Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 63 Bekerja Keras


__ADS_3

Hari itu Aruna benar-benar sibuk, sampai tidak terasa jam menunjukkan pukul 8 malam. Ponselnya berdering ada panggilan masuk dari nomor rumah.


''Halo Mami, kenapa belum pulang?'' sapa Zidane diseberang sana.


''Sayang, maafkan Mami ya. Mami hari ini sibuk sampai lupa belum memberimu kabar. Mami lembur sayang tapi setelah ini pulang kok. Kamu sudah makan malam?''


''Sudah Mami. Mami cepat pulang ya.''


''Iya habis ini Mami pulang, sekali lagi maafkan Mami ya.''


''Ya sudah, Mami hati-hati ya.''


''Iya sayang.'' Panggilan berakhir. Aruna merasa sangat bersalah karena tidak memberitahu Zidane. Ia semakin merasa bersalah karena waktunya bersama Zidane semakin sempit. Aruna lalu merapikan kembali mejanya dan tak lupa mematikan layar komputernya. Saat ia keluar, ia melihat Daniel masih sangat sibuk. Bahkan sejak tadi, Daniel tidak beranjak dari tempat duduknya. Aruna mengetuk pintu kaca ruangan Daniel.


''Tuan, aku pulang dulu.'' Pamit Aruna.


''Ah iya, Aruna. Hati-hati dijalan.''


''Tuan mau lembur?''


''Sepertinya iya. Aku harus mengecek semua kebenaran dan mencari bukti yang akurat untuk menyeret mereka ke penjara. Karena mereka sudah merugikan perusahaan. Kamu pulang saja, Aruna.''


''Baiklah, kalau begitu permisi. Dan terima kasih untuk fasilitas mobil kantornya, Tuan.''


''Sama-sama Aruna.'' Singkat Daniel. Aruna lalu meninggalkan ruangan Kevin. Namun melihat Daniel yang tampak sibuk, Aruna mengurungkan niatnya untuk pulang. Aruna kemudian menuju pantry, membuatkan kopi untuk Daniel sebelum ia pulang.


Setelah kopi siap, Aruna kembali ke ruangan Daniel. Daniel terkejut ternyata Aruna belum juga pulang.


''Kenapa kamu masih disini Aruna?''


''Ini kopi untuk, Tuan. Sekarang aku pulang, Tuan.''


Daniel tersenyum. ''Oke baiklah, kamu pengertian sekali. Terima kasih.''


''Sama-sama Tuan. Aku permisi.''


''Iya silahkan.''


Melihat dan mendengar apa yang terjadi di lapangan, setidaknya membuat Daniel sadar kalau sudah saatnya ia juga turun langsung untuk mengurus perusahaan. Kini ia lebih memiliki rasa tanggung jawab untuk dirinya dan perusahaan.


''Selamat malam Tuan Daniel!" suara Fero memecah konsentrasi Daniel.


''Elo Fer, ada apa?''


''Sibuk banget sih! Dalam sejarah, baru kali ini seorang Daniel betah berlama-lama di kantor.''


''Kalau kesini cuma buat ganggu, mending elo pergi deh.''


''Yaelah, sinis amat bos. Oh ya elo mau adain bazar serius nih?''

__ADS_1


''Iyalah. Emang Aruna belum cerita?''


''Udah sih. Ide elo cemerlang juga ya menyiasati semua itu.''


''Asal elo tahu, semua itu ide Aruna.''


''Serius lho? Ide brilian itu dari Aruna?''


''Iya, Fer. Justru tadinya gue mau hentiin produksi tapi Aruna kasih solusi lain.''


''Wah, keren banget Aruna. Terus apa yang mau elo lakukan sama dua manajer itu?''


''Nyari bukti yang akurat lah. Daripada elo nganggur, nggak ada kerjaan, mending bantuin gue cari tikus-tikus perusahaan yang suka bikin masalah.''


''Oke, siap Tuan Daniel. Dengan senang hati gue bantu.'' Kata Fero dengan semangat. Pandangan Fero lalu tertuju pada secangkir kopi di dekat Daniel.


''Wah, boleh dong icip kopinya biar mata gue melek.'' Celetuk Fero.


''Buat saja sendiri. Ini milik gue.''


''Wah, kalau udah kayak gini dan pelit berbagi, roman-romannya ini kopi spesial deh.'' Goda Fero.


''Fer, jangan banyak bicara. Sebaiknya kerja. Oke?''


''Widih mendadak serius banget nih. Oke-oke, gue kerja.'' Kata Fero. Namun bukan Fero kalau tidak jahil, ia melipir kedekat meja Daniel. Tangannya bergerak mendekati cangkir kopi itu namun Daniel dengan gerak cepatnya menangkap tangan Fero. Tatapan tajam ia tujukan pada Fero.


''Udah gue bilang, bikin sendiri! Masih aja ya.'' Kesal Daniel.


''Udah, kerja sana!" ketus Daniel.


''Wah, sangat mencurigakan si Daniel. Biasanya gue icip apapun dia tidak masalah.'' Gumam Fero dalam hati.


Malam itu, Daniel dan Fero kompak lembur sampai mereka bermalam di kantor. Mencari tikus-tikus di perusahaan, membuat otak dan tenaga mereka terkuras.


...****************...


Aruna sudah berada di kamar bersama Zidane. Aruna sedang membacakan cerita untuk Zidane.


''Mami, Zidane boleh bertanya sesuatu?''


''Tanya apa Zidane?''


''Apa mobil Mami di bawa papi? Soalnya tadi Papi jemput Zidane pakai mobil Mami.''


''Iya sayang. Mobil Papi dijual jadi Papi ambil mobil Mami.''


''Kenapa dijual? Terus Zidane dan Mami bagaimana?''


''Dijual karena Papi sedang butuh uang. Uang itu mau dipakai untuk membeli rumah baru. Apalagi sebentar lagi Tante Shella mau punya anak jadi mereka butuh rumah yang nyaman. Untuk masalah mobil, kamu tidak usah khawatir sayang. Karena Mami mendapat fasilitas mobil dari kantor. Itu mobilnya sudah ada digarasi.''

__ADS_1


''Oh begitu. Tapi kenapa selalu kita yang mengalah, Mi? Itukan milik Mami. Kenapa Papi tega sekali?''


''Sudah ya, kamu jangan pikirkan itu. Papi dan Mami sudah berpisah, sekarang kita hanya teman. Jadi Mami hanya ingin fokus dengan kamu dan juga kita.''


''Baiklah, Mi. Bagi Zidane, kebahagiaan Mami adalah segalanya.''


''Terima kasih ya sayang. Sekali lagi maafkan Mami ya.''


''Tidak ada yang perlu di maafkan Mami. Sebaiknya kita tidur, Mami pasti capek.''


''Oke. Jangan lupa berdoa dulu ya sebelum tidur.''


''Pasti Mami.'' Dan setelah membaca doa, Zidane dan Aruna terlelap dalam satu ranjang. Sejak Arya meninggalkan rumah, Aruna hampir tidak pernah tidur dikamarnya yang dulu.


Keesokan harinya, seperti biasa, Aruna menyiapkan semua keperluan Zidane sebelum ke sekolah.


''Mami, nanti jemput Zidane ya?''


''Iya, akan Mami usahakan. Tapi kalau Mami tidak bisa dengan Papi tidak apa-apakan?''


''Sebenarnya tidak apa-apa tapi Zidane malas karena Tante Shella selalu saja ikut. Padahal Zidane ingin berdua saja dengan Papi.''


''Tante Shella sedang hamil jadi kamu harus mengerti ya. Dia pasti butuh Papi.''


''Maafkan aku Mi karena tidak bisa bersikap baik padanya seperti Mami.''


Aruna hanya tersenyum sambil mengelus kepala putranya. Setelah selesai sarapan, Aruna lalu mengantar Zidane ke sekolah, kemudian Aruna memutar arah menuju kantor.


Sesampainya dikantor, Aruna lalu menuju ruangannya. Aruna lalu merapikan dan membersihkan ruangannya. Setelah dirasa rapi dan bersih, Aruna kemudian menunu ruangan Daniel. Betapa terkejutnya Aruna saat melihat ruangan Daniel sangat berantakan, bahkan ada beberapa kaleng bir juga diatas meja. Belum lagi Fero juga ada disana, keduanya tertidur sama-sama tertidur di sofa.


''Tuan Daniel, bangun!" Aruna menepuk bahu Daniel. Ia lalu beralih membangunkan Fero.


''Fero, bangun Fero. Ini sudah pagi.'' Ucap Aruna sambil mengguncang tubuh Fero yang terlentang di sofa satunya lagi. Mendengar seseorang yang membangunkannya, Fero pun terbangun. Ia mengucek matanya dan terkejut melihat.


''Ar-Aruna! Kamu disni?''


''Ini dikantor Fero, jelas aku disini.'' Kata Aruna. Pandangan Fero pun mengedar, ia baru sadar kalau ia berada diruangan Daniel.


''Astaga! Aku ketiduran disini.''


''Ketiduran apa mabuk?'' tanya Aruna sambil melempar pandangan pada beberapa kaleng bir yang tergeletak sembarangan di meja.


''Hehehe, habis kita lembur sampai pagi. Jadi ya tidak apalah sedikit minum untuk pelepas stres.'' Jawabnya sambil menggaruk kepalanya.


''Ya sudah sebaiknya kamu bereskan kaleng-kaleng ini. Bagaimana kalau Tuan Hutama hari ini sudah ke kantor?''


Fero menepuk keningnya. ''Astaga, iya juga ya. Aduh, aku bisa di pecat nih.'' Fero lalu buru-buru membereskan kaleng minuman itu dan segera pergi meninggalkan ruangan Daniel. Aruna hanya bisa menggeleng melihat kelakuan Fero. Aruna lalu membereskan berkas yang berserakan dan merapikannya. Aruna memilih membiarkan Daniel tidur, sembari ia merapikan ruangannya.


''Tuan Daniel pasti sudah bekerja keras semalaman. Pasti Tuan Hutama bangga dan dia tidak akan diremehkan lagi oleh orang-orang.'' Gumam Aruna dalam hati.

__ADS_1


Bersambung.... Yukk like, komen dan vote yang banyak ya, makasih 🙏🤗


__ADS_2