
Setelah menyelesaikan makan siangnya, Daniel segera meluncur ke rumah Papanya. Sesampainya di rumah Tuan Hutama, Daniel berteriak dengan kesal memanggil nama Papanya.
“Tuan Hutama, dimana dirimu?” teriakan Daniel itu memenuhi seluruh ruangan. Gino yang mendengar teriakan Daniel, segera keluar dari kamar Tuan Hutama.
“Selamat siang Tuan muda. Tuan Hutama sedang istirahat di kamar.”
“Ahh, dasar si tua itu selalu membuat masalah!” ketus Daniel seraya berlalu menuju kamar Papanya. Gino hanya bisa menghela nafas, melihat kelakuan Ayah dan anak yang jarang sekali akur. Bahkan ia sendri sering dibuat pusing oleh keduanya.
“Pah, bangun! Katanya ingin mengobrol.” Kata Daniel sambil mengguncang tubuh Tuan Hutama yang sedang tertidur. Tuan Hutama meringkuk memunggungi Daniel.
“Daniel, Papa ini sedang istirahat.” Jawab Tuan Hutama dengan suara malas.
“Pah, aku tidak bisa menunggu lagi. Ayo bangun, Pah.”
“Kamu ini jangan kurang ajar ya sama orang tua. Nanti malam saja kamu ke rumah.”
“Katanya kita mau membicarkan tentang Aruna. Apa yang ingin Papa katakan?”
“Rasanya tidak tepat kalau kita bicara sekarang. Apalagi Aruna juga baru resmi bercerai.”
“Papa tahu itu?”
“Tentu saja. Sudah, jangan ganggu Papa ya. Papa mau istirahat supaya cepat sehat dan bugar kembali. Yang jelas Papa sangat bahagia.” Kata Tuan Hutama yang sedari tadi menjawab ucapan Daniel dengan tetap memejamkan matanya. Daniel yang merasa kesal, meninggalkan rumah Tuan Hutama begitu saja. Ia lalu melajukan mobilnya menuju makam Nyonya Diana, Mamanya. Tak lupa Daniel membawa bunga untuk menyekar Mamanya.
Sesampainya di pemakaman, Daniel menengadahkan kedua tangannya memanjatkan doa untuk almarhumah Mamanya. Setelah itu Daniel menaburkan bunga diatas pusara Mamanya.
“Mah, aku tidak rela kalau Papa menikah lagi. Apalagi dengan wanita yang lebih pantas menjadi anaknya. Bagiku Mama tidak akan tergantikan. Dan aku tidak habis pikir kenapa Papa punya pikiran seperti itu. Aku janji Mah, akan segera menyadarkan Papa. Sudah tua banyak tingkah. Mama tenang ya disana, Daniel akan mengurus kebodohan Papa.”
Hari semakin sore dan senja pun mulai menyapa. Daniel lalu pergi kesebuah klub untuk menghilangkan rasa stresnya. Para gadis menyapanya dengan ramah. Keempat gadis itu, menggandeng tangan Daniel lalu mengajaknya duduk disofa. Para gadis itu bergantian menuangkan bir ke dalam gelas Daniel. Sejak Aruna bekerja dengannya, Daniel pun absen untuk pergi ke bar. Karena Aruna benar-benar membuatnya bekerja sampai tidak punya waktu. Suara musik DJ, membuat Daniel manggut-manggut sambil meminum bir yang dituangkan oleh para gadis penghibur itu. Dalam sekejap, tiga botol bir habis oleh Daniel. Ia lalu mengajak para gadis menuju lantai dansa. Musik DJ membuat Daniel begitu semangat untuk meggoyangkan tubuhnya.
__ADS_1
“Huuuhh, ayo kita berdansa sampai pagi!” seru Daniel dengan penuh semangat.
Aruna yang sedang menidurkan Zidane, tiba-tiba mendapat telepon dari Fero. Aruna pun segera mengangkatnya.
“Halo Aruna, selamat malam.”
“Iya Fer, malam juga. Ada apa?”
“Aruna, kamu bisa menjemput Daniel di klub.”
“Di klub? Sedang apa Tuan Daniel disana?”
“Biasalah, kalau suasana hatinya sedang buruk dia pasti kesana. Tadi aku meneleponnya dan dia sudah mabuk. Aku tidak bisa menjemputnya karena Tuan Hutama menyuruhku untuk mengecek pembangunan resort di Sumba. Dan ini sangat mendadak. Sekarang kamu kan sekretarisnya jadi tolong ya kamu urus Daniel.”
Aruna mendengus kesal. “Baiklah. Kamu whatsapp saja alamatnya ya.”
“Iya, akan aku kirimkan. Sekali lagi terima kasih ya, Aruna. Maaf kalau aku merepotkanmu. Aku sangat khawatir dengannya. Jangan sampai Tuan Hutama tahu ya.”
“Oke, terima kasih ya.”
“Sama-sama Fero.” Panggilan berakhir. Aruna melihat Zidane sudah terlelap. Aruna lalu mengganti pakaiannya. Tak lupa ia berpamitan pada Bi Tuti dan Mbak Lasmi. Aruna lalu pergi dengan naik taksi.
“Kalau bukan atasanku, aku malas sekali memanggilnya Tuan. Merepotkan saja! Kalau memang sedih ya pergilah ke masji, sholat, ngaji, bukannya malah ke klub. Pasti dia bersama wanita penghibur. Bos macam apa dia itu.” Aruna mendumel sepanjang perjalanan menuju klub.
Setelah setengah jam perjalanan, akhirnya Aruna sampai juga disana. Suasana didalam sangat penuh dan sangat ramai. Belum lagi musik DJ yang memenuhi setiap sudut ruangan. Aruna membuka matanya lebar-lebar, berusaha menemukan Daniel ditengah padatnya pengunjung bar. Aruna akhirnya menemukan sosok yang ia cari. Daniel tergeletak di sofa, dengan meja penuh botol kosong bekas bir. Para gadis pun sudah meninggalkannya setelah mereka mendapat uang dari Daniel. Apalagi Daniel sudah mabuk seperti itu.
“Tuan, bangun!” Aruna mengguncang tubuh Daniel dengan bau alkohol yang sangat mencolok. Namun Daniel tidak bereaksi. Aruna lalu membangunkan tubuh Daniel yang terkapar diatas sofa itu. Ia lalu memapah Daniel dan mengajaknya keluar dari klub itu. Perlu usaha keras untuk membawa Daniel keluar. Kondisinya yang mabuk parah tentu saja membuat tubuh Daniel terasa semakin berat dan membuat Aruna kuwalahan. Aruna merogoh saku jas Daniel untuk mencari kunci mobil. Setelah menemukan posisi mobil, Aruna lalu memasukkan Daniel ke dalam mobil. Tak lupa Aruna juga memakaian sabuk pengaman untuk Daniel.
“Berat banget sih. Kebanyakan dosa kali,” gumam Aruna. Aruna lalu masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobilnya.
__ADS_1
Tiga puluh menit kemudian, akhirnya Aruna sampai juga dirumah mewah milik Daniel. Rumah itu tampak sepi. Aruna lalu mengeluarkan Daniel dan memapahnya untuk masuk ke dalam rumah. Namun begitu sampai di pintu rumah, Aruna bingung karena tidak tahu password pintu rumah Daniel.
“Tuan, password pintumu apa?” tanya Aruna sambil menahan berat tubuh Daniel.
“Hah, apa? Aku dimana?” tanya Daniel yang berusaha membuka matanya. Suaranya pun terdengar sudah mengacau.
“Anda dirumah, Tuan.”
“Hah, Aruna? Ini sungguh kamu?”
“Iya Tuan. Cepat berapa passwordnya. Aku sudah tidak sanggup memapah Tuan.” Ucap Aruna terengah.
“Oh tekan saja angka 455445.” Akhirnya Aruna bisa membuka pintu itu.
“Dimana kamarmu Tuan?”
“Diatas.” Jawab Daniel sambil menunjuk kearah lantai atas. Aruna dibuat terkejut dengan rumah Daniel yang sangat berantakan. Dari luar terlihat sempurna namun rumahnya seperti kapal pecah. Aruna semakin terkejut melihat kamar Daniel yang sangat jauh dari kata rapi. Semua pakaian berserakan disembarang tempat. Bahkan bungkus snack berceceran di lantai. Handuknya saja tergeletak asal disambarang tempat. Bahkan sprei tempatnya tidur juga sangat berantakan. Sebelum merebahkan Daniel diatas tempat tidur, Aruna merebahkan Daniel diatas sofa. Aruna lalu mengganti sprei Daniel dengan yang baru. Setelah tempat tidur itu rapi dan layak huni, Aruna kembali memapah tubuh Daniel dam memindahkannya diatas tempat tidur.
“Astaga, dia benar-benar jorok. Rumah sebesar ini kenapa tidak ada pembantu? Aku yakin wanita itu akan ilfill pada dia sata melihat kondisi rumahnya seperti ini. Aku tidak bisa membiarkan sesuatu yang kotor dan berantakan dihadapanku. Aku harus merapikan dan membersihkannya sebelum aku pergi.” Dan malam itu Aruna benar-benar bekerja keras untuk membuat rumah Daniel bersih dan rapi. Setelah rumah Daniel bersih, rapi dan juga wangi, Aruna lalu kembali ke kamar Daniel.
Aruna lalu mengguncang tubuh Daniel. “Tuan, aku permisi pulang ya. Selamat istirahat.” Ucap Aruna. Namun tiba-tiba saja Daniel menarik tangan Aruna sampai tubuh Aruna terjatuh dalam pelukan Daniel.
“Sayang, jangan pulang. Temani aku ya.” Daniel meracau dengan matanya yang tetap tertutup.
“Gila ya ini orang.” Gerutu Aruna dalam hati. Pelukan itu semakin kuat, saat Aruna berusaha melepaskannya. Tiba saja tangan kanan Daniel meraih tengkuk Aruna. Daniel yang terpengaruh alkohol, tiba-tiba melahap bibir Aruna. Aruna terkesiap, matanya membulat dengan apa yang dilakukan Daniel padanya. Aruna lalu mencubit keras dada Daniel, sampai Daniel merintih sakit dan melepaskan pagutan serta pelukan eratnya itu. Aruna mengusap kasar birbinya. Ia lalu memukul kepala Daniel dengan tempat tisu yang berada di nakas samping ranjang. THOK! Bunyi kotak tisu yang melayang di kepala Daniel.
“ADUH, SAKIT!” rintih Daniel sambil memegangi kepalanya namun matanya masih tetap terpejam.
“Dasar ya, kurang ajar! Kesempatan sekali.” Marah Aruna. Aruna lalu mengambil sebuah lakban. Ia lalu menutup mulut Daniel dengan lakban. Bukan hanya itu, Aruna juga mengikat tangan dan kaki Daniel dengan lakban.
“Dasar manusia mesum! Awas saja besok kalau sadar, aku akan menuntutnya sebagai pelecehan.” Aruna dengan kesal dan penuh amarah meninggalkan rumah Daniel. Dan ia membiarkan Daniel begitu saja.
__ADS_1
Bersambung.... Yukk, like, komen dan votenya ya yang banyak, terima kasih 🙏❤️