
Dicko melangkah panjang memasuki kediaman Papa Danu. Di ikuti Shanti di belakangnya. Beruntung saat itu Papa Danu tidak ada di rumah. Hanya ada Bi Surti. Jadi Dicko langsung berjalan menuju ke kamar Aruna. Dengan Shanti masih mengekor di belakangnya.
Sampai di depan kamar Aruna, Dicko menghentikan langkahnya. Pintu kamar itu terbuka lebar. Tampak Aruna tengah duduk di tepi ranjang sambil menangis. Dicko memilih berdiri di ambang pintu. Sedangkan Shanti masuk ke dalam.
"Run ..." panggil Shanti pelan.
Aruna mengangkat wajahnya yang berlinang air mata.
"Ya ampun Run, kamu kenapa?" Shanti berjalan mendekat. Mulai bersiap memberi pelukan pada sahabatnya itu.
Aruna pun bangkit berdiri. Dan langsung berlari ke ambang pintu. Menghambur ke dalam pelukan Dicko. Sedangkan Shanti terbengong di buatnya. Dia pikir Aruna akan menghambur ke dalam pelukannya. Tapi ternyata dia salah. Aruna justru memilih memeluk Dicko.
Dalam pelukan Dicko, Aruna menangis tersedu - sedu. Tangan Dicko bergerak naik turun, mengusap lembut punggung Aruna.
"Menangislah. Menangislah sampai hatimu merasa lega." Ucap Dicko lirih dan semakin mempererat pelukannya.
"Tolong bawa aku pergi jauh dari sini. Aku tidak ingin lagi berada disini."
Dicko melepas pelukannya perlahan. Lalu tangannya menyentuh dagu Aruna dan mengangkat wajahnya.
"Aku tidak bisa melakukan itu. Aku tidak mau orang - orang berkata buruk tentangmu."
"Sehari saja. Aku tidak ingin berada disini."
"Baiklah, jika itu yang kamu mau."
.
.
Sementara itu, Bram tengah duduk merenung dibalik meja kerjanya. Sejak tiba hingga detik ini Bram masih terdiam seribu bahasa. Dengan pandangan menunduk. Tidak ada satu hal pun yang mampu mengusiknya dari lamunannya. Dia semakin tenggelam dalam lautan pikirannya. Bahkan Teddy yang datang membawakan laporan yang harus ditandatanganinya pun tidak di hiraukannya. Hingga terpaksa Teddy meninggalkan laporan itu di meja kerja Bram.
Pikirannya semakin menelisik jauh. Memikirkan tentang nasib rumah tangganya dengan Aruna.
Akhirnya, Aruna berani mengutarakan kalimat itu. Kalimat yang akan mengakhiri rumah tangga mereka. Bram harus bagaimana sekarang? Haruskah dia mempercayai bayi yang di kandung Aruna itu adalah bayinya? Sementara dengan mata kepalanya sendiri dia melihat Aruna tertidur di ranjang Dicko.
Meski dia tidak menyaksikan apa yang mereka lakukan. Tetapi dia bukan anak kecil yang tidak mengerti apa pun. Istri tercintanya berbaring di ranjang pria lain. Suami mana yang tidak akan geram menyaksikan hal itu.
"Aruna ... haruskah kita berakhir sampai disini?" gumam Bram dengan buliran air mata yang mulai berjatuhan dari pelupuk matanya.
"Aku masih sangat mencintaimu. Tapi kesalahan yang kamu lakukan membuatku sakit. Aku membencimu, tapi cintaku padamu masih melebihi kebencianku padamu. Aku harus bagaimana?" Bram sungguh tidak tahu harus berbuat apa saat ini.
Sekali lagi, kakaknya menjadi penyebab semua ini terjadi. Jika dulu, kakaknya menjadi duri dalam kehidupan asmaranya. Dan kini, kakaknya menjadi duri dalam kehidupan rumah tangganya. Seakan takdir tengah mempermainkannya saat ini.
.
.
"Terima kasih ya? Kamu skarang sudah boleh pulang." Ucap Dicko pada Shanti karena sudah menemani Aruna saat Dicko membawanya ke apartemennya. Agar mereka terhindar dari gosip - gosip meresahkan.
Shanti pun akhirnya pamit pulang. Dan kini hanya tinggal Dicko dan Aruna berdua di apartemen itu.
"Oh ya, apa kamu sudah makan?" tanya Dicko sembari menghampiri Aruna yang masih berdiri.
__ADS_1
Aruna menggeleng pelan, "belum."
"Kamu mau makan apa?"
"Terserah. Apa pun boleh."
Dicko tersenyum. Kemudian mengambil ponselnya. Dan mulai berselancar di dunia maya. Memesan makanan siap saji melalui sebuah aplikasi.
Setelah beberapa menit menunggu, makanan pesanan Dicko sudah sampai. Dan mereka pun makan berdua dengan lahapnya. Sambil bercanda ria. Sejenak Aruna melupakan kesedihannya dan luka hatinya. Berkat Dicko. Pria yang selalu ada untuknya. Pria yang mencintainya melebihi siapapun.
Beberapa jam kemudian, malam hari pun tiba.
Kini mereka tengah mengobrol di sofa. Duduk bersebelahan.
"Kamu belum cerita, kenapa kamu menangis." Ucap Dicko ingin tahu.
Aruna menarik napas panjang sebentar, sebelum akhirnya berkata,
"Bram meminta aku menggugurkan kandunganku. Dia masih belum percaya kalau anak ini adalah darah dagingnya." Sambil mengusap perutnya yang masih tampak rata.
Dicko mendesah berat.
"Sungguh keterlaluan." geram Dicko sembari mengepalkan tinjunya. Bram sudah sangat keterlaluan kali ini. Bagaiman bisa dia ingin menyingkirkan darah dagingnya sendiri.
"Oh ya, skarang kamu istrahat ya. Kamu tidur saja di ranjang. Sedangkan aku akan tidur di sofa ini." Ucap Dicko lagi.
"Nanti kamu kedinginan di sofa."
"Tidak apa - apa. Aku sudah terbiasa."
Aruna pun naik ke tempat tidur itu dan menyelimuti dirinya sendiri. Lalu mulai berbaring. Coba dipejamkannya mata itu meski terasa sulit. Entah apa yang ada dalam pikirannya kali ini. Menginap di apartemennya Dicko, adalah sebuah kesalahan besar yang nantinya akan mengundang kesalah pahaman lebih besar lagi antara dirinya dan Bram.
Perlahan Dicko berjalan mendekat. Dengan hati - hati dia mengambil satu bantal kepala dari tempat tidur itu. Namun sedikit terusik saat melihat wajah polos Aruna yang tertidur. Di letakkannya kembali bantal itu. Dan kini Dicko terlihat memutari tempat tidur itu. Lalu duduk di tepian tempat tidur menghadap Aruna.
Tatapan Dicko menelisik setiap lekuk wajah polos yang telah terlelap itu. Perlahan Dicko mulai membungkuk, mendekatkan wajahnya dengan wajah Aruna. Hendak mengecup keningnya. Namun belum sempat dia mengecup kening Aruna, Aruna sudah lebih dulu membuka matanya. Hingga aksi Dicko terhenti. Keduanya pun saling menatap dalam jarak yang teramat dekat.
Dug Dug ... Dug Dug ... Dug Dug ...
Jantung keduanya semakin bertalu. Seakan tengah berlomba. Detak jantung itu semakin gaduh, seakan ingin berloncatan keluar dari tempatnya.
"Maaf ..." Dicko mengerjap - ngerjapkan matanya. Sembari menjauhkan wajahnya dari wajah Aruna. Menyadari kekeliruan yang hampir saja terjadi.
Dicko pun perlahan bangkit. Kemudian memutar tubuhnya hendak beranjak ke sofa. Saat tiba - tiba sebuah tangan halus menahan pergelangan tangannya. Dicko memutar kembali tubuhnya menghadap Aruna yang tengah menahan pergelangan tangannya. Dan menatapnya sendu.
"Temani aku." Pinta Aruna.
"Apa?" Dicko sedikit terkejut.
"Aku ingin berada dalam dekapanmu. Malam ini saja."
"Tap_tapi ... apa kamu ..." Dicko gugup mendengar permintaan Aruna.
"Aku tidak bisa tidur. Apa boleh aku tidur sambil memelukmu?"
__ADS_1
Harus menjawab apa? Detak jantungnya kini semakin menggila. Permintaan Aruna membuatnya gugup setengah mati.
"Tidak apa - apa jika kamu tidak mau. Maaf, sudah memintamu melakukan hal yang aneh."
Dicko menarik napas sebentar lalu menghembuskannya perlahan. Tanpa berpikir lagi, Dicko pun bergegas naik ke tempat tidur itu. Dan membaringkan dirinya di samping Aruna.
Begitu Dicko berbaring di sampingnya, Aruna pun semakin mendekat dan memeluk Dicko. Kemudian mulai memejamkan matanya.
Entah Aruna sudah terlelap dalam pelukannya atau belum. Tapi Dicko jadi kesulitan memejamkan matanya. Jujur, jantungnya masih berdetak kencang. Hatinya makin berdebar aneh.
Ya ampun, apa Aruna sadar dengan apa yang dilakukannya saat ini? Dicko bahkan hampir tidak bisa bernapas. Dicko adalah pria normal. Dan apa yang Aruna lakukan saat ini seketika membangkitkan hasratnya.
"Kenapa kamu belum tidur?" Aruna menadahkan pandangannya. Dan Dicko menurunkan pandangannya. Wajah mereka saling bertemu nyaris tanpa jarak. Hingga sapuan napas hangat Dicko terasa menyapu permukaan kulit wajah Aruna.
"Aruna ..." Dicko semakin kesulitan bernapas. Gejolak dalam dirinya semakin menggebu.
Aruna menatapnya tanpa berkedip. Perlahan Aruna membawa jemari lentiknya menyentuh wajah Dicko.
"Terima kasih kamu slalu ada untukku." Ucap Aruna lirih.
"Aku sudah berjanji tidak akan pergi darimu. Meski saat itu kamu bersama Bram."
Dicko memang pria yang selalu menepati janjinya. Sayangnya, Aruna terlambat menyadarinya.
"Terima kasih, berkat kamu aku bisa melihat lagi."
"Aku sudah berjanji. Dan aku selalu menepati janjiku untukmu."
Tanpa aba - aba, Aruna mengecup singkat bibir Dicko. Oh astaga, bukan hanya kesulitan bernapas. Tapi Dicko sudah kehabisan napas sekarang. Aruna sudah memancing sisi Dicko yang lain yang sejak tadi berdiam diri didalam sana.
"Aruna, apa yang kamu lakukan ini sungguh membuatku__" kalimat Dicko terpotong karena tiba - tiba Aruna mendaratkan bibirnya dan memagut bibir Dicko lembut.
"Aku sangat merindukanmu." Ucap Aruna saat melepaskan ciumannya.
Ya ampun, Dicko sudah tidak bisa menahan diri lagi. Dengan cepat dia mendaratkan kembali bibirnya. Memagut mesra bibir ranum Aruna. Semakin lama ciumannya semakin menggila. Seakan menuntut lebih. Dan Aruna tidak menghalangi Dicko melakukan apa yang diinginkannya.
Malam itu, keduanya semakin tenggelam dalam hasrat cintanya yang kian menggebu. Hasrat cinta itu semakin membutakan keduanya. Semakin menghilangkan akal sehatnya.
Suara lenguhan lembut dari bibir Aruna membuat Dicko semakin menggila dalam melancarkan aksinya. Entah apa yang terjadi, hingga keduanya pun khilaf. Benar - benar khilaf. Astaga.
.......
.......
.......
...-Bersambung-...
Hoaaaaaaam 🥱🥱🥱
Otor ngantuk banget. Nanti di lanjut lagi. Sampai disini dulu ya ...
Saranghae ❤️
__ADS_1
Otor Kawe