
Ehem Ehem ...
Tes Tes Tes ... ☺️
Assalamualaikum🙏🤗
Hai Hai Hai ...
Author abal-abal ini kembali membawa cerita baru yang akan menghibur teman² sekalian.
Akhirnya, setelah tujuh purnama berlalu. Author gak jelas ini kembali membawa kisah Richardo Anggara. Anaknya Dicko dan Aruna. Semoga aja kisahnya gak akan sedramatisir kisah mak bapaknya ya☺️☺️
Nih dia ...
Ehem ... mau bilang apa lagi ya🤔, bingung aku tuh🙄
Dah lah, daripada ngomong gaje, mendingan langsung aja klik profilku. Ceritanya dah terbit.
Jangan lupa tap love, like dan komennya ya☺️
Sekalian ama bunganya🤭
Ngarep aja nih otor. Gak jelas juga.
Hadeeeh bingung mau apa lagi.
__ADS_1
Ya udah segitu aja dulu.
Tetap semangat ya teman² 💪🤗
Jangan lupa jaga kesehatan biar semangat pantengin kisahnya Richardo, si anak nackal☺️
Saranghae ❤️
Salam Hangat
**Othor Kawe 😘
Ini penggalan ceritanya**
Di depan pintu masuk, Ferrari 488 Spider Red telah menepi. Semua pasang mata pun tertuju ke arah pintu masuk. Seorang satpam bergegas membukakan pintu mobil.
Setelah menyelesaikan studi, cucu yang satu ini tidak pernah pulang lagi ke negaranya. Hanya karena ia kedapatan sering bermain perempuan, sehingga sang ayah mengambil tindakan tegas. Dengan mengembalikannya ke negaranya sendiri.
Namun agaknya tak seperti kabar yang berhembus. Seorang pria yang turun dari mobil itu bahkan tidak seperti yang diharapkan oleh banyak wanita.
Bahkan keluarga Anggara yang sedari tadi menunggu kedatangannya pun dibuat terkejut bukan kepalang. Bukan seorang pria tampan seperti yang di dengung dengungkan banyak wanita. Yang turun dari mobil itu melainkan seorang pria bertubuh jangkung dan berambut kribo. Lengkap dengan kacamata tebal yang membingkai wajahnya.
Pria jangkung itu berjalan penuh percaya diri membelah barisan karyawan. Hampir semua karyawan tertawa-tawa menyaksikan pemandangan itu. Tetapi tidak berani memperdengarkan tawanya.
Pria itu menghentikan langkahnya tepat di hadapan keluarga Anggara. Ia tak peduli meski puluhan karyawan tengah menertawainya. Ia hanya menjalankan perintah.
"Loh, Ardo ke mana? Kenapa malah kamu yang turun dari mobil? Kamu siapa?" Opa Danu langsung memberondongnya dengan pertanyaan.
__ADS_1
Pria itu malah menampakkan cengiran lebarnya. "Saya teman nya Ardo Opa. Saya Donal."
"Benar-benar anak itu," geram Dicko menahan amarahnya.
"Sabar, sayang. Dia pasti ada di suatu tempat sekarang." Aruna mencoba menenangkan suaminya yang mulai diliputi amarah.
.
.
Sementara itu, di sebuah kamar hotel berbintang.
Di tengah ranjang king size, dua anak manusia berlainan jenis tengah berpacu memuaskan dahaga di jiwanya yang kian bergelora.
Dua desah berpadu di udara, memenuhi ruangan dengan nuansa putih. Senada dengan seprai yang kini terlihat acak-acakan itu.
Erangan panjang terdengar kala nikmat berpacu tercapai. Seorang pria tampan turun dari tempat tidur. Sembari melangkah menuju kamar mandi, ia berkata,
"Ambil cek yang ada diatas meja itu. Aku sudah membayarmu. Dan tugasmu sudah selesai. Sekarang pakai kembali pakaianmu dan tinggalkan tempat ini."
Wanita yang masih dalam keadaan tak berbusana itu tersenyum lebar.
"Thankyou Baby (terima kasih sayang)."
Wanita itu pun turun dar ranjang. Lekas ia mengenakan kembali pakaiannya. Setelahnya ia hendak melangkah ke pintu. Namun belum sempat wanita itu mengayunkan langkahnya, seseorang menerobos masuk dengan kasar.
"Dimana Kak Ardo?" tanya seorang gadis cantik dengan amarah yang meliputinya.
__ADS_1