Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
CUA S2 - Bab 34


__ADS_3

Setelah memeriksa kondisi Aruna, Sarah pun pamit pulang. Diantar oleh Randa sampai ke depan pintu.


"Makasih banyak ya? Dan maaf, sudah merepotkan kamu." Ucap Randa.


Sarah pun tersenyum. Akan tetapi ada hal yang terasa begitu mengusik rasa penasarannya.


"Aku pikir, wanita itu istrinya Dicko."


"Bukan. Dia istri adiknya."


"Oooh ... Tapi dari yang aku lihat, cara Dicko menatapnya terlihat sangat berbeda. Seperti sedang menatap seseorang yang dicintainya."


"Itu perasaan kamu saja. Kamu masih suka ya sama dia?"


Sarah kembali tersenyum. Tidak dikatakan pun, Randa bisa melihatnya dari cara Sarah menatap Dicko.


"Dicko terlihat berbeda. Mungkin ini hanya perasaanku saja. Wanita itu sepertinya sangat istimewa bagi Dicko."


"Hanya perasaan kamu saja. Sampai saat ini, Dicko masih sendiri loh. Mungkin kamu masih punya kesempatan." Seloroh Randa.


Sarah hanya tertawa kecil. Seandainya bisa. Tetapi Dicko, termasuk pria yang teramat sulit di dekati. Jangankan meraih cintanya, bahkan meraih perhatiannya saja terasa begitu sulit. Bagaikan mendaki bukit yang tinggi. Tidak mudah, dan terlalu banyak tantangan.


"Randa ... jangan tinggalkan mereka berdua." Seru Papa Danu mengingatkan. Yang datang dari arah belakang.


"Kalau begitu saya permisi dulu. Mari Pak ... Mari Randa. Selamat malam."


Sarah pun akhirnya pamit pulang. Dan Randa kembali ke kamar Bram.


..


Di kamar Bram, Dicko masih belum beranjak dari tempatnya. Kini dia tengah duduk di sisi ranjang. Menghadap Aruna yang duduk dengan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, sambil menatapnya sendu.


"Muka kamu kenapa?" tanya Aruna sembari mengulurkan tangannya menyentuh wajah Dicko yang penuh lebam dan luka di bibirnya.


"Hanya luka kecil. Tidak usah cemas."


"Kamu habis berantem dengan Bram kan?" tanya Aruna lagi.


Dicko tersenyum tipis sembari meraih jemari Aruna yang menyentuh wajahnya dan menggenggamnya erat.


"Selamat ya? Kamu akan jadi seorang ibu. Mungkin dengan mendengar kabar ini, sikap Bram terhadap kamu akan berubah." Dicko tulus mengatakan itu. Tetapi entah kenapa, hatinya terasa perih.


Kabar gembira ini mungkin akan lebih mengeratkan lagi hubungan Bram dan Aruna. Bukan Dicko mengharapkan perpisahan Bram dan Aruna. Tetapi, Dicko pun tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Dia sangat mencintai Aruna dan menginginkan Aruna menjadi miliknya.


"Bram pasti sangat bahagia mendengar ini." Kemudian mengulurkan tangannya. Menyentuh sebelah pipi Aruna. Seraya tersenyum lembut.


Melihat Dicko seperti ini, entah kenapa, hati Aruna terasa begitu perih. Hingga tanpa sadar, air matanya luruh begitu saja.


"Apa kita masih bisa bertemu lagi? Apa setelah ini, kamu akan menjauh dariku?" ucap Aruna dengan tetesan air mata.


Dicko menggeleng, "tidak akan. Aku akan slalu berada di dekatmu. Hanya dengan melihatmu saja, itu sudah cukup bagiku." Sembari menghapus air mata di wajah Aruna.


"Skarang, yang harus kamu pikirkan adalah bayi kamu. Kamu sudah dengar kan, apa kata dokter?"


Aruna mengangguk pelan. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Seperti tengah berjaga - jaga, jangan sampai Bram muncul tiba - tiba.


"Sedang cari siapa? Kamu takut kalau Bram tiba - tiba datang?"

__ADS_1


Aruna menggeleng. Kemudian dengan cepat memeluk Dicko erat. Dicko pun membalas pelukannya dan mengecup lembut puncak kepalanya.


"Entah kenapa, rasanya aku ingin waktu berhenti disini saja. Aku ingin skali memeluk kamu seperti ini terus." Sembari mempererat pelukannya.


"Andai saja waktu dan keadaan berpihak pada kita." Namun Dicko hanya bisa berandai - andai.


"Ehem ... Ehem ..."


Suara deheman Randa mengagetkan keduanya. Dan buru - buru keduanya saling melepaskan pelukannya. Dicko kemudian berdiri dari sisi ranjang dan menghampiri Randa. Inilah kenapa Papa Danu mengingatkan Randa untuk tidak meninggalkan mereka berdua. Kalau Bram tiba - tiba datang, mungkin perang dunia ketiga akan terjadi di rumah ini, malam ini juga.


"Terima kasih ya? Sekali lagi aku merepotkan kamu." Ucap Dicko tulus.


"Tidak masalah. Oh ya, kamu masih ingat Sarah kan?" Randa mencoba mengorek masa lalu. Semasa mereka kuliah dulu.


Namun Dicko hanya menatap Randa datar. Seakan enggan Randa membahas masa lalu. Akan tetapi berbeda dengan Randa. Mungkin, dengan mencoba mendekatkan Dicko dengan Sarah, perlahan Dicko akan melupakan Aruna.


"Sarah titip salam buat kamu."


Dicko kini menatap Randa tajam. Sangat tajam serasa bagai menghunus jantung. Hingga Randa pun jadi salah tingkah. Percuma saja Randa melakukan hal itu. Karena dalam hati dan hidup Dicko hanya ada Aruna. Cinta pertama dan terakhirnya.


.


.


Sementara itu, Bram yang dalam keadaan mabuk berat, tidak menyadari kalau Mona membawanya pulang ke apartemennya malam itu.


Hingga akhirnya Bram pun terbangun keesokan paginya. Dalam keadaan polos di balik selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Persis seperti setahun yang lalu. Matanya menatap nanar menyapu ke seluruh ruangan. Dan yang tampak di depan matanya adalah Mona yang datang menghampiri dengan senyum merekah.


"Pagi Beb ..." sapa Mona genit.


"Kenapa aku bisa ada di sini?" kemudian Bram menurunkan pandangannya. Dan betapa terkejutnya Bram mendapati tubuh polosnya yang hanya tertutupi selimut. Melihat itu Mona hanya tersenyum.


"Semalam kamu luar biasa. Aku sampai kewalahan melayani kamu."


"Ap_apa?" Bram sangat terkejut. Bahkan hampir melompat dari ranjang itu.


Mona pun kembali tersenyum genit.


"Kamu terlalu bersemangat semalam. Sedikit buas. Tapi aku suka. Makasih ya Beb ..."


"Tunggu dulu. Maksud kamu apa?"


"Jangan bilang kalau kita ... kalau kita ..." Bram begitu ngeri melanjutkan kalimatnya. Apa yang sudah di lakukannya kali ini. Bagaimana kalau itu benar - benar terjadi. Apalagi dengan melihat keadaannya yang polos saat ini. Sudah pasti, mereka melakukannya.


"Aaakh ..." Bram mengacak kasar rambutnya. Pikirannya benar - benar kacau. Semalam dia tidak pulang. Apa yang harus dia katakan pada Aruna. Dia harus menjawab apa atas pertanyaan - pertanyaan Aruna nanti.


"Kita melakukannya semalam. Lalu apalagi? Jangan bilang kalau kamu lupa." Tandas Mona sembari berjalan ke arah lemari dan mengambil handuk. Lalu kembali menghampiri Bram dan memberikan handuk itu pada Bram.


"Mandi dulu. Setidaknya saat pulang nanti kamu dalam keadaan bersih. Istri kamu itu pasti sangat mencemaskan keadaan kamu saat ini."


"Apa aku sudah gila? Kenapa aku bisa seceroboh ini?" gumam Bram menyesali kebodohannya.


Lagi - lagi dia terjebak di situasi yang sulit. Kalau dulu, ada Dicko yang akan selalu membantunya. Tapi kali ini, hubungannya dengan Dicko sudah tak sebaik dulu lagi. Sudah tidak ada lagi orang yang selalu membelanya. Yang selalu ada untuknya di saat - saat tersulitnya.


"Tidak usah takut Beb. Aku tidak mengambil foto ataupun merekamnya. Kita melakukan itu atas dasar suka sama suka. Aku tidak akan menjebak kamu dengan cara seperti itu. Lagipula, foto atau video seperti itu, nantinya akan jadi boomerang buat aku sendiri. Mana mungkin aku sembarangan mengabadikan momen seperti itu." Tandas Mona.


Akan tetapi, apakah yang dikatakan Mona itu bisa di percaya? Bagaimana kalau kejadian dulu bersama Hanna terjadi lagi? Lalu Bram harus bagaimana?

__ADS_1


Bram sudah bersiap pulang. Dia melangkahkan kakinya keluar dari apartemen itu. Tepat saat Bram keluar dan menutup pintunya, saat itu juga Dicko baru saja keluar dari apartemennya. Dan begitu terkejut melihat Bram.


Jika sepagi ini Bram berada di apartemennya Mona, itu artinya semalam Bram tidak pulang ke rumah. Astaga, apa yang Bram lakukan bersama gadis itu.


"Ternyata ini yang kamu lakukan? Kamu meninggalkan Aruna begitu saja saat dia pingsan. Dan kamu lebih memilih bersama gadis itu? Apa kamu tau apa yang terjadi dengan Aruna?" Dicko naik pitam juga melihat kelakuan Bram.


Namun Bram, malah menatap sinis Dicko.


"Dari mana kamu tau kalau dia pingsan? Apa kemarin kamu ke rumah? Untuk apa? Untuk menemui istri orang?"


"Iya. Memangnya kenapa?" Dicko merasa tertantang.


Bram tersenyum sinis.


"Sampai kapanpun, perbuatan kalian tidak akan pernah aku maafkan."


"Kamu sudah salah paham Bram."


"Salah paham? Apa yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, itu sudah cukup menjelaskan apa yang kalian lakukan saat itu. Aku bukan anak kecil yang tidak mengerti apa pun. Aku tau apa yang kalian lakukan."


"Bram, sebaiknya kamu pulang. Temui Aruna. Saat ini dia membutuhkan kamu."


Bram memalingkan wajahnya. Seakan tak ingin lagi mendengar nama Aruna.


"Bram, kamu harus tau. Aruna sedang hamil."


Bram tertegun seketika. Lalu memalingkan kembali wajahnya dan menatap Dicko tajam.


Apa? Apa yang baru saja di dengarnya? Aruna hamil?


Tampak bulir - bulir air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Hingga akhirnya air mata itu pun jatuh berderai begitu saja.


Bram bahagia?


Ataukah justru perasaan lain yang dirasakannya saat ini?


Bukankah ini kabar bahagia? Seharusnya Bram bahagia mendengar kabar ini.


"Hamil? Apa aku harus percaya?"


"Apa maksud kamu Bram."


Bram tersenyum sinis. Sembari menghapus air matanya.


.......


.......


.......


...-Bersambung-...


I am sorry 😟 Otor sibuk nerima tamu di rumah, jadinya otor kawe ini sering telat update.


But, so thank you readers sudah meluangkan waktunya membaca cerita recehan ini.


Tetap jaga kesehatan ya? 🤗

__ADS_1


Saranghae ❤️❤️


Otor Kawe


__ADS_2