


''Zidane, sering-seringlah main ke rumah Kakek.''


''Pasti Kek. '' Jawab Zidane.


''Zidane, kamu tidak berpamitan denganku?'' sahut Daniel.


''Tidak! Om malam ini membuatku kesal. ''


Daniel terkekeh. ''Baiklah, aku minta maaf.''


''Oke, dimaafkan. '' Jawab Zidan dengan gaya juteknya.


''Selamat malam Tuan.''


''Malam Aruna, hati-hati ya. '' Pesan Tuan Hutama. Aruna menjawabnya dengan senyuman. Namun saat hendak membuka pintu mobil, Aruna melihat ban mobilnya kempes.


''Aduh, kok kempes. '' Gumam Aruna sambil membungkuk melihat ban mobilnya.


''Ada apa Aruna?'' tanya Tuan Hutama yang melihat Aruna seperti dalam kesulitan.


''Ini Tuan, ban mobil kempes. ''

__ADS_1


''Daniel, sebaiknya kamu antar Aruna pulang. Biar mobilnya di sini saja dulu, kasihan dia apalagi ada Zidane juga.'' Perintah Tuan Hutama.


''Tidak usah Tuan, kami naik taksi saja.''


''Jangan Aruna, lama kalau menunggu taksi. Biar anak buahku yang mengurus mobilmu.''


Akhirnya setelah Tuan Hutama memaksa, Daniel dan Aruna menurut. Daniel bersedia mengantar Aruna pulang dan Aruna bersedia diantar oleh Daniel.


Selama dalam perjalanan pulang, suasana menjadi hening. Zidane bahkan sudah tertidur di bangku belakang.


''Tuan, besok aku ijin ya.'' Aruna mencoba membuka obrolan.


''Iya, aku sudah ingat Aruna. Oh ya terima kasih sudah memasak untuk Papa. ''


''Sama-sama Tuan. Tapi kenapa di rumah tidak ada pembantu sama sekali? Apa Tuan Hutama tidak kesulitan?''


''Dia punya banyak pengawal yang di bisa disuruh, Aruna. Soal makanan sudah ada catering yang mengantarnya. Untuk bersih-bersih rumah pun sudah ada On Clean, perusahaan yang menjual jasa kebersihan.''


''Kalau memang begitu kenapa bahan di kulkas semuanya lengkap?''


Daniel menghela. ''Sebenarnya kamu adalah orang pertama yang menyentuh dapur itu.''


''Maksudnya?''


''Jadi saat Mama masih ada, Mama lah yang sering menggunakan dapur. Mama benar-benar menghabiskan waktunya menjadi ibu rumah tangga. Jadi, sejak dulu kami jarang sekali menggunakan jasa pembantu. Apalagi hal yang paling Mama sukai adalah berada di dapur. Mama sangat senang memasak dan membuat aneka kue. Bahkan kami sangat jarang makan diluar. Mama tidak ingin dapurnya disentuh oleh orang lain selain dia. Anak dan suaminya harus kenyang ditangannya, begitulah prinsip Mama yang unik menurutku. Jadi setelah Mama meninggal, Papa tetap memilih tidak menggunakan jasa pembantu. Papa bahkan selalu memenuhi isi kulkas karena masih berharap Mama akan pulang dan memasak untuk kami. Dan asal kamu tahu, bahan makanan itu setiap harinya ganti. Keesokan harinya Papa akan membagikan bahan makanan kemarin pada orang-orang, terkadang juga Papa berikan pada pengawalnya supaya diberikan pada istri mereka. Isi bahan makanan di kulkas itupun, isinya adalah bahan makanan yang sering Mama masak setiap harinya. Papa pun hafal, dari hari Senin sampai Minggu, makanan apa saja yang di masak oleh Mama.''


''Berarti Tuan Hutama sangat mencintai Mama anda, Tuan. ''


''Iya Aruna. Papa sangat mencintai Mama. Apalagi penyesalan terbesar dalam. hidup Papa adalah tidak ada disaat terakhir Mama.''


''Kalau boleh tahu Mama Tuan meninggal kenapa?''


''Mama meninggal karena kecelakaan, saat itu aku masih SMP. Sejak Mama meninggal, aku hampir tidak pernah melihat Papa tersenyum. Papa selalu murung dan mudah sekali marah. Tapi malam ini aku bisa melihat senyum Papa saat bersama Zidane dan saat ada kamu, Aruna. Terima kasih sudah mengembalikan senyum Papa.''


''Aku juga tidak tahu kenapa Zidane bisa langsung akrab dengan Tuan Hutama dan juga anda. Padahal dia sangat sulit akrab dengan orang asing. Kalau boleh aku memberi saran, sering-seringlah tinggal bersama Tuan Hutama. Kasihan kalau Tuan Hutama sendirian. Kalau orang tua galak itu sudah biasa, mereka galak karena ingin yang terbaik untuk anaknya. Dan saran lagi, belajarlah mencintai satu wanita Tuan. Mulailah memikirkan masa depan anda. Apalagi Tuan Hutama sudah ingin anda menikah dan memiliki anak."


''Iya, akan aku pertimbangkan saranmu untuk sering-sering menginap di rumah Papa. Tapi untuk saran keduanya, sepertinya tidak untuk dalam waktu dekat.'' Ucap Daniel dengan senyum tipisnya.


"Memang susah ya kalau tabiat playboy," celetuk Aruna.


"Jangan salah, aku playboy hanya berusaha mencari yang terbaik. Jadi wajar dong kalau aku harus menyeleksi mereka. Aku juga tidak mau salah pilih. "


"Ya, ya, ya, terserah anda Tuan. " Aruna menyerah sekaligus kesal dengan cara berpikir Daniel.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2