
"Sarah?" ucap Dicko lirih begitu mengenali penyeberang itu.
Sarah Natania, mengulum senyum tanpa melepaskan tatapannya sedikitpun.
"Hai ..."
"Maaf ya, aku benar - benar ceroboh. Apa kamu baik - baik saja? Apa ada yang luka?" tanya Dicko panik.
"Akh ... tidak, tidak ada yang luka. Aku baik - baik saja kok."
"Kamu mau kemana? Biar aku antar." Tawar Dicko tanpa sungkan.
"Eum ... Sebenarnya aku mau ke tempat tugasku yang baru. Kebetulan sudah dekat kok. Tadi mobilku mogok. Untung saja di sekitar sini ada bengkel."
"Ya sudah, kebetulan juga kita searah. Jadi kita bisa bareng."
"Terima kasih sebelumnya."
Kemudian mereka bergegas naik ke mobil Dicko. Dan mobil itu pun melaju menyusuri jalanan kota kemudian.
Dalam perjalanan, Dicko sama sekali tidak membuka obrolan selain bertanya tentang tempat tugas Sarah yang baru. Setelah itu, Dicko memilih diam seribu bahasa.
Sarah bahkan harus menahan gugup saat berada di dekat Dicko. Wanita cantik dengan bola mata indah itu sudah lama menaruh hati pada Dicko. Namun Dicko terlalu dingin dan cuek saat itu. Bahkan hingga kini, Sarah hampir tidak pernah melihat senyum di wajah tampan itu.
Seperti saat ini. Jangankan tersenyum, bahkan menoleh sedikitpun pada Sarah, tidak pernah. Pandangannya lurus ke depan. Sama seperti wajahnya, lurus.
Sarah harus sedikit mengintip dengan melirik - lirik ke arah Dicko. Yang terlihat tenang dengan wajah datarnya. Masih sama seperti dulu. Tapi kenapa, pada Aruna Dicko terlihat berbeda. Ish ... pria yang satu ini sungguh sulit di tebak. Bahkan untuk bisa meraih perhatiannya saja adalah hal yang mustahil.
Apa sih yang berbeda dari wanita itu? Sampai Dicko begitu peduli padanya? Sarah hanya bisa membatin.
"Oh ya, soal wanita itu ..." Sarah akhirnya memberanikan diri membuka obrolan.
"Siapa?" tanya Dicko singkat.
"Ipar kamu."
Agh, ipar. Dicko mendesah. Sungguh lucu kedengarannya. Wanita yang di cintainya, berstatus ipar baginya. Kata itu seakan memberinya tamparan halus. Seakan ingin membangunkannya dari mimpi indahnya.
"Dia harus sering memeriksakan kandungannya secara rutin. Jaga pola makannya. Jangan sampai dia capek apalagi stress. Kehamilan di trimester pertama masih sangat rentan."
Dicko mengangguk pelan, "akan aku sampaikan. Ada lagi?" tanpa menoleh. Pandangannya tetap fokus pada jalanan di depannya.
"Hanya itu. Kalau berkenan, dia bisa datang ke tempat praktekku. Kalau boleh, dia di dampingi suaminya."
"Begitu ya? Apa itu harus?"
"Tidak juga sih. Setidaknya dia ada yang mendampingi. Memberinya semangat. Kehamilan trimester pertama tidak mudah loh. Apalagi saat dia ngidam nanti. Butuh support dari orang - orang terdekat."
"Baiklah. Aku akan lebih menjaganya."
Sarah terkaget. Sembari menoleh dan menatap heran Dicko. Ucapan Dicko menyiratkan seakan dia adalah suaminya.
"Maaf kalau aku menyinggung kamu. Apa sih istimewanya wanita itu, sampai kamu begitu perhatian padanya. Padahal kamu bukan suaminya."
Dicko terdiam sejenak. Namun masih dengan pandangan lurus ke depan. Enggan menoleh sedikitpun. Padahal Sarah adalah wanita yang sangat cantik. Tapi masih saja sulit untuk mengalihkan perhatiannya. Sarah sampai berpikiran kalau Aruna pake pelet. Padahal Sarah belum mengenal Aruna.
Akhirnya mobil yang di kendarai Dicko berhenti tepat di depan rumah sakit tempat tugasnya Sarah yang baru. Rumah sakit yang sama dengan tempat Randa bertugas. Melihat rumah sakit itu membuat Dicko teringat kembali saat Aruna kecelakaan sampai harus kehilangan penglihatannya. Membuatnya semakin tidak bisa melupakan Aruna.
__ADS_1
"Terima kasih atas tumpangannya. Hati - hati ya?" Sarah hendak membuka pintu mobil. Namun terhenti sejenak. Sebab Dicko akhirnya menjawab pertanyaan konyolnya tentang Aruna.
"Mungkin bagi orang lain, dia terlihat biasa saja. Tapi bagiku, dia sangat istimewa. Dia adalah wanita teristimewa di hati dan hidupku." Ucap Dicko mantap.
Sarah hanya bisa tercengang mendengarnya. Tidak disangka, Dicko bisa mencintai seseorang begitu dalam. Sebelumnya Sarah berpikir, bahwa Dicko adalah pria yang sulit untuk jatuh cinta.
"Aku tidak bisa mengutarakannya dengan kata - kata. Tapi dia adalah wanita pertama yang menyentuh hatiku." Kemudian berpaling, menatap Sarah.
Jantung Sarah bahkan serasa berhenti berdetak seketika. Baru pertama kali ini, Sarah menatap Dicko sedekat ini. Sampai membuatnya seakan berhenti bernapas.
Namun hatinya mencelos disaat yang bersamaan. Sungguh sangat disayangkan. Pria setampan Dicko harus mencintai isteri orang. Padahal dia masih bisa mendapatkan wanita lain. Yang lebih dari Aruna.
Sarah pun mengangguk pelan sembari tersenyum tipis. Tetapi hatinya terasa ngilu. Pria yang sejak lama ditaksirnya itu ternyata sudah mencintai orang lain. Iparnya sendiri.
Ya Allah, kenapa dunia ini sungguh tidak adil. Pria setampan itu kenapa harus mencintai istri orang. Masih banyak wanita cantik diluar sana yang mau menjalin hubungan dengan Dicko. Wanita mana sih yang tidak akan terpikat padanya. Bahkan Sarah juga mau.
Akhirnya Dicko pun melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit itu setelah Sarah turun dari mobilnya.
Sarah melangkah gontai menyusuri koridor rumah sakit itu. Sampai di ruangannya, Sarah terkejut melihat dua orang gadis yang sedang duduk di depan meja kerjanya.
Sarah menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya dan mulai menyibukkan diri dengan setumpuk berkas pasien yang tergeletak di depan meja kerjanya.
"Ada apa lagi datang kemari? Kamu tuh ya, tidak ada kapok - kapoknya." Omel Sarah.
Dua orang gadis itu, Mona dan Bianca, memang selalu membuat pusing Sarah. Tidak di tempat kerjanya yang lama, bahkan di tempat kerjanya yang baru pun, dua cecunguk ini selalu meresahkannya.
"Aku hanya ingin berkunjung saja. Habisnya, Kak Sarah tidak memberitahuku tempat kerja Kak Sarah yang baru. Aku jadi sedikit kesulitan mencaritahu tempat ini." Ucap Mona dengan santainya.
"Memangnya kamu ada perlu apa lagi? Aku tidak mau lagi ya menuruti keinginan gila kamu itu. Kalau mau aborsi, silahkan cari tempat yang lain." Sarah terlihat kesal.
"Kakak sepupuku yang cantik, jangan gitu dong. Aku hanya membutuhkan sedikit bantuanmu. Tapi nanti, bukan skarang."
"Bantuan apa lagi sih? Aku bilangin Papa kamu baru tau rasa kamu ya?" geram Sarah
"Jangan gitu dong Kak. Oh ya Kak, pria idaman Kak Sarah itu, siapa namanya?" Mona sedikit kepo tentang pria idaman Sarah sejak dulu hingga kini.
"Mau tau aja. Udah, sana. Aku harus kerja."
"Kak Sarah takut kali Mon. Kali aja kamu bakal merebut pria idamannya itu. Kamu kan kucing betina. Suka merampas tulang dari kucing yang lain." Celetuk Bianca sembari cekikikan.
"Sembarangan kamu." Sambil memukul lengan Bianca. Si asisten yang mulutnya kayak ember itu.
.
.
Sementara di tempat yang berbeda. Aruna tengah mengobrol dengan Tante Novi, Om Heru dan Alika di pojokan minimarketnya. Sementara kasir di jaga oleh seorang karyawan.
"Serius kamu Run? Kamu hamil?" tanya Tante Novi kegirangan.
"Iya Tante. Baru dua minggu."
"Alhamdulillah ... Akhirnya. Selamat ya Run?" sembari merangkul Aruna.
"Selamat ya Kak?" ucap Alika. Sembari merangkul Aruna setelah Tante Novi.
"Selamat ya Run?" ucap Om Heru sambil menepuk lembut pundak Aruna.
__ADS_1
"Terima kasih ya Tante, Om, Alika."
"Oh ya, Trus gimana dengan Bram? Apa dia sudah tau dengan kehamilan kamu ini?" tanya Tante Novi antusias.
Seketika, wajah Aruna berubah mendung. Namun buru - buru Aruna memasang wajah cerianya. Untuk menghindari kecurigaan mereka nanti.
"Iya Tan. Bram sangat bahagia mendengarnya. Dia bahkan hampir menangis, saking bahagianya."
"Oh ya? Aduuuh ... Tante bisa membayangkan bagaimana suami kamu yang over protektif itu menangis terharu."
Bukan over protektif lagi Tante. Bram bahkan tidak peduli lagi saat ini. Batin Aruna dengan hati menahan perih.
"Kalau kamu ngidam nanti, misalkan ada yang ingin kamu makan, kamu tinggal kasih tau Tante. Nanti Tante minta Om mu mengantarkannya ke rumah mertua kamu itu. Ya?"
"Iya, Kak. Kalau Kakak butuh teman di rumah, aku bisa kesana untuk menemani Kakak. Itu pun kalau jadwal kuliahku sedang kosong." Tawar Alika.
"Makasih ya Tan, Alika. Makasih banyak atas perhatian kalian." Aruna jadi terharu hingga buliran air mata itu meleleh dari pelupuk matanya. Namun hatinya pun merasakan perih disaat yang bersamaan. Perih atas perlakuan Bram di masa kehamilannya.
Ya Tuhan, Aruna harus bagaimana? Bram tidak mau mengakui anak yang dikandungnya saat ini. Bagaimana caranya meyakinkan Bram. Agar Bram percaya dan mau menerima anak ini.
"Ya sudah Tan, Alika, Om. Kalau begitu, aku pamit pulang dulu." Pamit Aruna sembari bangkit berdiri.
"Hati - hati ya Run. Biar Om kamu pesankan taksinya." Kemudian menepuk lembut lengan suaminya,
"Ayo Pa, cepat pesankan taksinya."
"Iya, iya, sabar." Om Heru mulai mengutak - atik ponselnya.
Mereka pun melangkah perlahan menuju ke depan minimarket.
"Kayaknya tidak perlu taksi deh Tan." Seru Alika tiba - tiba.
"Loh, kenapa?"
"Tuh ..." Alika menunjuk seseorang yang berdiri di depan minimarket itu.
Bram.
Langkah Aruna pun terhenti seketika. Sembari menatap Bram yang menatapnya dingin. Bukannya senang, hati Aruna malah cemas. Entah apa sebabnya. Dan entah kenapa, tiba - tiba Bram datang menyusulnya kemari.
Namu tiba - tiba, dilihatnya Bram tersenyum tipis. Darah Aruna pun seketika berdesir. Terasa aneh. Mendadak Bram berubah seperti ini. Ada apa?
.......
.......
.......
...-Bersambung-...
Hai readers ...
Mohon maaf ya atas jadwal update nya yang tidak menentu. Jujur, otor adalah seorang IRT dengan buntut yang masih kecil. Jadi harus nunggu buntutnya tidur dulu, biar leluasa nulisnya.
But so thaknyou sudah meluangkan waktunya membaca cerita recehan ini 🤗
Tetap jaga kesehatan ya 🤗
__ADS_1
Saranghae ❤️
Otor Kawe