Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 82 Gentleman


__ADS_3

''Tuan!" Aruna mengetuk pintu ruangan Daniel sambil membawa kotak obat.


''Masuk!" sahut Daniel.


''Dimana Fero?''


''Fero sudah pergi, katanya mau pulang kampung. Sebaiknya aku mengobati luka Tuan dulu.'' Kata Aruna. Daniel mengangguk lalu duduk di sofa. Aruna kemudian duduk di samping Daniel.


''Tuan ini darimana? Aku terpkasa membatalkan rapat penting. Di telepon juga tidak bisa.''


''Maaf, aku sibuk menyelesaikan urusanku.''


''Urusan apa yang lebih penting dari kantor?''


''Mengurus wanitaku. Pasti Fero juga sudah cerita.''


''Hehehe iya sih. Kalau aku jadi wanita itu pasti akan melakukan hal yang sama.''


''Ya, mereka semua memang sama.'' Ucapnya pelan.


''Aduh, pelan-pelan Aruna! Rasanya ngilu.'' Rintih Daniel.


''Ini juga sudah pelan Tuan.'' Ucap Aruna. Lagi-lagi jantung Daniel dibuat berdetak tidak karuan saat wajah Aruna begitu dekat dengannya.


''Sebaiknya kamu pulang dan siapkan acara outbond besok.''


''Apa yang harus aku siapkan, Tuan. Snack dan bahan makanan sudah sangat lengkap. Anda juga baru membelanjakannya. Oh ya aku lupa memberitahu Tuan kalau kita akan menginap. Hampir seperti camping jadi nanti kita tidur di tenda. Tujuan acara ini kan memang untuk mengisi hari libur keluarga dan semakin mendekatkan hubungan antara orang tua dan anak. Kalau Tuan keberatan, aku akan berangkat dengan Zidane.''


''Tidak masalah. Aku dulu juga sering pergi camping bersama Papa dan Mama. Oh iya, aku lapar. Mau masak untukku?''


''Iya tapi hanya ada mie instan di kantor.''


''Ya sudah, buatkan aku mie instan saja. Cepatlah, aku lapar!" rengek Daniel seperti anak kecil. Aruna yang kesal dengan rengekan Daniel, menekan keras luka biru di wajah Daniel.


''Aduh!'' teriak Daniel.


''Maaf, tidak sengaja.'' Ucap Aruna seraya berlalu. Puas sekali mengerjai Daniel.


''Tidak sengaja apanya, ini sengaja Aruna.'' Protesnya.


Sepuluh menit kemudian, Aruna kembali dengan dua mangkok mie instan kuah.


''Ini Tuan. Aku memberinya telur dan sosis sebagai toping.''


''Oke terima kasih.''


''Itu satunya untuk siapa?''

__ADS_1


''Untukku. Aku akan makan di ruanganku.''


''Makan disini saja temani aku. Mulai sekarang, aku tidak mau makan sendiri lagi.''


''Tapi nanti karyawan akan bergosip tentang kita.''


''Suatu kehormatan di gosipkan dengan seseorang sepertiku, Aruna.''


''Hhh anda percaya diri sekali.''


''Sebaiknya makan dan setelah ini, pulanglah. Pasti Zidane menunggumu.''


Dan mereka berdua menikmati makan malam bersama sembari mengobrol dan bercengkrama. Daniel senang sekali melihat tawa lepas Aruna. Ia juga senang karena semakin dekat dengan Aruna.


Sementara itu Arya berdiri di dekat jendela ruang tamu menanti Aruna yang belum juga pulang.


''Sudah jam 8 kenapa Aruna belum pulang juga?'' gumam Arya.


''Mas, kamu sedang apa?'' tanya Shella.


''Sedang menunggu Aruna. Kenapa dia belum pulang juga ya?''


''Kenapa kamu menunggunya? Kamu benar-benar tidak menjaga perasaanku ya?''


''Kamu kan tahu kalau aku memang masih memiliki rasa pada Aruna, meskipun aku sudah memilihmu tapi tetap saja rasa ini masih ada untuk Aruna.''


''Siapa sih yang mau ninggalin kamu? Kenapa kamu jadi posesif begini? Kamu sendiri yang memaksa aku untuk tinggal disini. Kalau kamu cemburu, kita pindah saja sekarang.'' Kata Arya dengan suara meninggi.


''Kamu kok jadi galak sih, Mas.''


''Habisnya kamu bikin kesel aja. Kalau kamu tidak ingin melihatkau mengkhawatirkan Aruna, kita tinggalkan rumah ini. Kamu sudah tahu kalau aku mencintai kalian berdua. Aku berpisah karena Aruna tidak mau di madu. Jadi kamu harus mengerti perasaanku, Shella. Seharusnya dengan aku memilihmu, sudah cukup menjadi sebuah jawaban.'' Arya kemudian berlalu menuju kamar. Berbicara dengan Shella hanya akan menguras tenaga saja. Shella kemudian menyusul Arya menuju kamar.


...****************...


Begitu sampai di rumah, Aruna segera menuju kamarnya. Rasanya lelah sekali tapi Aruna harus menyiapkan pakaian Zidane dan obat-obatan penting untuk berjaga-jaga. Setelah semua siap dan masuk ke dalam ransel, Aruna pergi mandi. Guyuran air shower sungguh menyegarkan tubuhnya.


''Apa Mas Arya dan Shella sudah tidur? Sepertinya sudah sangat sepi. Eh tapi untuk apa aku ingin tahu. Sebaiknya aku pergi melihat Zidane dulu.'' Gumamnya. Selesai mandi, Aruna segera berganti piyama dan pergi ke kamar Zidane. Tampak Zidane sudah tertidur pulas. Aruna memberikan kecupan di kening putranya.


''Nice dream, sayang.'' Ucapnya pelan. Saat keluar dari kamar Zidane, Aruna terkejut melihat Arya yang sudah berdiri di depan pintu.


''Mas Arya, kamu mengagetkan saja.''


''Kamu kenapa pulang malam sekali, Aruna? Apa kamu sering pulang malam seperti ini? Kamu tidak kasihan pada Zidane?''


Aruna menghela. ''Maaf Mas, aku tidak mau berdebat. Jangan mencari kesalahanku. Kalau mengingat kesalahanmu, apa kamu tidak malu bicara seperti itu padaku? Aku mau istirahat. Permisi.'' Ucap Aruna dengan tegas sembari berlalu meninggalkan Arya.


''Ya Tuhan, aku berusaha merasa melupakan kamu, Mas. Tapi kenapa kamu malah muncul lagi di hadapanku dengan Shella. Aku sudah tenang hidup jauh-jauh dari kamu tapi kamu malah mengusikku lagi.'' Gumam Aruna dalam hati.

__ADS_1


Keesokan harinya...


''Pagi Bi." Sapa Daniel.


''Pagi Tuan tampan. Ayo masuk! Pasti mau bersiap pergi outbond ya?''


''Iya Bi.'' Bi Tuti lalu mengajak Daniel masuk menujur uang tengah.


''Nyonya! Tuan tampan sudah datang.'' Kata Bi Tuti. Kebetulan sekali, Aruna dan Zidane sedang menuju ruang tengah.


''Om Daniel!" seru Zidane seraya berlari memeluk Daniel.


''Hai Zidane. Kamu tampan sekali hari ini.''


''Om juga sangat tampan.'' Ucap Zidane seraya melepaskan pelukannya.


''Terima kasih Tuan sudah menepati janji anda.'' Sahut Aruna.


''Sama-sama. Kami cantik sekali, Aruna.''


''Terima kasih Tuan. Tapi pujian yang keluar dari bibir anda sudah biasa menurutku.'' Ucap Aruna terkekeh.


''Ya, karena aku sang casanova kan?'' sahut Daniel terkekeh. Meskipun ia sedikit kecewa karena Aruna selalu menganggapnya seorang playboy.


''Aku pinjam rumahmu, Aruna.'' Sahut Shella dengan Arya yang berdiri di sampingnya.


''Ya sudah tidak apa-apa. Kebetulan aku dua hari ini ada camping sekaligus outbond. Jadi kebetulan sekali kamu bisa memamerkan isi rumah ini.''


''Tapi aku harus menurunkan fotomu dan menggantinya denhan fotoku juga Arya.''


''Silahkan saja, tidak masalah.'' Jawab Aruna dengan penuh ketegasan.


''Jadi kalian bertiga akan menginap?'' tanya Arya.


''Iya Mas. Namanya juga camping.''


''Tapi kalian ini kan bukan suami istri. Mana bisa?''


''Kenapa kamu heran, Mas? Kamu saja sama Shella tidak suami istri bisa tinggal satu rumah. Sedangkan aku, ini hanya camping keluarga. Aku bisa saja mengaku Tuan Daniel ini sepupuku.''


''Aku curiga padamu Tuan, kenapa kamu mau menggantikan posisi Mas Arya sebagai suami dan Ayah Zidane? Pasti kalian ada affair kan?'' sahut Shella.


''Kalau pun ada affair, aku melakukannya setelah bercerai bukan saat aku masih menjadi istri Mas Arya. Jadi kenapa kamu pusinh memikirkan kehidupanku Shella? Aku saja tidak pernah memusingkan kehidupanmu dan apa saja yang kamu lakukan dengan Mas Arya. Ingat ya, aku mau menampungmu karena kamu sedang hamil.'' Aruna kini sudah tidak mau lagi lemah di hadapan mereka. Sekarang ia berani tegas kepada dua orang di hadapannya itu.


''Aruna adalah wanita baik-baik dan terhormat jadi tidak mungkin dia selingkuh atau affair dengan pria lain. Kalaupun aku berdiri disini dan mau menemani mereka, itu karena aku sendiri yang mau. Memang ada masalah jika aku menyukai Aruna dan ingin mendekatinya?'' ucap Daniel. Sontak ucapan Daniel membuat Aruna terkejut, begitu pula dengan Arya. Arya merasa cemburu. Sedangkan Zidane tersenyum lebar mendengar ucapan Daniel.


''Zidane, Aruna, ayo kita berangkat! Nanti kita bisa terlambat.'' Kata Daniel. Daniel lalu membantu Aruna membawa ransel dan barang bawaannya. Mereka bertiga berlalu begitu saja meninggalkan rumah. Ingin sekali rasanya Daniel menampar kedua manusia tidak berperasaan itu.

__ADS_1


__ADS_2