
Bram pulang ke rumah saat hari sudah larut malam. Aruna yang tengah menunggunya sejak tadi di sofa ruang tengah bahkan sampai tertidur.
Bram yang mendapati Aruna tengah tertidur di sofa ruang tamu itu membiarkannya begitu saja. Bram bergegas ke kamarnya dan buru - buru mengganti pakaiannya. Kemudian naik ke tempat tidur.
Sementara Aruna masih tertidur di sofa. Sudah hampir tiga puluh menit sejak Bram pulang. Namun Bram tak juga datang membangunkannya. Sampai akhirnya justru Bi Surti yang datang membangunkannya.
"Non ... Non ... bangun Non." Ucap Bi Surti sambil menepuk pelan pundak Aruna.
Aruna pun terbangun. Mengerjap - ngerjapkan matanya dan menatap nanar Bi Surti.
"Kenapa Non tidur di sini? Den Bram sudah pulang sejak tadi."
"Sudah pulang sejak tadi?"
"Iya Non. Bibi tinggal dulu ya." Kemudian bergegas ke belakang.
Bram sudah pulang sejak tadi? Lalu kenapa dia tidak membangunkan Aruna? Dia justru membiarkan Aruna tidur di luar dan tanpa mempedulikannya sama sekali.
Hati Aruna mencelos seketika. Mungkin Bram masih sangat marah. Wajar jika dia marah. Suami mana tidak akan marah dengan penolakan istrinya. Baru kali ini Bram tak mengacuhkannya seperti ini. Dan ini memang salahnya.
Dengan hati - hati sekali Aruna mendorong daun pintu kamarnya. Dilihatnya Bram sudah tertidur. Aruna pun masuk dan menutup kembali pintu itu dengan sangat hati - hati.
Perlahan Aruna naik ke tempat tidur dan mulai merebahkan diri dengan posisi memunggungi Bram yang juga memunggunginya. Mencoba memejamkan matanya meski mata itu sulit untuk kembali terpejam.
Ya Tuhan, seperti ini rasanya di cuekin. Serasa ada yang menyesakkan dada. Hati bagai teriris. Lidahpun kelu. Aruna ingin meminta maaf, namun Bram seolah enggan. Bahkan untuk menengoknya sekalipun. Buktinya, dia malah membiarkan Aruna tidur di sofa ruang tengah. Padahal mungkin saja dia tahu, kalau Aruna sedang menunggunya pulang. Tapi Bram, sama sekali tidak mempedulikannya.
Dengan bebasnya air mata itu jatuh. Dalam diam, dalam keheningan. Hanya tangannya yang sesekali bergerak menghapus air mata itu.
Entahlah.
Sakit hati ini rasanya. Ini pertama kalinya Bram mengabaikannya. Memang ini salahnya. Menolak suami tanpa alasan. Tapi meskipun begitu, hati ini serasa tertusuk hingga ke dasarnya. Perih.
Tiba - tiba ponselnya yang tergeletak di nakas menyala terang. Pertanda ada pesan masuk. Sengaja Aruna menyetel ponselnya dalam mode senyap agar tidak mengganggu tidurnya nanti.
Aruna pun bangun dan meraih ponsel itu. Lalu membuka isi pesan yang dikirimkan oleh nomor tidak dikenal. Nomor yang berbeda dengan nomor yang mengirimkan fotonya dan Rama waktu itu.
Dan kali ini, isi pesan itu adalah sebuah foto. Foto Bram saat merangkul pinggang Mona dan dalam mode saling menatap.
Aruna mendesah pelan. Kemudian meletakkan kembali ponsel itu di nakas. Lalu beranjak dari tempat tidur keluar kamar.
Keadaan di luar sangat sepi. Malam semakin larut. Namun Aruna sangat sulit untuk memejamkan matanya. Foto Bram dan Mona tadi sudah menguapkan rasa kantuknya dan hilang entah kemana. Berganti dengan rasa sakit yang mulai terasa menusuk.
Udara di luar sangat dingin. Namun Aruna tidak bisa merasakannya. Karena hatinya saat ini terasa panas. Di tengah malam yang dingin dan sepi ini, Aruna memilih duduk sendirian di taman belakang rumah dekat kolam renang. Pandangan matanya terfokus memandangi dasar kolam itu. Namun pikirannya melayang.
Tanpa sadar air mata itu kembali menetes. Tanpa permisi. Berderai begitu saja. Entah kenapa, duduk sendirian di taman belakang ini justru mengingatkannya pada sosok Dicko. Yang selalu memberinya tempat bersandar disaat hatinya gundah. Di rumah sebesar ini, tiba - tiba Aruna merasa kesepian.
Tiba - tiba saja, dari belakang, ada yang menyelimutinya. Lalu merangkulnya. Dan memberi kecupan hangat di puncak kepalanya.
Bram.
"Aku minta maaf." Lirih Bram yang terdengar jelas di telinga Aruna.
Aruna pun menghapus air matanya. Lalu bangkit berdiri. Menghadap Bram yang tengah menatapnya sendu.
__ADS_1
"Aku sedih melihat kamu seperti ini. Maaf atas sikapku yang melukaimu. Aku tidak bermaksud mengabaikan kamu." Sembari menangkup wajah mungil Aruna dan menatapnya lebih dalam.
"Sedetikpun aku tidak bisa jauh darimu. Jadi mana mungkin aku bisa mengabaikanmu begitu saja. Aku sangat mencintaimu. Aku hanya takut cinta di hatimu untukku tidak ada lagi. Kalau bukan kamu, siapa lagi yang aku miliki di dunia ini? Siapa lagi yang akan mencintaiku seperti kamu mencintaiku?" Tatapan Bram semakin sendu dan dalam.
"Aruna, tolong, jangan pernah berubah. Aku rindu kamu yang dulu. Aruna yang dihatinya hanya ada Bram. Bukan orang lain."
Aruna menghela napas sebentar. Ingin sekali dia menanyakan tentang foto itu. Tapi mungkin ini bukan saat yang tepat. Lagipula malam semakin larut. Aruna hanya tidak ingin ada pertengkaran di tengah malam buta seperti ini.
Satu kecupan hangat dengan cepat mendarat di keningnya. Aruna mengulum senyum tipisnya.
"Maafkan aku. Sekali lagi aku mengecewakan kamu."
"Di luar sangat dingin. Kita masuk yuk." Kemudian merangkul pundak Aruna dan bersama - sama mereka melangkah masuk.
.
.
Pagi hari di TRF.
Bram tidak mengijinkan lagi Aruna bekerja. Untuk itu Bram berangkat sendiri ke kantor. Bram sudah terbiasa menyetir sendiri tanpa supir.
Bram melangkah panjang memasuki gedung itu. Di kejauhan pandangannya melihat Rama tengah berbincang dengan Andre, asistennya. Beberapa kali Andre terlihat menganggukkan kepalanya. Seperti sedang menuruti perintah atasannya itu.
Bram masih memperhatikan dengan sengaja memperlambat langkahnya.
Sejurus kemudian, Andre beranjak pergi meninggalkan Rama. Dan Rama memutar tubuhnya hendak melangkahkan kakinya. Namun tertahan karena jauh di depannya dia melihat Bram yang tengah mengamati geriknya.
Buru - buru Bram memutar tubuhnya. Memandangi Rama yang sudah menghilang di balik pintu mobil. Mendadak rasa cemas kembali menyergapnya. Sikap Rama seperti itu sangat mirip dengan sikap Dicko.
Benar.
Sangat mirip.
Kakaknya yang selalu datar. Kakaknya yang selalu bersikap tenang. Kakaknya yang penuh wibawa.
Hati kecil Bram seolah berkata bahwa itu adalah kakaknya.
Mendadak sekujur tubuhnya gemetaran disertai keringat dingin yang mulai menetes dari keningnya.
Tapi apakah mungkin?
Sementara itu, Aruna tengah menyiram tanaman di depan rumah. Bukan hanya tidak mengijinkan Aruna ke kantor. Bram bahkan tidak mengijinkan Aruna keluar rumah. Jadi untuk menghilangkan kebosanannya Aruna mencoba mengerjakan beberapa pekerjaan rumah. Meski Bi Surti sudah seringkali melarangnya.
"Aduh Non, biar Bibi aja Non. Bibi takut nanti dimarahi Den Bram." Seru Bi Surti cemas.
"Tidak apa - apa Bi. Mumpung Bram lagi di kantor. Bi Surti tidak usah takut."
"Iya, tapi Non. Haaa ... astaga." Bi Surti tiba - tiba terkaget dengan mata terbelalak tertuju ke arah gerbang.
Sebuah mobil baru saja tiba. Dan dari mobil itu turun seseorang yang nyaris membuat Bi Surti jatuh pingsan. Aruna pun akhirnya mengikuti arah pandang Bi Surti.
Rama.
__ADS_1
Berani sekali dia datang kemari. Apa maksud kedatangannya?
"Pagi ..." sapa Rama sembari berjalan menghampiri dengan senyum di wajahnya.
Bi Surti tampak gemetaran melihat Rama.
"Den__Den Dicko?" Bi Surti tergagap.
Rama hanya tersenyum.
"Ya Tuhan ... ini, ini benar Den Dicko? Dari caranya tersenyum, Bibi tau betul ini Den Dicko."
"Bukan Bi. Itu Rama." Aruna membantah kalimat Bi Surti.
"Bertahun - tahun Bibi kerja di rumah ini. Bibi tidak pernah salah mengenali orang." Bi Surti merasa yakin sekali bahwa Rama adalah Dicko.
"Bukan Bi Surti. Semua orang juga sudah tau, kalau Dicko sudah meninggal."
Bi Surti terlihat bingung. Namun entah kenapa, firasatnya mengatakan kalau itu adalah Dicko.
Sementara Aruna. Memandangi Dicko dengan tatapan menyelidik. Mengamati setiap geriknya. Apa yang dikatakan Bi Surti sedikit mengusik pikirannya.
"Pak Danu ada Bi?" tanya Rama.
"Tuan Danu ada di dalam Den. Mau Bibi panggilkan?"
"Tidak usah. Biar saya saja yang ke dalam."
Sebelum melangkah masuk, terlebih dulu Rama menghampiri Aruna yang berdiri sambil memegang selang air.
Apa boleh buat. Demi kamu, aku nekat datang kemari. Bram sudah sangat keterlaluan, menjadikanmu seperti burung dalam sangkar.
Rama hanya bisa membatin. Sambil menatap Aruna lekat.
.......
.......
.......
...-Bersambung-...
Kabar baik kan readers 🤗
Jangan lupa tetap jaga kesehatan.
Saranghae ❤️
Salam hangat 🙏
Otor Kawe
Thankyou for your like and coment 👍
__ADS_1