Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
CUA S2 Bab - 56


__ADS_3

Pukul 09.30 pagi waktu setempat. Seorang pria terlihat berjalan dengan langkah panjang keluar dari Bandara kota MA sambil menggeret koper. Di depan telah menunggu mobil jemputannya. Dan seorang pria muda yang tengah menunggunya pun langsung membukakan pintu penumpang.


"Selamat datang Pak Bram." Sapa Bimo yang pagi itu datang menjemput Bram. Demi menjemput Bram, Bimo bahkan menolak mengantar Dicko yang bermaksud mengajak Aruna kembali berkeliling menghabiskan waktu bersama. Sebelum Dicko kembali ke kota JA esok hari.


Bram langsung naik ke mobil itu begitu Bimo membukakan pintu penumpang untuknya. Bimo hendak menutup kembali pintu mobil itu, sampai tiba - tiba saja seorang gadis datang dan ikut naik. Lalu langsung mengambil duduk di samping Bram. Hingga membuat Bram terperanjat kaget. Siapa lagi gadis itu kalau bukan Clara.


"Kamu!" Bram kaget luar biasa. Clara malah nyengir sembari memperbaiki tatanan rambutnya yang sedikit berantakan akibat berlari mengejar Bram yang sudah berada jauh di depannya.


Setelah menutup pintu mobil itu, Bimo pun bergegas naik dan sudah bersiap mengemudikan mobil itu.


"Tunggu, tunggu dulu Bim." Cegah Bram sebelum Bimo menjalankan mobilnya.


"Ada apa Pak Bram?" Tanya Bimo.


"Darimana datangnya gadis aneh ini? Kenapa kamu bisa ada disini? Hah? Apa kamu bisa teleportasi? Kenapa kamu mengikutiku sampai kemari? Ternyata kamu seorang penguntit ya?" Bram benar - benar kesal dengan kehadiran Clara.


"Seperti itulah. Aku hebat kan? Aku bisa berpindah tempat dalam sekejap mata, kapanpun aku mau." Clara tersenyum lebar menatap genit Bram.


"Tapi aku bukan penguntit. Jangan salah loh ya. Memangnya apa yang menarik darimu. Dari ujung kaki sampai ujung rambut kamu terlihat biasa saja. Tidak ada yang istimewa." Tambah Clara cepat.


"Apa kamu bilang? Aku biasa saja?" Bram memelototi Clara. "Aku setampan ini kamu bilang biasa saja? Apa kamu buta?"


Clara mengangguk mantap. Ternyata seru juga mengerjai Boss stress itu.


"Haaaaah ... Dasar gadis aneh."


"Ayo Pak, jalan." Titah Clara pada Bimo. Tanpa mempedulikan Bram. Yang menatapnya sadis dari ujung kaki hingga ke ujung rambut.


"Heh, turun kamu. Cari mobil yang lain. Bisa alergi aku dekat - dekat kamu. Dasar gadis penguntit." Bram masih kesal.


Namun Clara malah semakin tersenyum lebar.


"Ayo turun ..." desak Bram.


"Jalan saja Pak. Jangan mendengarkan orang stress ini. Aku ada disini atas perintah Pak Danu." Titah Clara lagi. Kemudian memusatkan pandangannya ke depan sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Baiklah ... Mau langsung ke hotel?" tanya Bimo. Mendengar nama Papa Danu, Bimo tidak berani membantah.


"Kita ke Mall saja dulu. Setelah itu kita ke hotel." Pinta Bram. Akhirnya dia pasrah, karena keberadaan Clara atas perintah ayahnya. Clara pun tersenyum sambil menatap Bram yang tengah memalingkan wajahnya keluar jendela.


"Baik." Bimo mematuhi perintah atasannya. Lalu mulai menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran parkir Bandara.


Memang keberadaan Clara di kota itu atas perintah Papa Danu. Yang ingin Clara mengawasi Bram. Papa Danu hanya mencemaskan keadaan Bram. Dia tidak ingin Bram kehilangan kontrol akan perasaannya hingga akhirnya menghilangkan akal sehatnya. Dan akan melakukan tindakan bodoh yang membahayakan dirinya. Saat ini, kondisi kejiwaan Bram labil pasca bercerai dari Aruna. Setiap hari Bram melamun, hingga Papa Danu pun begitu mencemaskannya.


Dari Bu Diana lah Papa Danu mengetahui kalau Bram akan pergi ke kota MA. Hingga timbul ide untuk mengirim seseorang yang bisa mengawasi Bram. Dan Papa Danu pun langsung meminta Bu Diana memesan satu tiket lagi untuk Clara. Di kabin pesawat, Bram tidak melihat Clara, karena Clara duduk tepat di belakang Bram.


.


.


Mobil yang dikendarai Bimo terlihat memasuki area parkir salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Bimo pun langsung memarkirkan mobilnya. Dan mereka langsung turun dari mobil itu.

__ADS_1


"Oh ya, kamu tidak memberitahu kakakku kan kalau aku datang kemari?" tanya Bram sebelum mereka melangkah masuk.


"Tidak Pak."


"Bagus."


"Memangnya kamu ada misi rahasia ya? Kok sampe main rahasia - rahasiaan begitu sih?" tanya Clara penasaran.


Bram malah memelototinya, "bisa diam tidak?"


"He he he, abiiis ... Kamu aneh sih. Kok main rahasia - rahasiaan segala dari kakak sendiri. Jangan - jangan kamu ini mantan seorang mafia ya ... atau jangan - jangan kamu adalah ... hiiiiii ... aku jadi ngeri." Clara malah membayangkan yang aneh - aneh tentang Bram.


"Heh! Sudah aku bilang kan apa tugas kamu? Jangan cerewet. Kalau tidak, mulutmu itu akan aku sumpal pake sendal jepit. Dasar cerewet."


"Ups! Maaf ... Maaf." Clara mempraktekkan gaya mengunci mulutnya sendiri.


Bram pun mendengus kesal. Kemudian kembali melangkahkan kakinya memasuki Mall itu. Waduh, lama - lama bisa gondokan Bram nih di dekat Clara terus.


Sementara di dalam Mall, di toko Oma Windi. Seperti biasa, Aruna tengah sibuk melayani pelanggan. Kali ini bukan gadis - gadis remaja. Melainkan ibu - ibu sosialita. Yang minta dibuatkan desain khusus. Aruna tampak ramah melayani pelanggannya.


"Makasih banyak loh Aruna. Saya sudah dibuatkan rancangan yang sangat sesuai dengan keinginan saya. Saya suka sekali." Ucap ibu - ibu sosialita itu sebelum pamit.


"Sama - sama Bu. Terima kasih juga, karena sudah mempercayakan saya. Semoga Ibu puas dengan hasilnya."


"Sudah pasti saya puas dong. Kalau begitu saya pamit dulu. Mari ... Mari Oma Windi." Ibu - ibu sosialita itu pun pergi. Oma Windi tersenyum puas menatap Aruna.


"Hari ini kamu tidak pergi dengan Nak Dicko?" tanya Oma Windi.


Oma Windi kembali tersenyum. Lalu tiba - tiba pandangan Oma Windi terpaku ke arah belakang Aruna. Ke arah pintu masuk. Aruna pun berpikir ada pelanggan yang datang.


Sontak Aruna langsung berbalik, selamat datang di to__" kalimat Aruna terhenti. Sebab di depan matanya berdiri sesosok yang familiar. Bukan pelanggan seperti biasanya. Melainkan seseorang yang pernah hadir dalam hidupnya.


Bram.


Aruna pun terpaku seketika di tempatnya. Menatap lurus Bram. Yang tengah menatapnya sendu dengan mata yang mulai berkaca - kaca.


Entah Aruna harus berbuat apa. Lidahnya bahkan terasa kelu walau untuk sekedar menyebut namanya saja.


"Aku pikir aku tidak akan pernah bisa melihatmu lagi." Ucap Bram lirih. Di ikuti buliran air mata yang mulai berjatuhan dari pelupuk matanya.


Aruna tidak tahu harus berbuat apa. Di tempatnya, Oma Windi memperhatikan keduanya. Sementara di luar toko itu, Bimo dan Clara pun tengah memperhatikan mereka.


"Wanita itu siapa ya?" tanya Clara penasaran.


"Pacarnya Pak Dicko."


"Ooh ... Calon kakak iparnya ya ..."


Aruna masih menatap tak percaya. Kenapa Bram tiba - tiba bisa berdiri di hadapannya saat ini. Darimana Bram tahu dia ada disini?


Saat akan naik ke lantai empat, tanpa sengaja Bram melihat Aruna yang sedang mengobrol dengan seorang pelanggan. Hingga Bram pun menghentikan langkahnya dan memilih menghampiri Aruna.

__ADS_1


"Aku sangat merindukanmu." Ucap Bram lagi.


"Dua tahun aku memendam rindu ini. Aku masih tidak bisa melupakanmu. Semua ini masih terasa seperti mimpi bagiku. Aku__" Bram terisak hingga kalimatnya terhenti.


Aruna pun mencoba menenangkan Bram dengan mengusap lembut pundaknya. Tapi tiba - tiba saja Bram memeluknya erat sambil terisak. Hingga membuat semua mata yang menyaksikan terbelalak kaget.


"Aruna ..." tiba - tiba Dicko datang. Dan sudah berdiri di belakang Bram.


Perlahan Aruna pun menarik dirinya dari pelukan Bram. Lalu menghampiri Dicko dan meraih tangan Dicko dalam genggamannya.


Bram berbalik, menghadap Aruna dan Dicko yang berdiri sambil bergenggaman tangan. Bram menatapnya tajam dengan amarah yang tertahan.


"Kami saling mencintai. Dan kami akan segera menikah." Ucap Aruna sambil menatap Bram serius.


Bram pun tertegun. Sakit itu kembali terasa. Perih dihatinya kembali menyayat. Bagai luka yabg belum mengering dan tersiram air garam. Sungguh perih. Bagaimana Bram harus merelakannya. Bahkan Bram sendiri belum bisa menerima kenyataan itu.


Bram tersenyum getir. Air mata itu masih menetes dari pelupuk matanya.


"Maaf Bram. Aku sangat mencintainya." Ucap Aruna lagi.


Sementara Dicko jadi tak tega melihat Bram dalam keadaan seperti itu.


Tanpa aba - aba, Bram pun berlalu dengan cepat meninggalkan mereka. Melewati Clara dan Bimo begitu saja. Bram bahkan setengah berlari meninggalkan Mall itu.


Di belakangnya, Dicko berusaha menyusulnya.


"Bram ..." panggil Dicko. Tapi Bram tidak menghiraukannya.


"Bim, tolong ikuti dia ..." titah Dicko pada Bimo.


"Baik, Pak." Tanpa bertanya apa - apa lagi Bimo langsung menyusul Bram. Di ikuti oleh Clara yang berlari di belakang Bimo.


Semoga saja, Bram tidak akan berpikiran pendek. Dan kehilangan akal sehatnya. Karena terbawa oleh perasaannya saat ini.


Bram terus saja melangkah panjang tanpa menghiraukan apapun. Sampai di depan Mall, tiba - tiba saja ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arahnya. Bram tidak menyadarinya. Lalu tiba - tiba saja ...


Bugh !!!


Terdengar suara benturan keras. Seseorang terhuyung dan akhirnya terjatuh.


.......


.......


.......


...-Bersambung-...


Saranghae ❤️❤️


Otor Kawe

__ADS_1


__ADS_2