
PLAK! PLAK! Dua tamparan keras melayang di wajah Arya dan Shella secara bergantian dari Nyonya Ratih. Nyonya Ratih sangat geram dan marah saat tahu ia tidak bertemu cucunya di rumah itu. Namun mereka justru menemukan Arya dan Shella di dalam sana.
''Keterlaluan kamu, Arya. Dimana naluri kamu sebagai seorang Ayah? Tega kamu mengusir mereka dari rumah ini.'' Marah Nyonya Ratih.
''Mah, aku tidak mengusir mereka. Mereka sendiri yang pergi meninggalkan rumah ini.'' Arya masih bisa membantah dengan berbagai alasan.
''Kamu tidak mengusir secara langsung tapi mengambil rumah mereka dan memberikannya kepada wanita iblis ini, itu sama saja Arya.''
''Arya, Papa kecewa sama kamu. Papa tidak pernah mengajari kamu menjadi pria brengsek seperti ini. Dimana Aruna dan Zidane sekarang?'' sambung Tuan Jodi yang tidak kalah geramnya.
''Maaf Pah, aku tidak tahu. Sepertinya Aruna memblokir nomor ponselku.'' Jawab Arya.
''Apa? Tidak tahu? Keterlaluan kamu.'' Dan tamparan melayang lagi ke wajah Arya dari Tuan Jodi.
''Kamu ini bagaimana Arya? Pria macam apa kamu ini. Bisa-bisanya kamu memberikan dan mengambil rumah ini secara diam-diam dari Aruna. Papa tidak habis pikir dengan jalan pikiran kamu, Arya.'' Imbuh Tuan Jodi.
''Papa dan Mama tidak menerima kami. Sedangkan Shella butuh hunian nyaman karena dia hamil.'' Jawab Arya.
''Hunian nyaman atau mewah? Hah? Kalian bisa saja mengontrak kan? Kalian belum puas apa menyakiti Aruna sampai sejauh ini. Dan kamu juga punya anak dari Aruna yaitu, Zidane. Bagaimana dengan Zidane? Apa kamu yakin dia juga mendapat tempat yang nyaman dan layak?'' kata Tuan Jodi dengan suara meninggi. Wajahnya memerah menahan amarah. Marah sekaligus kecewa dengan sikap putranya.
''Papa dan Mama tenang saja. Aruna pasti sudah mendapatkan tempat yang layak. Dia pasti sudah tinggal di rumah mewah bersama bosnya itu. Mungkin dia dulu kali yang selingkuh,'' sahut Shella yang tak terima jika di salahkan.
''Tutup mulut kamu Shella. Aruna bukan wanita rendahan seperti itu. Kamu lah wanita rendahan yang sesungguhnya. Mau-mau saja dengan suami orang. Bukan hanya merebut suami tapi juga merebut semuanya. Masih bisa mencari kesalahan orang tanpa mau bercermin.'' Nyonya Ratih tentu saja membela Aruna.
''Cari Aruna dan Zidane, Arya. Papa tidak mau tahu. Setidaknya pastikan Aruna dan Zidane aman. Papa yang akan membelikan Aruna rumah.'' Tegas Tuan Jodi.
Selepas orang tua Arya pergi, Arya langsung menuju kamarnya. Shella mengekor dari belakang. Shella melihat Arya mengambil jaket dan kunci mobil.
''Mas, kamu mau kemana?''
''Aku mau mencari Aruna dan Zidane.''
''Untuk apa kamu cari? Dia sudah nyaman tinggal bersama bosnya.''
''Jaga ucapan kamu Shella. Kamu tidak usah menjelek-jelekkan Aruna. Dia wanita baik-baik. Aku mau mencarinya dan memastikan kalau dia baik-baik saja.'' Tegas Arya. Arya kemudian berlalu dan meninggalkan Shella begitu saja.
__ADS_1
''Mas, kamu tega ninggalin aku? Kalian kan sudah mantan.''
''Setidaknya aku harus mencari tahu keadaan Zidane. Dia juga anakku. Kamu dirumah saja.''
Shella mengerucutkan bibirnya, merasa kesal karena Arya memilih pergi dari rumah.
Akhirnya Arya memilih mendatangi kantor tempat Aruna bekerja. Kebetulan sekali Aruna baru saja keluar dari mobil Daniel. Keduanya baru saja selesai meninjau pabrik. Dengan cemburu yang menggebu, Arya melangkahkan kakinya mendekati Aruna.
''Oh jadi ini pekerjaan kamu sebenarnya? Menjadi teman kencan bosmu.'' Mendengar suara yang tak asing di telinga, Aruna menghentikan langkahnya dan berbalik. Begitu juga dengan Daniel.
''Apa maksud kamu Mas?''
''Pantas saja kamu tenang-tenang saja saat pergi dari rumah. Ternyata kamu sudah nyaman tinggal bersama bosmu ini.''
Aruna mendengus mendengar ucapan Arya. ''Terus apa aku harus meraung menangis dan memohon supaya kamu mengembalikan rumah itu? Kalaupun aku menangis darah, apa kamu akan memberikannya? Sekarang kamu pikir pakai otak, malam-malam begitu aku mau kemana? Sedangkan aku membawa Zidane. Apa salah kalau Tuan Daniel memberikan tumpangan? Apa kamu peduli pada Zidane? Bahkan dia sampai sakit. Kamu sama sekali tidak memikirkan mental anakmu, Mas.''
''Apa? Zidane sakit? Kenapa kamu tidak meneleponku?''
''Memang kamu peduli? Maaf aku sibuk.'' Ucap Aruna seraya berlalu di ikuti oleh Daniel. Namun tiba-tiba Arya memeluk Aruna dari belakang. Membuat Aruna terkejut setengah mati.
''Aruna, aku sangat merindukanmu. Aku sangat merindukanmu.'' Ucap Arya seperti orang yang kehausan kasih sayang. Daniel kesal sekaligus cemburu melihat adegan itu.
''Lepaskan Aruna!" kata Daniel dengan suara meninggi. Setelah memberontak, akhirnya Aruna bisa lepas sendiri dari pelukan Arya. Ia kemudian bersembunyi di balik punggung Daniel.
Arya mencibir. ''Memangnya siapa kamu? Kamu tidak ada hak melarangku.''
''Lalu apa hak mu memeluk Aruna? Kalian sudah tidak ada hubungan apa-apa bukan? Sebaiknya pulang dan urus istrimu. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan Aruna dan Zidane karena aku yang akan menggantikan posisimu sebagai seorang Ayah dan juga suami. Mengerti?'' ucap Daniel penuh penekanan. Daniel kemudian menggandeng tangan Aruna dan mengajaknya masuk ke dalam. Arya hanya bisa gigit jari menatap Aruna yang tentu saja semakin cantik dan membuatnya merindukan sentuhan lembut mantan istrinya itu.
Kedatangan Aruna dan Daniel yang bergandengan tangan membuat semua karyawan tanda tanya dan saling berbisik. Daniel pun langsung membawa Aruna ke dalam ruangannya.
''Tuan, apa yang anda lakukan tadi? Mereka semua menatap aneh.''
''Tidak sudah pedulikan mereka. Untuk apa mempedulikan mereka.''
''Dan seharusnya Tuan tidak perlu bicara seperti tadi. Aku tidak mau anda terlibat.''
__ADS_1
''Memangnya kenapa Aruna? Aku sungguh-sungguh dengan ucapanku.''
Aruna tersenyum mengejek. ''Memangnya anda yakin mau menikahi janda seperti aku? Tidak takut kalau pamor anda sebagai sang casanova hilang begitu saja? Anda bisa mendapatkan yang lebih dari aku, Tuan.''
''Memangnya kenapa Aruna? Aku sungguh-sungguh. Aku tidak masalah sekalipun kamu janda. Memang ada yang salah dengan statusmu? Seharusnya kamu merasa bangga bisa di nikahi oleh ku,bukan? Tampan, kaya, masih muda, mempesona dan sempurna.'' Ucapnya dengan begitu narsis.
Aruna mendecih. Merasa geli dengan kenarsisan Daniel. ''Sebaiknya aku kembali ke tempatku. Daripada mendengar bualan anda yang sangat menggelikan.''
Dan lagi, Daniel kembali menggoda Aruna. Ia menarik tangan Aruna, meraih pinggangnya dan memeluknya.
''Siapa yang menyuruhmu pergi?''
''Tuan, lepaskan aku! Bagaimana kalau nanti ada yang masuk?'' Aruna berusaha melepaskan diri dari dekapan Daniel.
''Tidak apa-apa. Aku tidak peduli jika ada yang melihatnya. Tenanglah, semakin kamu bergerak, semakin aku tergoda Aruna. Gerakanmu yang berusaha melepaskan diri, membuat tubuhmu bergesekan dengan area sensitifku di bawah sana.'' Mendengar ucapan Daniel, seketika Aruna berhenti memberontak. Matanya membulat tidak percaya dengan ucapan Daniel.
''Apa begini cara anda menggoda para wanita?''
''Tidak.''
''Sudah berapa ratus wanita yang anda tiduri?''
''Aku bersumpah demi nama almarhum Mama ku, kalau aku belum pernah tidur dengan mereka. Paling ya ciuman dan meraba-rabalah masih batas normal. Dan tidak semuanya juga aku perlakukan seperti itu. Namanya juga usiaku masih muda. Mereka mau juga karena uang.''
''Lalu berapa wanita yang sudah anda perlakukan seperti itu?'' entah kenapa Aruna seolah seperti menginterogasi Daniel.
''Mmmm berapa ya? Aku tidak ingat.''
''Iya saking banyaknya.'' Ketus Aruna.
''Kenapa tanya-tanya? Cemburu? Aku kan sudah bilang kalau aku sudah berubah. Semua yang aku lakukan bukan karena cinta, Aruna. Aku benar-benar ingin berubah. Dan kamu lah yang perlahan merubahku. Aku bahkan sudah tidak minum alkohol lagi. Sekarang aku tahu kemana arah tujuan hidupku, Aruna. Berikan aku kepercayaan dan kesempatan. Aku akan membuktikannya padamu.'' Aruna bisa melihat ketulusan dari sorot mata Daniel. Namun tetap saja masih sulit bagi Aruna untuk mengatakan IYA.
''Lepaskan aku, Tuan. Sulit bagiku untuk percaya dengan ucapan pria. Aku saja tertipu dengan segala kelembutan dan kehangatan.''
''Baiklah aku akan membuktikannya padamu kalau aku sudah berubah. Dan aku tidak main-main dengan ucapanku.'' Dan tiba-tiba Daniel memberikan sebuah kecupan di kening Aruna. Daniel tidak bisa mengendalikan perasaannya. Aruna dibuat mematung dengan apa yang di lakukan oleh Daniel. Bahkan entah kenapa kali ini ia tidak bisa marah seperti biasanya. Daniel akhirnya melepaskan Aruna. Aruna segera berbalik dan melangkah terburu meninggalkan ruangan Daniel. Daniel tersenyum melihat sikap salah tingkah Aruna.
__ADS_1
''Dia tidak marah saat aku kecup. Sepertinya kemajuan.'' Kekeh Daniel.