Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
CUA S2 - Bab 19


__ADS_3

Bram berusaha sebisa mungkin menguasai diri, agar tidak semakin dikuasai amarah. Sebab Aruna tidak akan menyukai itu. Meski hatinya kini terasa perih.


Bram sudah pernah meminta Aruna untuk menjauhi Rama. Namun Aruna malah menganggap remeh permintaannya.


Melihat Bram berdiri dengan wajah tegang, sontak Aruna pun langsung berdiri dan menghampiri Bram.


"Maaf, aku pergi tidak memberitahumu." Ucap Aruna lirih.


"Bukankah aku sudah pernah meminta kamu untuk menjauhinya?"


"Maaf." Hanya itu bisa Aruna ucapkan.


"Jangan salah paham dulu. Kami hanya kebetulan saja bertemu. Tanpa di sengaja." Ucap Rama seraya bangkit dari duduknya.


"Apa aku bertanya padamu?" Bram mulai tidak bisa menahan emosinya.


"Sayang sekali." Seraya mengulum senyum. Kemudian kembali berkata,


"Jangan terlalu emosi. Suatu hari, emosi kamu yang selalu meledak - ledak itu bisa menghancurkan kamu. Dan aku pastikan, kamu akan kehilangan milikmu." Lalu melirik Aruna.


Bram tersenyum sinis.


Kehilangan milikmu? Apa maksud Rama mengatakan itu sambil melirik Aruna. Apakah maksudnya dia akan kehilangan Aruna?


"Aku tidak butuh nasehatmu. Sebaiknya kamu jangan pernah lagi berada di sekitar istriku. Atau aku bisa berbuat hal yang tidak pernah kamu duga sebelumnya." Bram mengancam Rama. Dan hanya membuat Rama terkekeh.


"Kenapa? Karena aku mirip dengan pria itu? Apa kamu takut?"


"Apa yang harus aku takutkan. Kamu bukan siapa - siapa. Kamu hanya seorang penipu."


"Bagaimana, jika aku adalah dia?"


Bram mengernyit, "dia sudah meninggal. Kakakku sudah meninggal setahun yang lalu. Kamu pikir kamu bisa menipu kami?"


"Bagaimana jika ada kesalahan yang tidak kamu ketahui. Dan aku adalah dia. KAKAKMU." Ucap Rama dengan penuh penekanan.


Bram terdiam sejenak. Pikirannya kini mulai menerawang. Mengingat - ingat setiap kejanggalan atas kematian kakaknya. Termasuk sikap aneh Papa Danu belakangan ini.


Tapi mana mungkin? Dicko sudah meninggal. Dan dialah yang sudah mendonorkan matanya untuk Aruna. Dan kuburan Itu, jelas itu kuburan Dicko. Mana mungkin kuburan itu ada jika tidak ada jenazah kakaknya di dalamnya.


"Berhentilah bicara omong kosong. Jangan coba - coba menipuku. Atau kamu akan rasakan akibatnya."


Rama hanya menyunggingkan senyumnya mendengar ancaman Bram. Kemudian menggulirkan pandangannya pada Aruna yang menatapnya sendu.


Tuhan, kembalikan dia padaku.


Kalimat itu masih terngiang di telinganya. Aruna hanya tidak menyangka, Tuhan mengembalikan dia, meski dalam wujud orang lain.


Rama tersenyum menatap Aruna.

__ADS_1


Bram pun semakin geram. Serasa darahnya semakin mendidih. Dadanya terasa begitu bergemuruh. Menahan amarah yang perlahan kian memuncak melihat sikap Rama terhadap Aruna. Sungguh berani dia menatap istri orang seperti itu. Bahkan di depan suaminya sendiri.


Akhirnya, karena tidak tahan lagi. Bram pun menarik kasar lengan Aruna dan menyeretnya hingga sampai ke tempat mobilnya terparkir. Aruna hanya mengikutinya sambil meringis menahan sakit akibat cengkeraman Bram yang terlalu kuat.


Rama hanya bisa menyaksikan perlakuan Bram seperti itu dengan hati menahan kesal. Ada rasa tidak suka melihat Aruna di perlakukan seperti itu. Sangat kasar.


Beberapa detik kemudian, mobil Bram pun meluncur dengan kecepatan tinggi meninggalkan taman itu.


___


Brakkk !


Bram membanting kasar pintu kamarnya. Hingga membuat Aruna terlonjak kaget. Bahkan ketakutan. Terlebih jika melihat ekspresi wajah Bram saat ini yang sulit diartikan nalar.


Bram kini menghampiri Aruna yang tengah duduk di tepi ranjang. Lalu mengambil duduk di sampingnya. Aruna mulai menundukkan wajahnya dalam - dalam. Sebab ada rasa takut melihat Bram dalam keadaan marah.


Terdengar jelas Bram menarik napas panjang dan menghembuskannya kasar. Seakan tengah meluruhkan kekesalan di hatinya.


"Apa kamu mulai meremehkan aku?" tanya Bram. Dan hanya mendapat gelengan kepala pelan dari Aruna.


"Kamu masih marah soal kejadian di restoran tadi?"


Aruna kembali menggeleng lemah. Masih dengan wajah tertunduk. Aruna bisa melihat, Bram mengepalkan tangannya kuat. Dia tahu Bram sedang menahan amarahnya. Dan Aruna tidak berani mengangkat wajahnya untuk menatap Bram.


"Aku minta maaf."


Aruna masih menunduk. Belum punya cukup keberanian untuk menatap Bram. Lalu tiba - tiba Bram menyentuh dagunya, dan mengangkat wajahnya perlahan.


"Aku memang marah. Sangat marah. Tapi demi kamu, aku berusaha menahan amarahku. Lain kali, tolong jangan seperti ini. Aku benar - benar tidak suka."


"Maaf."


"Aruna, jangan pernah lagi melakukan hal yang bisa membuatku marah. Aku tidak tau, apa aku bisa menahan amarahku kalau sampai kamu melakukan kesalahan lagi." Seraya menatap tajam.


Baru saja, Aruna bisa melihat sisi lain dari seorang Bram. Bram yang terlalu protektif, Bram yang terlalu posesif. Aruna tidak bisa membayangkan seperti apa Bram jika amarah yang besar meliputinya. Namun terlepas dari itu semua, Bram hanyalah seorang pria yang takut kehilangan cintanya.


"Berjanjilah, kamu akan menjauhi Rama." Pinta Bram.


Aruna masih terdiam. Menatap sorot mata Bram yang tampak bersungguh - sungguh.


"Aruna ..."


Akhirnya Aruna menganggukkan kepalanya, "aku janji." Lidahnya berkata Iya, tapi hatinya justru berkata lain. Kerinduannya terhadap sosok Dicko, membuatnya sedikit bimbang dan ragu akan perasaannya sendiri. Terlebih sejak hadirnya Rama yang begitu mirip dengan Dicko.


Bram pun mendaratkan satu kecupan hangat di kening Aruna. Cukup lama. Kemudian perlahan mulai turun. Mendarat lembut di bibir ranum Aruna. Memagutnya mesra dan semakin dalam. Sementara satu tangannya meraih tengkuk Aruna untuk semakin memperdalam ciumannya. Satu tangan yang lain mulai berkeliaran bebas. Hingga akhirnya, hasrat itu pun tertuntaskan.


Entah ini hanya perasaan Bram saja ataukah karena rasa takutnya yang teramat sangat. Hingga hadirnya Rama, sedikit banyak berhasil membuatnya resah.


Sebaliknya dengan Aruna. Hadirnya Rama justru membuat kerinduannya akan sosok Dicko sedikit terobati. Dicko yang pergi tanpa pamit. Dicko yang takkan pernah lagi ada untuknya. Mungkin Aruna sudah melakukan kesalahan. Tidak seharusnya dia merindukan pria lain.

__ADS_1


___


Sementara itu, di malam yang sunyi. Di apartemennya, Rama terbangun dari mimpi buruknya. Begitu buruknya mimpi itu hingga Rama terbangun dengan memanggil nama seseorang.


"Aruna ..." pekik Rama kencang.


Suara decitan ban mobil yang mengerem mendadak, serta bayangan seseorang yang tertabrak mobil hingga terlempar jauh beberapa meter ke depan itu membangunkan Rama.


Keringat dingin pun mulai mengucur dari keningnya. Detak jantungnya semakin berpacu. Rasa takut tiba - tiba datang menyergap. Mimpi itu terasa begitu nyata. Seakan mimpi itu pernah terjadi di depan matanya. Apakah arti dari mimpi itu? Dan apa hubungannya dengan Aruna.


Rama mulai merasa aneh dengan dirinya sendiri. Kenapa hampir setiap malam wanita itu selalu hadir dalam mimpinya. Apa hubungannya wanita itu dengan dirinya.


Kepalanya kini mulai terasa pening. Rama pun turun dari ranjangnya. Kemudian berjalan ke meja makan mini, lalu menuangkan air minum dari ceret ke dalam gelas. Kemudian meneguknya hingga habis.


Mungkin dengan sedikit mencari udara segar di luar sana akan sedikit membuat pikirannya tenang. Rama pun langsung menyambar kunci mobil yang tergeletak di meja itu. Kemudian mengambil jaket yang dari dalam lemari. Lalu mulai berjalan keluar dari apartemennya.


Rama memutuskan untuk berkeliling sebentar. Menikmati jalanan ibukota yang justru semakin ramai di jam seperti ini. Pukul 22.00 pm. Waktu yang seharusnya dia pergunakan untuk mengistirahatkan raganya. Tapi entah kenapa, setiap kali dia memejamkan matanya, bayangan Aruna selalu saja datang mengganggu.


Akhirnya, pikiran Rama mulai rileks kembali. Sebelum kembali ke apartemennya, Rama mampir sebentar di Indojuni untuk sekedar membeli camilan. Agar nanti dia tidak terlalu bosan menikmati kesendiriannya.


Rama baru saja melangkah keluar Indojuni. Lalu tiba - tiba saja, tidak jauh dari tempatnya berdiri, di seberang jalan. Mendadak terjadi sebuah kecelakaan. Di depan matanya dia melihat seorang wanita yang hendak menyeberang tertabrak mobil yang sedang melaju kencang. Hingga wanita itu pun terlempar jauh ke depan. Kecelakaan itu persis seperti dalam mimpinya.


"Akh ..." pekik Rama sambil memegangi kepalanya.


Mendadak kepalanya terasa sangat sakit saat menyaksikan kecelakaan itu. Dadanya mulai bergemuruh, jantungnya semakin berpacu, dan keringat dingin pun mulai bercucuran di keningnya.


"Akh ..." Rama kembali memegangi kepalanya. Satu per satu bayangan di masa lalunya secara ajaib memutar kembali dalam memorinya. Dan hanya satu nama yang terucap dari bibirnya.


"Aruna ..."


.......


.......


.......


...-Bersambung-...


Pa kabar readers 🤗


Ibadahnya lancar kan?


Otor cuma mau bilang thankyou so much udah meluangkan waktunya membaca cerita recehan ini.


Tetap jaga kesehatan ya 🤗


Jangan lupa like nya ya 🤗


Saranghae ❤️

__ADS_1


Otor Kawe


__ADS_2