
Dicko melangkah lesu memasuki kamar hotel tempatnya menginap selama beberapa hari di kota ini. Di ikuti oleh Bimo yang menggeret kopernya.
"Kopernya saya taruh disini ..." ucap Bimo sambil meletakkan koper Dicko di samping ranjang.
Dicko membuka kancing teratas kemejanya seraya mendaratkan pantatnya di ranjang.
"Kalau Pak Dicko perlu sesuatu, Pak Dicko tinggal menghubungi saya." Ucap Bimo.
"Insyaallah, saya siap melayani kapan saja." Sambung Bimo cepat.
"Iya. Baiklah. Trima kasih ya?"
"Kalau begitu, saya pamit pulang dulu Pak. Permisi ..." Bimo bergegas keluar dari kamar itu.
Dicko menghempaskan tubuhnya di kasur empuk itu. Seraya menghembuskan napasnya panjang. Pikirannya kini kembali menerawang. Memikirkan sosok wanita berambut sebahu yang begitu mirip dengan Aruna itu.
Padahal, Dicko tengah berusaha melupakannya meski rasanya sulit. Akan tetapi, saat melihat wanita itu, membuat rasa rindunya kembali menggelora. Rasa rindu itu justru kian bertambah.
Entah Aruna dimana saat ini. Tidak seorang pun yang memberitahunya dimana Aruna berada. Ingin sekali Dicko menanyakan hal itu pada keluarga Aruna. Tapi, rasa tak enak hati dan malu menghalangi keinginannya. Sehingga sampai detik ini, Dicko tidak pernah berani bertanya.
Kandasnya rumah tangga Aruna dan Bram membuat keadaan berbeda. Mendadak semuanya terasa asing. Tidak terkecuali hubungannya dengan Bram. Seperti ada jarak yang tak terlihat. Meski terlihat baik - baik saja, tetapi sejatinya hubungan itu telah lama mulai berubah.
.
.
Sementara itu, di lain tempat, dan di lain kota.
Bram tengah duduk seorang diri di sebuah kafe. Di depannya kini tersaji segelas jus dan menu pesanannya. Tetapi, sejak di pesan sampai detik ini, makanan itu tidak tersentuh sama sekali. Entah Bram memesannya untuk dinikmati mulutnya atau sekedar untuk dinikmati matanya. Sebab sejak tadi, pandangannya tertuju pada makanan itu.
Makanan yang tersaji di depannya itu adalah makanan favorit Aruna. Mungkin karena itu, Bram enggan menyentuhnya. Atau mungkin saja mendadak dia sedang tak berselera makan. Lalu untuk apa Bram memesannya, jika dia sedang tak berselera saat ini.
Di tengah lamunannya yang kian melambung jauh, tiba - tiba seseorang mengambil duduk di depannya. Bram pun terusik, dan mengangkat pandangannya kemudian.
Seorang wanita berparas ayu yang duduk di depannya itu mengulum senyum manisnya saat tatapan mereka bertemu.
"Hai ... Maaf ya, hanya meja ini yang kosong." Ucap wanita itu.
Bram menatap wanita itu dingin. Kemudian menyapukan pandangannya ke seisi kafe itu. Memang benar, semua meja kafe itu terisi. Dan hanya Bram yang terlihat duduk seorang diri.
Kembali Bram menurunkan pandangannya. Mamandangi makanan di depannya. Wanita itu pun mengernyit heran melihat Bram. Sejak tadi dia hanya memandangi makanan itu. Tanpa menyentuhnya sama sekali.
Nih orang stress apa gimana ya? Kok makanannya dari tadi di pelototin terus? Batin wanita itu.
"Kenalkan, aku Clara. Clara Cecilia." Sambil mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.
Namun Bram, hanya melirik uluran tangan wanita yang bernama Clara itu. Clara pun menarik kembali uluran tangannya sebab Bram tidak menggubrisnya sama sekali.
"Kamu Bram kan? Temannya Sheila?" Clara memastikan.
Bram masih tidak menggubrisnya.
"Kok, makanannya malah dipelototin terus. Apa makanannya kurang enak? Setau aku, makanan disini itu enak - enak. Soalnya ini kafe langganan aku."
Bram masih dalam mode yang sama. Dingin dan cuek.
"Kalau tidak suka, kenapa tidak coba menu yang lain saja? Sayang loh kalau tidak dimakan. Apa itu makanan favorit seseorang yang kamu benci misalnya, sampe kamu tidak berselera gitu. Trus, kenapa dipesan?" Clara cerewet juga.
Kini, Bram mengangkat wajahnya. Dan menatap tajam Clara kemudian. Clara pun tersenyum kikuk. Bram menatapnya tajam seakan ingin menelannya bulat - bulat.
"Ups, maaf. Aku salah ya ..." sambil meringis.
Merasa tak tahan, Bram pun bangkit. Lalu bergegas pergi meninggalkan Clara yang menatanya heran.
"Kok aneh ya pria itu? Jangan - jangan benar dia stress. Bikin penasaran aja." gumam Clara.
Dua tahun telah berlalu, namun Bram seakan sulit menemukan kembali semangat hidupnya. Entah kenapa. Semoga saja, ada seseorang yang bisa mengembalikan semangat hidupnya. Dan berhasil membuatnya move on dari masa lalunya.
.
.
__ADS_1
Sementara di lain tempat. Setelah menutup toko lebih awal, kini Oma Windi dan Aruna tengah berbelanja bahan makanan di supermarket di dalam Mall itu. Aruna sedang mendorong troli, sedangkan Oma Windi sedang memilih sayuran.
"Kok belanjaannya hari ini banyak Oma?" Aruna mengernyit heran melihat belanjaan Oma Windi yang bertambah dua kali lipat dari biasanya.
"Besok kan ulang tahun kamu. Rencananya Oma ingin memasak lebih." Sembari berjalan menyusuri rak yang tersimpan aneka bahan kue.
"Kan hanya kita bertiga. Kenapa harus masak banyak? Nanti mubazir loh Oma."
"Oma mengundang satu orang lagi."
"Siapa Oma?"
"Kenalan Oma."
"Ooh ..." kini mereka telah berpindah ke tempat buah - buahan.
Oma Windi tersenyum sambil memilih buah apa yang akan di belinya. Oma Windi hanya ingin memberi Aruna sebuah hadiah kecil dengan menghadirkan seorang teman baginya. Sejak pertama kali bertemu, entah kenapa Oma Windi begitu ingin mempertemukan pria yang baru dikenalnya itu dengan Aruna. Seakan dia merasa mereka berdua akan cocok jika berteman. Lagipula, sampai detik ini Aruna tidak berani membuka dirinya untuk pria manapun. Sejak berpisah dari Bram. Bukan karena Aruna belum bisa move on. Melainkan karena status yang kini di sandangnya. Yaitu janda. Membuatnya malu dan enggan kembali membuka hati.
.
.
Keesokan harinya.
Setelah mengadakan rapat dadakan dengan pegawainya, Dicko pun memilih untuk kembali ke hotel.
Saat pergi bahkan kembali dari Mall itu, Dicko tidak melihat lagi keberadaan wanita yang mirip dengan Aruna itu. Sebab hari ini toko mereka tutup. Hari ini mereka tidak melayani pelanggan. Sehingga keinginan Dicko ingin melihat wanita itu harus urung. Padahal rencananya, Dicko akan kembali ke kota JA esok pagi.
Dicko tengah melihat - lihat pemandangan melalui jendela kamar hotelnya. Sembari mengingat - ingat kembali kenangan masa lalunya. Entah kenapa, mendadak hatinya begitu berat meninggalkan kota ini. Tiket penerbangannya esok hari pun bahkan telah dipesan. Kenangan Aruna yang ingin dilupakannya, tiba - tiba kembali membayangi benaknya.
Dicko pun tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Dua tahun terpisah dari Aruna, bukannya membuatnya semakin mudah melupakan wanita itu. Justru membuatnya semakin sulit melupakannya. Terlebih saat tanpa sengaja dia melihat sosok yang begitu mirip dengan Aruna. Membuat kenangan Aruna kian sulit dilupakan.
Ditengah lamunannya yang kian melambung jauh, tiba - tiba ponselnya berdering. Dicko berjalan ke sisi ranjang dan meraih ponselnya di nakas. Lalu mendudukkan dirinya di tepi ranjang itu. Sembari menerima panggilan telepon dari Papa Danu.
"Nanti saja aku cerita Pa. Besok mungkin aku akan pulang ... Salam buat Bram." Kemudian memutus sambungan telepon dari Papa Danu yang menanyakan perihal laporan penjualan mereka di kota itu.
Di nakas itu, sebuah kartu nama tergeletak. Dicko mengulurkan tangannya mengambil kartu nama itu. Kartu nama yang diberikan seorang wanita tua di Mall kemarin.
Lalu tiba - tiba saja, Dicko seakan teringat sesuatu. Sedetik kemudian tampak Dicko meraih kembali ponselnya diletakkannya kembali di nakas itu. Lalu mulai mencari nomor yang ingin dihubunginya dalam daftar panggilan masuk.
Malam harinya, saat dalam perjalanan, Bimo memperhatikan Dicko yang sejak tadi terlihat sedang melamun.
"Pak Dicko ... apa kita langsung ke alamat rumah itu?" tanya Bimo membuyarkan lamunan Dicko.
"Eum ... kita mampir ke satu tempat dulu."
"Ke mana Pak?"
"Kira - kira, dimana tempat yang menjual sesuatu yang bisa saya berikan sebagai hadiah ulang tahun?"
"Yang ulang tahun laki - laki atau perempuan Pak?"
"Perempuan."
"Ooh ... kalau itu saya tau Pak. Baiklah, kita ke tempat itu skarang." Sembari tersenyum.
.
.
Malam yang sama. Di rumah Oma Windi.
Oma Windi dan Cika tampak sibuk menata meja makan. Sementara Aruna tengah melakukan panggilan video call dengan keluarganya yang memberinya ucapan selamat ulang tahun. Di depannya, ada kue tart yang baru saja diantar oleh kurir. Karena Oma Windi memesannya secara online. Di toko kue langganannya.
"Makasih ya Tante, Om, kak Teddy, Alika." Ucap Arun penuh haru di depan layar ponselnya.
"Baik - baik kamu disana ya Run. Jangan bikin Oma pusing." Seru Tante Novi dari seberang.
Aruna tertawa kecil mendengarnya.
"Kuliah yang rajin ya Alika. Sebentar lagi kan kamu wisuda. Akan Kakak usahakan hadir di wisuda kamu."
__ADS_1
"Janji ya Kak?"
"Iya, Kakak janji."
Disaat Aruna tengah asik dengan obrolannya lewat layar ponsel, di depan terdengar suara bel pintu.
"Cika ... Di depan ada tamu tuh." Seru Aruna pada pembantu rumah tangga yang usianya tidak beda jauh dari Aruna. Cika sudah mereka anggap seperti saudara sendiri.
"Iya, tunggu sebentar Kak Run." Balas Cika dari arah dapur.
Cika masih sibuk menyiapkan menu tambahan. Saat Oma Windi tiba - tiba menepuk lembut pundaknya.
"Selesaikan saja pekerjaan kamu. Biar Oma yang bukain pintu."
"Iya deh. Makasih ya Oma."
Oma Windi pun bergegas ke depan. Namun sejenak langkahnya terhenti, sebab Aruna mencegahnya.
"Loh, kenapa malah Oma yang mau bukain pintu? Biar aku saja Oma." Tawar Aruna seraya mulai bangkit dari duduknya.
"Tidak apa - apa. Lanjutkan saja obrolan kamu itu. Lagian ini tamunya Oma. Ya sudah, Oma ke depan dulu ya?"
Aruna kembali duduk. Dan Oma Windi bergegas ke depan hendak membukakan pintu untuk tamunya.
Saat pintu terbuka, tampak seorang pria tampan tengah berdiri di depan pintu sambil menenteng paper bag mini.
Dicko.
Dia tersenyum saat melihat Oma Windi. Oma Windi pun balas tersenyum.
"Maaf, jika kedatangan saya mengganggu." Ucap Dicko.
"Tidak sama sekali. Oma justru sangat senang kamu datang. Oh ya, Nak ..."
"Dicko."
"Nak Dicko. Mari, silahkan masuk. Kebetulan, kami tinggal menunggu kedatangan kamu." Sembari berjalan masuk. Kemudian matanya menangkap paper bag di tangan Dicko.
"Oma sampai lupa kasih tau kamu, tidak perlu repot - repot bawa hadiah. Dengan kedatangan kamu saja, itu sudah merupakan hadiah untuk cucu Oma. Setidaknya, dia punya teman baru."
"Tidak apa - apa Oma." Sembari tersenyum.
Sampai di ruang tengah, pandangan matanya melihat seseorang yang pernah dilihatnya sebelumnya. Wanita berambut sebahu. Karena yang lebih dulu tampak di depan mata Dicko, adalah punggung Aruna.
"Itu cucu Oma." Kata Oma Windi sambil menunjuk Aruna yang tengah sibuk dengan ponselnya. Sebab video call Aruna dengan keluarganya telah usai.
Dicko memperhatikan punggung wanita berambut sebahu itu.
"Tamu Oma sudah datang. Ayo ke sini Nak, kenalan dulu ..." seru Oma Windi pada Aruna.
Dari arah dapur, datang Cika yang begitu mendengar tamu Oma sudah datang, dia sangat ingin melihat siapa tamu itu. Dan seketika, Cika tercengang. Membuat Aruna keheranan.
"Kamu kenapa sih?" tanya Aruna setengah berbisik.
"Itu ... itu ... di belakang kamu." Cika tergagap saking terpesonanya melihat tamu mereka malam itu.
"Ada apa?" masih dengan mode setengah berbisik.
"Nak ...kenalan dulu dong dengan tamu Oma." Seru Oma Windi lagi memanggil Aruna.
Tak tahan lagi, Cika pun memutar paksa tubuh Aruna, "liat dulu di belakang kamu."
Saat tubuhnya memutar dan menengok ke belakang, detik itu juga, Aruna langsung berdiri dari duduknya.
.......
.......
.......
...-Bersambung-...
__ADS_1
Duuuh 🤧 Maafkan atas jadwal update yang tidak menentu. Jujur, sikecil lagi demam. Jadi otor sesempatnya aja nulis. Moga tetap bisa menghibur ya 🤗
Saranghae ❤️❤️❤️