Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 85 TER-USIR


__ADS_3

Dua hari sudah Daniel menemani Zidane dan Aruna di acara outbond sekolah. Dua hari itu adalah waktu yang sangat berharga bagi Daniel. Apalagi saat ia berhasil membuat Zidane memenagkan games dan mendapatkan hadiah sepeda yang Zidane inginkan. Dan yang paling membuat Daniel berkesan adalah saat mereka bertiga mendapatkan tropi sebagai keluarga paling kompak. Ya, tentu saja itu di luar dugaan Daniel dan juga Aruna. Mengingat mereka bukanlah pasangan suami istri. Namun Daniel merasa sangat bahagia sekali dengan semua momen itu. Sebuah pengalaman pertama dan sangat berharga bagi Daniel. Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah Aruna.


"Terima kasih Tuan untuk waktu yang sudah anda berikan. Maaf untuk semua sikap ku."


"Untuk apa minta maaf. Bukankah kamu memang sangat judes," sindir Daniel.


"Karena anda selalu mencari kesempatan. Ingat ya Tuan, aku bukan seperti wanita-wanita itu."


"Iya-iya aku tahu. Aku saja sudah taubat. Masa kamu tidak percaya?"


"Anda taubat atau tidak, juga bukan urusan ku."


"Mulai lagi judesnya."


"Ah sudahlah pokoknya aku mau mengucapkan terima kasih. Dua hari ini Zidane terlihat bahagia sekali. Apalagi dia bisa memenangkan games dan mendapatkan sepeda itu."


"Iya, aku senang membantunya. Tapi yang aneh, kenapa kita bisa dapat tropi kekompakan keluarga ya?"


"Mmmm mana aku tahu, Tuan." Jawab Aruna sambil mengangkat kedua bahunya.


"Apa itu kode ya?"


"Kode apa?" tanya Aruna melotot.


"Eeee, tidak-tidak. Lupakan." Ucap Daniel.


Akhirnya setelah satu jam perjalanan, mereka sampai juga di rumah.


"Biar aku yang bawa Zidane masuk. Dia sepertinya sudah terlelap dan sangat lelah."


"Terima kasih, Tuan. Aku akan menurunkan koper di bagasi."


"Iya." Merekea berdua kemudian turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah. Begitu masuk, Aruna di


kejutkan dengan empat koper besar di ruang tamu. Dan koper itu tidak asing baginya.


"Ini kan koperku? Kenapa ada disini?" gumamnya sambil melihat Daniel. Daniel hanya mengangkat bahunya pertanda tidak mengerti juga. Aruna kemudian berjalan menuju ruang tengah. Ia mendapati Shella dan Arya menonton televisi dengan posisi Shella duduk dipangkuan Arya.


"Mas Arya, kenapa koperku di luar?" tanya Aruna tanpa basa-basi.


"Eh, kamu sudah pulang, Aruna. Aku pikir kamu tidak akan pulang dan akan pulang ke rumah bos kamu itu." Kata


Shella sembari turun dari pangkuan Arya.


"Syukurlah Aruna, kamu sudah pulang. Mmmm koper kamu...." Arya tidak bisa menjawab pertanyaan Aruna.

__ADS_1


"Aruna, rumah ini sudah atas nama ku dan sah menjadi milikku." Kata Shella dengan tatapan rasa benci.


"Apa? Bagaimana bisa?"


"Rumah ini kan yang beli Mas Arya, jadi wajarlah kalau akhirnya diberikan sama aku. Ya, kamu tahu juga dong kenapa koper kamu ada disana?"


"Kalian ini keterlaluan sekali ya. Aku sudah memberikan suamiku suka rela, memberikan mobil dan sekarang rumah juga kalian ambil. Mas, dimana perasaan kamu." Ucap Aruna sambil mendorong dada Arya dengan jari telunjuknya. Ya, lagi-lagi Daniel melihat pertegkaran itu. Daniel merasa sakit hati melihat Aruna selalu ditindas.


"Aku tunggu di luar." Bisik Daniel pada Aruna. Aruna hanya mengangguk.


"Maafkan aku, Aruna. Tapi kami butuh tempat tinggal. Kamu tahu orang tuaku tidak menerima kehadiran Shella. Shella yatim piatu, dia sedang hamil dan butuh tempat tidur yang layak. Shella selalu mengancam bunuh diri dan frustasi dengan keadaan ini. Setelah aku mendapat pekerjaan dan keuangan pulih, aku akan memberimu uang untuk ganti rugi rumah ini, Aruna. Tapi aku mohon berikan aku waktu."


"Lalu bagaimana nasib ku dengan Zidane? Zidane juga darah daging kamu, Mas."


"Aruna, untuk sementara waktu, kamu bisa tinggal di rumah orang tua kamu. Aku janji akan membayar rumah ini dan kamu bisa memberi rumah kamu untuk Zidane."


"Aku muak dengan semua janji kamu, Mas. Lalu, diamana Bi Tuti dan Mbak Lasmi?" tanya Aruna dengan pandangan mengedar.


"Aku meminta mereka untuk pulang kampung. Tenang saja aku memberi mereka ongkos pulang karena aku belum bisa membayar pembantu."


"Keterlaluan kalian berdua!" Aruna dengan matanya yang sudah basah, akhirnya keluar dari rumah itu. Aruna membawa semua kopernya keluar dan ia melihat Daniel berdiri di pintu mobilnya. Sedangkan Zidane masih terlelap


di dalam mobil. Tangis Aruna pecah di hadapan Daniel. Hati Daniel juga terasa sakit melihat Aruna. Daniel kemudian memeluk Aruna. Aruna melepas semua tangisnya dalam pelukan Daniel.


"Menangislah." Lirih Daniel. Daniel memeluk erat, mengusap punggung dan kepala Aruna. Aruna kemudian melingkarkan tangannya, membalas pelukan Daniel. Daniel terkejut, Aruna membalas pelukannya.


Tiga puluh menit kemudian, akhirnya sampai juga dirumah Daniel.


"Biarkan kopermu di bagasi. Sebaiknya aku antar kamu dan Zidane ke kamar." Kata Daniel pada Aruna. Aruna hanya mengangguk pelan. Mataya tampak sembab. Aruna mengikuti langlah kaki Daniel menuju lantai dua. Rumah yang besar dan luas namun tampak sepi. Mata Aruna menangkap sebuah foto di dinding. Foro seorang wanita cantik sedang menggendong anak laki-laki. Aruna tersenyum kecil kearah foto itu. Sudah jelass itu foto Daniel bersama Mamanya.


Setelah membaringkan Zidane diatas tempat tidur, Daniel kembali ke luar menurunkan semua koper milik Aruna lalu membawanya ke kamar.


"Tuan, terima kasih."


"Sudahlah, sebaiknya kamu istirahat saja. Kamu pasti sangat lelah."


"Aku malu, Tuan." Aruna menunduk sedih.


"Malu kenapa?"


"Seharusnya ini masalah keluargaku tapi justru Tuan tahu semuanya. Aku malu karena gagal mempertahankan rumah tanggaku."


"Untuk apa kamu malu, Aruna. Suamimu memang brengsek. Ya, walaupun aku brengsek juga sih." Ucapnya dengan santai.


"Aku juga lelah dan mau tidur. Kamu juga istriahat karena pekerjaan pasti sudah menumpuk."

__ADS_1


"Iya Tuan. Sekali lagi terima kasih."


"Iya, santai saja." Daniel kemudian berlalu meninggalkan kamar tamu.


Keesokan harinya, Aruna bangun pagi sekali. Karena menumpang, ia tentu tahu diri untuk membantu membersihkan rumah dan menyiapkan sarapan.


"Katanya mau ke kantor tapi Tuan Daniel belum bangun juga." Gumam Keira sembari menata semua masakan diatas meja. Setelah semuanya siap, Aruna kembali ke kamar untuk membangunkan Zidane. Zidane sudah terbangun namun ia masih duduk diatas tempat tidur.


"Sayang, kamu belum mandi?"


"Mi, kita di mana?" tanya Zidane. Aruna mendekat lalu duduk ditepi ranjang.


"Sayang, untuk sementara kita menumpang di rumah Om Daniel."


"Memang ada apa Mi dengan rumah kita?"


"Maafkan Mami ya karena Mami tidak bisa mempertahankan rumah itu untuk kamu." Suara Aruna mulai tercekat di kerongkongan. Jika mengingat kejadian semalam, sangatlah menyakitkan.


"Maksudnya bagaimana Mi?"


"Papa mengambil alih rumah itu untuk Tante Shella."


"Apa? Bukannya itu milik Mami dan dari Papi?"


"Iya itu dulu tapi sekarang tidak sayang."


"Lalu kita mau tinggal dimana, Mi?"


"Kita akan tinggal bersama Opa dan Oma."


"Tapi rumah Oma dan Opa jauh dari sekolah dan tempat kerja Mami."


"Sudah ya, kita bahas itu nanti. Sekarang kamu mandi dan sarapan. Mami akan membangunkan Om Danile dulu."


"Mi, jangan menangis. Papi dan Tante itu jahat sekali. Bibi sama Mbak Lasmi bagaimana?" Zidane menyeka air mata yang membasahi wajah sang bunda.


"Mereka juga memecat Bibi dan Mbak Lasmi."


"Mami, aku akan rajin belajar dan jadi orang sukses. Aku akan membelikan Mami rumah dan memberikan kebahagiaan untuk Mami." Zidane kemudian memeluk Aruna.


"Terima kasih sayang. Maafkan Mami, ya. Tidak seharusnya kamu melewati semua itu. Maafkan Mami."


"Mami tidak salah. Mereka yang jahat. Mami harus bahagia ya. Kita jangan terlihat lemah di hadapan mereka yang jahat."


"Iya sayang. Kamu memang yang terbaik."

__ADS_1


Hai-hai Aruna is back, terima kasih ya yang masih setia buat nungguin....


__ADS_2