Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
CUA S2 Bab - 71 END


__ADS_3

Jodoh memang selalu jadi misteri. Tidak ada yang bisa menebak siapa kelak yang akan menjadi pendamping hidupnya.


Setelah terpisah dari Aruna, kini Bram telah menemukan seseorang yang akan mendampinginya. Mencintainya dalam suka maupun duka hingga maut memisahkan.


Setelah melalui proses yang teramat panjang. Akhirnya Bram dan Clara pun telah di persatukan dalam ikatan tali pernikahan. Yang berlangsung tak kalah meriahnya dari pernikahan Dicko dan Aruna.


Telah banyak kisah yang tercipta dari perjalanan cinta mereka. Mungkin memang, kisah cinta Bram dan Clara tidak seperti kisah yang dilaluinya saat bersama Aruna. Yang banyak diwarnai luka dan air mata. Tapi kisah mereka akan selalu terukir indah di hati keduanya. Semoga kalian bisa menjadi pasangan yang bisa saling melengkapi, saling mengisi di setiap kekurangan maupun kelebihan masing - masing.


Ucapan selamat berbahagia untuk Bram dan Clara.


.


.


Hari demi hari telah berlalu. Tak terasa kini kandungan Aruna telah memasuki usia delapan minggu. Dan Dicko menjadi suami siaga yang selalu siap memenuhi keinginan sang istri. Mereka pun akhirnya menggunakan jasa asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaan rumah.


"Nyonya ... Kotak ini mau di taruh di mana?" Tanya Yanti, asisten rumah tangga yang usianya tidak berbeda jauh dari sang majikan. Saat sedang bersih - bersih.


"Itu kotak apa?" Aruna malah balik bertanya. Dari tampilannya saja sebenarnya mereka sudah bisa menebak, kalau itu adalah kotak sepatu.


"Coba buka." Titah Aruna sembari bangun dari duduknya dan menghampiri Yanti.


Yanti pun membuka kotak itu. Tampak sepasang sepatu putih. Yanti mengeluarkan sepatu itu dari kotaknya dan menyerahkannya pada Aruna.


Aruna pun mengernyit mengamati sepatu itu. Sepatu yang sama dengan milik Bram. Sepatu dengan inisial A. Yang pernah di berikan Bram padanya beberapa tahun silam.


"Sayang ... Aku pulang ..." Dicko yang baru saja pulang dari kantor sore itu, langsung menghambur. Mendekap sang istri lalu mengecup lembut keningnya.


"Sayang ... Ini sepatu siapa?" Tanya Aruna sembari memperlihatkan sepatu yang ada di tangannya.


"Oh ... Itu punya Bram."


Aruna pun mengernyit. "Kenapa bisa ada sama kamu? Bukannya ..." Aruna ingat, punya Bram sudah berada di tangan pemiliknya sendiri.


Dicko pun meraih sepatu itu dari tangan Aruna dan menyerahkannya pada Yanti.


"Simpan saja di rak sepatu." Titahnya.


"Baik, Tuan." Yanti beranjak ke belakang untuk menyimpan sepatu itu ke tempat yang seharusnya.


Dicko mengajak Aruna duduk kembali di sofa.


"Kenapa muka kamu seperti orang kebingungan begitu?" Tanya Dicko saat dilihatnya Aruna tampak seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Itu punya Bram. Sedangkan yang ada pada Bram, itu punyaku. Kami punya sepatu yang sama. Sejak kecil kami selalu menyukai hal yang sama. Ibunya yang membeli sepatu itu. Inisial A untuk Arya, dan yang satunya lagi Adiguna." Terang Dicko saat melihat wajah sang istri masih kebingungan.


"Saat Bram pergi dari rumah, dia malah mengambil sepatu yang salah. Karena sepatunya sama, jadi dia pikir itu punya dia. Ukurannya saja beda. Makanya, sepatu itu tidak pernah aku pakai." Tambahnya lagi.


"Memangnya kenapa?"


Aruna malah tersenyum hambar. Sungguh lucu. Beberapa tahun silam Bram memberinya sepatu yang sama. Aruna tidak menyangka ternyata sepatu itu punya Dicko. Astaga, lucu sekali. Takdirnya memang tidak pernah jauh dari kedua kakak beradik itu. Namun takdir akhirnya membawanya pada cinta sejatinya. Pemilik sepatu itu yang sebenarnya.


"Keadaan kamu gimana skarang? Masih pusing? Mual?" Tanya Dicko kemudian.


Aruna menggeleng sambil tersenyum manis. Bagi sebagian ibu hamil, usia kehamilan trimester pertama seharusnya akan merasakan pusing dan mual. Akibat perubahan hormon. Tapi tidak bagi Aruna. Keadaannya justru terlihat biasa - biasa saja.


"Sayang, ada yang ingin kamu makan?" Tanya Dicko lagi sebagai bentuk perhatiannya pada istrinya yang tengah mengandung buah cintanya.


Aruna menggeleng lagi. "Aku hanya ingin di peluk kamu."


Dicko pun terkekeh. Sembari meraih kembali sang istri ke dalam pelukan hangatnya.


"Ngidam kamu aneh. Maunya di peluk terus." Gerutu Dicko gemas dengan tingkah istrinya itu.

__ADS_1


"Bawaan jabang bayi sayang. Mungkin dia terlalu menyayangi ayahnya. Sama seperti ibunya. Yang sangat menyayangi ayahnya." Aruna menadahkan pandangannya. Menatap Dicko yang juga menatapnya.


"Aku mencintaimu sayang." Ucap Aruna lirih.


"Aku juga mencintaimu. Trima kasih sudah hadir dalam hidupku. Kalian berdua ..." Sembari mengelus perut Aruna yang masih tampak rata. "Adalah segalanya bagiku. Kalian berdua adalah milikku yang paling berharga di dunia ini."


Satu kecupan mendarat cepat di kening Aruna. Di susul kecupan berikutnya yang mendarat lembut di bibir ranumnya. Aruna mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh suaminya dan menikmati ciuman yang penuh cinta.


Semoga saja kebahagiaan ini tidak akan pernah berakhir. Sebuah harga yang pantas mereka dapatkan atas luka dan air mata yang telah mengiringi perjalanan cintanya. Kebahagiaan ini adalah hadiah terindah yang Tuhan berikan atas cinta mereka yang begitu tulus.


Yakinlah semua akan indah pada waktunya. Dan inilah saatnya kalian berbahagia.


.


.


Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu. Kehamilan Aruna kini memasuki usia 38 minggu. Sebagai suami siaga, Dicko selalu setia menemani istrinya check up rutin setiap bulannya ke dokter kandungan. Untuk memastikan perkembangan sang jabang bayi.


"Bayinya sehat. Perkembangannya sangat bagus. Tidak lama lagi, istri kamu ini akan melahirkan." Ucap Sarah sembari menuliskan resep vitamin yang harus di konsumsi Aruna.


Siang itu, Dicko pulang dari kantor hanya untuk menemani Aruna check up. Dan kini mereka tengah duduk di depan Sarah.


"Trima kasih ya dokter Sarah." Ucap Aruna.


Sarah pun tersenyum ramah sembari memandangi Aruna dan Dicko bergantian. Meskipun masih sedikit ada rasa sakit di hatinya atas penolakan Dicko atas perjodohan mereka. Tetapi Sarah tidak menaruh rasa benci maupun dendam sedikitpun. Sarah sadar, bahwa cinta tidak bisa di paksakan.


Dan kini, dengan hati berdebar - debar. Setelah seminggu berlalu, hari yang dinanti pun telah tiba. Di luar ruang persalinan di rumah sakit terdekat, tengah berkumpul kerabat dekat Aruna, Papa Danu, Bram dan Clara. Sementara Dicko sedang menemani Aruna berjuang melahirkan buah hati mereka ke dunia ini.


Setelah delapan jam berjuang menahan sakit yang teramat sangat. Akhirnya, perjuangan itu terbayar sudah.


"Oeeek ... Oeeek ..." Tangis bayi yang baru lahir terdengar hingga ke luar ruangan itu.


Semua yang tengah menunggui Aruna pun bersorak gembira kala mendengar tangis bayi tersebut.


"Selamat ya Aruna. Terima kasih kamu sudah memberi Papa seorang cucu." Ucap Papa Danu penuh haru. Aruna yang tengah duduk sambil menyandarkan punggungnya di atas ranjang itu, hanya bisa tersenyum.


"Terima kasih ya sayang. Aku sangat bahagia. Sebagai seorang pria, aku merasa sempurna. Kalian sudah melengkapi hidupku. Aku mencintaimu." Ucap Dicko penuh kasih. Kemudian mengecup lembut kening Aruna.


"Selamat ya Aruna." Ucap Shanti.


"Selamat ya Run." Ucap Tante Novi.


"Selamat ya Nak." Ucap Om Heru.


"Selamat ya Kak. Akhirnya aku jadi Aunty." Ucap Alika.


"Selamat Run. Akhirnya kamu jadi ibu." Ucap Teddy.


"Selamat ya Kakak ipar." Ucap Clara.


Dan kini, giliran Bram yang ingin memberi ucapan selamat. Perlahan Bram menghampiri Dicko.


"Selamat ya Kak." Ucap Bram sembari memeluk kakaknya penuh suka cita.


"Trima kasih Bram."


Tanpa sadar, Bram menitikkan air mata bahagianya. Yang telah berlalu biarlah berlalu. Kisah diantara mereka kini telah berakhir. Dan Bram akan memulai kisahnya bersama Clara tanpa bayang - bayang masa lalu.


"Selamat ya Aruna." Ucap Bram lagi setelah melepaskan pelukannya dari kakaknya.


"Makasih ya Bram." Tidak ada kata yang bisa di ucapkan selain ucapan terima kasih yang sebesar - besarnya atas kebesaran hati Bram. Menerima kenyataan yang bahkan sulit di pahami nalar. Tapi mau bagaimana lagi. Sudah takdirnya.


Tak berapa lama seorang perawat datang bersama Sarah dan Randa. Ditangannya ada seorang bayi mungil, nan imut menggemaskan.

__ADS_1


"Selamat ya Bu. Anaknya tampan." Ucap suster itu sembari menaruh bayi mungil itu ke pangkuan ibunya.


Tampak bulir - bulir air mata jatuh membasahi wajah Aruna. Dicko pun merangkul pundak Aruna. Mengelusnya lembut, kemudian mengecup keningnya.


"Hai jagoan Papa ..." Seru Dicko sembari mengusap pipi mungil bayinya.


"Jagoan Mama sangat tampan. Kita kasih dia nama apa sayang?"


"Kamu saja yang kasih nama."


"Kamu kan Papanya."


"Kalau gitu biar Papa saja yang kasih nama." Tawar Papa Danu.


"Benar tuh, biar Opa nya yang kasih nama." Tante Novi mendukung tawaran Papa Danu.


"Iya, benar." Yang lain pun ikut mendukung Papa Danu.


"Eits ... Tunggu dulu. Gimana biar aku saja yang kasih nama. Aku kan pamannya." Bram pun ikut - ikutan menawarkan diri.


Dicko dan Aruna pun saling memandang. Namun sejurus kemudian mereka tersenyum. Pertanda menyetujui tawaran Bram.


"Boleh. Kamu mau kasih dia nama apa?" Tanya Dicko.


"Gimana kalau kita kasih dia nama Richardo Anggara."


"Waaah ... Uncle nya memang jago milih nama." Seloroh Randa.


"Ya sudah, kita pakai itu saja."


"Halo Ardo ganteng ... Cucu kesayangan Opa. Sini, Opa gendong dulu sebentar." Papa Danu menghampiri Aruna. Aruna pun dengan hati - hati menyerahkan putranya untuk di gendong Opa nya.


Dengan kehadiran pangeran kecil di antara mereka, kian menambah kebahagiaan. Akhirnya, Papa Danu pun bisa menimang cucu pertamanya. Calon penerus Anggara. Semoga bisa menjadi anak yang berbakti.


Seperti itulah kebahagiaan yang mereka dapatkan. Setelah melewati berbagai aral yang melintang. Tak jarang, luka dan air mata pun ikut mewarnai kisah perjalanan cinta mereka.


Tapi satu yang pasti. Semua akan indah pada waktunya. Kebahagiaan pasti akan datang. Selalu yakinkan hatimu. Cinta tak selalu tentang pengorbanan. Sejatinya, cinta akan menemukan kebahagiaannya sendiri. Karena cinta adalah persoalan hati.


Semoga kebahagiaan ini untuk selamanya.


.......


.......


.......


...END...


**Mohon maaf atas keterlambatan epilognya.


Mohon maaf bila otor ada banyak salah kata, atau menyinggung. Otor hanyalah manusia biasa. Yang menuangkan imajinasi lewat sebuah tulisan. Tulisan ini pun masih jauh dari kata sempurna.


Terima kasih yang sebanyak - banyaknya untuk readers dimana pun berada. Terima kasih telah setia mendukung Otor Kawe ini. Semoga kalian selalu dalam lindungan Allah SWT. Senantiasa dilimpahkan keberkahan. Amin ...


Thankyou so much 🙏


Love you more ❤️


Saranghae ❤️


Salam Hangat


🌺Otor Kawe🌺**

__ADS_1


__ADS_2