
Sore hari di villa, Zidane menyeret Papinya untuk bermain bola di halaman depan villa. Arya lalu meletakkan ponselnya di meja teras. Tak lama kemudian Aruna keluar dengan membawa camilan pisang goreng untuk Arya dan Zidane.
''Papi-Zidane, pisang gorengnya sudah jadi!" seru Aruna.
''Iya Mami, nanti ya. Kita lagi asyik main.'' Sahut Zidane.
''Oke baiklah. Kalau begitu Mami yang akan menjadi suporternya ya.'' Kata Aruna dengan suara meninggi. Aruna dengan cerwetnya mengomentari permainan Zidan dan Arya bak seorang presenter bola. Suara Aruna semakin menambah semangat Arya dan Zidane dalam bermain bola. Namun tiba-tiba ponsel Arya berdering. Aruna menjulurkan kepala melihat layar ponsel suaminya.
''Mr. Mark!" gumam Aruna. Aruna kemudian berteriak memanggil suaminya. ''Mas ada telepon dari Mr. Mark."
"Shella,'' gumam Arya dalam hati. Arya lalu menyudahi permainannya dan segera menyambar ponselnya begitu saja.
''Aku angkat telepon dulu ya sayang,'' kata Arya seraya menjauh dari Aruna.
''Hello Mr. Mark, how are you?'' sapa Arya dengan segala kepalsuannya. Arya kemudian menuju halaman samping rumah supaya Aruna tidak mendengarnya. Sedangkan Aruna memanggil Zidane mengajaknya untuk segera mandi. Melihat istrinya masuk ke dalam bersama putranya, Arya menghela nafas lega.
''Hallo Arya. I miss you.'' Jawab Shella diseberang sana.
''Hei Shella, i miss you too. Apa apa sih? Aku sedang menemani Zidane bermain bola. Kamu jangan seperti ini dong, nanti ketahuan Aruna bagaimana?''
Shella tertawa mendengar ucapan Arya. ''Memangnya kenapa kalau ketahuan? Kamu takut ya?''
''Ya tidak juga.''
''Arya, kapan kamu menikahi aku?''
''Shella sayang, jangan bahas itu disini ya. Kita bahas saat kita bertemu saja ya.''
''Kamu tahu kan kalau selama ini aku masih mencintaimu. Tapi ternyata kamu sudah menikah terlebih dulu.''
''Sudah ya jangan bahas yang lalu. Semua sudah terjadi dan kamu tidak masalah dengan statusku.''
''Terus kamu kapan pulang?''
__ADS_1
''Besok sore aku pulang.''
''Kamu hari senin sudah janji ya akan menmani aku.''
''Iya aku tidak lupa Shella. Ya sudah kalau begitu, aku tutup teleponnya. Nanti Aruna bisa curiga.''
''Iya-iya. I love you.''
''I love you too honey.'' Setelah menutup panggilan dari Shella, Arya bergegas masuk ke dalam menuju kamar.
''Mas, kamu sebaiknya mandi ya. Aku siapkan makan malam.''
''Tidak usah repot-repot sayang. Aku sudah pesan makanan dari restoran. Kita disini kan mau liburan jadi aku tidak mau kamu capek.''
''Ya sudah kalau begitu, Mas.''
''Aku mandi dulu ya.'' Ucap Arya seraya berlalu menuju kamar mandi. Sementara Zidane sudah duduk di depan televisi sambil menikmati pisang goreng buatan Aruna.
Selama weekend, Arya benar-benar menghabiskan waktu bersama Aruna dan Zidane. Karena dengan itu, Aruna tidak mungkin menaruh curiga pada dirinya. Karena saat ini pun Arya tidak bisa meninggalkan Shella. Apalagi Shella yang kini sebatangkara, membuat Arya enggan untuk meninggalkannya.
''Ceria banget nih si bumil,'' goda Gita.
''Apaan sih? Biasa aja kali.'' Aruna malu-malu.
''Hebat ya elo sama Arya, selalu bisa mempertahankan keharmonisan rumah tangga. Nggak pernah lho selama elo nikah, elo nangis karena berantem sama Arya.'' Sahut Dinda.
''Iya ih, resepnya apa dong? Secara elo kan gadis milineal pada jamannya, Run. Elo itu primadona dan banyak banget yang ngincer elo. Kenapa pilihannya sama Arya? Padahal dulu dari segi karir dia biasa saja. Sampai anaknya mantan bos elo itu, elo tolak.'' Timpal Gita.
Aruna terkekeh mendengar celotehan sahabatnya itu. ''Namanya juga jodoh, mau gimana lagi.''
''Emang elo nggak ngarasa kehilangan masa muda elo, Run? Elo hebat lho cinta pertama sama Arya terus langsung nikah gitu aja.'' Sambung Dinda.
''Dibilang kehilangan sih nggak juga. Karena elo tahu sendirikan kalau Mas Arya sama sekali nggak ngekang gue. Gue aja masih bisa hangout sama kalian tanpa nglupain kewajiban gue sebagai seorang istri. Gue juga nggak matre-matre amat lah saat itu. Buat apa pacaran lama-lama kalau nggak di nikahin, iya nggak?''
__ADS_1
''Cie-cie ngomongnya ihh, kesindir gue.'' Timpal Dinda dengan tawanya.
''Dengerin gue ya, cowok yang gentle itu yang berani bilang will you marry me bukannya elo mau nggak jadi cewek gue. Cowok kayak gitu sih sukanya main-main.'' Kata Aruna.
''Iya deh iya, yang pilihannya langsung klop dari atas bawah,'' sahut Gita.
''Tapi iya juga ya kenapa gue dulu langsung mau ya? Padahal gue masih muda, cantik iya, berprestasi iya.'' Gurau Aruna.
''Iya sampai si bos elo mau jodohun elo sama anaknya. Kenapa dulu elo nolak?'' tanya Dinda penasaran.
''Ya ampun Din, dulu dia masih muda masih SMA. Gue sih nggak pernah lihat wajahnya tapi yang jelas, anaknya mantan bos gue itu selalu buat onar. Entah berapa kali bos gue darah tinggi karena harus di telepon sekolah karena anaknya selalu membuat onar. Dari situ aja, gue ogah banget buat tahu siapa anaknya apalagi cari tahu. Lagian dulu anaknya masih SMA, masa iya gue sama brondong.''
''Iya sih, yang ada elo malah sakit hati kalau sampai mau di jodohin. Dengar ceritanya aja kayaknya emang berandalan banget.'' Kata Dinda.
''Ya maklum anak orang kaya. Biasanya mereka keseringan dimanja dengan kemewahan dan harta sampai lupa caranya mendidik anak dengan etika dan sopan santun.'' Sahut Gita.
''Ya udah lah ngapain juga ngomongin itu, nggak penting. Tapi bos gue baik banget, seandainya gue mau balik, dia dengan senang hati mau nerima gue lagi.''
''Itu artinya elo punya pengaruh besar terhadap perusahaan, Run.'' Kata Gita.
''Kayaknya nggak bakal balik juga, mau gimana lagi, setelah ini lahiran, anak juga mau dua. Otomatis Mas Arya nggak bakal ijinin gue kerja. Gue aja di suruh resign dulu.''
''Elo emang di rumah aja, Run. Kalau elo balik kerja, gue jamin eli pasti masih di anggap gadis. Apalagi kalau elo dandan kayak dulu, skretaris seksi.'' Kata Dinda dengan tawanya.
''Udah deh, Din jangan ngaco. Oh ya setelah ini gue cabut ya, mau jemput Zidane, tinggal satu jam lagi. Soalnya gue harus ke supermarket buat belanja.''
''Iya gue juga harus balik ke salon. Pokoknya satu minggu tiga kali, kita wajib kumpul ya, biar pada nggak stres.'' Kata Dinda.
''Yup, gue setuju! Kadang gue juga pusing mikirin pasien dan butuh refereshing.'' Sahut Gita.
''Ya udah kalau gitu gue duluan ya Din-Git. Kalian hati-hati ya.'' Aruna lalu beranjak dari duduknya. Mereia bertiga saling memeluk sebelum pergi.
''Hati-hati ya, Run. Ingat, lagi hamil jangan ngebut.'' Pesan Gita.
__ADS_1
''Iya bawel.'' Kata Aruna seraya berlalu meninggalkan cafe.
Bersambung....