
Di lain tempat, Arya sedang sangat marah pada Shella. Karena ternyata mereka di tipu oleh developer rumah. Arya benar-bebar marah karena ternyata rumah itu masih ada penghuninya. Mereka berdua sangat terkejut saat hendak pindah kesana karena rumah itu masih ada pemiliknya. Arya benar-benar syok dan ia kini marah besar pada Shella.
''Habis Shella! Semuanya habis!" Arya marah besar pada Shella. Shella hanya bisa menangis.
''Sekarang kita tidak punya apa-apa lagi. Bagaimana bisa kita di tipu seperti ini hah? Ternyata developer itu penipu.''
''Maaf Mas, aku juga tidak tahu kalau mereka semua penipu.'' Shella hanya bisa terisak, menyesali semuanya.
''Sekarang kita mau tinggal dimana? Lusa, kita harus mengosongkan apartemen ini? Semua barang kita masih di dalam truk pengangkut barang. Semua tabungan dan uang kita habis. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi.''
''Kita lapor polisi saja, Mas.''
''Kalau itu aku pasti lapor tapi apakah menjamin uang kita kembali utuh? Kita sudah memberikan 50 milyar lebih pada mereka.''
''Kamu jangan marah-marah padaku, Mas. Mobil, tabungan, apartemen dan beberapa barang branded milikku juga sudah hilang.''
''Astaga Shella-Shella, kamu kenapa ceroboh sekali?''
''Aku pikir itu agen resmi tapi ternyata agen bodong. Sekarang kita tinggal dimana Mas? Perutku juga makin membesar.''
''Mau tidak mau, kita tinggal bersama kedua orang tuaku.''
''Tapi mereka tidak merestui kita. Apa mereka mau menerima kita?''
''Kita coba saja dulu, kita tidak punya pilihan.''
''Kamu kan masih punya rumah Mas.''
''Rumah mana lagi?''
''Rumah yang ditempati oleh Aruna.''
''Apa? Gila ya kamu. Setelah aku ambil mobilnya, sekarang aku ambil rumahnya. Kamu tidak berperasaan sekali, Shella. Belum puas apa kamu, setelah dia memberikan aku padamu dan sekarang kamu ingin merampas yang lainnya juga? Aku punya anak juga, Shella. Kamu ingin aku menelantarkan mereka? Iya? Apa kamu senang melihat mereka menderita? Sudah cukup aku menorehkan luka dalam bagi mereka. Seharusnya saat itu kita tidak usah berhubungan.''
''Oh jadi sekarang kamu menyesal? Kamu menyalahkan aku? Padahal kamu sendiri yang menggodaku terlebih dahulu. Ingat itu ya, Mas. Kamu juga yang memilihku dan memilih meninggalkan Aruna. Padahal Aruna sudah memberikanmu pilihan tapi kamu sendiri yang tidak bisa meninggalkan aku. Ingat itu Mas! Kalau sudah seperti ini kamu sok-sokan hilang ingatan dan melupakan semua itu. Kamu ingat juga, di perut ku ada anak kamu. Kalau kamu memang sudah tidak cinta aku lagi, lebih baik aku mati dan loncat dari gedung ini.'' Shella benar-benar marah dan sakit hati dengan ucapan Arya. Ia lalu beranjak menuju balkon gedung. Mendengar langkah kaki Shella membuka pintu balkob, Arya segera menyusulnya.
''Shella, jangan bodoh kamu!" Arya menarik tangan Shella.
''Untuk apa aku hidup Mas, kalau ujung-ujungnya kamu menyalahkan aku. Bukannya mencari solusi tapi malah sebaliknya. Aku juga hidup sebatang kara di dunia ini jadi lebih baik aku mati saja bersama anakku.''
__ADS_1
Arya lalu menarik Shella ke dalam pelukannya. ''Maafkan aku, Shella. Aku benar-benar hanya emosi saja. Kamu bisa bayangkan, uang sebesar itu hilang begitu saja.''
''Mas, kamu masih punya pekerjaan dan gajimu pasti bisa mengembalikan semua itu.''
''Shella, maafkan aku. Aku sudah di pecat. Aku bekerja hanya untuk menyelesaikan kontrakku.''
''Apa? Kamu di pecat?'' Shella dibuat terkejut oleh pengakuan Arya.
''Iya. Aku di pecat karena ketahuan selingkuh dan bercerai dari Aruna.''
''Kok bisa? Bukankah itu tidak profesional?''
''Karena atasanku memang menolak hak seperti itu. Ya sebenarnya masalah pribadi keluarganya dulu dan itu membekas sampai sekarang.''
''Tidak adil sekali. Terus kamu mau kerja apa Mas?''
''Kamu tenang saja. Aku akan sudah memasukkan civi ke berbagai perusahaan. Aku yakin dengan kemampuanku, aku bisa mendapatkan pekerjaan lagi. Maaf kareja aku baru cerita semuanya padamu. Makanya emosiku meledak tadi. Karena semua tabunganku juga sudah habis.''
''Ya sudah Mas, kita besok coba datang ke rumah orang tuamu. Aku tidak masalah jika harus tinggal bersama mereka. Toh dulu mereka juga tahu kalau aku cinta pertamamu. Kita lewati semuanya sama-sama ya.''
''Aku lega sekali mendengarnya. Aku pikir, kamu akan meninggalkan aku.''
...****************...
Entah kenapa malam ini Aruna merasa bahagia. Melihat meja makan penuh dengan makanan dan semua kursi penuh dengan manusia. Termasuk Daniel yang masih ada disana. Melihat keakraban Daniel dan Zidane, membuat Aruna merasa bahagia. Selesai makan malam, Daniel menemani Zidane belajar diruang tengah.
''Om, setelah ini bacakan aku dongeng ya? Biasanya setiap tidur, Papa membacakan dongeng untukku.''
''Zidane, Om Daniel harus pulang. Biarkan Mami saja yang membacakan dongeng untukmu.'' Sahut Aruna.
''Aku tidak mau tidur sebelum Om Daniel yang membacakan dongeng untukku.'' Kesal Zidane.
''Tidak apa-apa Aruna. Aku akan menemani Zidane dulu. Bagiku jam malam itu jam 12 keatas.'' Sahut Daniel.
''Om serius akan membacakan dongeng untukku?''
''Iya. Baiklah, sekarang bereskan semua bukumu dan kita ke kamar. Aku akan membacakan dongeng untukmu.''
''Dongeng apa?''
__ADS_1
''Gadis kupu-kupu.''
''Gadis kupu-kupu? Aku belum pernah mendengarnya.''
''Sebaiknya kita ke kamar dulu.''
''Ayo Om! Aku sudah tidak sabar mendengarnya.'' Zidane menarik tangan Daniel menuju kamarnya.
''Aku tidak percaya Tuan Daniel mempunyai sisi lain seperti itu. Ya, meskipun playboy tapi dia penyayang anak juga.'' Aruna yang penasaran, mengikuti Daniel ke kamar Zidane untuk mendengarkan cerita apa yang diberikan pada Zidane. Sejujurnya Aruna khawatir juga kalau Daniel mendongeng dengan cerita yang asal.
''Baiklah, kamu siap mendengarnya?''
''Siap Om!" jawab Zidane. Keduanya kini sudah berada diatas tempat tidur. Daniel duduk bersandar, sementara Zidane sudah dalam posisi siap tidur.
''Jadi jaman dahulu kala, saat seorang pangeran pergi ke taman bermain bersama ibunya, tiba-tiba pangeran itu terpisah dengan ibunya. Dan pangeran itu menangis.''
''Om, mana boleh pangeran menangis?'' sahut Zidane.
''Karena itu pangeran kecil Zidane. Dia seusia kamu.''
''Oh begitu. Baiklah, lanjutkan Om.''
''Pangeran menangis dan takut. Ia berlari kesana kemari mencari ibunya namun tidak menemukannya. Lalu ia bertemu dengan seorang gadis. Gadis itu melihat pangeran menangis lalu menghampirinya. Gadis itu dengan tatapan hangatnya, menennagkan pangeran dan setelah itu membantu pangeran mencari Ibunya. Sampai akhirnya gadis itu berhasil mempertemukan pangeran dengan Ibunya. Pangeran lalu berlari memeluk Ibunya. Namun saat pangeran menoleh kebelakang, gadis itu sudah tidak ada. Padahal saat itu pangeran ingin mengenalkan gadis baik itu pada ibunya. Dan di jejak gadis itu berdiri, pangeran menemukan sebuah jepit kupu-kupu yang sangat cantik. Akhirnya pangeran mengambil dan menyimpan jepit kupu-kupu itu, berharap suatu saat pangeran itu bertemu kembali dengan gadis itu. Itulah kenapa judul ceritanya gadis kupu-kupu.''
''Cerita yang sangat bagus. Tapi akhirnya bagaimana Om? Apakah pangeran dan gadis kupu-kupu itu akhirnya bertemu dan pangeran mengenalkan gadis itu pada Ibunya?''
''Tidak Zidane. Pangeran justru kehilangan Ibunya. Ibu dari pangeran meninggal dunia karena sebuah kecelakaan. Tentu saja hal itu tidak akan terjadi.''
''Kasihan sekali pangeran itu.''
''Baiklah, sekarang kamu tidur ya. Aku sudah menepati janji untuk membacakan dongeng untukmu.''
''Iya Om. Temani sampai aku tertidur ya.''
''Oke.''
Dari balik pintu kamar Zidane, Aruna mendengar semua cerita itu. Aruna merasa tidak asing mendengar cerita dari Daniel. Seperti Aruna pernah mengalami hal yang di ceritakan oleh Daniel.
''Kenapa cerita itu tidak asing? Aku pernah menemukan seorang anak lelaki menangis mencari ibunya. Apa jangan-jangan? Tapi tidak mungkin juga sih. Lagi pula aku tidak tahu nama anak itu. Ah sudahlah, mungkin hanya karangan Tuan Daniel saja.'' Gumam Aruna dalam hati.
__ADS_1