Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 33 Pisah Ranjang


__ADS_3

Setelah berganti pakaian, Aruna membawa laptop dan ponselnya menuju kamar tamu.


''Kamu mau kemana?'' suara Arya menghentikan langkah Aruna.


''Maaf Mas, aku tidak mau satu ranjang denganmu lagi.''


''Tapi Aruna? Kita masih suami istri.''


''Lebih baik peluk istri keduamu saja, Mas.'' Ucap Aruna seraya berlalu meninggalkan kamarnya. Kamar yang begitu penuh dengan kenangan manis antara dirinya dan juga Arya.


''Maaf Mas, kalau aku bersikap kasar padamu. Aku bersikap lemah dihadapanmu pun percuma. Karena cintamu juga tetap akan terbagi.'' Gumam Aruna sembari terus melanjutkan langkahnya menuju kamar tamu.


''Kenapa Aruna berubah sih? Apa dia punya kekasih baru? Kenapa sikapnya tidak selembut biasanya?'' kesal Arya. Tiba-tiba ponsel Arta berdering. Panggilan masuk dari istri keduanya.


''Halo Shella, ada apa?''


''Mas, kamu sudah tidur?''


''Belum Shella. Aruna justru marah padaku.''


''Marah? Kenapa?''


''Dia tidak mau tidur satu ranjang lagi denganku. Dia selalu memintaku memilih antara kamu atau dia.''


''Lalu apa jawabanmu, Mas?''


''Aku tetap tidak bisa memilih. Aku mencintai kamu dan juga Aruna.''


''Aku sendiri sudah siap menjadi istri kedua, Mas. Kalau memang istrimu tidak mau tidur satu ranjang denganmu, kamu kan masih ada aku. Aku kapanpun siap melayani kamu, Mas.''


''Iya sayang, kamu memang yang paling mengerti aku saat ini. Sebaiknya kamu juga istirahat. Aku sangat lelah, kamu tahu sendiri Aruna baru pulang dari rumah sakit jadi aku anggap dia masih sensitif.''


''Ya itu urusan kamu, Mas. Yang penting besok kita bertemu ya, Mas. Aku lusa ada fashion show di Singapura jadi aku ingin menghabiskan waktu bersama denganmu besok.''


''Kenapa mendadak Shella?''


''Sebenarnya sudah beberapa minggu yang lalu. Karena kamu sibuk mengurus istri pertama mu, jadi aku lupa cerita.''


''Maafkan aku ya, aku sampai mengabaikanmu. Tapi kamu berapa hari disana?''


''Satu Minggu, Mas.''


''Kenapa lama sekali, sayang? Aku pasti akan merindukan kamu. Aku menyusul kamu ya nanti? Aku butuh liburan tipis-tipis juga sih. Dan aku juga butuh refreshing setelah dua minggu berkabung.''

__ADS_1


''Aku senang sekali kalau kamu menyusul, Mas. Tapi ingat ya Mas, aku masih terikat kontrak satu tahun jadi hubungan kita tidak bisa di publikasi.''


''Iya aku mengerti. Oh ya aku juga akan membawa kamu menemui orang tuaku dan orang tua Aruna. Aku ingin secepatnya menyelesaikan masalah ini. Aku ingin mengutarakan tujuanku pada mereka semua kalau aku ingin berpoligami.''


''Tapi Mas, apa itu tidak terlalu beresiko? Bagaimana kalau mereka tidak menerimanya?''


''Aku tidak peduli! Yang jelas aku sudah meminta ijin pada mereka. Ya sudah, kamu istirahat sana. Besok jam makan siang, aku ke apartemen ya.''


''Iya Mas. Kamu juga istirahat ya, nice dream. I love you.''


''Nice dream juga sayang, love you too.'' Panggilan berakhir.


Sungguh hancur hati Aruna mendengar percakapan itu. Aruna yang hendak kembali ke kamar untuk mengambil charger ponselnya, justru harus mendengar obroan Arya dan Shella.


''Keterlaluan sekali kamu, Mas. Kamu di depanku mengemis bilang mencintaiku dan tidak mau berpisah denganku. Tapi kenyataannya kamu mengumbar kata-kata romantis juga pada wanita itu. Bahkan kamu menganggapku seperti istri cadangan saja. Gila kamu, Mas!" Aruna merutuk dalam hati. Aruna mengurungkan niatnya kembali ke kamar dan ia memutuskan kembali ke kamar tamu. Aruna mengunci pintu kamar dan melepaskan tangisnya.


''Mami!" panggil Zidane sambip mengetuk pintu kamar ruang tamu. Mendengar suara Zidane, Aruna buru-buru menghentikan tangis dan menyeka air matanya. Aruna lalu beranjak dan membuka pintu.


''Zidane, kamu kok disini?'' tanya Aruna. Rupanya Zidane lagi-lagi mendengar kedua orang tuanya.


''Tadi Zidane mencari Mami tapi kata Papi, Mami ada disini.'' Ucap Zidane. Aruna lalu mengajak Zidane masuk ke dalam kamar.


''Mami kenapa tidak tidur di kamar? Kenapa tidur disini?''


''Mata Mami basah, Mami habis nangis ya?''


Aruna tersenyum. ''Mami merindukan adik Zio.''


''Mami jangan menangis lagi ya. Ada Zidane disini. Mami, bagilah kesedihan Mami denganku. Jangan Mami pendam sendiri. Zidane tidak mau Mama lain. Mami Zidane hanya Mami.''


Aruna terkejut tiba-tiba mendengar pengakuan Zidane. ''Maksud kamu apa sayang? Kenapa harus ada Mami baru?''


''Mami, Zidane sudah mendengarkan semua pertengkaran Mami dan Papi. Papi mempunyai Mami lain selain Mami kan?'' ucap Zidane dengan tatapan polosnya. Bulir air mata Aruna menetes kembali mendengarkan apa yang Zidane ucapkan.


''Darimana kamu tahu sayang? Kamu pasti salah dengar.''


''Tidak Mami! Zidane tidak salah dengar. Zidane mendengar pertengkaran Mami dan Papi di ruang kerja. Kenapa Papi harus mencari Mami lagi? Kenapa Papi harus menikah lagi? Apa Papi sudah tidak mencintai Mami dan Zidane lagi? Apa benar kalau Papi dan Mami akan berpisah?'' Aruna langsung mendekap erat putranya.


''Maafkan Mami, Zidane. Tidak seharusnya kamu mendengar semua itu. Maafkan Mami jika keputusan yang akan Mami ambil nanti, akan menyakiti kamu.''


''Zidane lebih tidak tega kalau harus melihat Mami sedih dan menangis terus. Papi memang jahat! Kalau berpisah dengan Papi membuat Mami bahagia, Zidane akan mendukung Mami. Dan Zidane akan ikut Mami. Zidane tidak mau bersama Papi. Papi jahat!"


''Sayang, kamu tidak boleh bicara seperti itu. Walau bagaimanapun, dia tetaplah Papi kamu. Dia Ayah kamu, Zidane. Kamu jangan membencinya ya.''

__ADS_1


''Kalau memang dia Papi Zidane, seharusnya Papi tidak boleh mencari Mami lain untuk Zidane. Pokoknya Zidane akan ikut Mami. Zidane tidak mau bersama Mami yang lain, TITIK!"


Aruna hanya bisa diam mendengar apa yang Zidane ucapkan. Zidane kemudian menyeka air mata Aruna.


''Mami jangan menangis lagi ya. Mami harus semangat. Zidane janji akan menjaga Mami dari orang-orang jahat. Besok Zidane mau ikut les karate, boleh kan Mi?''


''Iya sayang, boleh kok. Terima kasih ya sayang. Kamu memang kekuatan untuk Mami.''


''Sama-sama Mami. Oh ya Mami, ada kabar penting.''


''Kabar penting apa?''


''Ummm Zidane sudah berdamai dengan Om itu.''


''Om? Om siapa?'' selidik Aruna.


''Namanya Om Daniel. Yang waktu itu merebut snack Zidane di supermarket.''


''Oh begitu. Bagaimana kalian bisa berdamai?''


''Karena dia sudah menyelamatkan Mami saat kecelakaan. Dan temannya juga sudah menjemput Zidane ke sekolah. Setelah itu teman Om Daniel, ke rumah sekaligus mengajak Bi Tuti dan Mbak Lasmi juga ke rumah sakit. Jadi, Zidane sudah memaafkan Om Daniel.''


''Jadi dia juga menjemput Zidane ke sekolahnya? Iya aku ingat, sesaat sebelum aku kehilangan kesadaran, aku memintanya untuk menjemput Zidane ke sekolah. Aku tidak menyangka dia bisa baik juga.'' Gumam Aruna dalam hati.


''Lalu apa kamu sudah berterima kasih pada Om Daniel?''


''Sudah Mah. Tapi aku ingin memberinya sesuatu sebagai ucapan terima kasih. Dia seperti pahlawan Mi, apalagi saat aku melihat bajunya bersimbah darah. Seketika sikapnya yang menyebalkan itu membuatku lupa. Dan aku juga yang memaksanya menandatangani persetujuan operasi. Karena saat itu Papi sama sekali tidak bisa di hubungi. Oma Ratih bahkan sangat marah karena Papi tidak bisa di hubungi.'' Cerita Zidane dengan celotehan gemasnya.


''Kamu memang keterlaluan Mas Arya. Bahkan Zidane sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang benar.'' Gumam Aruna dalam hati.


''Enaknya kita kasih apa ya Mi?'' tanya Zidane.


''Bagaimana kalau kita bicarakan besok saja. Ini sudah malam dan besok kamu juga harus sekolah.''


''Baiklah Mami tapi Zidane ingin tidur bersama Mami. Zidane ingin memastikan bahwa Mami tidak menangis lagi.''


''Oke. Kalau begitu kita bobok ya.''


''I love you Mami.'' Ucap Zidane seraya memberikan kecupan di pipi Aruna.


''I love you too Zidane.''


Bersambung... Yukkk like, komen dan votenya ya, makasih 🙏❤️

__ADS_1


__ADS_2